Dengan langkah dengan penuh keyakinan, pagi ini Vega berjalan menuju ke ruangan Nolan. Vega mengetuk pintu. Meskipun tak ada jawaban, Vega tetap membuka pintunya. Saat masuk, Vega tak menemukan sosok yang ia cari di ruangan itu.
“Permisi… Pak Nolan…” panggil Vega sambil kedua matanya bergerak mengitari ruangan itu.
“Sepertinya Pak Nolan tidak ada,” gumam Vega.
Saat hendak keluar, Vega mendengar suara sepatu yang melangkah mendekat. Vega berdiri mematung dengan perasaan gugup. Hingga akhirnya pintu itu pun terbuka. Vega menghenduskan nafasnya saat melihat sosok yang memasuki ruangan itu.
“Vega? Lo ngapain disini? Kenapa muka lo kelihatan kecewa gitu saat melihat gue? Memang lo ngarepnya siapa yang datang?”
“Heeemmm… Ya iyalah. Semua orang pasti akan kecewa saat melihat muka lo.”
“Sialan. Lo ngapain disini? Nyari pak Nolan?”
“Iya. Gue nyari pak Nolan. Lo tahu kan dimana dia sekarang?”
“Pak Nolan lagi ada urusan diluar. Ada perlu apa memangnya? Pentingkah? Kalau iya, bilang aja nanti gue sampaikan. Habis ini gue mau nyusul dia.”
“Eeemmm… Penting nggak penting sih.”
“Ada apa?”
“Nanti aja kalau pak Nolan udah balik, gue ngomong sendiri. Kira-kira lama nggak di luarnya?”
“Belum tahu juga. Kalau emang penting, biar gue sampein. Lo nggak percaya sama gue?”
“Bukan begitu. Tapi ini memang ini penting nggak penting. Nggak buru-buru juga. Jadi gue nunggu pak Nolan aja.”
“Ya sudah kalau gitu.”
“Gue keluar dulu ya.”
“Oke.”
Saat Vega hendak melangkah pergi, Cakran melihat ada sebuah amplop yang dipegang oleh Vega. “Tunggu!!!” Cakra menghentikan langkah Vega.
“Kenapa?”
“Apa yang lo pegang? Apa itu yang mau lo kasihkan pak Nolan?”
“Eeemm… I-iya.”
“Memangnya apa isinya? Kok kayaknya rahasia banget, sampai-sampai lo mau ngasih sendiri dan nggak percaya buat nitipin ke gue. Jangan…. Jangan!!!”
“Apa sih kepo banget.”
Vega pun melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Nolan. Vega tak ingin memberi tahu siapapun tentang surat yang ia bawa, termasuk temannya sendiri, Cakra, sebelum pak Nolan menyetujui surat itu.
Vega kembali ke meja kerjanya dan kembali melanjutkan pekerjaan yang belum ia selesaikan sembari menunggu kedatangan Nolan. Vega berharap bossnya itu segera datang, agar semuanya cepat terselesaikan.
Hingga akhirnya jam makan siang pun tiba, namun Vega sama sekali belum melihat kedatangan Nolan.
“Ve, ayo istirahat dulu. Kita makan siang dulu.” Ajak Reyna.
“Kalian duluan aja. Gue mau menunggu pak Nolan,” jawab Vega.
“Kalau pak Nolan nggak datang hari ini gimana? Apa lo nggak akan makan seharian?” sahut Desi.
“Iya bener. Udah ayo kita makan dulu aja. Nanti sehabis makan siang kan bisa, kalau memang pak Nolan udah datang.”
Vega berpikir sejenak, dan akhirnya menyetujui ajakan teman-teman kerjanya itu. “Ya udah deh ayo. Kebetulan aku juga lapar.”
“Nah gitu dong.”
Mereka pun pergi ke kantin kantor. Vega yang sudah tak merasa mual lagi, kini berani memesan makanan seperti yang lainnya.
“Gaes… Gue mau minta maaf kalau ada salah-salah selama gue bekerja disini bersama kalian. Entah itu ucapan gue yang mungkin pernah menyakiti atau menyinggung kalian. Perbuatan gue yang kadang bikin kalian marah atau kesel. Maafin gue ya? Terima kasih juga buat semua kebaikan kalian pada gue, dan mau menerima gue sebagai teman kalian.”
Desi dan Reyna pun menatap bingung ke arah Vega.
“Kenapa kalian menatap gue seperti itu?”
“Lo kenapa? Lo sakit?” tanya Desi.
“Gue nggak papa. Gue serius dari hati yang paling dalam.”
“Tapi ucapan lo kayak orang yang mau pergi jauh.”
“Iya bener kata Reyna,” sahut Desi.
“Gue nggak kemana-mana kok. Pokoknya gue seneng punya teman kerja seperti kalian.”
“Kita juga seneng punya teman kayak lo.”
Jam makan siang telah usai, mereka sudah kembali ke meja kerja masing-masing. Vega melihat Cakra telah kembali ke kantor. Namun ia masih tak melihat Nolan. Vega pun segera menghampiri Cakra.
“Pasti mau nanyain pak Nolan?” ucapa Cakra saat Vega mendatanginya.
“Hehehe. Iya. Apa dia belum ke sini?”
“Udah di ruangannya.”
“Serius?”
“Boong.”
Vega langsung memukul pelan lengan Cakra, kemudian berjalan meninggalkan Cakra.
“Mau kemana lo?” tanya Cakra.
“Mau ke ruangannya pak Nolanlah.”
Namun sebelum ke ruangan Nolan, Vega menuju ke meja kerjanya terlebih dahulu untuk mengambil amplop yang telah ia siapkan.
Tok… tok…
“Masuk!”
Dengan tangan bergetar, Vega membuka pintu. Sebelum masuk pun ia mengantur nafasnya berulang kali agar tak kelihatan gugup.
“Permisi pak.”
“Oh kamu Ve. Ada apa? Katanya tadi pagi kamu juga mencariku.”
“Iya pak. Ada yang ingin aku sampaikan.” Vega mengulurkan amplop yang ia pegang kepada Nolan.
“Apa ini?” Nolan membuka selembar kertas yang ada di dalam aplop tersebut. Dengan perlahan Nolan membacanya.
“Surat pengunduran diri?” tanya Nolan.
Selama beberapa hari, dan setiap malam Vega hampir tak bisa tidur karena memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk dirinya dan juga kehamilannya. Meskipun sempat terbesit untuk menggugurkan kandungannya, namun pada akhirnya Vega tak tega. Anak dalam kandungannya tak mempunyai salah apapun.
Akhirnya Vega memutuskan untuk tetap merawat dan membesarkan anak itu, tanpa harus diketahui oleh Nolan. Oleh sebab itu, Vega harus berhenti dari pekerjaannya dan menjauh dari kehidupan Nolan.
“Iya pak.”
“Loh kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba ingin berhenti bekerja? Apa ada masalah? Apa ada yang merundungmu?”
“Tidak pak. Tidak ada masalah apapun. Aku hanya ingin berhenti bekerja dan ingin membuka buka usaha sendiri.”
“Apa kamu yakin itu alasannya?”
“Iya pak.”
“Ya sudah kalau begitu. Kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu, aku juga tidak bisa menahanmu untuk tetap disini.”
“Jadi pak Nolan menyetujuinya.”
“Iya. Terima kasih sudah bekerja keras selama bekerja disini.”
“Tidak pak. Aku yang harusnya berterima kasih sudah diberi kesempatan untuk bekerja disini. Terima kasih buat semuanya pak. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Vega keluar dari ruangan Nolan, bepapasan dengan Cakra yang berjalan masuk. Vega kembali ke meja kerjanya. Ia akan membereskan barang-barangnya setelah semua orang pulang nanti. Vega tak ingin membuat kehebohan soal pengunduran dirinya. Jadi ia ingin pergi secara diam-diam.
Namun rencana Vega gagal, saat Cakra tiba-tiba datang menghampirinya dan berteriak, “Jadi lo beneran mau keluar dari sini?”
“Sssstttttttttttttt!!!!!”
Terlambat, semuanya sudah terlanjur dengar. Teman-teman kerja yang dekat dengan Vega pun menatap Vega dengan intens, menunggu jawaban Vega.
“Haish… Dasar mulut TOA,” ucap Vega pada Cakra.
“Jadi ini maksud perkataan lo yang di kantin tadi? Lo mau resign?” tanya Desi.
“I-iya.”
“Tapi kenapa? Kenapa mendadak sekali? Sebenarnya lo ada masalah apa? Kenapa lo tidak diskusi dulu sama gue?” tanya Cakra.
“Maaf ini sudah menjadi keputusan bulat gue.”
“Katakan sebenarnya ada masalah apa?” Cakra kembali bertanya. Ia merasa ada yang tak beres dengan pengunduran Vega yang secara mendadak.
“Nggak ada masala hapa-apa Cakra. Gue hanya pengen buka usaha sendiri aja.”
“Apa lo yakin? Lo nggak ngebohongin gue kan?”
“Iya.”
“Ya sudah kalau itu sudah menjadi Keputusan lo. Kita semua sebagai temen lo hanya bisa mendukung,” sahut Desi.
“Iya. Kita pasti bakal kangen banget sama lo,” timpa Reyna.
“Gue juga pasti bakal kangen banget sama kalian, kantor ini, dan semuanya.”
Mereka pun bergiliran memeluk Vega sebagai tanda perpisahan. Tentu saja rasa sedih dan kehilangan mereka rasakan. Karena mereka telah bekerja bersama bukan hanya dalam hitungan bulan saja, namun sudah hitungan tahun.
TBC
****