Takut, was-was, khawatir, gelisah, itulah yang Vega rasakan saat menunggu hasil dari sebuah benda yang berada di tangannya saat ini. Vega berharap apa yang dipikrannya saat ini tidak akan terjadi.
Perlahana Vega membuka kedua matanya.
Duaaarrr…
Tubuhnya benar-benar bagai tersambar petir. Kedua kakinya melemas, tak mampu menopang tubuhnya, sehingga terduduk ke lantai kamar mandi. Dua garis merah muncul pada sebuah alat tespack yang baru saja ia gunakan.
Pikirannya benar-benar kalut saat ini. Memikir bagaimana takdir yang akan ia lalui dan apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia memberitahukan pada Nolan dan memintanya untuk bertanggung jawab? Vega benar-benar bingung.
“Kak...!!!” teriak Lukas dari depan pintu kamar mandi sembari mengetuknya.
“Lo ngapain lama banget di kamar mandi? Lo nggak papa kan?” Lukas kembali berteriak karena tak mendapat jawaban dari Vega.
Vega pun segera bangkit, mengusap air matanya, dan menyembunyikan tespack yang berada digenggamannya.
“Apa sih berisik banget,” ucap Vega saat membuka pintu.
“Gue kira lo pingsan. Lagian di kamar mandi lama banget.”
Tanpa menjawab Vega pun berlalu melewati Lukas dan berjalan menuju kamarnya. Vega benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan.
*****
Hari demi hari pun Vega lewati tanpa semangat hidup. Ia telah kembali ke kosannya dan kembali bekerja. Vega pun juga tak berani memberitahukan pada kedua orang tuanya.
“Hooooiiiii…!!!” teriak Cakra mengagetkan Vega yang sedang termenung.
“Sialan lo.”
“Siang bolong gini ngelamunin apaan? Lo masih sakit? Kok kelihatan lesu begitu?”
“Nggak kok. Gue udah sembuh.”
“Lalu ada apa?” Lo lagi ada masalah? Gue bisa jadi tempat curhat lo. Jangan dipendem sendiri, nggak baik.”
“Nggak ada apa-apa. Eh gue mau tanya boleh?”
“Dengan senang hati.”
“Tapi lo nggak boleh heboh, jangan lebay, dan jangan berpikir yang macem-macem.”
“Iya iya. Tanya apa emangnya?”
“Lo kan udah beberapa tahun kerja sama pak Nolan, dan lo juga deket banget sama pak Nolan. Hampir setiap hari dan setiap waktu lo selalu bersama pak Nolan. Gue mau tanya, menurut lo pak Nolan itu orangnya gimana?”
Cakra menatap tajam Vega.
“Kenapa lo menatap gue begitu. Udah dibilangin jangan berpikir yang macem-macem. Ini temen gue yang suruh nanyain.”
“Yakin temen lo?”
“Iya temen gue. Tapi kalau lo nggak mau jawab nggak papa.”
“Gimana ya? Menurut gue pak Nolan ya sama seperti yang semua orang tahu, dingin, kaku, cuek. Tapi ada sisi lain yang semua orang tidak tahu, dia itu anak mama. Dia sangat menyayangi mamanya dan manja jika bersama mamanya. Sangat berbeda jika bersama kakeknya. Mereka selalu berdebat. Karena kakeknya selalu mengatur kehidupan pak Nolan. Termasuk soal pernikahan.”
“Pernikahan?”
“Iya pak Nolan dijodohkan oleh kakeknya. Tapi pak Nolan menolaknya.”
“Menolak? Kenapa? Pasti wanita pilihan kakeknya cantik dan dari keluarga yang setara dengan mereka.”
“Memangnya kamu belum tahu kalau pak Nolan itu apriori terhadap pernikahan?”
“Maksudnya?”
“Pak Nolan benci pernikahan. Menurutnya dalam sebuah pernikahan hanya ada kerugian. Jadi dia tidak mungkin mau menikah, meskipun kakeknya bersikeras menjodohkannya.”
“Kenapa dia bisa berpikiran seperti itu?”
“Gue juga nggak tahu. Apa perlu gue tanyakan dulu sama dia?”
“Jangaaann!!!”
“Sebenarnya temen lo siapa yang tanya?”
“Eeeem… ya pokoknya ada.”
“Eheemmmm…”
Vega dan Cakra kaget saat tiba-tiba seseorang berdehem dan ternyata Nolan sudah berdiri di dekat mereka. Jantung Vega pun tiba-tiba berdetak dengan cepat. Ia tak berani menatap Nolan.
“Bagus ya. Dicariin kemana-mana tahunya malah ngegosip disini. Lo mau kerja apa mau ngegosip? Kalau mau ngegosip di pangkalan komplek sana, bareng emak-emak komplek.” ucap Nolan pada Cakra.
“Hehehe. Maaf boss.”
“Ikut gue!!!”
“Siappp boss. Gue duluan ya Ve,” ucap Cakra lalu pergi mengejar Nolan yang sudah berjalan terlebih dahulu.
***
Malam ini Vega tak bisa tidur memikirkan semua yang dikatakan Cakra tentang Nolan. Vega merasa semakin putus asa. Ia tidak mungkin meminta pertanggung jawaban kepada Nolan. Selain Nolan yang sama sekali tak mengingat tentang kejadian itu, Nolan juga apriori terhadap pernikahan.
“Apa yang harus gue lakukan? Gue harus bagaimana? Mengapa semua ini terjadi pada gue. Bagaimana gue mengatakannya sama mama, papa. Pasti mereka akan marah dan kecewa besar sama gue. Ya Tuhaaan!!!!” Vega menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak gatal. Ia hanya merasa sangat bingung dan frustasi.
Tiba-tiba terlintas dibenaknya untuk menggugurkan kandungan itu. Vega pun segera mengambil ponselnya dan mencari di internet tentang bagaimana cara untuk menggugurkan kandungan. Beberapa link yang telah ia buka, bukanlah berisi jawaban yang ia inginkan. Justru malah nasehat-nasehat dan peringatan-peringatan untuk jangan pernah menggugukan kandungan.
Vega benar-benar tak bisa tidur malam ini. Seberapa keras ia berusaha memejamkan matanya, namun pikirannya tetap tak bisa tenang.
Hingga matahari pun mulai menampakkan dirinya. Seperti biasa Vega harus kembali bersiap-siap untuk pergi bekerja. Hari ini Vega berencana untuk membeli beberapa kilogram nanas. Vega teringat dan pernah mendengar bahwa orang hamil tidak boleh memakan nanas karena bisa bikin keguguran. Entah itu hanya sebuah mitos atau tidak, Vega ingin mencobanya.
Semenjak kejadian malam itu Vega lebih banyak diam, menyendiri, dan melamun saat berada di kantor. Namun kali ini teman kantornya mengajak dan memaksa Vega untuk ikut pergi makan siang bersama. Dengan terpaksa Vega pun ikut dengan mereka.
Vega makan siang dengan empat orang teman kantornya, dua cowok, dan 3 cewek termasuk dirinya. Mereka sudah berada di kantin dan memesan makanan mereka masing masing. Sedangkan Vega hanya memesan minuman dan roti saja.
“Kamu nggak makan Ve?” tanya Desi.
“Nggak Des. Lagi males makan.”
“Kenapa? Kamu sakit? Wajah kamu juga terlihat sayu begitu. Kamu kurang tidur ya?” tanya Reyna.
“Nggak kok. Aku nggak papa. Lagi males makan aja.”
“Ya sudah kami makan dulu nggak papa?”
“Iya. Santai aja.”
Mereka pun memakan pesanan mereka yang telah datang. Vega tak berani makan, karena takut jika tiba-tiba perutnya kembali mual.
Kalau lagi kumpul sudah pasti ada yang dighibahin. Tak pandang tempat atau apapun yang sedang mengerjakan. Entah itu sedang duduk santai, sedang buang air besar, sedang makan, dan lainnya.
“Eh kalian masih ingat bu Mila kan? Yang dulu kerja disini,” ucap Desi.
“Iya. Ingat.”
“Kemarin gue ketemu sama dia. Sekarang badannya kecil baget. Pokoknya kalau kalian lihat pasti bakal pangling.”
“Masa sih? Padahal dulu kan dia termasuk wanita yang gemoy. Hehehe.”
“Maka dari itu. Gue aja awalnya nggak yakin kalau dia bu Mila.”
“Mungkin dia melakukan diet.”
“Nggak. Dia sama sekali nggak diet katanya.”
“Sakit?”
“Sepertinya karena tekanan batin dan banyak pikiran. Kalian tahu kan, kalau dia sudah menikah selama tujuh tahun, namun sama sekali belum diberi keturunan. Padahal sudah berbagai cara dan usaha ia dan suaminya lakukan. Namun katanya belum ada yang berhasil.”
“Darimana lo tahu?”
“Kemarin dia sendiri yang cerita. Kami makan bersama. Gue kasihan banget melihatnya. Dia berusaha terlihat kuat. Tapi gue tahu hatinya sedang sangat rapuh dan lelah.”
“Lha ya gue heran, banyak orang yang berusaha keras untuk bisa hamil dan mempunyai anak, sedangkan yang bisa hamil malah mereka gugurkan. Kadang bayinya malah mereka buang begitu saja.”
“Iya. Sekarang sering banget gue dengar berita seperti itu. Mungkin yang melakukan seperti itu karena bayi mereka dari hubungan gelap.”
“Tapi kenapa bayinya yang menjadi korban. Padahal bayinya tak bersalah apapun. Seorang bayi terlahir dengan suci. Mereka juga tak bisa memilih mau dilahirkan dari rahim siapa. Sebenarnya dimana hati nurani mereka?”
Uhuk… Uhuk…
Vega tersedak air yang ia minum.
“Kamu nggak papa Ve?” Reyna memberika tisu kepada Vega.
“Nggak papa. Makasih ya.”
Vega yang sedari tadi diam, tersentak mendengar percakapan teman-teman kerjanya itu. Vega merasa pembicaraan mereka seperti menyinggung dirinya.
TBC
*****