Bab 1 – Harga Sebuah Kejujuran
"Bu, kalau ada yang terasa sesak lagi, langsung tekan tombol ini, ya," ucapnya lembut kepada pasien lansia yang baru saja selesai dipasang infus.
Wanita tua itu mengangguk pelan. "Terima kasih, Nak. Dari tadi cuma kamu yang sabar melayani saya."
Nadira tersenyum tipis. "Sudah tugas saya." Ucapnya.
Hari ini ruangan IGD cukup ramai oleh pasien. Di tambah sejak pagi tadi sudah mendung hingga menciptakan udara yang cukup dingin, di tambah lagi dengan dingin dari pendingin ruangan yang bercampur dengan aroma antiseptik.
Suara roda brankar yang sesekali di bawa oleh perawat lain saling beradu dengan lantai keramik. Juga langkah para tenaga medis yang berlari kecil mengejar waktu dalam melayani pasien.
Di tengah kesibukan itu, Nadira Maheswari berdiri di sisi tempat tidur pasien sambil sesekali memeriksa infus. Wajahnya tampak lelah. Kantung mata yang mulai menggelap menjadi bukti bahwa ia belum benar-benar beristirahat selama dua hari terakhir. Tetapi kedua tangannya tetap cekatan, setiap gerakan dilakukan dengan teliti tanpa sedikit pun terlihat terburu-buru. Setelah memastikan mencatat keadaan pasien tersebut dengan baik. Wanita itu berbalik, dan berpindah ke ranjang pasien berikutnya. Namun belum sempat Nadira berpindah pasien, seseorang memanggil namanya.
"Nadira." Suara itu membuatnya menoleh. Seorang dokter muda menghampiri sambil melepas masker. "Pasien VIP datang lima belas menit lalu. Kondisinya kritis. Dokter Hendra minta kamu untuk ikut membantu sekarang."
Nadira mengangguk tanpa banyak bertanya.
"Baik, Dok."
Ia segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Dokter Hendra berada. Biasaya para pasien umum akan di bawa ke ruang IGD tempatnya berada sekarang, namun untuk pasien VIP di berikan ruangan IGD lain yang tidak jauh dari ruang IGD umum. Terlihat beberapa perawat dan para dokter koas hilir mudik dengan cepat sambil membawa perlatan yang di butuhkan. Saat wanita itu sampai di depan sana sudah terlihat beberapa keluarga pasien yang menunggu dengan cemas.
Begitu Nadira masuk, suasana di dalam ruangan terasa semakin menekan. Seorang pria paruh baya terbaring di atas ranjang dengan monitor jantung yang menunjukkan irama yang tidak stabil. Dengan cepat Nadira ikit membantu Dokter Hendra menangani pasien tersebut. Dokter Hendra sedang memberikan instruksi dengan cepat pada satu perawat lain yang juga hadir membantu.
"Epinefrin!"
Dan para perawat tesebut dengan sigap memberikan apa yang di perintahkan Dokter Hendra.
"Kompresi!" teriak dokter itu lagi memberikan insturksi pada para perawat yang membantu. Belum terlihat tanda-tanda bagus pasien yang ada di depan mereka. Bahkan beberapa dokter koas pun mulai datang dan menyiapkan peralatan yang lain. Semua bergerak dengan cepat. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Semua di lakukan dengan hati-hati hingga bunyi monitor berubah menjadi sesuatu yang di benci para keluarga pasien. Bunyi monoton dan garis lurus panjan tanda kehidupan telah berakhir.
Piiiiiiip___
Ruangan mendadak hening. Dokter Hendra menarik napas panjang sebelum akhirnya menatap jam tangan miliknya. "Waktu kematian, pukul dua lewat tujuh belas menit."
Tak seorang pun berbicara. Sambil menghembuskan napasnya perlahan, Dokter Hendra berjalan keluar untuk menemui keluarga pasien yang sudah menunggu penuh harap. Sesampainya Dokter Hendra di depan keluarga pasien dan mengabarkan kematian sang pasien pada mereka, tangis dan jeritan pilu terdengar menyayat hati. Mereka pun bergegas mendekati pasien yang sudah meninggal, mencari setitik harapan yang tidak mungkin. Nadira menundukkan kepalanya sejenak sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum membantu membereskan alat-alat medis. Tidak lama Dokter Hendra menghampiri Nadia dan berbisik pelan.
"Nadira, ikut saya sebentar."
Wanita itu mengangguk dan berjalan mengikuti dokter Hendra. Mereka berdua masuk ke salah satu ruangan dokter yang ada di sana. Begitu pintu ditutup rapat ekspresi Dokter Hendra terlihat berubah drastis saat menatap Nadira.
"Tolong ubah laporan medis pasien tadi."
Nadira mengernyit bingung. "Maksud Dokter?"
"Jangan tulis bahwa pasien datang dengan serangan jantung yang sudah terlambat ditangani. Tulis saja kondisinya stabil saat tiba."
Nadira terdiam beberapa detik. "Dok, data monitor ambulans menunjukkan tekanan darah beliau sudah sangat rendah sejak perjalanan."
"Saya tahu." Jawab Dokter Hendra dengan cepat.
"Kalau begitu laporannya harus sesuai fakta." Cecar Nadira pada Dokter Hendra.
Dokter Hendra menghela napas panjang. "Kamu masih baru, Nadira."
"Saya sudah bekerja di sini selama tiga tahun."
"Kalau begitu seharusnya kamu paham." Beliau mendekat kearah Nadira. "Pasien tadi adalah adik pemilik rumah sakit ini."
Jantung Nadira seperti berhenti berdetak sesaat saat mengetahui hal tersebut.
"Dan kalau laporan aslinya keluar, keluarga mereka akan menuntut rumah sakit karena dianggap lambat dalam menangani pasien."
"Tapi memang pasien datang dalam kondisi yang sangat kritis."
"Itu tidak penting." Kalimat itu membuat Nadira mengangkat kepalanya, tidak percaya dengan jawaban Dokter senior di depannya. "Yang terpenting adalah nama rumah sakit ini tetap bersih." Dokter Hendra menyodorkan tablet di tangannya kepada Nadira. "Cukup ubah waktunya lima belas menit lebih awal."
Nadira tidak mengambilnya. "Maaf, Dok."
"Nadira."
"Saya tidak bisa." Tolak Nadira tegas.
Wajah Dokter Hendra mulai mengeras. "Ini perintah."
"Saya perawat. Tugas saya merawat pasien, bukan mengubah fakta." Nada suaranya tetap tenang. Tidak tinggi juga tidak kasar. Tetapi cukup tegas. Dokter Hendra meletakkan tablet dengan keras di atas meja.
"Kamu tahu konsekuensinya kalau menolak bukan?"
Nadira menatap lurus tanpa ada keraguan sedikit pun. "Kalau saya mengubah laporan, berarti saya ikut andil dalam kebohongan ini."
"Apa kejujuranmu bisa menghidupkan pasien itu?"
"Tidak." Jawab Nadira. Namun kali ini wanita itu hanya menatap lantai di bawahnya.
"Lalu untuk apa dipertahankan?" Pertanyaan itu menggantung di udara.
Nadira menarik napas perlaha sebelum menjawabnya. "Ayah saya pernah bilang, seorang tenaga medis mungkin tidak selalu berhasil menyelamatkan nyawa seseorang. Tapi jangan pernah menjadi orang yang menghilangkan kebenaran."
Dokter Hendra tertawa sinis. "Prinsip tidak akan bisa membayar tagihan hidupmu, Nadira. Baiklah, saya tidak akan memaksa. Kalau begitu biarlah saya mencari cara lain."
Tatapan mereka saling bertemu. Tak ada yang mengalah dengan keputusan masing-masing. Namun beberapa detik kemudian Dokter Hendra menekan tombol interkom yang ada di dekatnya.
"Tolong panggil bagian SDM."
Nadira mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Namun, anehnya, ia tidak merasa takut, yang muncul justru rasa kecewa. Bukan kepada atasannya. Melainkan kepada kenyataan bahwa rumah sakit, tempat yang seharusnya menjunjung tinggi kemanusiaan, kini lebih sibuk menjaga citra daripada kejujuran.
Tak lama kemudian seorang wanita dari bagian SDM masuk dengan membawa map cokelat.
"Nadira Maheswari." Wanita berseragam putih dengan logo rumah sakit itu berjalan mendekati Nadira sambil membawa Map coklat di tangannya.
"Mulai hari ini kontrak kerja Anda kami hentikan karena pelanggaran terhadap instruksi atasan."