9 - Ejekan

328 Kata
"Jadi, kau tidak ingat sama sekali apa yang sudah kalian lakukan kemarin malam di dalam kamar?" Barret bertanya dengan rasa ingin tahu yang semakin bertambah besar. "Aku tidak ingat. Kau boleh percaya ataupun tidak jawabanku. Terserah padamu saja." "Aku tidak percaya. Walaupun, aku mabuk. Aku masih ingat bagaimana aku dan Aldora menghabiskan malam panas. Dia yang mengerang dengan suara seksi p--" "Bisakah kau jangan menceritakan secara detail? Itu adalah privasi kita. Kau tidak bisa membukanya kepada orang lain, tanpa ada persetujuan dariku dahulu. Mengerti?" Barret mengangguk dengan gerakan santai dan memperlebar senyuman ke arah sang kekasih guna menanggapi permintaan dari wanita itu. Ia juga mengedipkan mata. Barret tak akan melakukan rayuan apa pun untuk menenangkan Aldora yang sedang kesal. Kekasihnya tak benar-benar marah. Dari raut wajah tampak jelas menunjukkan rasa malu. Ada semburat warna merah pada kedua pipi. Hanya suara Aldora saja yang terdengar seperti kesal. Memiliki perbedaan ekspresi wanita itu. Ia bisa mengenali baik. "Okay, Sayang. Akan aku tutup mulutku." Barret lantas mengalihkan pandangannya ke sosok sang adik, Synda. Sebentar saja. Ia cepat memindahkan atensi pada Alexander. Barret pun seketika mengeluarkan tawanya. Disebabkan oleh aksi dilakukan Alexander. Barret tiba-tiba saja mendapatkan ide untuk mengerjai mantan kekasih adiknya itu. Dan, Synda akan menjadi candaannya juga. "Ceritakan saja kepada kami apa yang sudah kalian lakukan. Jangan pernah merasa malu atau sungkan. Terutama kau, Adikku," ujar Barret dengan santai sembari menyeringai ke arah Synda. Sengaja dilakukan olehnya. "Apa yang kau bicarakan? Aku dan dia tidak melakukan apa-apa yang muncul di dalam pikiran kotormu." Synda spontan meninggikan nada suara, akibat kesal. "Jangan berpura-pura padaku. Kenapa kau tidak jujur saja, Adikku? Kita adalah saudara, aku akan dengan senang hati mendengarkan semua keluh kesahmu." Synda menggerutu. Kian jengkel akan sikap ditunjukkan kakaknya. "Aku tidak akan mau berbagi cerita apa pun denganmu! Kau biasanya suka bermulut besar." "Baiklah, kalau begitu. Tapi, soal hubunganmu dengan Alexander pengecualian bagaimana?" "Kau senang sekali untuk ikut campur masalahku. Apa maumu?" Synda kembali menaikkan intonasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN