10 - Tugas

329 Kata
Synda menajamkan tatapan dan membuat ekspresi wajahnya sedatar mungkin untuk memerlihatkan kepada sang kakak bahwa ia benar-benar sedang kesal. Pertanyaan yang dilontarkan tidak dianggap sebagai guyon belaka. Terlebih, berkaitan dengan mantan kekasihmya. Tak akan pernah main-main. Ia bahkan enggan membahas Alexander. Bukan karena menaruh kebencian pada pria itu. Hanya saja membahas masa lalu tidak menyenangkan untuknya. Mengingat, ada beberapa hal tentang Alexander yang masih belum mampu dihilangkan hingga kini. Terutama, kenangan manis yang pernah di antara mereka terjadi. Membekas menerus pada lubuk hati terdalam dan pikirannya. Meski, semua sudah berupaya untuk ia lupakan. Nyatanya, tidak mudah seperti yang diinginkan. Masih kerap berputar di dalam kepalanya sebagai memori-memori indah. Menyebalkan memang jika logika sudah bermain. Tetapi, perasaan memiliki peranan tersendiri yang tak bisa diabaikan. "Apa mauku? Hmm. Aku ingin kau dan Alex kembali menjadi kekasih. Kalian sangatlah cocok satu sama lain. Percaya padaku." Synda menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Lebih ditajamkan tatapan ke sang kakak. Ia kian emosi mendengar bagaimana Barret begitu percaya diri menyampaikan pendapat tentang hubungannya dengan Alexander. "Kau juga masih sayang dia bukan, Adikku? Ayolah, kembali padanya. Aku mendukung." "Aku tidak mau." Synda menjawab tegas. "Hahah. Jangan begitu. Lagipula, kau dan Alex akan terlibat kerja sama. Kalian akan jadi lebih sering berinteraksi dan bertemu. Bisa saja kalian bercinta setiap mal--" Synda tak membiarkan sang kakak untuk melanjutkan ucapan. Sudah dibungkamnya menggunakan tangan kanan mulut Barret supaya kakak sulungnya mau berhenti ria berceloteh. Ia juga memberikan remasan di bagian lengan kiri Barret cukup kuat. Dilakukan sebentar saja. Bagaimana pun juga dirinya bukanlah tipe orang yang suka menyiksa saudara sendiri. Tidak akan juga melampiaskan kekesalannya berlebihan dengan kekerasan fisik yang menyakitkan. "Aku tidak mau menangani kerja sama apa pun dengan dia. Kau jangan memaksaku." Barret menyeringai lebar sembari ditatapnya sang adik dengan pancaran kedua mata yang memancarkan sorot mengejek. "Kau yakin tidak mau menjalankan tugas?" "Baiklah. Kau akan segera diberhentikan dari perusahaan. Apakah kau setuju, Synda? Jika kau tidak bekerja lagi, kesempatanmu untuk menyaingiku akan hilang, Adikku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN