"Bagaimana menurutmu, Sayang? Aku tidak akan meminta hal aneh-aneh kepadamu."
Synda sudah memikirkan rangkaian kalimat yang hendak dijadikan balasan. Termasuk juga caranya berucap nanti dengan sinis. Tetapi, nyatanya mulut masih terbungkam.
Disebabkan karena godaan dari Alexander yang kian berani. Tangan besar pria itu kini sedang tertangkup di pipi kirinya. Diberikan usapan-usapan lembut, digerakkan pelan.
Ingatan pun kembali terlempar ke masa lalu, saat mereka menjalin kasih. Ia sangat suka jika Alexander sudah menunjukkan sayang dengan kontrak fisik. Apa pun belaian yang dilakukan pria itu, akan menciptakan secara cepat rangsangan untuknya. Gairah bangkit.
Synda kira masih tak berlaku hingga detik ini, dugaannya meleset. Hasrat pun tetap mudah terpancing hanya dengan sentuhan kecil saja. Hal yang membuatnya kesal pada diri sendiri. Merutuki kebodohan tak dapat memerlihatkan perlawanan ke Alexander.
Namun, rasanya akan sia-sia belaka terus bersikap sinis. Justru sang mantan kekasih senang telah berhasil memicu kekesalannya lebih besar lagi. Harus dicari cara lain yang sekiranya bisa efektif memberikan efek jera atau sedikit kejutan yang tak dikira pria itu.
Kepalanya diusahakan berpikir keras guna menemukan secepat mungkin ide bagus. Ia pun tak henti memfokuskan pandangan ke mata Alexander yang juga menatapnya.
"Kau ingin meminta apa dariku? Kau ingin aku sekadar kembali menjadi kekasihmu atau kau berniat tidur denganku?"
Synda memerlihatkan seringai balik, bagian dari aksi untuk menunjukkan kekuatannya. Tangan Alexander yang masih berada di pipi segera dipegang. Dihempaskannya dengan gerakan kilat. Meski demikian, tak kasar.
Kemudian, secara cepat pula dipeluk sang mantan kekasih. Tubuh Alexander yang jadi menegang pun dirasakannya benar. Mulut pria itu sempat membuka beberapa detik lalu, kembali tertutup. Tampak jelas mantan kekasihnya terkejut akan apa dilakukannya.
"Kau sekarang yang diam saja. Apakah kau malu mengakui kau ingin bercinta bersama aku lagi? Tidak apa-apa, Mr. Dominiq."
"Dan bagaimana jika membuat kesepakatan? Mari kita tidur bersama. Kau menghapus semua video kau miliki. Rasanya akan impas seperti kau inginkan." Synda berujar santai, namun tetap ditunjukkan kesungguhannya.
Giliran Synda yang merapatkan bibir, ketika telah merapatkan lagi dirinya ke Alexander. Mata sang mantan kekasih kian melebar. Ia ingin mengeluarkan tawa mengejek, tetapi hanya akan merusak rencananya saja.
Rasa curiga pun mendadak muncul karena melihat tatapan Alexander. Bara gairah yang semakin nyata, berkobar di sepasang mata pria itu menatapnya tambah intens. Kedua tangan kekar milik sang mantan kekasih pun melingkari pinggangnya begitu erat.
"Hahaha. Kau tahu saja keinginanku. Hmm, aku pastinya setuju dengan tawaranmu. Kita bercinta, aku akan menghapus video-video yang aku miliki. Sangat menyenangkan."
Seringaian semakin dilebarkan. "Aku punya sepuluh video. Jadi, bagaimana jika setiap kali bercinta berharga satu video? Setuju?"
"Apa? Kau sangat licik!"
Alexander tertawa dengan suaranya yang sengaja dikeraskan. Ingin menunjukkan jika dirinya sedang senang. Sementara, dekapan semakin dikuatkannya, menghindari Synda melakukan perlawanan yang sengit. Tetapi, wanita itu hanya memerlihatkan delikan.
"Aku bukan licik. Aku memanfaatkan baik kesempatan yang ada," jawabnya santai.
"Kau setuju? Jika tidak, aku akan beri dua koleksi videoku kepada Mr. Sydney. Aku rasa cukup untuk membuktikan kau melanggar aturan yang diterapkan. Hukuman aka--"
"Oke. Terserah padamu saja. Aku menuruti apa pun yang kau mau." Synda memotong cepat. Emosi mengalami peningkatan lagi.
"Setidaknya aku hanya perlu bercinta 10 kali denganmu. Dibandingkan jika aku harus menikah dan melayanimu sampai tua."
Alexander mengedipkan mata. Sedangkan, tangan kanan disusupkan perlahan ke balik kemeja merah Synda. Kulit perut wanita itu yang halus terasa halus dan lembut. Fantasi liar segera terpikirkan di dalam kepalanya.
"Baiklah, Sayang. Karena kita sudah sepakat. Aku ingin mengawali dengan permainan sedikit," bisik Alexander dalam nada mesra.
Tentang reaksi Synda, wanita itu hanya diam saja dengan mata sudah terpejam. Gerakan d**a yang mulai lebih keras, menandakan bahwa napas sang mantan kekasih mulai menderu. Reaksi seperti diharapkannya.
Alexander merasakan ketegangan sendiri, terutama di bagian bawah tubuhnya, ketika tangan sudah berhasil meraba bra berenda. Diremasnya pelan dari atas. Hanya sekali saja. Lalu, segera disusupkan ke belakang punggung halus Synda. Tentu tujuan utama adalah membuka pengait bra wanita itu.
Satu demi satu kancing kemeja Synda telah sukses dibuka semua dengan jari-jari tangan kirinya. Masih tidak disangka sendiri bahwa jemari-jemarinya bisa bergerak lincah.
"Cantik sekali," gumam Alexander penuh damba. Mengagumi p******a kencang sang mantan kekasih yang berbalut bra merah.
Tak ada tanggapan apa-apa dari Synda, tetap ditutup kelopak mata. Hanya posisi kepala wanita itu saja sudah berubah. Tersandar di dadanya. Ia yakin Synda mendengar pujian yang baru dilontarkannya. Enggan untuk membalas. Gengsi diterapkan wanita itu.
"Kau siap bermain nakal bersamaku? Tapi, aku tidak akan memasukimu sekarang. Aku ingin mengetes apakah kau masih b*******h untuk diriku, Sayang. Sepertinya kau su--"
"Lakukan apa pun maumu, Alex."