18 - Tak Main-Main

378 Kata
"Jangan bertanya lagi jika tujuanmu seperti itu, Mr. Dominiq. Kau tidak usah berakting di depanku. Hanya akan membuatku tidak bisa menaruh kepercayaan kepadamu la--" Tak disebabkan oleh ucapan sang mantan kekasih, tetapi aksi pria itu. Meraih cepat pinggangnya. Direngkuh pun erat sehingga dirinya merasa terkungkung. Sulit bergerak. Namun, pencegahan agar tubuh mereka tak semakin berhimpit, dilakukan dengan cara kedua tangan diletakkan di depan d**a yang tadi disilangkannya. Wajah dijauhkan lagi. "Tujuanku memilikimu kembali menjadi kekasihku, Sayang. Aku hanya ingin kau." Synda berupaya keras mencegah gelenyar aneh menyusup lebih banyak ke dalam diri agar tak sampai membangkitkan hasratnya. Penyebab utama dan sangat memengaruhi adalah terpaan napas halus Alexander di bagian belakang telinga kanannya, setelah berbisik dengan nada begitu menggoda. Synda pun merutuki dirinya yang langsung memejamkan mata, ketika wajah mereka begitu dekat. Kedua hidung nyaris beradu. Detakan jantung pun mulai berpacu cepat melebihi batas normal. Respons yang terjadi begitu saja tanpa sama sekali direncanakan. "Aku tidak akan menciummu, Sayang. Aku justru ingin kau mendengarkan sesuatu." Synda segera membuka kelopak matanya, ia merasa kian malu. Membuat pipi-pipinya memanas. Namun, berupaya menunjukkan ekspresi sedatar mungkin. "Kau ingin ak--" "Sayangg, cepatlah memasuki. Aku ingin kau di dalam. Lakukan dengan keras, Alexx!" "Tunggu sebentar, Sayang. Aku pasti akan melakukannya. Bisakah kau bersabar sedikit dulu? Aku masih memasang pelindung." "Aku tidak mau menunggu. Lalukan sekarang dan cepat pasang pengaman, Sayangg! Ak--" "Astagaaa! Alexx! Kau memenuhikuu! Ahh. Cepat bergerak, Sayang. Lakukan yang keras. Berikan aku kepuasan seperti biasa." Synda seketika menutup mulutnya, seolah tak memercayai jika suara-suara sarat akan nafsu dan desahan dikeluarkannya lewat rekaman audio baru selesai diputar. Tatapan telah secara penuh diarahkan ke handphone Alexander yang tengah dipegang pria itu. "Jadi, kau mengabadikan semua percintaan kita dalam bentuk video? Kau gila sekali!" Alexander menyeringai lebar. "Aku tidak gila, Sayang. Hanya saja aku ingin memiliki kenangan manis saat aku rindu denganmu." "Aku rindu dengar rintihanmu, Sayang. Aku juga rindu melihatmu menatapku dengan gairah besar. Apalagi saat kau berkeringat, saat kita mencapai puncak bersama-sama." Synda tak bisa merespons segera, ia bahkan tidak bisa melawan manakala sang mantan kekasih merengkuhnya kembali. Alexander menuju lagi ke telinga kanannya. Pria itu pasti hendak menyampaikan sesuatu. "Aku bisa saja menghapus semua video yang aku punya. Tapi, imbalan apa yang kau bisa berikan agar menjadi setimpal, Synda?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN