17 - Ancaman

487 Kata
"Kenapa tidak menjawab, Sayang? Kau pasti sudah tahu apa yang akan terjadi kepad--" Synda menjatuhkan kasar tangan mantan kekasihnya dari bahu. Lalu, didorong pria itu menjauh sehingga mereka jadi berjarak, walau memang tidak sampai lima meter. Tetapi, penghindaran kontak fisik sudah dirasanya cukup supaya tak menimbulkan sensasi aneh bagi dirinya yang meresahkan. "Aku tidak mau tahu bagaimana?" Synda pun sengaja membalas dengan kalimatnya yang terkesan menantang. Suara tegas Matanya yang masih mendelik tajam terus diarahkan ke Alexander yang menyeringai dengan tatapan sarat akan kejahilan. Dari pancaran sepasang mata pria itu, mampu untuk ditangkapnya arti kejujuran. Memiliki kaitan akan apa yang Alexander sampaikan. "Kau harus mau tahu, Sayang. Kau tidak akan bisa bersikap tidak peduli." Terus terang ucapan tersebut membuat ketenangannya semakin terkikis. Tentu ada sugesti untuk diri sendiri agar tidak mudah memercayai ucapan pria itu. Terlebih belum diberikan bukti yang nyata kepadanya. Begitu harusnya ia berpikir. Dikedepankan logika. Tak cepat percaya begitu saja. Tetapi, tetap firasat dan perasaannya kian memberi pengaruh untuk tidak meragukan perkataan Alexander. Emosinya ikut ambil andil. Dan, jika berkaca dari masa lalu. Manakala mereka masih menjadi sepasang kekasih, ia akan bisa menerima apa pun disampaikan oleh pria itu tanpa menaruh kecurigaannya sama sekali. Alexander bahkan tak pernah berbohong kepadanya untuk berbagai hal. "Kau kira aku hanya sekadar menggeretak saja demi bisa mencapai tujuanku semata?" Tadi dirinya sudah bertekad tidak akan lagi menanggapi apa pun yang dikatakan oleh sang mantan kekasih. Namun, Alexander justru terus memancing. Tak hanya dengan ucapan, melainkan juga sedikit aksi. Pria itu kian mendekat, memangkas jarak mereka. Segera ditunjukkan reaksi, melangkahkan kakinya mundur. Badan dan wajah berusaha untuk dijauhkan dari Alexander. Hanyalah tatapan yang belum beranjak. Masih terarah pada sepasang mata biru pria itu. Sorot yang jelas memerlihatkan kejahilan. Memuakan. "Apa kau yakin tidak akan penasaran?" Synda memilih segera merespons. Kepala menggeleng pelan. "Tidak sedikitpun." "Aku harus pergi sekarang jika tidak ada hal mengenai pekerjaan yang kita bahas. Dan, aku pastikan orang lain akan bersama ka--" "Kau, Sayang. Kita akan menjadi rekan kerja bukan staf lain. Jika kau tidak mau terlibat, maka akan aku alihkan ke perusahaan milik sahabat Dad yang lain. Itu berarti kau ak--" "Ckck. Rupanya kau sangat suka mengancam sekarang, Mr. Dominiq." Synda memotong dengan segera. Nada suaranya begitu sinis. "Aku tidak ingin tahu secara spesifik tujuan kau melakukan semua ini kepadaku karena bukanlah masalah yang menarik bagiku, tapi jelas sudah sangat menggangguku." Synda semakin menekan kata-kata dilontarkannya. "Aku mengganggumu? Benarkah, Sayang?" Kedua tangan disilangkan di depan dadanya. Tak segera menanggapi balasan Alexander Ia memerlihatkan ekspresi datar agar tidak bisa dibaca bagaimana emosinya. Meskipun d**a semakin memanas akibat amarah dan kekesalan yang mengalami peningkatan. Masih dipikirkannya ulang untuk menjawab kembali. Terlebih, perlawanan kian sengit memang diharapkan oleh Alexander akan ia berikan. Meski demikian, tetap tidak mudah. Namun juga enggan untuk terlihat kalah. "Jangan bertanya lagi jika tujuanmu seperti itu, Mr. Dominiq. Kau tidak usah berakting di depanku. Hanya akan membuatku tidak bisa menaruh kepercayaan kepadamu la--"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN