16 - Pembatasan Interaksi

400 Kata
"Jika kau semakin bersikap seperti ini, aku tidak menjamin hubungan kita hanya akan sebatas rekan bisnis saja. Kau tahu apa ya--" "Apa yang kau harapkan lagi? Apa menjalin asmara lagi denganku? Kau pasti sudah aku pernah beri tahu saat kita menjadi kekasih, jika aku tidak akan mau kembali lag--" "Menjalin asmara kembali dengan mantan kekasihmu? Berlaku juga untukku?" potong Alexander, kali ini. Membalas Synda. "Tentu saja! Prinsipku tidak berubah!" Alexander menambah seringaian. Sangatlah menjadi hiburan menyenangkan membuat Synda kesal. Saat mereka dulu bersama, ia juga kerap suka mengerjai wanita itu. Synda jengkel akan ulahnya. Namun, tak seseram sekarang. Sang mantan kekasih secara nyata menunjukkan ketidaksukaan kepadanya. Ia justru tambah ingin melancarkan gurauan. "Bagaimana jika kau harus menyingkirkan prinsipmu demi menjaga rahasiamu?" "Kau berniat mengancamku? Wow!" Synda menajamkan tatapan, setelah terlolos balasan dalam seruan cukup keras. Ia pun merasa terkejut Alexander melakukan mendadak bekaman di mulutnya. Ia segera berupaya melepaskan. Namun, tak berhasil. Walau demikian, masih terus mencoba. "Bersikaplah yang manis, Sayang. Kau pasti tahu kita sedang ada di mana. Jika sampai salah satu dari tetanggaku mengenalimu, kita akan dikira kembali menjalin asmara." Synda merasa merinding kembali. Bukan karena perkataan mantan kekasihnya, tetapi embusan napas pria itu di bagian leher. Ia pun dengan refleks dihadapkan lagi dengan memori-memori sensual di masa lalu yang ada kaitan akan percintaan panas mereka. "Kau tidak mau menciptakan skandal bukan melibatkan kita, Miss Sydney?" Sedetik kemudian, Alexander pun menerima dorongan di bagian d**a. Mau tak mau disudahinya rengkuhan. Synda sudah membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu. Namun, tidak dibiarkan. Segera ditarik tangan wanita itu guna mengikutinya masuk ke dalam apartemen. Sedikit memaksa. "Yah lepaskan aku! Jangan bersikap seenak jidat kau saja kepadaku! Aku juga pun--" Synda tak dapat menuntaskan ucapan sebab sudah dilepaskan pegangan tangan pria itu. Kini, mereka pun sudah sampai di bagian ruang tamu apartemen Alexander. Suasana yang tenang karena gaya minimalis dipilih pria itu dengan d******i warna putih. Tak ada terlalu berubah sejak terakhir dirinya datang berkunjung, sebelum hubungan di antara mereka selesai sebagai kekasih. Synda kembali dilanda keterkejutan karena Alexander merangkulnya. Ingin berkelid. Tetapi, ia terlambat. Dan, perlawanan lagi tak membuahkan hasil. Saat wajah mantan kekasihnya itu mendekat. Ia memilih diam. Firasat memberi tahu jika Alexander akan penyampaian sesuatu kepada dirinya. "Aku masih menyimpan video-video saat kita bercinta. Bisa aku gunakan untuk bukti kepada Mr. Sydney. Bagaimana menurutmu, Sayang? Jika aku perlihatkan, maka apakah yang akan terjadi pada kita berdua, Synda?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN