15 - Debat

334 Kata
Alexander sudah sangat merasakan aura kemarahan Synda semakin besar yang sedang berjalan di sampingnya dengan tangan mereka saling menggenggam. Lebih tepat, dirinya begitu kencang menautkan jemari ke jari-jari wanita itu. Diawal, saat masuk ke dalam lift, Synda menunjukkan penolakan keras. Masih tidak mau menuruni perintahnya untuk pergi ke apartemen guna mendiskusikan pekerjaan. Synda bahkan nyaris kabur, namun berhasil dihentikan dengan pembicaraan mengarah pada ancaman tentang akan dicabut posisi cukup tinggi wanita itu dari perusahaan. Hampir lima menit berlalu, Synda pun hanya diam. Tidak memerlihatkan perlawanan apa pun lagi. Wanita itu bahkan tak menolak saat tangan mereka ditautkan olehnya. Tidak ada juga reaksi yang berlebihan, sekan sentuhan yang ia berikan biasa saja. Tak seistimewa dulu. Ya, ketika masih menjadi pasangan kekasih, Synda sangatlah senang jika dirinya menggenggam dengan erat tangan wanita itu. Synda akan tersenyum lebar. Kedua mata indah yang juga memancarkan kebahagiaan dan kehangatan memandangnya. Berbeda sekarang, Synda terus melempar sorot kesal padanya. "Awas saja jika macam-macam denganku!" Alexander yang baru selesai menekan sederet tombol dari password apartemen pun langsung menolehkan kepalanya ke sang mantan kekasih. Seruan wanita itu lumayan kencang. Membuat Alexander harus mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan bahwa penghuni lain tidak merasa terganggu akan apa yang baru saja dilakukan oleh Synda. Beberapa detik kemudian, barulah pusat perhatiannya kembali pada sosok sang mantan kekasih. Seringaian sarat akan tantangan diperlihatkan sebagai balasan untuk Synda. Sudah dilepaskan pegangannya. Lalu, digerakkan tangan ke arah pinggang wanita itu, dilakukan tarikan dengan begitu cepat sehingga Synda tidak dapat menunjukkan perlawanan. Tubuh sang mantan kekasih terlempar ke arahnya. Wajah langsung didekatkannya. Jarak tak lebih dari satu meter sekarang. Ia lantas menambahkan seringaiannya. "Bisakah kau tidak galak?" Bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan kalimat singkat yang berisi perintah, dalam nada menggoda. "Ada cukup banyak alasan kenapa aku harus waspada kepadamu, Mr. Dominiq." "Ah, bisakah kau jangan mencurigaiku juga?" bisiknya di telinga kanan Synda lagi. Sengaja diembuskan napasnya di sana. "Jika kau semakin bersikap seperti ini, aku tidak menjamin hubungan kita hanya akan sebatas rekan bisnis saja. Kau tahu apa ya--"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN