"Aku tidak mengganggumu 'kan, Sayang?"
Synda berupaya menunjukkan reaksinya secara cepat, ingin menggeleng. Akan tetapi, kepala terasa sangat berat digerakkan. Dan, hanya masih bisa memandang sosok sang mantan kekasih yang sudah berada di dekat dirinya, saling berhadap-hadapan.
"Kau terpesona dengan penampilanku?"
Synda jelas segera memalingkan wajahnya. Harus diselamatkan harga diri. Pilihan yang paling baik untuk diperlihatkannya yakni gelengan. Tak mungkin mengakui, terlebih ia sedang dipamerkan seringaian puas.
Lalu, perhatian dengan terpaksa dipusatkan lagi pada sang mantan kekasih. Kekagetan pun mendadak melandanya karena jarak mereka yang semakin dekat saja. Otomatis, kedua kaki dilangkahkan menjauh. Namun, Alexander justru juga segera beraksi. Diraih salah satu bahunya. Pergerakan pun jadi terbatas. Tak bisa berjalan ke belakang.
"Kenapa kau tidak menjawab, Synda? Aku sudah mengajukan beberapa pertanyaan. Kau pasti mendengar semuanya. Tapi, kau tidak membalas satu pun. Ada apa?"
Synda menggeleng cepat. "Aku malas saja menjawab. Kenapa? Apa aku tidak boleh melakukannya? Aku juga punya hak!"
"Haha. Baiklah, Sayang. Kau benar. Aku bisa mengerti. Tidak masalah jika kau tidak mau menjawab. Tapi, kau harus ikut denganku sekarang. Aku sudah minta izin ke Barret."
Synda membeliak. "Apa yang kau maksud? Aku harus apa? Ikut denganmu? Ke mana?"
"Apartemenku. Menurutmu ke mana lagi?"
Synda kembali menggeleng. "Untuk apa aku pergi ke sana?" tanyanya dengan curiga.
"Yang jelas kita tidak akan tidur bersama sekarang. Mungkin lain kali bisa terjadi."
Jawaban singkat yang membuat Synda tidak senang. Kemudian, ia menggeleng kembali. Lebih mantap. Tentu menolak. "Aku tidak mau. Aku tidak akan pergi. Kau tidak bis--"
Tak dapat dilanjutkan ucapan karena sang mantan kekasih sudah menggendongnya. Begitu kilat. Namun demikian, segera saja ditunjukkan perlawanan. Kedua tangan dan kakinya digerak-gerakan secara sembarang.
"Aku tidak mau ikut! Turunkan aku! Sudah aku bilang pada Barret, aku tidak akan ambil yang harus melibatkan aku denganmu!"
Tepat setelah diselesaikan kalimatnya, sang mantan kekasih pun sudah mendirikannya lagi di lantai. Namun, kedua tangan pria itu beralih ke pinggangnya, merengkuh kuat. Ia jelas tak terima, mencoba melepas secepat mungkin. Tetapi, tenaganya masih kalah.
"Kau yakin akan menolak? Bagaimana jika aku memegang rahasiamu? Aku akan beri tahu Barret dan Mr. Sydney. Mereka pasti akan terkejut. Tidak menyangka kau sudah melanggar aturan yang dibuat Mr. Sydney."
Synda membeku. Tak bereaksi apa pun atas ucapan mantan kekasihnya. Tahu apa yang sedang dibahas pria itu. Ia bahkan diam saja saat Alexander mengangkat tubuhnya lagi. Menggendong menuju ke pintu utama. Tidak bisa menunjukkan penolakan seperti tadi.
"Aku akan berpikir ulang membocorkan. Bagaimana pun juga aku berperan penting dalam pelanggaran yang kau lakukan."
Synda memasang ekspresi semakin jengkel dan tatapan tajam pada Alexander. "Tidak akan kau diajak berlibur. Jangan ganggu aku liburan bersama Mom dan Dad."
"Jadi, kapan akan menunjukkan keliaran kau lagi, Sayang? Kau sudah berjanji, kau harus memenuhi segera, sebelum aku perlihatkan salah satu video ke Mr. Sydney nanti."