13 - Kedatangan Mantan

453 Kata
"Apa lagi maumu? Sudah aku bilang aku tidak mau!" seru Synda dengan intonasi tinggi, setelah mengangkat teleponnya. "Kau jangan menjanjikan kepadaku berbagai hal yang manis. Aku tidak akan mengubah keputusanku, Barret!" Synda langsung menjauhkan handphone dari telinga, ketika bentakan sang kakak dari seberang sana. Bukan berarti dirinya merasa takut. Hanya menghindari indera pendengaran jadi terganggu. Beberapa detik kemudian, kembali ponselnya ditempelkan di telinga. Celotehan sang kakak belum selesai. "Kau pikir kau saja yang emosi? Aku juga! Kau jangan mengatakan aku seorang pembangkang. Aku tidak suka kau tuduh macam-macam." Synda ikut mengeraskan suaranya. "Kau yang menangani proyek dia! Jangan menyuruhku! Tidak akan pernah mau aku melakukannya. Camkan!" Tanpa menunggu jawaban dan reaksi sang kakak, ditutup telepon secara sepihak. Lantas, pengaturan napas diterapkan untuk segera mengurangi gelenyar emosi di bagian dadanya. Tak ingin terlalu lama hanyut dalam kekesalannya juga. "Menyebalkan sekali punya kakak pemaksa seperti dia. Aku tidak diberikan kebebasan memilih." Synda menggerutu. Siapa pun akan merasakan hal yang sama seperti dirinya jika berkaitan akan sebuah pekerjaan mengharuskan ada kerja sama dengan mantan kekasih. Ia keberatan sejak awal. Bahkan, sudah dikemukan langsung di hadapan sang kakak. Namun, tak bisa untuk diterima alasan yang diberikan olehnya dan tetap diminta bersikap profesional. Jelas saja dirinya kesal. Tidak akan mudah seperti yang dikatakan kakaknya. Di sisi lain, ancaman dari Barret tak bisa untuk dihiraukan karena sangat penting kedudukannya di perusahaan. Jika sampai benar posisinya diturunkan atau bahkan diberhentikan, maka kerugian sangat besar harus ditanggungnya. Belum sanggup untuk dihadapi. Harusnya memang ia lebih mempertimbangkan secara matang, memikirkan dengan logika dan rasional. Bagaimana pun dirinya seorang pengusaha, tak mestinya mengedepan perasaan pribadi dalam berbisnis. "Astaga! Sangat sulit! Menyebalkan!" Synda meloloskan seruan kencang untuk meluapkan kejengkelannya. "Aku harus menerima? Jalan terbaik sepert—" Ucapannya terhenti karena bel rumah berbunyi. Ia tidak segera berjalan ke arah pintu karena salah satu pelayan yang sudah membukakan, tetap berada di ruang tamu. Hanya saja, rasa penasaran akan siapa tengah datang tiba-tiba menyergap dirinya. Terlebih, tak diterima olehnya sama sekali. pemberitahuan. Wajar juga jika menjadi curiga. Terus menerka-nerka tentu saja. Tak lama kemudian derap sepatu seseorang pun tertangkap gendang telinganya, pastilah Mrs. Dyne yang datang guna menginformasi siapa tengah berkunjung. Ia pun langsung bangun dari sofa yang belum satu menit didudukinya. Kepala ditolehkan ke samping. "Hai, Sayang." Synda jelas langsung membelalakan mata melihat sosok jangkung mantan kekasihnya. Alexander berdiri tidak jauh darinya. Pria itu justru semakin berjalan mendekat. Ia hanya bisa berdiri mematung dengan rasa terkejut yang belum mampu dihilangkan. Bukan hanyalah keberadaan Alexander saja tak disangka. Namun, pakaian tengah pria itu kenakan adalah pemberian darinya, kado untuk peringatan hari ulang tahun mantan kekasihnya sebelum diakhiri jalinan asmara mereka. Alexander begitu tampak gagah. "Aku tidak mengganggumu 'kan, Sayang?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN