“Tanpa minum vodka atau sampanye pun, aku tetap mampu liar.” Synda menjawab dengan percaya diri. Suara cukup lantang. Harus ditunjukkan sikap demikian supaya Alexander tidak merasa sudah menang. Ia tak bisa membiarkan pria itu mempunyai asumsi, jika dirinya akan menuruti semua yang diinginkan untuk menjamin sejumlah video percintaan mereka tidak disebarkan. Synda mengaku bodoh karena beberapa hari lalu menyanggupi kesepakatan mantan kekasihnya ajukan. Ia tak memikirkan lebih matang akan konsekuensi tambahan yang diperolehnya. Terutama, bentuk kuasa dari Alexander. Memerintahkan apa saja. “Benarkah begitu? Bagaimana jika buktikan sekarang di depanku? Lakukan tanpa ragu.” Synda menyeringai sinis. “Kau pikir dapat membuatku melakukan apa maumu?” “Haha. Kenapa tidak? Aku memegang lebih

