“Aku dan kamu bagaikan tengah terjebak dalam badai besar, badai di mana tidak ada jalan keluar di dalamnya.” Gumam Jay pelan sembari menatap foto Jo saat berusia delapan tahun, satu-satunya foto wanita yang menghiasi dompetnya. Jay tersenyum miris, entah mengapa kisah cintanya selalu terasa begitu menyesakkan. Jika cinta hanyalah rasa yang menyesakkan d**a, maka Jay sangat berharap rasa itu tidak pernah hadir di dalam hatinya. Mungkin saja, ia akan baik-baik saja jika tidak pernah jatuh cinta kepada Jo. “Bete banget muka lo!” Tepukkan pada bahu Jay membuatnya mengarahkan pandangan ke balik punggungnya. Seorang lelaki tinggi kurus berwajah oriental yang sangat tampan tersenyum kepadanya. Lelaki itu mengambil tempat duduk di hadapan Jay. “Gue bete,” ujar Jay dengan lemas. Lelaki itu terke

