Chapter 5

2376 Kata
Suara sirene mobil polisi dan mobil ambulance memecah kesunyian malam. Beberapa orang berseragam cokelat tersebut masuk ke dalam bangunan tua berlantai tiga itu dan sisanya berjaga-jaga di luar bangunan. Semua penghuni rumah yang berdekatan dengan bangunan tua tersebut keluar dari dalam rumah masing-masing untuk mencari tahu apa yang sudah atau sedang terjadi. Terima kasih pada Kenzano karena sedikit merasa bersalah atas ucapannya pada Keisha beberapa saat yang lalu, sehingga dia mengikuti cewek itu tanpa kentara dan langsung bertindak cepat ketika melihat bagaimana Keisha jatuh dari lantai tiga karena menginjak tripleks yang dianggapnya sebagai lantai. Sekuat mungkin, Kenzano bertahan dalam hal mencengkram pergelangan tangan Keisha dan menariknya agar kembali menapak pada lantai.             “Demi Tuhan, Keisha Anastasya! Bantu gue! Angkat beban tubuh lo sendiri, supaya gue bisa narik lo! Gue nggak akan biarin lo jatuh, lo dengar?! Gue nggak akan biarin lo mati karena lo masih berhutang nyawa sama gue dan gue akan pastiin, lo balas hutang nyawa lo itu!”             Itulah ucapan Kenzano saat dia menyadari bahwa Keisha sudah putus asa dan lebih memilih untuk tidak mencoba mengangkat beban tubuhnya sendiri. Kenzano tahu jalan pikiran Keisha. Cewek itu pasti berniat untuk mati. Merealisasikan niatnya saat dia hendak bunuh diri dengan cara melompat dari pagar jembatan itu dan juga saat dia memposisikan dirinya agar bisa dipukul dengan kayu yang dibawa oleh salah satu dari keenam preman beberapa jam yang lalu.             Saat ini, Kenzano sedang melirik Keisha yang sedang diinterogasi oleh dua orang polisi. Cewek itu terlihat seperti tenggelam karena memakai jaket levis yang tadi dikenakan oleh Kenzano. Ketika keduanya sudah keluar dari bangunan mengerikan itu, Kenzano segera menyampirkan jaketnya ke tubuh mungil Keisha yang terlihat menggigil dan gemetar, kemudian segera menelepon pihak kepolisian, terkait adanya mayat seorang cewek yang tidak sengaja ditemukan oleh Keisha.             “Baiklah, Nona Keisha... saya rasa, pertanyaan yang saya ajukan sudah cukup. Kalau saya membutuhkan kesaksian Anda lagi, saya akan segera menghubungi Anda. Terima kasih.”             Keisha mengangguk, mengiyakan ucapan si polisi. Dia lantas membiarkan kedua polisi tersebut pergi meninggalkannya dan menatap datar ke arah brankar yang baru saja dikeluarkan dari dalam bangunan itu, di mana di atasnya terbaring mayat seorang cewek berlumuran darah yang tadi dia temukan. Mendadak, Keisha menjerit dan berjongkok sambil menutup kedua telinganya, ketika sesuatu menepuk pundaknya dengan pelan. Kenzano, oknum yang menepuk pundak cewek itu, kontan ikut berjongkok dan memegang kedua pundak Keisha dengan tegas. Setegas tatapan matanya saat ini, ketika dia bertemu mata dengan binar ketakutan milik Keisha saat cewek itu sudah membuka kedua matanya.             “Ini gue.” Kenzano mencoba menyadarkan Keisha, memberitahunya bahwa dia bukanlah orang jahat. Keisha mengerjap dan menghembuskan napas berat. Jantungnya meliar. Napasnya memburu. Dia masih sangat takut. Kilasan balik mengenai pertemuan Keisha dengan si manusia bertopeng yang menatapnya tajam dan dingin tanpa belas kasihan itu membuat cewek tersebut bergidik dan air mata itu kemudian mengalir begitu saja. Membuat Kenzano mengatupkan mulutnya dan menggertakkan giginya. Rahangnya mengeras. Emosinya mulai naik ke permukaan. Ingin rasanya dia memeluk Keisha, tapi kemudian dia sadar bahwa tindakan itu sangat diluar batas kewarasannya. Dia dan Keisha bukanlah teman apalagi pacar. Untuk apa dia harus memeluk cewek itu segala?             “Kei... nggak usah nangis. Semuanya udah lewat.” Kenzano berusaha menenangkan Keisha walau rasanya sangat aneh. Dia tidak terbiasa membujuk apalagi menenangkan orang lain. Dia bukan orang yang lembut. Tapi, melihat Keisha menangis, entah kenapa membuatnya ingin sekali menghentikan tangis itu.             Keisha tidak menggubris ucapan Kenzano, tapi tetap mencoba menghapus air mata yang mengalir di wajah mulusnya itu. Ketika dia sudah lebih tenang dan rileks, dia membiarkan Kenzano memegang kedua lengan atasnya untuk membantunya berdiri. Untuk sementara waktu, Keisha melupakan sejenak ucapan kasar dan tidak tahu aturan milik Kenzano, saat keduanya masih berada di rumah cowok itu. Dia tidak memiliki cukup tenaga untuk berdebat atau mengusir Kenzano sebagaimana mestinya.             Saat kepala Keisha mendongak, tubuh cewek itu membeku. Matanya terpaku pada satu sosok yang berdiri tak jauh dari kerumunan. Tersembunyi di antara gang kecil yang hanya disinari lampu jalan. Tubuhnya lantas mulai gemetar hebat. Air mata itu kembali mengalir dan kini, hawa dingin membelai tubuhnya secara perlahan.             “Keisha?” panggil Kenzano bingung. Perubahan raut wajah dan gestur tubuh Keisha saat ini membuatnya heran. Terlebih sorot mata cewek itu. Sorot mata yang penuh dengan ketakutan. Sorot mata yang tidak mau lepas dari satu titik. Satu titik yang sepertinya berada tepat di belakangnya.  Kenzano mengerutkan kening dan menatap Keisha dengan tatapan tegas. Kemudian, cowok itu menoleh ke belakang dan menyipitkan mata.             Kosong.             Tidak ada apa pun di sana. Hanya sebuah gang kecil yang remang-remang akibat disinari lampu jalan dari samping kanan.             Ketika Kenzano kembali menatap Keisha, cewek itu terlihat seperti mayat hidup. Pandangannya kosong. Air matanya terus mengalir. Tubuhnya benar-benar gemetar dan menggigil, membuat Kenzano mencengkram kedua lengan Keisha dan mengguncang tubuh mungilnya.             “KEISHA!” seru Kenzano keras.             Berhasil.             Keisha mengalihkan wajahnya dan menatap kedua mata tajam milik Kenzano. Membuat Kenzano tertegun dan mengendurkan sedikit cengkraman tangannya pada lengan cewek itu.             “Gue... bakal... mati....”             DEG!             Apa?             Apa kata Keisha tadi?             “Keisha?”             “Gue... bakal... mati... mengenaskan... seperti... cewek... tadi....”             Kenzano mulai gusar. Dia berusaha menyadarkan Keisha dengan cara mengguncang lagi tubuh cewek itu. Sama sekali tidak peduli, jika tindakannya ini membuat beberapa polisi dan penduduk sekitar menatap ke arahnya dengan tatapan tidak suka. Bahkan, omelan seorang polisi sama sekali tidak dihiraukan oleh Kenzano.             “Keisha, lo ngomong apa, sih?! Come to your sense right now! Sadar sekarang juga, Kei!” teriak Kenzano. Cowok itu tidak mengerti apa yang sudah merasuki dirinya sendiri. Yang jelas, dia tidak suka ketika Keisha mengucapkan kalimat tadi. Dia tidak suka dengan ucapan Keisha. Dia tidak mau Keisha kenapa-napa.             Astaga!             Ada apa dengan dirinya?             “Gue... bakal... mati... mengenaskan..., Ken....” Keisha kini menatap sekelilingnya dengan tatapan ketakutan. Tatapan yang meliar. Tubuhnya semakin gemetar. Napasnya mulai tidak beraturan. Jantungnya semakin berdetak di atas normal.             Dan... semuanya seakan menjadi baik-baik saja, ketika kedua lengan kokoh itu merengkuh tubuhnya.             Menenggelamkannya dalam lautan ketenangan dan kenyamanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.             Dia ditarik ke dalam pelukan Kenzano. Pelukan yang tegas, hangat, lembut, nyaman dan aman. Dia merasa terlindungi. Semua ketakutannya mendadak lenyap tak berbekas.             Ada apa dengannya?             “Dengar, Keisha... lo tau apa julukan gue di kampus? Kenzano Altar Bagaskara, si malaikat kematian. Dan gue nggak akan biarin lo kenapa-napa. Gue bukan Tuhan yang bisa memutuskan kapan nyawa manusia akan dicabut, tapi, dalam kasus ini... selama gue masih ada... selama gue masih bernapas... selama gue masih ada di sekitar lo... selama gue masih memutuskan bahwa lo harus ada di sisi gue untuk membayar hutang nyawa lo itu... selama itu pula, lo aman dan terlindungi. Selama itu pula, lo akan tetap hidup dan bernapas. Karena gue nggak akan biarin apa pun atau siapa pun menyakiti lo, Keisha....”             Dan untuk pertama kalinya, semenjak perselingkuhan ayahnya yang membuatnya benci terhadap cowok mana pun di dunia ini, dia mempercayai ucapan Kenzano.             Dia mempercayai Kenzano.             Hanya saja, Keisha dan Kenzano tidak menyadari bahwa seseorang tengah mengawasi keduanya tidak jauh dari tempat mereka berpelukan sekarang. Seseorang yang kembali menyunggingkan seulas senyum licik, sambil membenarkan gelang berwarna hitam di pergelangan tangan kirinya.             Gelang yang terdapat sedikit noda darah.             “Well, Keisha... sayang sekali lo nggak bisa melihat bagaimana cewek tadi diserang ketakutan dan mendengar bagaimana jeritan cewek tadi yang begitu merdu.” Dia menjilat noda darah pada gelang hitam tersebut dan terkekeh geli. Orang itu juga berhasil membaur dengan masyarakat sekitar. Dia juga sengaja memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya. “Gue memutuskan untuk bermain-main sebentar dengan lo, sebelum gue mencabut nyawa lo, Keisha Sayang.”             Sampai sekarang, rencana yang dia buat sudah berhasil dilaksanakan. Dia tahu informasi mengenai semua orang di sekitar Keisha. Dia semakin lihai menguntit dan mengawasi keseharian Keisha. Dan yang paling penting, dia berhasil memberikan ketakutan tiada tara kepada cewek itu.             Ketakutan dahsyat yang akan membuat mental Keisha terganggu, akibat pikiran-pikiran negatif cewek itu sendiri yang kemungkinan besar akan meyakinkan dirinya bahwa dia akan menjadi korban pembunuhan selanjutnya.             “What kind of games will i choose next time we meet, my little princess, Keisha Anastasya?” ### Siapa?             Keisha terus berlari, membelah kesunyian malam. Dia menengok ke belakang beberapa kali dan merasa nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Suara goresan benda tajam yang diseret di atas aspal itu semakin terdengar, membuat Keisha semakin ketakutan dan tangisnya semakin menjadi. Mengabaikan rasa lelahnya, dia terus mencari tempat perlindungan.             Siapa dia?             Apa maunya?             Apa... apa dia akan membunuh gue?             Gue akan... mati?             Gue akan berakhir mengenaskan seperti cewek di bangunan tua itu?             Mati dengan leher yang hampir terlepas dari tempatnya dan d**a kiri yang bolong?             Tidak!             Tiba-tiba, Keisha menabrak sesuatu. Cewek itu menjerit keras dan terjatuh. Kepalanya mendongak dan benda menyerupai bulan sabit itu yang menunggunya. Benda itu begitu berkilauan karena tertempa cahaya bulan. Suara serigala terdengar di kejauhan, diiringi dengan gema tawa yang sangat menakutkan. Sosok di depannya itu mengenakan jubah hitam seperti milik Harry Potter dan wajahnya ditutupi oleh topeng Phantom. Kedua matanya menyorot tajam dan dingin, tanpa ada rasa belas kasihan. Menginginkan kematiannya segera. Haus akan darahnya. Lapar akan kulitnya.             “Jangan... jangan bunuh gue, gue mohon....”             Permohonan Keisha diabaikan oleh orang tersebut. Diangkatnya benda yang menyerupai bulan sabit itu ke udara, kemudian sosok bertopeng itu tertawa puas. Keisha bahkan bisa merasakan seringainya dari balik topeng Phantom yang sangat menyeramkan tersebut.             “Hidup lo udah nggak ada gunanya, Keisha Anastasya... nggak ada yang peduli sama lo. Ayah lo berselingkuh... Bunda lo tidak bisa berbuat apa-apa, selain mencabut nyawanya sendiri... Keilvan? Di mana kakak lo yang katanya sangat menyayangi lo itu? Hmm? Dia sedang bersenang-senang di luar sana bersama para w*************a! Darah ayah lo tentu mengalir dalam tubuhnya dan juga tubuh lo... kalau sudah begitu, bukankah lebih baik lo mati saja, Keisha?”             Tidak...             Tidak...             Dia tidak ingin mati... dia masih ingin bertemu dengan bundanya, walau hanya bertemu di pemakaman saja. Dia masih ingin bertemu dengan Kak Keilvan dan meminta maaf atas perlakuan dinginnya selama ini. Dia masih harus membayar hutang nyawanya kepada... Kenzano.             Kenzano!             “Lo nyari Kenzano, Keisha?” tanya sosok itu lagi. Kemudian, entah bagaimana caranya, sosok itu melempar Kenzano begitu saja. Kenzano dengan mulut robeknya dan tubuh berlumuran darah.             “ARRRGGGHHHHHH!!!”             Tangis Keisha semakin pecah. Dia menggelengkan kepala dan menutup mulutnya dengan kedua tangan, ketika melihat tubuh tak bernyawa milik Kenzano.             “Selamat tinggal, Keisha....”             Benda itu diayunkan dan Keisha kembali berteriak kencang seiring dengan wajahnya yang terkena ujung benda tersebut dan memuncratkan darahnya ke mana-mana.             “KEISHA!”             Guncangan keras pada tubuhnya membuat kedua mata Keisha terbuka lebar. Dia berhenti berteriak dan menatap nyalang langit-langit di atasnya. Merasa pundaknya dipegang dengan sangat tegas, perlahan  Keisha menatap ke samping. Di sana, Kenzano menatapnya dengan khawatir. Benar-benar khawatir. Hal yang sangat jarang ditunjukkan oleh seorang Kenzano. Tak lama, Eve masuk ke dalam kamar Kenzano. Memang, cewek itu diminta datang oleh Kenzano untuk menemani Keisha tidur malam ini. Kenzano merasa tidak aman membiarkan Keisha pulang, entah kenapa.             “Keisha, lo kenapa?” tanya Kenzano pelan. Cewek itu masih belum bereaksi. Matanya masih mengeluarkan air mata. Jantungnya serasa keluar dari rongganya. Napasnya seperti satu-satu. Mimpi tadi terasa sangat nyata. Amat sangat nyata, hingga Keisha bisa merasa wajahnya terkoyak habis oleh sabit mengerikan itu.             Kemudian, dengan satu gerakan cepat, Keisha bangkit dari tidurnya. Dia menangis keras dan langsung memeluk Kenzano dengan kuat. Tubuhnya gemetar hebat, Kenzano tahu akan hal itu. Dia tidak balas memeluk Keisha karena terlalu terkejut dengan tindakan cewek tersebut. Sementara itu, Eve hanya menatap Keisha dengan tatapan kasihan, kemudian pergi meninggalkan keduanya. Dia sudah mendengar keseluruhan cerita Kenzano mengenai Keisha yang menemukan mayat di dekat rumahnya dan berharap semoga cewek manis itu tidak harus mengalami trauma seperti sekarang ini.             “Dia ngejar gue! Dia ngejar gue! Dia bakalan bunuh gue, Ken! Dia bakal bunuh gue!” seru Keisha ketakutan. Mendengar seruan itu, Kenzano seolah tersadar dari kekagetannya atas pelukan mendadak dari Keisha. Kemudian, kedua tangan Kenzano terangkat dan mulai membalas pelukan Keisha. Dia mengelus punggung Keisha dengan lembut, membagikan energi positif yang dia punya.             Sekarang, keputusannya sudah bulat.             Sedetik pun, Keisha tidak boleh lepas dari pengawasannya. ### Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarnya membuat Keisha mengerang dan membuka kedua matanya perlahan. Dia bangkit dari posisi tidurnya dan memegang kepalanya yang terasa pusing. Perlahan juga, kilasan mengenai kejadian kemarin kembali terekam dalam memori otaknya. Bagaimana dia menemukan mayat cewek di bangunan tua itu dan Kenzano menyuruhnya untuk menginap di rumahnya. Kemudian, saudara sepupu Kenzano yang bernama Virginia Evelyn atau yang dipanggil Eve oleh Kenzano, datang untuk menemaninya. Sampai akhirnya, mimpi mengerikan itu datang menghantui.             Keisha menarik napas panjang dan menundukkan kepala. Kedua tangannya meremas kuat selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya terasa panas. Ingin sekali dia kembali menangis, tapi cewek itu mengurungkan niatnya. Dia harus kuat.             Tiba-tiba, terdengar suara bel. Setelah tiga menit berlalu, bel itu masih terus berbunyi, membuat Keisha bertanya dalam hati, di manakah semua pembantu Kenzano? Di mana juga satpam yang bertugas di pos setiap harinya? Kenapa ada tamu, tetapi tidak ada yang membukakan pintu?             Karena tidak ingin mengganggu Eve juga Kenzano yang sepertinya masih tertidur, Keisha turun dari ranjang dan keluar kamar. Dia menuruni tangga, berjalan dengan sedikit tertatih karena kakinya yang mulai terasa sakit. Kemungkinan besar efek dari keseleo semalam, ketika dia mencoba kabur dari si pembunuh.             Begitu Keisha membuka pintu utama, sebuah senyuman lembut dan manis menyapanya. Keisha mengerjap dan terpana. Senyuman itu... senyuman yang sangat pas untuk wajah tampan di depannya. Senyuman yang tidak pernah dia lihat dari wajah seorang... Kenzano Altar Bagaskara.             “K—Ken?” panggil Keisha gugup. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Sial! Padahal dia tidak pernah seperti ini, jika bertemu dengan Kenzano! Kenapa sekarang reaksinya seperti orang yang sedang naksir dengan orang lain, sih?! “E—elo darimana? Kok bawa ransel? Semalam nggak tidur di rum—“             “Siapa, Kei?”             Suara bernada datar dan tegas itu membuat Keisha tersentak. Dia menelan ludah susah payah. Kenzano masih tersenyum di depannya. Sorot matanya juga begitu lembut dan menenangkan. Perlahan, Keisha memutar tubuhnya dan... terperangah!             Kenzano sedang mengucek sebelah matanya dan menguap! Kenzano dengan kaus oblong dan celana jeans selutut yang sudah robek di bagian pahanya!             Astaga!             ADA DUA ORANG KENZANO!             Merasa tidak mendapatkan jawaban dari Keisha, Kenzano berhenti mengucek mata. Dia menatap Keisha yang terkejut dan membuka mulut untuk menanyakan ada apa dengan cewek itu. Namun, niatnya itu terpaksa dibatalkan ketika tatapannya kini bertemu dengan tatapan yang sama dengannya. Kenzano terpaku. Tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini.             “E... elo....”             “Hai, kembaran. Ayah dan Bunda memutuskan untuk mempertemukan kita sekarang setelah dua puluh tahun kita dibiarkan terpisah. Gue Renzano Alfar Bagaskara. Senang bisa bertemu dengan diri gue yang satunya lagi.”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN