Chapter 2

2698 Kata
Jakarta, 15 Maret 2015. 01.30 WIB   Suara musik yang begitu memekakkan telinga membuat Kenzano mendesis dan kembali meneguk minumannya. Dia menyetir dan cukup tahu diri untuk tidak meminum minuman beralkohol, jika tidak ingin berakhir di kamar mayat saat pulang nanti dan menimbulkan pesta besar bagi para musuh-musuhnya yang sangat terobsesi menginginkan kematiannya. Sudah bukan rahasia umum lagi jika Kenzano yang sangat ditakuti dan disegani di mana pun dia berada itu memiliki banyak musuh yang menginginkan kejatuhan, keterpurukan dan yang paling penting kematiannya. Karenanya, Kenzano lebih memilih aman dengan hanya meminum coca-cola, walaupun dia sangat ingin menenggak vodka atau semacamnya. Pikirannya bercabang dan dia sangat membutuhkan jenis minuman seperti vodka dan kawan-kawannya agar pikirannya bisa sedikit lebih tenang dan rileks. Konyol dan t***l memang, karena Kenzano memiliki pemikiran dangkal seperti itu.             Suara teriakan yang begitu nyaring dan berada tak jauh di dekatnya itu membuat Ken, begitu dia kerap disapa, menoleh. Ken menaikkan satu alisnya dan mendengus seraya menggelengkan kepala. Memuakkan, itulah satu kata yang melintas di benaknya saat ini. Dia sedang malas berkelahi atau meladeni orang-orang berotak dangkal yang bisanya hanya mengganggu ketenangan orang lain saja. Tapi, pemandangan yang terjadi tak jauh di dekatnya itu membuat darahnya mendidih. Ken kemudian mendapati diri sedang kehausan. Haus akan darah dan lapar akan teriakkan penuh permohonan dari orang-orang yang akan dihajarnya beberapa saat lagi itu. Karenanya, begitu Ken kembali menenggak coca-colanya—kali ini sampai tandas—cowok berkacamata itu turun dari tempat yang sejak tadi didudukinya dengan tenang, berjalan dengan angkuh ke arah kegaduhan yang diciptakan oleh seorang cewek berambut panjang bergelombang yang mengenakan topi bisbol berwarna hijau tosca tersebut dan menjulangkan tubuhnya di belakang ketiga pria besar yang sedang menyentuh cewek bertopi itu.             Sadar jika Ken berhasil mendapatkan perhatian seutuhnya dari cewek bertopi bisbol itu, Ken menyunggingkan seulas senyum miring. Senyum yang begitu angkuh, kejam, dingin dan terkesan... misterius. Senyum yang lebih menyerupai seringaian. Senyum yang selalu membuat orang-orang di kampusnya lebih memilih untuk pergi dan menjauh dari Ken, jika tidak ingin mendapatkan kutukan atau bahkan lebih parah lagi, dicabut nyawanya secara paksa oleh cowok tersebut.             Ini adalah kali pertama Ken menemukan seseorang yang tidak terintimidasi bahkan tidak takut sama sekali dengan senyuman miliknya yang katanya sangat menakutkan itu. Ken menyipitkan mata, berusaha menajamkan penglihatannya karena pencahayaan kelab malam tersebut yang memang remang-remang. Belum lagi sang DJ semakin bersemangat memasang lagu yang begitu menghentak jantung, membuat siapa saja yang memiliki riwayat penyakit jantung pasti akan langsung ‘lewat’ tanpa sempat menghitung berapa besar dosa atau pahala yang mereka miliki.             Benar. Cewek itu rupanya balas menatapnya dengan lantang dan tegas. Pakaiannya hanya berupa kaus lengan panjang dengan gambar anak kucing pada bagian tengahnya yang dipadu dengan celana jeans gelap. Harusnya, cewek bertopi bisbol ini tidak datang ke kelab malam. Cewek itu sudah salah tempat. Maksud Ken, lihat saja semua penampilan cewek yang ada di kelab malam ini. Pakaian yang melekat di tubuh mereka adalah pakaian-pakaian minim alias pakaian kurang bahan semua!             “Woi!”             Teriakan Ken yang keras terdengar langsung oleh ketiga pria bertubuh kekar tersebut karena Ken melakukannya tepat di belakang ketiga kepala mereka. Otomatis, ketiganya menoleh dan menatap tidak senang pada Ken yang semakin memperlihatkan seringaiannya.             “Apa?” tanya salah satu dari ketiga pria tersebut dengan nada kasar. “Jangan ikut campur kalau nggak mau berakhir mengenaskan di rumah sakit!”             “Ha! Lucu banget!” Ken mendengus dan tertawa keras. Dia kembali menggelengkan kepala dan berkacak pinggang. Ditatapnya dengan tatapan melecehkan ketiga pria di depannya itu. “Elo? Mau bikin gue berakhir mengenaskan di rumah sakit? Jangankan elo... kalian bertiga sekaligus langsung nyerang gue pun, bukan gue yang berakhir di rumah sakit, melainkan kalian!”             Tidak terima dengan ucapan Ken, ketiganya langsung menyerang cowok itu. Suara teriakan para pengunjung cewek kini terdengar saling tumpang-tindih, sementara para pengunjung cowok dengan sangat sadar diri lebih memilih untuk menghindar, jika tidak ingin terkena pukulan nyasar.             Ken dengan sifat tenangnya yang tidak pernah bisa terbaca, menghadapi ketiga pria tersebut dengan santai. Seolah-olah, perkelahian ini hanyalah permainan belaka. Ken melayangkan kepalan tangannya pada orang pertama, yang disusul dengan tendangan berputar sehingga menyebabkan orang tersebut jatuh menimpa meja yang ada di dekatnya. Untuk orang kedua, Ken sedikit bermain dengan orang tersebut. Setiap kali orang tersebut berniat menghajarnya, Ken selalu menangkap tangannya dan meninju wajah orang tersebut. Lucunya, orang tersebut malah memukul wajahnya sendiri dengan kepalan tangannya.             Terakhir, Ken mulai bersikap awas karena orang ketiga yang akan dihadapinya tidak main-main. Orang tersebut mengeluarkan sebilah pisau dari celana jeansnya dan mengacungkannya pada Ken.             “Main pisau, nih?” tanya Ken sambil terkekeh geli. Ken langsung menghindar setiap kali orang tersebut berusaha menghunuskan pisaunya. Kemudian, dengan satu gerakan tak terbaca, Ken menahan pergelangan tangan orang tersebut, memelintirnya ke belakang hingga orang itu berteriak keras dan pisau yang digenggamnya jatuh ke lantai, lantas menendang ulu hatinya dengan menggunakan lutut. Kedua rekannya yang sudah berhasil mengatasi rasa sakit, kini bangkit berdiri dan pergi keluar dari dalam kelab malam itu. Terakhir, si pria pembawa pisau itu juga ikut berdiri dan melarikan diri tanpa menghiraukan rasa sakitnya.             “Hei! Pisau k*****t lo ketinggalan, nih!”             Sambil berteriak, Ken mengambil pisau yang tergeletak di lantai itu, kemudian melemparnya. Si pembawa pisau itu, yang tadi mendengar teriakan Ken, kontan menoleh dan membeku saat hembusan angin melewatinya begitu saja, disusul kemudian sebuah pisau terbang ke arahnya.             Tepat ke arahnya, kalau saja gerak refleks tubuhnya tidak cepat!             Pisau itu menancap ke dinding di samping pintu masuk kelab, membuat Ken mendesah kecewa dan berdecak berlebihan. Dia menatap ketiga pria tersebut dengan tatapan kecewa sambil bersedekap.             “Itu bukan karena gue meleset, loh, ya... Cuma kurang tenaga angin aja.” Ken memudarkan senyum misteriusnya dan memasang wajah mengerikan. Nampak sekali haus darah dan begitu gelap. Membuatnya terlihat sangat mirip dengan malaikat kematian yang selalu divisualisasikan di film-film.             “Pergi, sebelum gue kalap!”             Tanpa menunggu lebih lama lagi, ketiganya bergegas pergi. Si orang terakhir yang dihajar oleh Ken pun bahkan melupakan pisaunya karena tidak ingin nyawanya berakhir konyol di tempat ini. Namun, ketiganya berjanji dalam hati akan menghabisi Ken kalau mereka bertemu lagi nanti.             Ken menghembuskan napas panjang dan menepuk kedua tangannya seolah menghilangkan debu yang menempel di sana. Begitu dia memutar tubuh, dia mengerutkan kening saat menyadari cewek bertopi bisbol itu sudah jatuh tak sadarkan diri. Otomatis, tatapan tajam Ken mengitari sekelilingnya, membuat hawa membunuh kembali terasa.             “Siapa yang berani bikin nih cewek pingsan?!” seru Ken berapi-api. Tidak ada yang menjawab, tentu saja. Semua orang mengira nyawa mereka sudah berada di ujung tanduk akibat kelakuan Ken beberapa saat yang lalu. Sadar jika dia tidak akan mendapatkan jawaban—ya, ya, ya, salahnya sendiri karena terlalu bersikap mengerikan—Ken mengambil tindakan. Dia berjongkok, membuka ransel yang berada tepat di samping kaki si cewek bertopi bisbol dan mulai mengacak-acak benda tersebut. Tak lama, dia menemukan apa yang sedang dicarinya. Sebuah dompet. Ken mencari kartu identitas cewek itu dan dia tidak sengaja melihat sebuah kartu mahasiswa.             Kartu mahasiswa yang juga ada di dalam dompetnya sendiri.             “Anak kampus gue rupanya,” gumam Ken seraya membaca nama yang tertera di sana. Keisha Anastasya. “Apa gue emang kurang bersosialisasi, ya, selama di kampus?”             Yeah, right! Macam ada saja mahasiswa yang betah berlama-lama berdekatan dengan Ken. Orang belum apa-apa aja udah dikasih pelototan ala raja neraka!             Setelah membereskan semuanya, Ken memakai ransel tersebut di bahu sebelah kanan kemudian mengangkat tubuh cewek bernama Keisha itu ke dalam dekapannya. Dia berjalan menuju pintu utama tanpa memperdulikan sentakan napas para pengunjung cewek yang jelas-jelas memuja aksinya itu. Kemudian, setelah berada di gerbang kelab malam tersebut, Ken menghentikan taksi pertama yang melintas di depannya. Dia menyuruh si supir taksi untuk membuka pintu penumpang di belakang dan menaruh Keisha dengan hati-hati. Setelah itu, Ken menaruh selembar uang seratus ribuan ke pangkuan si supir taksi dan berkata, “Antar dia ke jalan Kasuari nomor 65 dengan selamat dan tanpa kurang satu anggota tubuhnya. Kalau sampai besok gue liat dia jadi aneh atau semacamnya, elo bakalan gue kejar sampai ke ujung neraka sekalipun! Paham?! Dan jangan dikira, gue nggak bisa nyari elo, ya! Ingat itu baik-baik!”             Si supir taksi mengangguk takut dan mulai menjalankan mobilnya dengan sangat pelan, membuat Ken berdecak jengkel. Menyesali ancamannya barusan.             “Kalau jalannya macam kuya begitu, kapan sampainya si Keisha?” gumamnya pada diri sendiri. ### Keisha melamun di kelasnya. Pasalnya, dia masih bingung dengan Ken yang mendadak menyebutkan namanya tadi. Dia yakin bahwa dia baru pertama kali bertemu dengan Ken tadi, meskipun cewek itu sudah sering mendengar rumor mengenai Kenzano Altar Bagaskara. Keisha memaksa otaknya berputar lebih jauh lagi, mencoba mengingat di mana gerangan dia pernah bertemu dengan Ken sebelum ini.             Gagal.             Arrrgggh, sial! Apa ini efek dari vodka yang diminumnya semalam? Ingatannya masih samar bahkan buram sama sekali. Selama di kampus pun, sebelum pertemuannya dengan Ken tadi, dia yakin dia tidak pernah bertatap muka dengan cowok itu sebelumnya. Di kampus, Keisha berusaha tampil sebagai orang yang tak kasat mata. Dia malas menjadi objek perhatian. Dia juga keluar kelas jika harus memenuhi panggilan alam saja dan sisanya dia habiskan di dalam kelas seharian penuh. Jadi, kemungkinan dia pernah bertemu dengan Ken adalah nol koma nol satu persen!             Tapi... dia yakin jika tadi Ken menyebutkan namanya! Nama panjangnya!             Dan... ada yang aneh juga dengan ucapan Ken sebelum dia menyebutkan namanya itu. Ken berkata jika dirinya berhutang nyawa tiga kali dengan cowok itu. Seingat Keisha, Ken hanya menolongnya dua kali. Pertama, saat dia diseret paksa oleh lima cowok sialan itu dan terakhir, saat dia hampir tertabrak. Hanya itu.             Lantas... satu lagi yang mana?             “Ini gue yang pikun apa si Ken yang t***l, ya?” gumam Keisha sambil mengetuk dagunya dengan bolpoin. Detik berikutnya, Keisha berteriak sambil menggelengkan kepalanya, membuat seisi kelas kontan diam dan menatap ke arahnya dengan tatapan bingung.             “Ngapain lo semua ngeliatin gue?!” seru Keisha sambil menggebrak meja. “Sana, catet tuh!”             Seisi kelas kontan mengalihkan tatapan mereka dan kembali mencatat catatan yang ditinggalkan oleh dosen di papan tulis. Keisha yang sudah terlanjur bete, akhirnya bangkit berdiri dan berjalan menuju toilet.             Dia butuh air segar untuk membasuh wajahnya yang terasa penat! ### TARR!             TARR!             TARR!             TARR!             TARR!             Lima kali berturut-turut timah panas itu dilepaskan dari tempatnya, membuat Ken tersenyum puas karena berhasil melubangi lima papan berbentuk orang yang selalu dipakai untuk latihan menembak. Tentu saja tepat mengenai sasaran berbentuk lingkaran merah yang berada di bagian kepala. Dia melepaskan alat yang menyumpal kedua telinganya dan memasukkan pistol yang dipegangnya ke dalam sarung pistol yang menggantung di celana jeansnya. Ken berjalan menuju kursi dan duduk di sana sambil meminum es jeruknya. Ini adalah latihan yang selalu dijalaninya semenjak dia berumur lima belas tahun. Latihan menembak. Selain latihan menembak, dia juga mengikuti latihan bela diri. Hidup sendiri di rumah besar membuatnya harus bisa menjaga diri dari dunia luar yang begitu kejam dan tanpa belas kasihan. Belum lagi, dia juga memiliki banyak musuh.             “Ken....”             Panggilan itu membuat Ken melirik sekilas tanpa kentara melalui pundaknya dan menaruh gelasnya di atas meja.             “Yo.” Ken balas menyapa. Dia membiarkan Geo, sahabatnya semenjak SMP, duduk tepat di depannya. Geo meringis aneh sambil menunjuk lima papan dengan bagian kening yang bolong.             “Lo... oke, kan?”             “Kenapa, emang?”             “Nggak apa-apa, sih... cuma....” Geo bergidik dan mau tak mau Ken jadi tertawa karenanya.             “Yo, lo tau sendiri kalau gue ini udah latihan menembak dari umur lima belas. Kalau gue selalu bisa menembaki papan-papan itu dengan kening yang bolong, itu artinya gue udah jago!”             “Iya, deh... suka-suka lo aja. Asal bukan gue yang keningnya bolong karena ulah lo.” Geo mengambil minuman Ken dan meminumnya tanpa meminta izin terlebih dahulu. “Omong-omong, bengkel langganan gue udah gue kirim ke tempat yang lo sebutin itu. Mobil lo bakalan beres dalam waktu dua hari.”             Ken mengangguk dan bangkit berdiri. Dia mengeluarkan pistolnya dari dalam sarung dan melemparnya ke arah Geo yang menangkapnya dengan takut. Jelas takut. Takut kalau pistol yang dilempar itu mendadak memutuskan untuk mengeluarkan timah panasnya sendiri. Kemudian, Geo menaruh pistol itu ke atas meja dengan sangat hati-hati seraya mengelus benda mengerikan tersebut.             “Payah,” ejek Ken sambil terkekeh geli. Geo berdecak dan melotot ganas, namun hanya bisa diam tanpa membantah. Malas dia berdebat dengan Ken.             Tak lama, pelayan Ken datang dengan membawakan benda kesayangan Ken yang lain. Kemudian, pelayan itu berjalan menuju salah satu dari kelima papan yang tadi ditembak oleh Ken. Pada bagian wajahnya, pelayan itu menempel sesuatu. Sesuatu yang disuruh oleh Ken kepada pelayan tersebut untuk mencarinya di search engine website universitasnya.             “Ken?” panggil Geo dengan kening berkerut, ketika dia menatap sesuatu yang ditempelkan oleh pelayan itu pada papan berbentuk orang tersebut. Geo menyipitkan mata dan berusaha menajamkan penglihatannya. Ketika dia menoleh ke arah Ken yang sudah siap dengan benda di tangannya, Geo menelan ludah susah payah. “Kenapa... ada foto—“             WUSSSHHH!             Belum sempat Geo menyelesaikan kalimatnya, Ken telah lebih dulu bertindak. Dia melepaskan anak panah itu dari busurnya dan tepat mengenai sasaran.             Anak panah itu menancap pada bagian wajah dari foto tersebut.             “Kayaknya lo kenal sama Keisha Anastasya, ya?” tanya Ken dengan nada datar. Senyum misteriusnya terbit ketika dia menatap foto yang sudah berhasil dipanahnya itu. Foto Keisha yang tengah memakai topi bisbol sambil tersenyum lebar.             Geo mengangguk cepat. Heran dengan Ken yang mendadak tahu soal Keisha. Keisha adalah sahabat dari adik sepupunya yang juga satu kampus dengannya. Kedua cewek itu bersahabat sejak menjadi mahasiswa baru. Geo pernah beberapa kali bertemu dengan Keisha, ketika dia berkunjung ke rumah adik sepupunya, Shanaz.             “Awasin cewek yang bernama Keisha itu, Yo. Dia hutang nyawa sama gue!” Ken kembali mengambil anak panahnya. Kali ini, dia melempar anak panah tersebut tanpa menggunakan busur dan tetap mengenai sasaran.             Wajah Keisha. ### Keisha menoleh sekali lagi.             Cewek itu sangat yakin kalau ada seseorang yang mengikutinya. Selama beberapa hari terakhir ini, Keisha merasa dikuntit. Meski keadaan jalan sangat ramai oleh kendaraan maupun pejalan kaki, perasaan diikuti itu tetap hadir. Namun, setiap kali dia memeriksa keadaan, Keisha tidak pernah berhasil menemukan penguntit tersebut.             Seperti sekarang.             Keadaan jalan yang sunyi membuat Keisha menelan ludah. Dia gemetar sekarang. Takut, itu yang Keisha rasakan. Jantungnya berdegup kencang dan peluh dingin itu mulai mengalir di wajah cantiknya.             Siapa? Siapa yang beberapa hari terakhir ini sudah menguntitnya?             Keisha mulai mempercepat langkah kakinya. Cewek itu bahkan nyaris berlari sekarang. Rumah kontrakannya sudah terlihat dan Keisha mendesah lega. Begitu dia ingin membuka pagar, Keisha menjerit saat seseorang menepuk pundaknya.             “Nggak sopan banget!”             Nada sebal itu menyebabkan Keisha memutar tubuh dan mengerutkan kening ketika menemukan sosok yang sudah menjadi objek pembicaraan orang seantero kampus setiap harinya.             “Elo?! Ngapain lo ada di sini? Lo tau darimana alamat gue? Jadi, selama ini lo yang nguntit gue, iya?!” Keisha berusaha mengatur napasnya yang memburu akibat rasa takut yang sudah tidak bisa dibendung lagi.             Kenzano mengangkat satu alisnya dan bersedekap. Ditatapnya Keisha yang mendumel entah apa. Seulas senyum tipis terbit, namun Kenzano segera menghilangkan senyuman itu saat Keisha mendongak dan menatapnya tajam.             Sial! Kenzano membatin. Cewek ini benar-benar menantang adrenalin gue! Baru kali ini ada orang yang berani sama gue, cewek pula!             “Apa?” tanya Keisha karena merasa Kenzano terus saja menatapnya tanpa berbicara apa pun. “Apa? Ada apa? Mau ngajak ribut?”             Tanpa diduga, Kenzano mencekal pergelangan tangan Keisha. Cowok itu menarik tubuh Keisha mendekat ke arahnya, hingga ujung sepatu mereka berdua bersentuhan. Dinikmatinya ekspresi penuh amarah milik Keisha, yang bukan hanya ditunjukkan melalui raut wajah, tetapi juga tatapan matanya.             “Apa maksud lo dengan gue menguntit lo? Dan apa maksudnya dengan selama ini lo dikuntit? Apa lo punya musuh, Keisha?”             Sebelah tangan Kenzano yang bebas kini mencekal dagu Keisha dan mengangkat wajah cantik itu. Sigap, Keisha segera menyentak tangan Kenzano dengan sebelah tangannya yang lain.             “Kalau lo mau bilang bahwa bukan lo yang menguntit gue selama ini, berarti ini bukan urusan lo!” Cewek itu mendengus. “Gue lupa kalau orang kaya seperti lo bisa dengan gampangnya mendapatkan apa pun yang lo inginkan, termasuk alamat rumah seseorang. Kenapa? Lo mau gue bayar hutang nyawa gue ke lo?”             Kenzano tidak menjawab. Dia justru melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Keisha dan menunjuk rumah kontrakan cewek itu. Di tempatnya, Keisha yang tidak mengerti dengan perubahan sikap Kenzano, kontan mengerutkan kening sambil mengusap pergelangan tangannya.             “Masuk!” perintah Kenzano.             “Hah?”             “Gue bilang masuk, Kei!” Cowok itu kembali memberi perintah. Kali ini dengan nada final. “Jangan banyak tanya dan masuk sekarang juga!”             “Ih! Aneh, lo!” Keisha mendelik dan mengikuti juga perintah arogan Kenzano. Cewek itu bahkan membanting pintu pagar dan pintu rumahnya.             Bukan tanpa alasan Kenzano menyuruh Keisha masuk ke dalam rumah. Cowok itu merasa ada yang mengawasinya dan Keisha. Perasaannya mulai berbicara sekarang.             Dan jelas, perasaannya mengatakan ada yang tidak beres.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN