Author Pov
------------------
Sasa tersenyum puas melihat pintu kamar mandi yang tertutup yang disusul bunyi guyuran air dari dalam sana.
Belum puas, Sasa melepas jins yang dipakainya hingga menyisahkan kemeja Kevin yang melekat ditubuh mungilnya. Panjang kemeja itu hanya sedikit di bawah bokongnya sehingga menampakkan pahanya yang putih mulus.
Puas dengan penampilannya, Sasa melipat celana dan kemejanya yang kotor kemudian menyimpannya di sudut ruangan.
Sasa melihat mie instan yang tadi dipegang Kevin sebelum laki-laki itu masuk ke kamar mandi. Ada lima bungkus, Sasa ingat kalau tadi Kevin bilang lapar dan sebagai permintaan maaf, dia berniat memasak untuk kekasihnya yang sedang meredam hasrat di dalam sana itu.
Sasa membawa bungkusan itu ke meja di dekat kompor, dan mulai mengumpulkan bahan-bahan yang akan di pakainya. Lemari es Kevin kali ini penuh, rupanya pria itu mendengarkan Sasa sekarang untuk selalu menyediakan bahan makanan di dalamnya.
Ketika sedang mengambil telur, Sasa menemukan karet gelang berwarna merah di atas keranjang kecil yang biasa digunakan untuk menyimpan kotak teh, dia mengikat rambutnya asal dengan karet itu. Rambutnya yang panjang dan lebat hampir tidak muat dalam gulungan karet tersebut, akibatnya rambut Sasa mencuat sebagian tapi malah membuatnya semakin terlihat seksi.
Seorang perempuan mungil, berpakaian minim dengan rambut ditarik keatas dan dengan kaki telanjang, terlihat menggoda sedang berdiri di dapurnya.
Kevin melihat perempuan itu sambil meneguk salivanya, dalam hati merutuki Sasa yang seperti sengaja membuatnya menderita.
Kevin berdehem, berusaha keras menahan keinginan liarnya untuk menerkam tubuh di depannya. Dia tidak lupa, ranjang sakat dekat, dia tinggal menggendong Sasa kemudian menuntaskan gejolak gairahnya. Namun, tampaknya bercinta di dapur sangat menggoda.
Sasa berbalik karena mendengar suara serak yang sangat dikenalinya, "kau sudah selesai?" tanyanya, matanya melahap badan Kevin yang hanya mengenakan celana pendek. Pria itu tidak memakai baju dan rambutnya masih basah, Sasa tergoda menelusuri jemarinya di setiap sudut d**a bidang tersebut.
Empat tahun yang lalu, saat pertemuan pertama mereka, Kevin belum seperti ini. Dulu dadanya tidak sebidang ini, sekarang d**a itu dapat menjadi sandaran Sasa ketika tidur. Otot keras itu pun belum ada, bahkan bulu halus yang tumbuh di bawah pusar Kevin dan menjalar semakim ke bawah itu pun dulu belum ada. Sasa tidak menyadari perubahan tubuh kekasihnya itu sebesar ini, padahal tubuhnya tak berubah banyak. Dia masih pendek, hanya saja p******a dan bokongnya semakin berisi dan Sasa bersyukur untuk itu. Kalau tidak....!
Sasa tidak mau memikirkan apa yang akan terjadi. Akan terlalu timpang hubungannya dengan Kevin jika hal seperti itu terjadi padanya.
"Aku tidak menemukan mie instanku di meja depan," ujar Kevin dengan suara berat, dia menyugar rambutnya yang masih sedikit basah dan matanya melihat tepat pada Sasa yang mulai resah.
Ia resah dipandangi seperti itu. Kedua tangan Sasa berpegangan pada meja untuk menahan tubuhnya yang tiba-tiba melemah, kakinya bergerak-gerak menyentuh satu sama lain. "Aku harap kau tidak keberatan aku memasak untukmu."
Kevin berjalan pelan, layaknya predator yang akan memangsa dengan matanya yang tajam. "Kau mau memasak?" Alisnya terangkat naik.
Sasa mengangguk.
"Untukku?"
"Kau tidak mau?"
Akhirnya Kevin sampai di depan Sasa.
Jarak mereka sudah sangat tipis, d**a Kevin bahkan hampir menyentuhnya. Dengan bibirnya yang seksi, Kevin tersenyum kemudian menyelipkan helaian rambut Sasa yang lolos dari karet gelangnya. "Rencanamu berhasil!" gumamnya serak.
"Rencana apa?" Sasa harus mendongak untuk menatap wajah Kevin, tubuhnya yang pendek adalah satu hal dari hal lain yang ada padanya dan tidak ia sukai. Walau sudah memakai sepatu dengan tumit yang tinggi Sasa harus mendongak, apalagi sekarang dia bertelanjang kami, rasanya lehernya kaku jika terus-menerus menatap wajah tampan Kevin.
"Aku memasak Sebagai permintaan maaf," bisik Sasa pelan, mengabaikan pernyataan terakhir Kevin.
Bibir Sasa yang sedikit terbuka mendatangkan bahaya kepada Kevin, sangat berbahaya jika dia tidak bisa mengontrol dirinya. "Kenapa kau tidak memakai celanamu?"
Kenapa nada pertanyaan Kevin terasa seperti dia sedang bertanya pada seorang anak kecil nakal yang suka tidak memakai celana.
"Aku merasa kepanasan." Sasa menunduk karena lelah mendongak, namun tindakan itu salah karena kemudian dia melihat d**a telanjang Kevin hingga membuatnya sulit meneguk liurnya.
"Aku bisa melihat seberapa kepanasannya dirimu dari kancing kemejamu yang terbuka itu."
Terkejut, Sasa menarik kemejanya agar tertutup dan dengan tergesa-gesa mengancingkan kemeja putihnya. Rencanànya memang seperti itu, Kevin melihat payudaranya dan....
Tapi sekarang Sasa menjadi malu sendiri. Dia berbalik karena tak sanggup mendengar kekehan Kevin yang seolah mengejeknya.
Kevin tersenyum geli melihat kelakuan pacarnya itu. Dia akui, Sasa terlihat sangat seksi, pahanya yang mulus menggoda tersebut ingin dia telusuri hingga membuat perempuan itu mendesah.
Gila! Sasa membuat Kevin gila.
"Maaf," cicit Sasa setelah selesai menutup kemejanya, dia masih belum berani berbalik karena malu.
"Maaf buat apa, sayang?" Kevin menyelipkan tanggannya pada pinggang Sasa yang kecil. Meletakkan lehernya di lekukan leher Sasa, Kevin menciumi kulit lembut itu. "Kau malu?"
Sasa memegang tangan Kevin yang ada di pinggangnya, tapi dia tidak berkeinginan melepas tangan itu. "Ngapain aku malu? Toh, kamu sudah melihat semuanya."
"Melihat apa, Sa?" goda Kevin dengan menggigit-gigit kecil telinganya.
"Lepas Kevin, geli!" Sasa menggeliat, berusaha melepas lilitan Kevin pada tubuhnya.
Tak membiarkan Sasa lepas, Kevin semakin mengeratkan pelukannya. "Jawab dulu!"
"Nggak."
"Kamu sudah tidak cemburu lagi sama Audry?"
Sasa benci diingatkan kembali pada perempuan pirang itu, ekspresi Audry menatap terpesona pada Kevin membuatnya jengah. "Aku nggak cemburu!"
Tangan Kevin masuk ke dalam kemeja yang dikenakan Sasa dan mengusap-usap perut Sasa dengan pelan hingga menimbulkan erangan dari bibir Sasa. "Masa?" Kevin masih mengendus-endus permukaan leher Sasa yang membuatnya candu.
"Ahkkhhu...hhhmm...nngghhaak cemburu." Desah Sasa seraya menggigit bibit bawahnya, matanya terpejam.
"Kau tidak mau mengaku?" Tangan Kevin semakin ke bawah, masuk ke dalam celana dalam Sasa dan dia menggoda bagian atas pahanya. Kevin semakin mendekatkan tubuhnya pada Sasa hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.
Sasa merasakan benda keras yang menyentuh bokongnya, tanpa melihat dia tahu apa itu. "Aku tidak cepat cemburu," komentar Sasa, meski kalimat itu tidak sesuai dengan yang ada di dalam hatinya. Siapa pun dapat melihat raut cemburu pada wajahnya saat Kevin berbicara dengan Audry beberapa waktu lalu. "Apalagi pada perempuan seperti dia."
"Berarti hanya aku yang mudah cemburu," bisik Kevin tepat di samping telinga Sasa. "Aku sangat cemburu ketika kau bersama si Farhan sialan itu.
"Farhan hanya teman. Aku tidak suka dengannya.''
"Begitu pun dengan aku dan Audry. Hanya teman." Kevin menarik tangannya, otaknya masih bisa berpikir sebelum otak bawahnya yang mengambil alih.
"Aku minta maaf, perkataanku di mobil tadi tolong kamu lupakan! Aku nggak bermaksud...aku hanya...aku-----"
Kevin membalik tubuh Sasa hingga pandangan mereka bertemu, dia menempatkan jari telunjuknya pada bibir perempuan itu agar berhenti bicara. "Aku tahu!" gumamya, Kevin mengusap sudut mata Sasa yang terlihat bengkak, laki-laki itu tersenyum sayang padanya. "Aku tahu kau takut! Aku mengerti".
"Tidak!" Sasa menggeleng kuat dan memeluk Kevin kembali. "Sekarang aku nggak takut lagi! aku nggak mau kehilangan kamu, Kevin. Aku nggak mau."
"Kau tidak akan kehilangan aku! Aku tidak akan pergi."
Sasa mencari-cari pada tatapan Kevin, kemudian ia menemukan jawabannya. Sontak saja bibir mungilnya tersenyum. "Aku tahu, haha, kamu kan cinta mati padaku," godanya sambil mencubit pipi Kevin.
Kevin meringis mendengar nada arogan pada kalimat pacarnya itu, matanya menatap Sasa penuh pertimbangan. Sasa masih nyengir-nyengir, dengan kedua tangan dia menarik leher Kevin turun mendekat padanya.
"Kenapa kau pendek sekali?" protes Kevin pada Sasa yang mengalungkan lengannya pada leher Kevin.
"Dari dulu aku udah pendek, kenapa baru sekarang kamu mengeluh?" Cibir Sasa.
"Aku tidak mengeluh, Sayang.'' Kevin menyadari keinginan kekasihnya tersebut, kaki Sasa yang berjinjit tak banyak membantu. Akhirnya dia menangkup b****g Sasa dan mengangkatnya, dalam sekejap bibir mereka menyatu. Kevin tak membiarkan Sasa berbicara, protesan perempuan itu hanyut dalam ciuman.
Bersambung.....
Votemment, please!!!