Part 9

2611 Kata
Author Pov ------------------ Detik setelah Sasa masuk ke dalam kamarnya, dia menangis. Bukan tangis pelan yang cantik, melainkan tagis keras yang sangat tidak feminin. Airmatanya keluar saat mengingat raut datar Kevin, laki-laki itu berubah dingin sepanjang perjalanan mereka kembali ke rumah Sasa. Sasa bukan tidak tahu penyebab kekasihnya itu menjadi sinis padanya, namun dia sendiri pun tak bisa mengendalikan rasa takut dalam dirinya yang tiba-tiba saja menghantuinya. Ini salahku!! Ini salahku! Sasa memukul-mukul tempat tidurnya dengan tangannya yang terkepal, merutuki kebodohannya tadi. Tak lagi peduli dengan kebersihan, Sasa melap ingusnya dengan kemeja yang dipakainya hingga meninggalkan jejak basah yang jika dilihat orang, sangat menjijikan. Sasa terus saja menangis. Entah sudah berapa banyak tisu yang terbuang di lantai kamarnya, kedua matanya pun memerah karena tangisnya yang tak kunjung reda. Dengan mata berkaca-kaca, ia menatap jam kecil bulat yang ada di atas nakasnya, sudah jam sebelas malam. Kevin pasti sudah tiba di apartmennya dan Sasa semakin merutuki dirinya sendiri ketika mengingat tingkah kekanakannya tadi. Kau benar-benar gila, Sasa!, makinya dalam hati. Sasa menutup matanya dan menghela napas, perlahan mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak. Tapi tak berguna banyak. Berpikirlah!! Sasa memerintahkan otaknya untuk mencari jalan mengatasi permasalahannya. Tidakkah seharusnya dia bisa berpikir dewasa? Dia bukan lagi gadis bau kencur yang pantas berperilaku kekanakan. Sasa tahu itu dan karena itulah sekarang ia menyesal. Kevin banyak berkorban untuknya, bahkan setelah semua perlakuan ibunya yang tidak menerimanya, Kevin masih tetap sopan pada ibunya itu. Setiap datang, Kevin selalu membawa makanan kesukaan ibunya, tak lain adalah untuk mengambil hati ibunya tersebut. Kevin menanggung segala kemarahan orangtuanya, amarah ayah Sasa pun dilampiaskan padanya, dan Kevin menerima semua itu tanpa mengeluh, padahal yang bersalah bukan hanya dia, Sasa pun ikut ambil bagian dalam hal itu. Kevin laki-laki yang baik, menantu yang baik, terlebih dia adalah calon suami yang baik. Sasa adalah gadis beruntung yang mampu membuat Kevin bertekuk lutut, laki-laki itu benar-benar mencintainya. Banyak gadis di luar sana yang menginginkan posisi Sasa, mereka berebut mendekati Kevin, namun dia tak pernah menganggap semua perempuan itu. Kevin bukan membenci gadis-gadis yang mendekatinya, tidak! Kevin tetap bersikap sopan dan ramah, dan karena itulah mereka semakin menyukai Kevin. Banyak diantara teman-temannya yang bertanya kenapa Kevin bisa sampai begitu mencintai Sasa, kekasih yang telah dipacarinya selama lebih dari empat tahun padahal masih banyak yang lebih cantik dari Sasa yang mampu ia dapatkan. Saat pertanyaan seperti itu terlontar padanya, Kevin hanya terkekeh, tak mengambil serius pertanyaan itu. Dia cukup mengatakan, 'tidak ada yang seperti Sasa, kemudian semua temannya terdiam. Tapi sekarang, Sasa seperti perempuan yang tak tahu terimakasih. Seenaknya berucap tanpa memikirkan perasaan laki-laki yang dicintainya, membuatnya tampak bodoh. Sudah sangat sering dia seperti ini, membuat Kevin marah dengan tingkah kekanakannya. Sasa tidak tahu sampai kapan Kevin bisa bertahan dengan tingkahnya tesebut. Meski begitu, dia selalu berharap kalau Kevin akan tetap bersamanya. Mengalah untuknya dan kembali baik padanya. Tapi manusia ada batas kesabarannya, bahkan pria yang sangat mencintai sekali pun. Sampai kapan? Pertanyaanya adalah, sampai kapan kevin akan sanggup menghadapi Sasa, bersabar untuknya? Tidak banyak yang bisa Sasa tawarkan sebenarnya. Wajahnya tidak cantik meski Kevin selalu mengatakan kalau dia manis. Tubuhnya pendek tapi Kevin bilang itu imut. Badannya yang sedikit berisi menurut Kevin itu montok, dan laki-laki itu suka. Kadang-kadang Sasa berpikir, Kevin mengatakan itu semua untuk menyenangkan hatinya. Sasa semakin menangis saat mengingat kekuranganya, bila disandingkan dengan Kevin, Sasa sangat ketinggalan jauh. Kevin adalah laki-laki tinggi yang tampan. Badannya bagus karena dia selalu olahraga, kakinya panjang sehingga terlihat keren ketika memakai celana. Rambutnya memang sering acak-acakkan namun masih menarik perhatian, ditambah matanya yang bagus, hidungnya yang mancung, bibirnya yang seksi dan rahangnya yang kokoh, semuanya tak ada yang kurang. Ketika mereka jalan bersama, Sasa menyadari tatapan-tatapan penuh minat para gadis pada kekasihnya itu, dan tentu saja hal itu membuatnya geram. Namun lagi-lagi Kevin bersikap dewasa, laki-laki itu mampu menenangkan dan meyakinkannya kalau yang ada di dalah hatinya hanya Sasa. Sasa terus menangis menyadari kebodohannya yang telah meragukan Kevin, menyia-nyiakan kesempatan bersama dengan laki-laki yang hampir sempurna tersebut. Sambil melap ingusnya, Sasa mengambil ponsel dari dalam saku celana jinsnya. Mencari-cari kontak orang yang sangat ingin dia dengar suaranya. Setelah menemukan kontak laki-laki itu, Sasa dengan ragu menekan tombol panggil pada ponselnya. Dia menunggu panggilan itu terhubung sambil harap-harap cemas. Dia tahu, dirinya seperti wanita terkena penyakit datang bulan. Sensitif dan labil, mudah berubah pikiran dan gampang membuat orang kesal. Panggilan tersebut masuk tapi tidak dijawab. Sasa mencoba beberapa kali lagi namun masih tetap tidak diangkat. Tak bisa dihentikan, Sasa membawa banyak pikiran negatif berkeliaran di dalam kepalanya, berputar seperti yoyo hingga membuatnya sakit kepala. Bagaimana kalau kali ini Kevin benar-benar marah padaku? Dia membenciku? Tak lagi mau memaafkanku? Semua pertanyaan asing yang sebelumnya tak pernah terlintas di otaknya tiba-tiba terjun bebas seperti tidak disaring. Sasa sampai membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi, seperti; Kevin marah padanya dan berpaling pada wanita lain. Wanita yang lebih cantik dan tentunya lebih dewasa darinya. Atau, gadis muda cantik yang mampu memikat Kevin. Dalam sekejap, wajah Sasa berubah pucat. "Tidak...tidak." dia berusaha menyangkal hal menakutkan itu. Tapi Kevin luar biasa, semua yang diingin para gadis untuk dimiliki laki-laki ada padanya. Beberapa minggu yang lalu, ketika mereka bertengkar, Sasa masih bisa mengingat dengan jelas, keberadaan perempuan didekat Kevin. Bukan hanya satu!! Buru-buru Sasa memasukkan kembali ponselnya saat tak kunjung mendapat jawaban, dia merapikan seadanya pakaiannya yang kusut serta rambutnya yang berantakan kemudian berjalan cepat keluar dari kamarnya. Dia sudah memutuskan untuk menemui Kevin dan meminta maaf padanya, sebelum terlambat. Rencana keberangkatan mereka ke Medan besok tidak boleh gagal, Sasa tidak mau kehilangan Kevin. "Mau kemana?" Mama Sasa bertanya ketika Sasa sampai diruang tamu. Dengan gaun tidur suteranya, Mama sasa terlihat menawan meski usianya tak lagi muda, ia menatap putrinya yang gelisah. "Sudah larut malam sekarang, Sa." ''Ada urusan penting, Ma!'' Sasa mengacuhkan Mamanya dan terus berjalan keluar. Berusaha lebih cepat sampai ke garasi sebelum Mamanya menyarankan hal-hal menyebalkan padanya, seperti meminta Farhan yang mengantarnya. Ada kalanya Sasa bertanya-tanya, apakah Mamanya itu tidak pernah mengerti dengan apa yang terjadi pada situasinya. Ia telah tidur dengan kevin, dan dan akan menikah karena hal itu. Tapi kenapa beliau masih ngotot menjodohkannya dengan Farhan, mencoba segala cara yang membuat Sasa muak. Menurutnya, Farhan sama gilanya dengan Mamanya. Anak durhaka? Terserahlah, Sasa mulai jengah dengan permainan Mamanya yang seolah tiada akhir. Ketika tiba di garasi, Sasa membuka mobilnya kemudian masuk kedalam dan mulai melajukan mobil tersebut---mobil yang akhir-akhir ini jarang ia gunakan karena lebih sering pergi bersama Kevin. Jalanan sedikit sepi, suara dari radio menjadi temannya beberapa menit sebelum kemudian dia tiba di parkiran apartmen Kevin. Sasa melihat mobil yang digunakan Kevin tadi terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri--di samping mobilnya yang telah terparkir rapi. Dia tidak tahu kalau Kevin baru membeli mobil, karena laki-laki itu tidak bercerita apa pun padanya. Sasa menghela napas, semua ini salahnya. "Mba mau ketemu nak Kevin, ya?" Seorang satpam yang biasa berada di sana menatap Sasa, tersenyum ramah padanya. Sasa yang sebelumnya tidak menyadari satpam itu, sempat terkejut tapi kemudian dia tersenyum. Mereka sudah sering bertemu saat Sasa berkunjung ke apartmen Kevin, satpam itu tahu kalau Sasa adalah pacar Kevin. "Iya, Pak," jawabnya Sasa, dia tersenyum membalas satpam itu. "Tadi bapak liat dia pergi naik motor, neng." Sasa ingin bertanya apakah bapak itu tahu kemana Kevin pergi namun dia mengurungkan niatnya. Sementara matanya memandang pintu masuk menuju lantai apartmen kekasihnya itu, Sasa bertanya-tanya kemana Kevin malam-malam seperti ini? "Saya permisi ya neng," gumam Yuji, nama yang tertulis diseragamnya, satpam itu melanjutkan ronda-nya ke sekeliling apartmen tersebut. Sasa mengangguk dan hanya tersenyun saja. Di dalam hati dia berpikir apakah harus masuk saja atau pulang kerumahnya? Kevin tidak ada di dalam, jadi untuk apa dia masuk? Baru saja Sasa akan melangkahkan kakinya kembali ke dalam mobilnya, dia melihat sebuah motor yang ia kenali memasuki pelataran parkir. Dia bersama seseorang. Kevin memberhentikan motornya dan melepas helmya, perempuan yang duduk di belakangnya pun melakukan hal yang Sama. Dia turun dari motor besar itu sambil mengibas-ibas rambut panjangnya sambil tersenyum pada Kevin. Sasa yang melihat itu menjadi gerah, tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya, sekuat tenaga menahan napasnya yang memburu. Walau sudah turun dari motor Kevin, perempuan itu tak kunjung pergi begitu pun dengan Kevin. Sasa melihat mereka berdua dengan matanya yang membara. Dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan dan dia benci pemandangan di depannya. Dengan langkah kaku namun pasti, Sasa mulai mendekati pasangan yang tengah mengobrol tersebut. Kalau mengikuti insting iblisnya, Sasa ingin sekali menjambak-jambak rambut perempuan yang sedang berdiri di depan kekasihnya itu, bibirnya yang tersenyum genit ingin sekali dia cabik-cabik karena kesal. Kevin pun tak banyak membantu, pria itu berdiri sambil bersandar di motornya dengan bersedekap d**a, dia pun tersenyum pada perempuan di depannya dan terus berbicara santai. Bagus sekali!! Hingga Sasa berada beberapa meter dari mereka, Kevin dan teman perempuannya masih tak menyadari keberadaan Sasa. Begitu ingin Sasa membenturkan tas tangannya ke kepala seseorang karena rasa cemburunya, kepala siapa pun ia tak peduli. Yang pertama kali mengetahui adanya Sasa di situ adalah perempuan teman Kevin tersebut, matanya mendelik ke arah Sasa yang berwajah merah padam. Sasa dengan benci mengakui kalau perempuan itu sangatlah cantik. Bertubuh tinggi, langsing dan tentunya masih muda. Rambutnya pirang, panjang bergelombang seolah menanti sentuhan seseorang. "Sasa?" Kevin menatap Sasa, alisnya terangkat bingung. "Kamu ngapain kesini?" Sasa berdehem dengan gaya dramatis, matanya menatap tajam perempuan di depannya yang tampak tidak terpengaruh sedikit pun dengan situasi dingin yang ia timbulkan. "Aku mengganggu kalian?" tanyanya dengan nada lembut dibuat-buat. Padahal dalam hati ia ingin menjerit sekuat-kuatnya. Kevin menilai penampilan Sasa yang kelihatan kacau, kemejanya kusut dan sedikit kotor. Walau begitu perempuan itu terlihat cantik di matanya, tak peduli apa pun yang ia kenakan. Dia melihat pacarnya itu mendelik sinis pada Audry--tetangganya, dan tiba-tiba dia ingin bersikap kekanakan sedikit. Selalu bersikap dewasa ada kalanya membuat bosañ, dia ingin membuat Sasa cemburu. Memang kekanakan, tapi tak ada salahnya melihat seberapa besar rasa cinta Sasa padanya. "Kenalkan," Kevin menunjuk teman perempuannya, "Audry, tetangga samping apartmenku! Dan---," Kevin memandang ke arah Sasa yang masih gondok. "Sasa." Sasa menanti kalimat lanjutan dari Kevin, tapi tak ada. Kevin tidak mengatakan kalau dia adalah pacarnya. Kenapa? Dia tidak ingin teman perempuannya tahu kalau dia sudah punya pacar? Sasa meringis dalam hati dan semakin meremas tas tanganya lebih kuat. "Hai, senang berkenalan denganmu." Sasa mengabaikan uluran tangan Audry sebentar, setelah beberapa saat barulah dia menyalam tangan itu, meski dengan enggan dan Kevin melihat itu. Kevin menarik kantong plastik yang berisi belanjaannya dari gantungan yang ada pada motornya. "Kami bertemu di supermarket di depan sana, karena tempat tinggalnya sama, aku mengajaknya pulang bersama," Kevin menjelaskan tanpa diminta. Laki-laki itu memang berniat membuat Sasa cemburu, tapi tidak dengan membuatnya salah paham. Dia juga tidak mau Sasa menyangka kalau dirinya pergi berdua dengan Audry. Sasa yang berpikiran begitu sangat sulit dihadapi, yang diinginkannya hanya sedikit permainan bukan membuat Sasa membencinya. Karena serius, dia tidak bisa hidup tanpa kekasih pendeknya itu. ---------- Sasa benci situasinya saat ini. Mereka bertiga berada di dalam lift tapi Kevin seolah tak menganggapnya ada. Dari tadi yang ia lakukan hanya berbicara dengan Audry dan mengabaikannya. Sasa berdiri di belakang Kevin dan Audry yang sibuk berbincang, perempuan itu menatap cemburu pada kedua orang yang berdekatan itu. Rasanya, ia ingin sekali menarik tubuh Audry yang seperti sengaja mendempetkan tubuhnya ke bahu Kevin. Dan Kevin, laki-laki itu sengaja tak menghindar. Matanya memang menatap perempuan di sampingnya yang sedang berbicara, namun hati dan pikirannya ada pada perempuan di belakangnya yang terdiam bagai patung. Dia berhasil. "Kevin?" Sasa menarik pelan kaos laki-laki itu. Kevin melihat sebentar padanya namun kemudian berpaling pada Audry yang bertanya tentang sesuatu. Kevin yang mengabaikannya dan memilih berbicara dengan Audry membuatnya sedih. Sasa menggigit bibirnya, merasa diabaikan dan dia berjalan mundur. Ia ingin meminta maaf pada kevin, tapi bukan di sini. Lagi pula bagaimana caranya ia berbicara dengan Kevin sedangkan daritadi yang mengambil perhatian Kevin adalah Audry. Setidaknya itulah menurut Sasa. Sampai keluar dari lift pun, Audry dan Kevin masih terus mengobrol. Sasa sudah berulang kali mencoba menarik perhatian Kevin padanya, namun seolah disengaja Kevin kembali menoleh pada Audry. Sasa ingin pulang saja. Ia hampir tak sanggup melihat Kevin terus tersenyum pada Audry, sesekali bahkan dia tertawa besar dan Sasa ingin menangis ketika Audry memukul-mukul lengan Kevin dan laki-laki itu tidak marah malah semakin bercanda. Matanya yang masih sedikit bengkak akibat menangis di kamarnya tadi sedikit berbayang, Sasa menguatkan dirinya untuk bersabar. Yang dilakukan Kevin jauh lebih dari ini, Sasa yakin Kevin tidak bermaksud buruk. Mungkin saja Audry memang cuma temannya, tidak lebih. Sasa menghela napas, dia berkedip untuk menghilangkan air matanya yang akan jatuh. Auďry masuk ke dalam apartmennya ketika tiba di depan pintu kamarnya, perempuan itu masih sempat tersenyum kemudian mengucapkan selamat malam pada Kevin. Sasa pikir, setelah berpisah dari Audry Kevin akan menaruh perhatian padanya, namun salah. Kevin masuk ke dalam kamarnya tanpa memandang Sasa, dia berjalan ke dapur kemudian meletakkan belanjaannya ke atas meja dapur, menyusun telur yang dibelinya ke dalam lemari es. "Ada apa?" Kevin bertanya tanpa menatap wajah Sasa, nada suaranya pun sangat datar. Sasa yang hendak melangkah mendekat pada Kevin berhenti ketika mendengar nada acuh pada suara Kevin. Dia tahu Kevin marah padanya. Tidak pernah Kevin berbicara dengan nada seperti itu. "Aku...aku pulang," gumamnya serak menahan tangis. Sasa benci dirinya yang cengeng, tapi hatinya sakit melihat Kevin yang mengabaikannya namun bercengkrama dengan perempuan lain. Kevin mendongakkan kepalanya dari barang belanjaannya dan menatap Sasa. Dia berjalan cepat mendekati Sasa ketika perempuan itu hendak melangkah pergi kemudian menangkap tangan Sasa. Dengan kasar Sasa menghempaskan tangan Kevin, dan berkeras berjalan pergi tapi Kevin tak membiarkannya. Sasa tak lagi bisa membendung airmatanya, dia menangis di depan Kevin yang menatapnya dalam. "Lepasin aku!" gumamnya sinis. Kevin menghela napas kasar, pegangan tangannya pada lengan Sasa tidak ia lepaskan. "Jangan cemburu pada Audry! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya." "Selamat," tandas Sasa berang. "Permainanmu berhasil," gumamnya saat menyadari permainan Kevin. "Ini semua karena perbuatanmu sendiri, Sasa. Kau menganggapku apa sebenarnya?" Sasa terdiam, bibirnya kelu tak mampu bersuara namun airmatanya terus turun memasahi pipinya. Kevin lagi-lagi menghela napas dan menatap langit-langit ruangan itu dengan frustasi, tangannya melepas Sasa dan berjalan mundur. "Kau benar! Kita perlu waktu," gumam Kevin sambil menatap Sasa. Sasa tersenyum mengejek. "Kamu butuh waktu buat apa? Buat dekat-dekat dengan si pirang itu, iya kan?" Kevin berdecak melihat kemarahan Sasa. "Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu butuh waktu, kenapa sekarang----." "Kamu suka kan sama Audry?" "Jangan kekanakan, Sa!" "Aku kekanakan? Jadi apa sebutan untukmu?" sasa membentak. "Kau belum melihat seberapa kekanakannya aku!" Kevin berjalan ke arah lemarinya dan mengambil kemeja bersih miliknya, dia memberikan kemeja itu pada Sasa tanpa memedulikan raut marah perempuan itu. "Ganti bajumu, yang kau pakai itu sudah kotor." "Tidak usah pedulikan aku." Sasa membuang kemeja putih itu kesembarangan arah dan dengan kasar menepis air matanya. "Kamu bisa berdekat-dekatan dengan perempuan lain, aku juga bisa! Kamu pikir aku nggak punya laki-laki yang suka denganku?" "Kamu benar-benar kekanakan, Sa." "oh, ya! Kamu dewasa, sengaja membuatku cemburu dengan tingkah menjijikanmu. Aku bisa melihat si pirang itu tergila-gila padamu, kenapa kau tidak pergi menemuinya? Siapa tahu kamu mau membuatku lebih cemburu?" Tiba-tiba Kevin menjadi lapar setelah mendengar semua ocehan Sasa. Ia ingin memasak sesuatu, dan kemudian dia mengingat kalau ada mie instan di ruang tamu yang dibelinya tadi siang. Kevin butuh tenaga kalau mau menghadapi Sasa malam ini. Langkahnya menuju ruang tamu terhenti ketika mendengar jeritan Sasa. "Aku tak percaya kau langsung mau menemuinya?" Kevin berbalik, menatap kekasihnya yang tengah dideru rasa marah, dia terkekeh. "Aku mau mengambil mie instan di ruang tamu," gumamnya kemudian tersenyum jahil. "Aku tidak punya keinginan bertemu dengan Audry. Jangan khawatir! Aku masih punyamu." Dalam sekejap, pipi Sasa memerah menahan malu. "Aku lapar," komentar kevin. "Setelah makan baru kita berbicara tentang siapa yang butuh waktu. Sebaiknya kau mengganti bajumu sementara aku memasak." Sasa merengut dan mencebikkan bibirnya, dia kehabisan kata-kata untuk membalas Kevin. Kevin mengerang ketika melihat Sasa mengganti pakaiannya di depan matanya, bahkan perempuan itu terlihat berlama-lama memakainya hingga mata Kevin melahap pemandangan d**a Sasa yang putih. Memang itulah yang diinginkan Sasa. Dia tidak bisa membalas Kevin dengan kata-kata, tapi bisa dengan cara lain. Kevin akan b*******h namun tak bisa menyentuhnya karena laki-laki itu sudah berjanji di depan orangtua mereka untuk tidak menyentuhnya sebelum mereka menikah. Sasa tersenyum mendengar pintu kamar mandi yang terbanting. Bersambung.... VOTEMMENT, PLEASE!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN