Irgi gitu deh. Ngambekan. Kadang pria itu kalau marah jadi balik kayak anak kecil. Sebel. Eh tapi aku juga salah sih. Gak jelasin ke Irgi sejak pertama kalau aku emang nerima taruhan itu demi tas. Astaga! Mama aku pingin ngumpet di balik selimut kasur mama aja kalau kayak gini. Irgi mendiamkanku. Sejak dia bertanya di kampus, di depan mobil dan akhirnya sampai di rumah. Aku memang tidak menjelaskan secara rinci. Toh aku memang mendekatinya karena tas. Awalnya. Sebenarnya mulai ke sini, sejak menikah aku sudah bisa menerima Irgi. Dia ganteng, tajir, pintar pula. Apa coba yang gak bisa buat aku tertarik? Makanya aku lupa kalau aku buat kesepakatan itu dengan Meita. Sungguh, pengen nangis guling-guling kalau kayak gini. Tapi itu kan bukan styleku. Bulan gitu loh. Tapi kok tetep nyesek y

