SCENE 38 LULUH

972 Kata

Bulan itu menyebalkan. Aku masih sebal dengannya. Sungguh, dia menggodaku. Dan yah tentu saja aku luluh padanya. Harga diriku hanya sebatas rayuan Bulan. Hah, tapi bagaimana bisa menghadapi rayuan Bulan yang begitu menggemaskan itu? Bulan sukses membuat hatiku kebut-kebit malam tadi. Dia merasa menang pagi ini. Saat aku terbangun, dia susah dengan rajinnya membiarkanku sarapan. Kali ini nasi goreng seafood kesukaanku. Bagaimana dia bisa tahu? Tapi aku jadi ingat semalam dia bertelepon ria dengan Mama. Pasti dapat bocoran makanan favoritku itu. Setelah itu dia bersikap begitu manis saat di dalam mobil. Selalu tersenyum cerah dan menggodaku lagi. Padahal aku masih memasang wajah dinginku. Biar, buat pelajaran untuk Bulan. Meski hatiku sudah luluh. Tapi aku ingin mengerjainya. Bulan yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN