[4] Demon King Palace

1195 Kata
Lancelot mendaratkan kakinya di sebuah balkon kamar yang terletak di puncak tempat tinggalnya, atau mungkin yang layak disebut sebagai sebuah istana besar nan megah dengan warna hitam pekat merata di seluruh penjuru istana. Sayap yang Lancelot yang semula terbentang langsung melipat dan lenyap begitu saja di balik punggungnya. Odette melepaskan lingkaran tangannya pada leher Lancelot. Ia menatap tempat asing yang baru saja ia datangi, "Apa ini?" tanya Odette pada Lancelot. Lancelot mengulurkan tangan kanan nya dan membuka pintu yang menghubungkan langsung ke dalam sebuah ruangan. "Masuk," ujar Lancelot dengan wajah datarnya. Lancelot melangkahkan kakinya mendahului Odette dan masuk ke dalam ruangan. Odette yang masih kebingungan pun mau tak mau mengikuti langkah Lancelot. Ia sudah pasrah, tak akan ada jalan kembali lagi baginya saat ini. Ruangan besar dengan aksen berwarna hitam menghiasi seluruh penjuru sisi kamar itu. Kasur berukuran besar dan kokoh berdiri di tengah ruangan. Di setiap sudut nya terdapat beberapa patung burung yang cukup besar seolah patung itu adalah sebuah penjaga di dalam sana. Bruk! Tanpa Odette sadari, ia menabrak punggung Lancelot yang berada di depannya. Ia terlalu menikmati rasa takjubnya terhadap ruang kamar itu. Lancelot membalikan badannya dan menatap Odette. "Kau akan tinggal di sini," ujar Lancelot. Mata Odette terbelalak, "Apa? Kau gila? Aku ini adalah seorang-" "Kau seorang fallen angel. Bukan lagi angel, dan kau juga bukan demon. Jika kau berkeliaran di luar sana, mungkin salah satu binatang peliharaanku akan menyantap tubuh indahmu. Apa kau pikir aku akan merelakan mereka melahapnya? Tentu saja tidak," jawab Lancelot lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. Lancelot menatap Odette dari atas hingga ke bawah. Ia tidak akan menyesal dengan hasil buruan nya kali ini. Seorang angel yang dihukum dan terjatuh di atas tanah kekuasaannya lalu kini akan dijadikan sebagai aset berharga dalam dirinya. Hasratnya tidak bisa menutupi jika saat ini ia sangat menginginkan tubuh indah Odette. "Apa yang kau lihat?" tanya Odette sinis. Odette bisa merasakan tatapan mematikan dari Lancelot yang kini sedang membaca seluruh lekuk tubuhnya. Odette pun berusaha menghindari tatapan mengerikan itu dan mengalihkan ketertarikannya pada benda lain yang ada di kamar itu. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, ia memutar tubuhnya dan melihat Lancelot yang masih berdiri pada posisi yang sama dan masih dengan tatapan tajam menatap tubuhnya. "Hei, kau!" panggil Odette dengan suara lantang. Sebenarnya, Odette sedang berusaha menahan rasa takutnya setengah mati. Namun ia pun mati-matian berusaha melawan rasa takutnya agar Lancelot tidak berbuat seenaknya, walau sebenarnya Lancelot sudah berperilaku seenaknya dengan membawa Odette menuju istana nya. "Lancelot," jawab Lancelot sembari menatap sorot mata gemitir Odette. "Apa?" balas Odette. "Namaku Lancelot. Lancelot Salvatore, sang raja demon. Kau harus ingat namaku," sambung Lancelot. "Ah, iya." "Persetan kau Odette! Kenapa kau justru terdiam saat mendengar suara dinginnya itu?" ucap Odette dalam benaknya lalu ia memukul kepalanya beberapa kali. Lancelot yang mendengar suara hati Odette pun tertawa mendengarnya. Ia tak menghentikan Odette, ia justru menikmati mainan baru miliknya yang tampak ketakutan dan itu terlihat sangat menggemaskan bagi Lancelot. Mata Odette tiba-tiba saja terbelalak saat ia teringat sesuatu, ia lantas berlari kecil ke hadapan Lancelot, "Tolong katakan padaku jika ini bukan Theron Palace!" Segaris senyuman licik tergambar di wajah Lancelot. Raut wajah cantik Odette sudah tak bisa di deskripsikan lagi. "Aku harus pulang." Odette berusaha meninggalkan tempat itu namun cengkraman tangan Lancelot sepertinya berhasil membuat Odette berhenti. "Lepaskan aku!" pekik Odette sembari berusaha melepaskan cengkraman erat Lancelot pada lengan kiri nya. "Kau lupa jika kau bukan bagian dari seorang angel lagi?" tanya Lancelot. "Ya, itu benar. Tapi aku pun tidak membenarkan jika aku harus berada di sini. Ini ada istana milik raja demon, apa kau gila? Aku seorang angel. Apa yang akan dilakukan oleh bangsa ku jika mereka tahu aku berada di bawah wilayahmu?" "Sepertinya aku tidak perlu menjawabnya lagi bukan? Kau sudah tahu apa yang ada di luar sana. Dan tentunya aku yakin bangsamu sudah mendengar tentang hewan peliharaanku yang tak kenal ampun," ujar Lancelot. Odette melihat sebuah pemandangan hutan belantara yang didominasi dengan dedaunan berwarna hitam. Sesekali ia bisa mendengar suara gema yang berasal dari luar sana. "Apa itu?" tanya Odette yang mulai ketakutan. "Hydra," jawab Lancelot singkat dan sukses membuat keinginan Odette untuk pergi keluar luntur. Keberanian Odette menciut seketika dan ia berpikir apa yang akan terjadi jika saja ia tak bertemu dengan Lancelot. Tapi, bukankah bertemu Hydra ataupun Lancelot sama saja sialnya? Hydra adalah salah satu hewan kesayangan milik Lancelot. Bentuknya mirip dengan seekor naga yang ceritanya beredar luas di kalangan manusia. Hanya saja, Hydra memiliki perbedaan dari segi warna dan rupa. Tubuh Hydra berwarna hitam gelap, mungkin karena ia adalah hewan kegelapan. Kepala Hydra tidak hanya terdiri dari satu atau dua kepala, melainkan sepuluh kepala. Jika satu kepala ditebas, maka dua kepala akan tumbuh. Begitu seterusnya. Karena sejak ribuan tahun Hydra selalu diserang entah oleh bangsa demon ataupun demon, menyebabkan hewan itu semakin bertambah besar. Hydra sendiri memiliki napas beracun. Jika bukan dari bangsa demon, mungkin akan langsung mati di hadapan hewan besar itu. Namun, hewan itu cukup berguna bagi Lancelot untuk menjaga wilayahnya. Wajar bagi Lancelot ia cukup terkejut dengan kedatangan Odette yang tak biasa. Ia pun langsung mengetahui maksud hukuman yang diberikan kaum angel pada Odette. Bangsa angel ingin Odette mati dimakan oleh Hydra. "Dia tidak akan mendekati Theron. Jadi, jika kau memang masih ingin hidup hingga masa hukumanmu berakhir, sebaiknya kau tetap di dalam sini," ujar Lancelot. berusaha menenangkan pikiran dan rasa takut dari Odette. "Walau sebenarnya aku pun tak yakin kau bisa kembali atau tidak dengan bangsamu itu," sambung Lancelot dari dalam benaknya. Lancelot menuntun tubuh Odette ke sebuah kasur berukuran besar yang berada di tengah ruangan itu. Ia sedikit menyentuh sayap berwarna putih milik Odette dan seketika sayap itu pun menghilang seperti milik Lancelot. "Apa yang kau-" "Aku hanya menyimpan sayapmu dengan sihirku. Kau bisa mengeluarkannya sendiri dengan sihirmu," jawab Lancelot. "Tapi aku sudah tidak punya kekuatan apapun lagi," jawab Odette. Lancelot tertawa keras mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Odette, "Kalau begitu itu urusanmu dengan sayapmu." "Ap-" ucapan Odette lagi-lagi terpotong dan kali ini bukan dengan ucapan Lancelot. Raja demon itu mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Odette. Odette yang tersadar, segera mendorong tubuh milik Lancelot hingga kontak tubuh mereka pun terlepas. "Apa yang kau lakukan!" pekik Odette, ia lalu melihat sebuah bantal di sisi nya lalu melemparkannya pada Lancelot hingga mengenai wajah tampan milik sang raja demon. Lancelot menyeka bibirnya dengan jari jempolnya. Ia tak berniat menjawab ketidaksukaan Odette terhadap sikapnya. Lancelot berjalan mundur lalu membalikan tubuhnya. Ia tampak mengayunkan tangannya ke udara lalu sebuah pintu besar berwarna hitam muncul dari tembok. Lancelot membuka pintu itu dan menutupnya. Setelah Odette menyadari jika Lancelot pergi meninggalkannya, Odette langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri pintu itu, namun sayangnya pintu itu kembali menghilang. Odette meraba seluruh sisi tembok namun tak menemukan tembok itu. Tubuhnya berbalik dan ia pun pergi menuju pintu yang menuju ke dunia luar langsung atau lebih tepatnya pintu yang ia masuki tadi. Namun secara tiba-tiba, gagang pintu itu menghilang. Odette tak kehabisan akal, ia pun melempar sebuah tempat lilin ke arah kaca pintu itu, namun hasilnya nihil. Kaca itu tak pecah sama sekali, justru tempat lilin yang terbuat dari besi itu yang rusak. "Sial! Lihat saja kau Lancelot Salvatore!" teriak Odette frustasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN