Libitina menatap Odette dengan penuh amarah dan kekecewaan. Bagaimana tidak, Odette baru saja membuat kekacauan hingga bermacam spekulasi tentang keberadaan mereka bermunculan.
"Kau pikir apa yang telah kau lakukan, Odette?!" tanya Libitina dengan nada tinggi dan membuat seluruh angel yang ada di sana ketakutan mendengarnya.
Ini pertama kalinya Libitina marah pada Odette atau lebih tepatnya pertama kalinya bagi Libitina memarahi seorang angel.
Odette menundukan kepalanya. Ia merasa malu dengan dirinya, terutama dengan kecerobohan dirinya.
"Apa kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi dengan kita? Dengan para angel? Bagaimana jika mereka memutuskan untuk menyerang para angel dan bahkan merusak satu-satunya gerbang yang sudah kita jaga selama jutaan tahun, Odette?" tanya Libitina lagi.
Sorot mata Libitina berpusat pada Odette yang sedang menundukan di tengah-tengah para angel yang lain. Odette menyatukan kedua tangannya karena terlalu takut.
"Ma-maafkan aku," ujar Odette.
Suaranya terdengar gemetaran.
"Aku tidak percaya jika seorang angel yang kupercaya sepertimu bisa berbuat ceroboh dan bahkan melebihi ekspektasi batas kekecawaanku padamu, Odette," ujar Libitina.
Odette tidak bisa membalas apapun lagi. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Kesalahan yang ia perbuat benar-benar fatal. Seorang angel memang diminta untuk tidak pernah menunjukan keberadaannya pada manusia. Dengan bantuan sihir magis saja tidak boleh, apalagi Odette yang justru membiarkan para manusia tanpa sengaja menyentuh tubuhnya.
Jika saja angel bisa memiliki kekuatan untuk memutar waktu, mungkin keinginan terbesar Odette saat ini adalah kembali ke waktu saat Azura mengajaknya turun ke bawah dan memperhatikan manusia itu dari dekat. Mungkin sudah seharusnya Odette menjalankan tugasnya seperti biasa yakni memperhatikan manusia itu dari kejauhan.
"Aku sudah kehabisan kata-kata padamu, Odette. Aku sudah terlanjur kecewa atas kesalahan fatalmu itu. Kau tau itu bukan?" tanya Libitina.
Odette menganggukan kepalanya, "Maafkan aku telah mengecewakanmu."
Jika saja Odette memiliki perasaan sedih seperti manusia, mungkin ia akan menangis saat ini juga.
"Aku akan memberikan sebuah hukuman padamu," ujar Libitina dan sukses membuat Odette mendongakkan kepalanya lalu menatap mata Libitina yang masih melihat ke arahnya.
"T-tapi-" ujar Odette.
"Tidak ada kata tapi. Kau pantas mendapatkan hukuman ini. Jalankan saja hukuman ini sampai aku memaafkanmu," ujar Libitina.
Libitina mengulurkan tangannya ke hadapan Odette dan sebuah cahaya berwarna keemasan keluar dari tubuh Odette.
"Aku akan mengambil kekuatanmu sebagai seorang angel," ujar Libitina sembari melanjutkan kegiatannya dan mengambil seluruh kekuatan angel dari dalam diri Odette.
Odette tidak bisa berkutik. Ia hanya bisa melihat cahaya keemasan itu keluar dari dalam tubuhnya dan meninggalkan dirinya. Perlahan, baju yang dikenakan oleh Odette pun berubah warna menjadi hitam. Odette masih kebingungan dengan apa yang terjadi padanya.
Neira dan Azura hanya bisa menatap Odette. Mereka tak bisa berkutik dan bahkan Azura pun tak mengeluarkan pembelaan bahwa dirinya lah yang menyebabkan Odette menjadi seperti ini.
Azura mengepalkan tangannya, ia berusaha meyakinkan dirinya jika itu bukan kesalahnya dan itu adalah kesalahan yang diperbuat oleh Odette. Neira yang berdiri di sisi Azura bisa melihat dengan jelas perubahan raut wajah Azura yang ketakutan atas hukuman yang akan diterima oleh Odette.
"Maafkan aku, Odette. Tapi aku berharap hukuman kini bisa membuatmu tersadar atas kesalahan yang kau lakukan," ujar Libitina.
Libitina kembali mengulurkan tangannya dan mendorong tubuh Odette hingga terlempar cukup jauh. Kekuatan Libitina terlalu besar hingga Odette tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan bahkan untuk melawan pun sepertinya sudah tak bisa karena seluruh kekuatannya sudah diambil oleh Libitina.
Tubuh Odette terus bergerak mundur dan bahkan mulai meninggalkan area surga. Jatuh terus ke bawah hingga akhirnya ia mendarat di atas tanah dengan pohon yang menjulang tinggi.
Brugh!
Setelah tubuhnya tak bisa bergerak dan terus terjatuh ke bawah selama beberapa jam, ia akhirnya terjatuh di atas tanah.
"Aw!" pekik Odette.
Odette berusaha mendudukan dirinya dan membersihkan pakaiannya yang kini sudah berubah total menjadi hitam. Hanya tersisa sayapnya yang berwarna putih.
Odette menyadari ia berada di sebuah tempat asing. Ia melihat ke sekelilingnya dan memastikan bahwa ia tak pernah pergi ke tempat ini.
"Tempat apa ini?" gumam Odette.
Odette berdiri dan kembali melihat sekitarnya. Ia melihat pohon-pohon yang menjulang tinggi serta langit berwarna kebiruan dan matahari yang cerah dan berusaha menembus masuk melalui celah ranting pohon.
"Apa ini di bumi?" ujar Odette.
"Ah tapi sepertinya bukan, pintu masuk ke bumi hanya satu. Tentu saja ini bukan bumi," jawab Odette pada dirinya sendiri.
Odette menyeka peluh keringat yang mengalir di pelipisnya.
"Apa lagi ini? Apa aku beru saja berkeringat?" tanyanya pada diri sendiri.
Srek!
Odette menolehkan pandangannya saat mendengar sebuah suara dari belakanganya namun tak ada seorang pun di sana.
"Siapa di sana?" tanya Odette.
Tak ada jawaban apapun.
Srek!
Suara itu terdengar lagi tapi justru dari arah yang berlawanan. Odette sontak meraih ranting pohon yang berada di atas tanah dan ia todongkan ke arah depan seolah menjadi senajata yang akan ia gunakan untuk melindungi dirinya.
"Tunjukan dirimu!" teriak Odette.
Tak ada jawaban.
Odette kembali melihat sekitarnya sembari menodongkan ranting pohon di tangannya. Ia tahu jika dirinya dalam bahaya sekarang setelah menyadari bahwa ia tak sendirian di sana, dan ditambah dengan kenyataan bahwa ia tak memiliki kekuatan apapun.
Srek!
Suara itu keluar lagi dan kini dari sisi kiri Odette. Odette merasa panik dan ketakutan. Peluh keringat semakin mengalir dengan deras di pelipis dan area tengkuknya.
"Siapa kau? Jangan menggangguku atau aku akan menyihirmu! Cepat tunjukan dirimu!" pekik Odette.
"Baiklah jika kau memaksa," sahut sebuah suara yang berasal dari suara misterius tadi.
Odette membelalakan matanya setelah mendengar suara berat itu.
"Aaaaakkhhh!" pekik Odette ketika menyadari suara itu adalah suara seorang laki-laki.
Pria dengan perawakan tinggi, tegap, lengkap dengan sayap besar berwarna hitam muncul dari balik semak-semak yang cukup lebat. Matanya memicing menatap Odette seperti melihat sebuah mangsa baru.
"Kau!" pekik Odette setelah ia menyadari apa yang baru saja ia lihat.
Pria itu menyeringai dan membentangkan sayapnya dengan lebar. Perlahan kakinya melangkah mendekati Odette yang masih menodongkan ranting ke arahnya.
"Wah, lihat tangkapan yang baru saja kudapatkan. Boom!" ucap pria itu dan membuat Odette sedikit ketakutan dengan ucapannya.
"Bukankah kau adalah seorang de-demon?!" ujar Odette terbata-bata.
Odette melangkah mundur berusaha menghindari demon yang ingin mendekatinya.
"Menjauh dariku, demon!" pekik Odette sembari memejamkan matanya dan menggerakan ranting di tangannya seperti seorang ksatria yang sedang melayangkan pedang.
Woosh!
"Lancelot. Namaku Lancelot Salvatore dan aku adalah seorang raja demon," ujar Lancelot yang kini sudah berada di belakang tubuh Odette.
Odette terkejut bukan main, keseimbangan tubuhnya hilang dan ia pun terjatuh ke dalam pelukan Lancelot. Odette menatap wajah Lancelot dari dekat, matanya bahkan tak berkedip.
"Seorang fallen angel, huh?" ucap Lancelot dan membuat Odette tersadar dari lamunanya.
"Lepaskan aku!" pekik Odette dan sontak membuat Lancelot melepaskan tangannya dari tubuh Odette.
Bruk!
Odette terjatuh ke atas tanah dan membuat Lancelot tertawa melihatnya.
"Kau tertawa karena apa, hah?!" ucap Odette sembari berusaha bangkit dari posisi jatuhnya.
Odette menatap wajah Lancelot. Ia berusaha terlihat menakutkan namun Lancelot hanya tertawa dan membelai wajah Odette.
"Ternyata kau cukup manis, Odette Adelaide," ujar Lancelot dengan nada bass nya yang membuat Odette sedikit bergidik ngeri.
"Dari mana kau tahu namaku?" tanya Odette.
Lancelot mencodongkan tubuhnya ke depan dan matanya pun berubah menjadi merah.
"Wow, lihat apa yang baru saja kutemukan," ujar Lancelot.
Lancelot mengulurkan tangannya dan meremas bagian belakang tubuh Odette.
"Aaahh!" Odette sedikit mendesah saat Lancelot melakukan hal itu padanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Odette, lalu melangkah mundur hingga membuat jarak antara diriinya dan Lancelot.
Lancelot tersenyum licik.
"Rupanya kau tak sepolos angel pada umumnya. Apakah kau yakin kau adalah seorang angel, atau karena kau menjadi fallen angel, kau jadi bisa memiliki pikiran kotor seperti ini?" ucap Lancelot yang justru balik bertanya pada Odette.
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya berusaha merangsangmu. Melihat respon apa yang baru saja kau berikan padaku saat aku menyentuh tubuhmu."
"Menjauh dariku!"
"Tidak akan bisa. Ini adalah daerah kekuasaanku dan aku berhak melakukan apapun padamu."
"Apa maksudmu?"
Lancelot melangkahkan kakinya hingga tak ada jarak lagi antara dirinya dan Odette.
"Kau terjatuh di atas tanah Ceridwen Forest, dan ini adalah daerah kekuasaanku. Daerah seorang raja demon," jawab Lancelot tepat di depan daun telinga Odette.
Odette bergidik ngeri mendengarnya. Ia masih tak menyangka jika dia dibuang ke tengah hutan yang merupakan daerah kekuasaan seorang raja demon. Ya, seorang demon. Musuh terbesar para angel.
Lancelot meraih pinggang ramping Odette dan mendekatkan ke tubuhnya. Ia membelai rambut Odette dan membawa Odette ke dalam dekapannya.
"Apa yang kau lakukan?!" pekik Odette saat ia tersadar jika tubuhnya sudah dalam pelukan Lancelot.
"Berhenti gunakan sihir bodohmu itu!" sambung Odette saat menyadari jika dirinya seperti terhipnotis di hadapan Lancelot. Berulang kali Odette seperti kehilangan akal di hadapan Lancelot.
"Aku tidak memberikan sihir apapun padamu. Kau lah yang tersihir dengan ketampananku," jawab Lancelot.
Odette menatap wajah tampan Lancelot. Pikirannya menolak jika ucapan Lancelot adalah sebuah kebenaran, namun nyatanya hati, hasrat dan matanya tak dapat berbohong. Sejak pertama melihat Lancelot, Odette susah payah menelan ludahnya karena fantasi dewasanya.
Tubuh Lancelot sangat mempesona dan menggoda. Otot tubuh yang besar dan tercetak jelas membuat Odette berulang kali harus menyadarkan dirinya bahwa ia adalah seorang angel, atau lebih tepatnya seorang fallen angel.
Dan dengan posisi yang sangat dekat atau bahkan sudah tak ada lagi jarak antara mereka, Odette bisa dengan jelas merasakan tubuh kekar milik Lancelot. Hembusan napas yang terasa hangat menyapu tengkuknya, membuat Odette semakin b*******h.
"Apa yang baru saja kau pikirkan, Nona?" tanya Lancelot.
Belum sempat mendengar jawaban dari Odette, Lancelot pun langsung mengeratkan pelukannya pada Odette dan membentangkan kedua sayapnya.
"Mau apa kau?" tanya Odette.
"Memasukanmu ke dalam penjaraku karena telah masuk ke wilayahku tanpa izin," jawab Odette.
Tanpa menunggu aba-aba, Lancelot segera menerbangkan dirinya bersamaan dengan Odette yang masih berada dalam dekapannya. Odette berusaha melepaskan cengkraman tangan Lancelot pada pinggangnya.
"Apa kau tahu? Kekuatanmu tak akan berfungsi di wilayahku. Jadi sayapmu itu, hanya akan menjadi sebuah hiasan tak berguna. Sebaiknya kau diam atau kau akan jatuh dari ketinggian," ujar Lancelot tanpa menolehkan pandangannya pada Odette.
Setelah mendengar ucapan dari Lancelot, akhirnya Odette memutuskan untuk tetap diam dan mengikuti ucapan Lancelot. Lagi pula, apa yang bisa ia lakukan? Tentu saja tidak ada. Kekuatan pun tak ada. Ia hanya bisa terdiam dan mengikuti kemauan dari Lancelot sang raja demon.
Odette melihat ke bawah dan ia hanya mendapati sebuah hutan belantara di sana. Tak ada apapun di bawah sana. Selain itu, ia menyadari bahwa ini suadh terlalu tinggi, bahkan Odette tak pernah terbang setinggi ini.
"Astaga, apa aku akan mati disini?" gumam Odette dalam hatinya.
"Tidak, kau tidak akan mati selama berada di sisiku," jawab Lancelot dengan nada lantang.
"Ah syukurlah," ujar Odette.
"Eh-eh? Apa?!" pekik Odette ketika menyadari jika Lancelot baru saja menjawab pertanyaan dalam benaknya.
Ya, itu adalah salah satu kemampuan spesial milik Lancelot yang merupakan seorang raja demon. Ia mampu membaca pikiran makhluk lain, termasuk Odette. Entah itu sebuah keberkatan atau kesialan, karena terkadang Lancelot pun merasa risih dengan kemampuannya. Suara-suara itu terkesan berisik, terutama saat ia mendengar rentetan suara memohon dalam benak makhluk lain. Membuat Lancelot ingin segera melenyapkan makhluk di hadapannya saat itu juga.
Namun hal tersebut sepertinya tidak berlaku pada Odette Adelaide yang kini sedang berada dalam dekapannya dan terbang bersama fallen angel itu menuju kediamannya yang berada tepat di tengah hutan.