Sebuah map biru meluncur di permukaan meja. Yogi menangkap map tersebut dan membukanya.
"Kasus No. 336 : Data Diri Tersangka" ditulis dengan huruf balok tebal di bagian paling atas halaman satu. Lembar pertama, kedua, ketiga. Dalam beberapa menit Yogi selesai membaca semua isinya.
"Jadi orang bernama Andi ini menggunakan kolom iklan untuk membuat semacam pengumuman. Tapi isinya sangat blak-blakkan dan tidak sopan, menyinggung orang lain dengan sengaja. Kasus ini masuk pencemaran nama baik?" Yogi bertanya dengan agak ragu. Dilihat dari mana pun, hal ini biasa terjadi. Yang tidak wajar hanyalah publikasinya. Pengecualian untuk iklan pemberitahuan yang terakhir memang sangat mengarah pada pencemaran nama baik.
"Ya. Bagaimana menurutmu? Apa yang harus kita lakukan?" Sepasang iris cokelat gelap menatap Yogi dengan tenang. Tak ada nada mendesak di suaranya. Ekspresi Bintang pun seperti biasa, seolah kasus yang tengah dibahas bukan urusannya.
"Menurutku yang salah adalah pihak korannya. Dalam menerbitkan iklan, tiap perusahaan media cetak pasti punya syarat dan bagian editing. Jika ada tulisan yang tidak layak terbit seperti ini, harusnya pihak koran tidak mempublikasikannya. Pasti ada sesuatu di sana."
"Hm. Kau benar," jawab Bintang sembarang.
Bintang menatap kosong ke arah meja. Dia tidak terlihat sedang memikirkan sesuatu atau mendengarkan penilaian Yogi. Jiwa muda Yogi tersinggung karena tidak diperhatikan.
Keadaan hening sementara sebelum Bintang tiba-tiba bersuara, "Kau tahu, pendapatmu benar. Tapi menurutku prioritas bersalah jatuh pada penulis iklan. Jika orang ini tidak membuat iklan semacam itu, bukankah masalah ini tidak akan pernah terjadi?"
Benar! Yogi berteriak dalam hati. Matanya berkilau meski ada sedikit rasa kesal dan lelah karena ternyata pemikirannya kurang tepat di mata Bintang. Bukannya Yogi membenci Bintang atau apa, dia hanya mengutuk diri sendiri yang tidak bisa menyesuaikan jalan pikirannya.
"Kalau begitu, kita akan menemui orangnya?"
"Ya. Tentu saja. Mari." Bintang bangun dan memakai jaket kulitnya.
"Sekarang?!" Yogi mendongak terkejut.
Bintang memandang miring ke bawah, memikirkan kesalahan dalam kata-katanya sampai Yogi terkejut. Namun dia tidak menemukan kesalahan apapun dan bertanya, "Apa kau ada kepentingan lain?"
"T-tidak, sih. Aku kira kita perlu melakukan beberapa prosedur dulu sebelum pergi."
"Seperti?"
"Seperti meneliti data yang sudah didapat. Memperkirakan modus pelaku, mendaftar korban, menemukan kesamaan dari kasus-kasus yang sudah terjadi, dan semacamnya." Yogi menjelaskan sambil mengangkat kedua tangan. Sudah banyak film aksi-polisi yang ia tonton sejak kecil. Dan dia benar-benar mendambakan peran polisi yang mengungkap misteri terjadi padanya.
Bintang menatap Yogi dengan datar. Yogi Irwan, dua puluh dua tahun. Suasana hatinya bisa berubah dengan sangat cepat.
"Mm... tidak. Kita tidak akan melakukan itu." Yogi murung. Dia seperti seekor anjing kecil dengan telinga dan ekor yang layu.
"Kenapa?"
"Pertama, tidak ada data yang perlu diteliti. Kedua, modus pelaku sangat jelas. Ketiga, tidak ada korban. Keempat, satu-satunya hal yang sama dari kasus-kasus sebelumnya adalah si pengirim iklan. Dan kita sudah tahu siapa orangnya. Jadi yang perlu kita lakukan sekarang adalah mendatangi orang itu lalu memberinya teguran." Bintang dengan sabar menjelaskan pada polisi baru di depannya.
Respon Yogi tak begitu jelas. Dia hanya mengangguk dan mulai merapikan seragamnya. Sambil mengikuti Bintang, Yogi memikirkan banyak hal. Sebelumnya Yogi sudah melihat tiga buah potongan koran yang isinya adalah iklan baris dengan kata-kata pedas. Melihat bagaimana Bintang menanggapi ketiga iklan ini, mustahil timbul kasus pencemaran nama baik padanya. Yang jadi masalah sekarang adalah pencemaran nama baik itu pada akhirnya jatuh pada instansi Polres Tegal Kota. Dan korban tidak mungkin melaporkan pada pihak berwenang, karena korbanlah pihak berwenang yang dimaksud. Pada akhirnya nama Bintang menjadi dalih penyelesaian kasus ini.
Kasus nomor 336. Ada nomornya? Bukankah tidak ada surat tugas resmi? Kenapa? Yogi, yang daya pikirnya lambat karena masih baru akhirnya membulatkan nyali untuk bertanya.
Bintang memasuki kursi kemudi sigra hitamnya. Yogi masuk di kursi penumpang depan. Saat kunci baru saja diputar, Yogi mengeluarkan suaranya.
"Umm... Pak Bintang. Boleh kutanya sesuatu?"
Mesin mobil menyala dan Bintang mulai membawanya mundur dari area parkir. "Ya. Tanyakan saja."
"Kenapa kita tidak dapat surat tugas resmi?"
"Oh, aku belum memberitahumu?" Yogi menggeleng penuh semangat. "Ya, aku juga ingin menanyakan hal yang sama pada Pak Bayu selaku kapolres. Tapi beliau sedang keluar kota. Sebelumnya, saat aku dipanggil untuk menghadap Pak Bayu terkait kasus ini wakapolres, Pak Rizki memberitahuku kalau kasus ini seharusnya diselesaikan oleh polisi. Karena yang menjadi korban adalah polisi, maka akan jadi tidak enak didengar orang jika kasus ini dilaporkan kepada sesama polisi. Untuk itu Pak Bayu memintaku menyelesaikan tugas ini melalui meditasi kekeluargaan. Pak Bayu ingin kasus ini tuntas tanpa diketahui khalayak kalau kita mempermasalahkannya. Jadi seperti dilupakan secara alami."
Setir mobil diputar ke kiri beberapa kali, lalu kendaraan beroda empat itu memasuki arus lalu lintas. Bintang fokus pada jalanan. Dia tidak mendengar apapun dari orang di sampingnya sebagai balasan. Mengingat kepribadian Yogi, Bintang jadi ragu kalau anak muda ini mengerti apa maksudnya.
"Apa kau paham?" Yogi tesentak dari lamunannya. Matanya yang besar memandang Bintang dengan tatapan penuh arti.
"Lalu kenapa ada nomor kasusnya? Bukankah tanpa surat tugas resmi maka kasus ini seolah tidak pernah ada?"
"Ya... itu hanya untuk dokumentasi lokal saja. Tidak akan benar-bebar dicatat di pusat."
"Tapi mereka menggunakan namamu untuk kasus itu." Nada bicara Yogi naik beberapa oktaf. Bintang tidak tahu kenapa rekan mudanya marah tiba-tiba. Bintang melirik ke kiri, mendapat Yogi yang menyembunyikan ekspresinya dengan menunduk dalam.
Bintang menjawab dengan asal, "Ya, tidak apa-apa. Lagi pula semuanya memang berawal dari diriku."
"Apa kau benar-benar melakukan hal-hal yang orang itu tulis?" Yang Yogi maksud dengan "orang itu" tentu saja Andi, si pembuat iklan omong kosong.
"Entahlah. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali melewati jalan dengan CCTV." Ya, Bintang mengatakan yang sejujurnya. Dia tipe orang yang suka kesunyian. Dia benci keramaian, apalagi sampai jadi pusat perhatian. Masuk ke layar CCTV sama saja dengan mengumumkan kalau dirinya adalah orang yang ingin diperhatikan. Bahkan sekarang, saat menjalankan tugasnya sebagai seorang polisi Bintang menggunakan jalan tikus.
Jawaban Bintang yang tidak berbobot tidak memuaskan Yogi sama sekali. Justru membuatnya semakin kesal.
"LALU KENAPA? KENAPA KAU MENERIMA TUGAS INI?!"
Yogi berteriak. Dia bahkan tidak memedulikan sopan santun tentang memanggil yang lebih tua. Bintang tersentak dan hampir menginjak rem secara spontan. Untungnya dia masih bisa mengendalikan kakinya.
"Kenapa? Tentu saja karena ini menyangkut diriku. Jadi aku harus menanganinya. Bukan begitu?"
"Tapi kau korban di sini. Kau bisa saja... melaporkan kasus ini dan meminta orang lain mengurusnya untukmu. Bahkan jika kau ingin mengurus hal ini sendiri, setidaknya kau harus menuntut hakmu sebagai korban untuk mendapat keresmian kasus." Yogi mengatakan banyak hal tanpa mengangkat kepalanya.
Bintang tidak pernah tertarik membaca artikel mengenai perkembangan emosional manusia. Sejak awal dirinya tidak pernah benar-benar memiliki emosi yang kuat terhadap apapun. Hanya penyendiri yang tidak bersosialisasi. Menjadi polisi hanyalah alibi untuk alasan pribadi.
"Aku tidak keberatan sama sekali tentang hal itu--"
"Jika... jika Pak Bayu tidak menyuruhmu melakukan ini, apa kau tidak akan pernah bertindak? Jika orang itu tidak pernah membawa-bawa nama Polres Tegal Kota, apa kau juga tidak akan pernah bertindak?"
"Hm, begitulah."
Samar-samar Bintang mendengar teriakan tertahan dari Yogi. Punggungnya menegang. Hatinya was-was kalau-kalau telah salah mengucapkan sesuatu.
"Sial!" Yogi berteriak lagi.
"Hei, hei. Jaga ucapanmu. Lagi pula kenapa kau yang marah?"
"Aku tidak marah!"
"Kau marah."
"Aku tidak!"
"...."
Bintang terdiam. Begitu juga Yogi. Pertikaian ini, mengingatkannya pada iklan yang Andi pasang. Mungkin saja suatu hari di masa lalu Bintang benar-benar mengabaikan sekelompok orang yang berdebat di pinggir jalan. Seperti sekarang, dia sangat menghindari bentrokan. Dari pada terlibat lebih jauh, Bintang lebih memilih untuk diam dan mengalah.
"Aku tidak marah. Aku hanya merasa kalau ini tidak adil."
"Bukan kita yang memutuskan apakah sesuatu adil atau tidak." Bintang memutar kemudinya. Setelah beberapa ratus meter, lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Dengan perlahan Bintang menginjak rem tepat di belakang zebra cross.
"Tapi kita polisi. Kita menegakkan keadilan."
"Bukan keadilan, tapi hukum. Kita menegakkan hukum yang tidak adil bagi sebagian orang. Tentu saja di luar sana ada yang merasa kalau hukum yang sekarang berlaku tidak adil alias merugikan. Keadilan adalah ego. Satu negara pun tidak akan pernah cukup memuaskan ego seseorang. Di situ lah hukum muncul sebagai pembimbing. Bukan untuk memuaskan ego, tapi untuk memenuhi kebutuhan atas dasar kemanusiaan." Saat Bintang selesai bicara, lampu merah sudah kembali berubah.
Bibir Yogi meregang. Suaranya tercekat di tenggorokan. Pada akhirnya yang bisa diucapakan hanyalah gumaman tak berarti. Kedua tangannya dilipat di atas dashboard sebagai sandaran kepalanya. Yogi mempertahakan posisi tersebut selama perjalanan. Bintang meliriknya lagi dan tersenyum. Rupanya ada sepotong rasa kasihan dari anak baru ini terhadap dirinya. Sampai dikasihani oleh orang yang lima tahun lebih muda darinya, mimpi apa dia semalam.
Tombol volume radio mobil digeser. Suara penyiar yang lantang dan sangat antusias menyebar ke tiap sudut besi berjalan itu. Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya klasik. Pagar besi rumah hanya setinggi pinggang orang dewasa dengan cat biru langit yang pudar. Dinding bagian depannya ditempeli ubin berwarna merah hati dan motif bunga. Pintu cokelat polos tertutup rapat. Satu set meja teh yang terbuat dari rotan terlihat rapi di halaman depan.
Bintang dan Yogi turun dari mobil. Perasaan Yogi sudah lebih baik. Dia kembali pada dirinya yang serba ingin tahu dan penuh semangat.
"Jalan Slawi Pos No. 56, benar?" Bintang membaca selembar kertas seukuran telapak tangannya, lalu pandangannya beralih pada sepotong besi ringan di atas bel rumah. Alamat rumah tertulis dengan cat hitam dan biru di sana.
Yogi mengangguk. "Benar, Pak."
Bintang melihat ke arah Yogi melalui sudut matanya. Yogi si anak baru telah sepenuhnya kembali ke keadaan normal.
"Oke. Mari kita masuk."
Pintu pagar berderit saat digeser ke dalam. Bintang mengambil langkah duluan, memimpin Yogi memasuki halaman depan rumah itu. Daun-daun kering dari pohon mangga berserakan di tanah. Garasi mobil tanpa pintu dibiarkan kosong. Bahkan lantai dan set meja minum teh penuh dengan debu. Kecuali tepat di depan pintu, Bintang menemukan beberapa jejak sepatu yang mengikis tumpukan debu yang tebal.
"Hati-hati saat melangkah." Jari telunjuk Bintang mengarah pada sekumpulan jejak kaki di lantai. Pandangan Yogi mengikuti arah yang Bintang tunjuk dan mengerti.
Jejak kaki adalah bukti. Meskipun mereka hanya akan menegur, siapa tahu akan ada bukti yang mengarah pada persoalan lain. Bintang berdiri di depan bel rumah, lalu menekan tombol putih kecil itu. Bunyi bel terdengar dari luar rumah juga. Bintang memperhatikan bunyi itu, dan mengasumsikan kalau bunyinya sedikit bergema. Di dalam rumah pasti tidak ada orang.
Setelah beberapa kali menekan bel tanpa jawaban, Bintang berhenti. Dia mengeluarkan ponselnya dan memotret jejak kaki di lantai. Yogi melihat apa yang Bintang lakukan. Meski tahu alasan kenapa Bintang memotret jejak kaki, Yogi masih belum mengerti kenapa seniornya berhenti menekan bel. Dengan inisiatifnya sendiri, Yogi menggantikan Bintang dan mulai menekan bel sambil sesekali berteriak "permisi."
"Tidak perlu memanggil lagi." Bintang yang sudah selesai memotret mengantungi ponselnya.
"Tidak perlu? Kenapa?" Yogi memiringkan kepalanya heran. Dia seperti anjing pudel kecil dengan mata besar.
"Tidak ada orang di rumah. Mungkin kita harus kembali besok atau lusa."
"Dari mana Bapak tahu kalau tidak ada orang di rumah? Apa karena tidak ada yang menjawab?" Kaki Yogi berjalan dua langkah menjauh dari lokasi bel. Di posisi ini, dia bisa melihat Bintang dengan jelas.
"Suara belnya menggema. Jejak kaki ini mengarah ke luar. Mobil tidak ada di garasi. Hm, apalagi, ya?" Bintang memegang dagunya. Matanya masih fokus ke arah jejak kaki di lantai. Pose berpikirnya ini benar-benar seperti tokoh kartun.
"Apa hubungannya gema dan keberadaan manusia?"
"Singkatnya begini. Gema biasanya terjadi pada rumah yang kosong. Gema dari bel sebelumnya merambat dengan cepat, tapi tidak begitu keras. Bisa diasumsikan kalau rumah ini memiliki beberapa perabotan dengan kerapatan tinggi. Kayu misalnya. Tanpa aksesori seperti bantalan sofa, karpet, dan hal lembut peredam suara lainnya. Manusia juga memiliki kerapatan cukup tinggi dan bisa berfungsi seperti peredam. Tapi bunyi dari bel itu memiliki penghalang yang sama. Frekuensi bunyi gema sama sepanjang jalan. Jadi kurasa sangat wajar jika kesimpulannya adalah tidak ada orang di rumah."
"Oh." Kepala Yogi mengangguk-angguk meski tidak begitu paham. Dia tidak memperhatikan gema bunyi bel sebelumnya. Setelah diingat-ingat memang begitu kenyataannya.
Debu di luar rumah sangat tebal. Dari data diri yang Bintang baca, Andi ini memang sudah kehilangan istrinya sejak satu tahun lalu. Maka wajar kalau rumahnya sedikit kotor. Bintang yang sudah hidup sendiri dalam waktu yang cukup lama mengakui kalau dia hanya akan membersihkan rumahnya kalau ingin saja. Tapi di sini lah celahnya. Jejak apapun yang tertinggal bisa dilihat dengan jelas. Bintang dan Yogi menelusuri beberapa titik yang diperkirakan dilalui penghuni. Namun mereka tidak menemukan apapun lagi selain jejak kaki di depan pintu.
Seorang wanita berdaster ungu melihat dua orang asing berkeliaran di depan rumah tetangganya. Dia merasa curiga dan akhirnya memutuskan untuk mendekat.
"Ada apa, ya? Apa ada perlu dengan Pak Andi?"