Bab 5 Jam Makan Siang

1772 Kata
Musim tahun ini mundur sangat jauh. Padahal sudah akhir bulan kelima, tapi hujan masih saja sering datang. Terutama di Kota dan Kabupaten Tegal, curah hujan cukup tinggi sejak awal tahun. Akibatnya beberapa jalan terendam luapan air dari selokan dan membentuk genangan yang cukup besar di lubang-lubang jalan. Para pengendara harus ekstra hati-hati saat menemui genangan air yang keruh dan besar. Bisa jadi lubang di bawahnya dalam, membuat kendaraan mengalami entakan keras. Beberapa pejalan kaki dan pengendara kendaraan roda dua harus lebih sabar karena tak sedikit dari mereka yang terguyur air kotor dari sisi jalan. Keadaan seperti ini berlanjut dan membuat warga resah. Mereka tidak bisa mengajukan komplen karena jalan-jalan yang berlubang biasanya terletak di jalan kecil yang jarang diperhatikan pemerintah setempat. Di Kota Slawi misalnya. Beberapa genangan air terlihat di jalan raya dan daerah pemukiman. Tiap hari ibu-ibu rumah tangga akan mengoceh karena jemuran mereka terciprat lumpur dan harus dicuci ulang. Hanya u*****n kecil dan gosip yang bisa lakukan sebagai pelampiasan. Ibu-ibu rumah tangga sebenarnya cukup santai dengan bekerja di rumah. Membersihkan rumah sambil mencoba berbagai perawatan kulit jadi alternatif untuk perasaan waktu kerja yang singkat. Atau juga mengganti model rambut menjadi keriting dengan roll, seperti yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga berdaster ungu yang mendatangi Bintang dan Yogi. Setelah mengonfirmasi kalau ibu tersebut kenal dengan Andi, Bintang menawarkannya untuk bertukar informasi. Tentu saja, Bintang sedikit tahu tentang masalah jalanan yang becek. Meski tidak punya wewenang, setidaknya dia bisa menjanjikan bahwa keluhan ibu tersebut sampai di telinga bagian administrasi kota. "Jadi Ibu Kartika ini sudah menjadi tetangga Andi sejak lama, ya?" Bintang memastikan informasi yang ia dapat dari Kartika. "Iya, sepuluh tahun lebih, Pak. Kenapa, ya dengan Pak Andi? Pak Andi ada masalah apa sampai Pak Polisi ini datang kemari?" Bintang dan Yogi mulai mencium arah pembicaraan. Kartika ini, sifat kewanitannya muncul. Dia sedang mengorek informasi untuk dijadikan bahan gosip. Tanpa tahu tentang hal ini pun, sudah pasti Bintang tidak akan mengatakan yang sebenarnya. "Tidak ada masalah apa-apa, kok, Bu. Cuma, ya, Andi ini kenalan lama saya. Hanya ingin berkunjung." Awalnya Bintang tidak ingin mengungkap identitas aslinya sebagai polisi. Tapi Kartika tidak percaya keduanya orang baik dan mulai berteriak maling. Beberapa warga datang dengan tongkat, tapi untungnya Bintang segera mengeluarkan lencana polisinya yang ada di dompet. Lalu para warga pun bubar dengan sedikit tawa kekonyolan. "Oh." Kartika manggut-manggut. "Ibu Kartika tahu Andi ke mana?" "Hm, kurang tau juga, ya. Saya enggak pernah suka campurin urusan orang. Enggak ngikutin gosip-gosip juga. Dan Pak Andi ini memang orangnya pendiam dan sulit bersosialisasi setelah istrinya meninggal. Saya juga sedih, sih pas dengar kabar ini. Tapi ya mau bagaimana lagi. Sudah ada takdir buat masing-masing orang." "Pfft--" Yogi hampir melepaskan sejumlah tawa saat mendengar tiga kalimat pertama dari Kartika. Untungnya dia sudah mendapat cukup banyak pendidikan saat di sekolah dulu dan menarik tawanya. "Kapan terakhir Ibu lihat Andi?" tanya Bintang lagi. "Terakhir, sih kalau enggak salah dua hari lalu. Saya lihat Pak Andi pakai seragam kerja kaya biasa, bawa koper. Pak Andi berangkat pakai mobil pagi-pagi sekali. Belum ada jam enam malah." "Lalu?" "Lalu... mm...." Kartika mengerutkan keningnya, berusaha mengingat kejadian dua hari lalu. "Oh, iya! Ada mobil boks yang ngikutin mobil pribadi Pak Andi di belakang. Tapi saya enggak lihat siapa yang mengemudi." "Waktu itu Ibu ngapain, ya? Kok belum jam enam sudah keluar rumah?" "Ye, ibu-ibu mah masih subuh juga udah pada jemurin pakaian. Pergi ke warung buat beli bahan sarapan. Sudah biasa itu mah." Mendengar alibi Kartika membuat Bintang mengingat masa lalu. Bagaimana seorang wanita cantik dengan tubuh yang mungil membangunkannya bahkan sebelum matahari terbit. Setiap pagi meja makan akan penuh dengan menu sehat. Di halaman depan rumah akan banyak baju basah bergelantungan. Belum lagi lantai yang sudah sangat bersih mengkilat seperti baru. Bintang mengingat terlalu jauh. Dia segera kembali pada kenyataan. "Apa ada lagi, Bu?" "Apa, ya... kayanya enggak ada, deh. Cuma itu saja. Saya juga belum lihat Pak Andi lagi sejak hari itu. Sebelumnya Pak Andi memang orangnya tertutup jadi enggak banyak yang sering lihat dia." "Kalau begitu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Kartika karena sudah membantu menjawab pertanyaan. Kalau Ibu melihat hal-hal yang berkaitan dengan Andi, tolong jangan segan untuk menghubungi saya lewat layanan Polres Tegal Kota, ya. Kami pamit undur diri." Bintang secara refleks mengatakan kalimat formal yang biasa digunakan setelah bertanya-jawab dengan saksi. Kelengahannya diteliti oleh Kartika. "Pak Polisi ini sopan banget. Enggak apa, kok. Saya juga tahu rasanya nyari teman lama. Semoga berhasil, Pak Polisi." Kartika kembali ke rumahnya. Bintang menuntun Yogi menuju mobil. Saat keduanya memasuki mobil, Yogi bertanya, "Apa yang akan kita lakukan setelah ini, Pak?" "Hm... bagaimana menurutmu?" Yogi sadar kalau Bintang benar-benar ingin memberinya pengalaman. Ini benar-benar pengalaman yang akan sangat membantunya di masa depan! Siapa yang tahu kalau nanti Yogi bisa menjadi seorang kapten tim penyelidikan. "Menurutku kita melihat-lihat keadaan sekitar rumah." Mata Yogi berbinar lagi. Tapi Bintang terdiam sebagai tanggapan. Beberapa saat kemudian, akhirnya Bintang membalas dengan suara. "Bukankah kita telah melakukannya tadi?" "Iya, aku tahu. Tapi tadi itu terlalu sebentar. Tidak ada data yang cukup untuk...." Yogi kehilangan kata-katanya. Untuk apa? Untuk membawa kasus ini ke meja hijau? Bintang sudah menegaskan kalau kasus ini harus ditutup secara halus dan sembunyi-sembunyi. "Untuk?" Yogi segera menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa. Bagaimana menurutmu, Pak? Aku tidak punya ide lain." "Ya, karena kita tidak sedang buru-buru, kenapa tidak kembali ke kantor? Menyeduh segelas kopi dan mie instan. Saat kita sampai di sana pasti sudah lewat jam makan siang." "Mn, tentu." Mobil sigra hitam kembali menyusuri jalanan. Melalui beberapa jalan tikus membuat waktu perjalanan jadi lebih singkat. Benar kata Bintang, mereka sampai di kantor saat jarum jam menunjuk angka dua. Mereka sangat lapar karena perjalanan ini. Di ruang kerja ada sebuah dispenser panas-dingin. Galonnya sudah diganti dengan yang baru. Bintang segera memasukkan kabel dispenser ke stopkontak, menunggu suhu air meningkat. Sementara itu Yogi mengambil dua cup karton, dua sachet kopi hitam tanpa gula, dan dua bungkus mie instan berkuah dari pantry. Sebenarnya pantry menyediakan dispenser panas-dingin dan kompor. Tapi dengan alasan "lebih nyaman di tempat sendiri" Bintang mengambil keputusan secara otoriter untuk mengolah makan siangnya di ruang kerja. Setiap polisi di Polres Tegal Kota memiliki jatah makan siang sendiri. Tapi sayangnya waktu makan siang dimulai jam dua belas tepat sampai setengah satu. Lewat dari jam itu tidak ada jatah makan siang. Kantin menyediakan nasi tentu saja, tapi sekali lagi Bintang menggunakan alasan konyol hanya untuk berhemat. "Tanggal gajian masih lama. Apalagi untuk pemuda sepertimu yang masih memiliki masa depan panjang, belajarlah menghemat sejak sekarang," katanya. Yogi, yang terjebak dalam kekaguman terhadap seniornya seolah buta dan tuli. Dia seperti anjing pudel yang begitu penurut terhadap semua perintah majikannya. Waktu makan siang Bintang dan Yogi berakhir kurang dari dua puluh menit. Selama periode itu, Bintang memikirkan kemungkinan Andi pindah rumah. Jika iya, seharusnya ada sertifikasi khusus dalam data dirinya. Setiap orang dewasa yang memiliki e-KTP harus mendaftarkan alamat terbaru mereka. Jika ada perubahan data diri apapun harus dilaporkan melalui website yang telah disediakan pemerintah. Dan polisi, tentu saja dapat mengakses data semua penduduk dengan mudah. Bintang sudah mencari data diri berdasarkan e-KTP Andi dan tidak menemukan perubahan data sejak tahun di mana Andi mengganti profesinya menjadi seorang akuntan. Satu yang berubah dari data tersebut adalah tambahan kata almarhum dan almarhumah di sisi nama anggota keluarganya. Jika Andi pindah rumah dua hari lalu, mungkin dia memang belum punya waktu untuk mengisi kembali data dirinya. Sejak merasakan betapa sulitnya hidup sebagai seorang junior, Bintang memantapkan niatnya untuk menghilangkan senioritas di Polres Tegal Kota. Meski tidak berpengaruh besar, setidaknya Bintang tetap pada pendiriannya dalam cakupan kecil seperti tim penyelidikannya. Bintang mengemasi semua sampahnya lalu buntelan plastik itu terbang tepat ke lubang tempat sampah. Ia kemudian menarik selembar tisu dan mengelap meja kerja. Di atas selembar kertas yang putih, Bintang mencoba menulis informasi yang ia dapat hari ini. Andi pergi dua hari yang lalu, dan menghilang sampai sekarang. Tetangganya mengaku melihat mobil pribadi Andi pergi diikuti oleh mobil boks. Rumah keadaan kosong dan terkunci. Jejak kaki mengarah ke luar rumah. Di saat yang sama, Yogi baru saja selesai menghabiskan mie instannya. Membereskan meja, Yogi berusaha menirukan gaya Bintang melempar sampah. Sayangnya Yogi memiliki akurasi yang sedikit lebih rendah dari Bintang. Sampahnya meleset dan malah berhamburan. Wajah Yogi menegang. Bukan karena kekecewaan atas kegagalannya melempar sampah, tapi takut Bintang akan memarahinya. Mata Yogi bergulir pelan menatap Bintang yang masih sibuk dengan kertas dan penanya. Setelah mengonfirmasi kalau Bintang tidak memiliki respon negatif, Yogi menghela napas lega. Baru saja Yogi bersantai, Bintang malah menanggapi suara berisik dari pojok ruangan. "Bersihkan dengan benar." Singkat, padat, dan jelas. Perintah itu dikeluarkan dengan suara rendah dan penuh intimidasi. Bintang bahkan tak melihat ke arah Yogi, tetapi titahnya mutlak. "Siap, Pak." Yogi bangun dari kursinya dan mulai memunguti sampah mie instan. Lagi pula sejak awal semua ini memang kesalahannya. Lantai ruang kerja berubin. Air sisa mie instan Yogi berceceran di lantai. Dia pergi ke pantry dan kembali dengan alat pel di tangan. Setelah selesai membersihkan area tempat sampah, Yogi kembali duduk di samping Bintang. Lagi-lagi Bintang masih terpaku pada alat tulis di hadapannya. "Apa yang sedang kau lakukan, Pak?" Yogi melipat kedua tangannya di atas meja. Tubuhnya agak condong ke depan untuk melihat tulisan tangan Bintang yang miring ke kanan, latin. Mirip tulisan tangan presiden pertama Indonesia. "Mendaftar informasi." "Informasi yang kita dapat hari ini?" "Hm." Keadaan ruang kerja nomor dua puluh satu hening lagi. Yogi hanya memainkan pena miliknya yang bergulir ke kanan dan kiri sambil sesekali melihat Bintang yang masih diam. Selembar kertas putih yang tadinya kosong sudah hampir penuh dengan coretan tinta hitam, tapi Bintang masih betah menulis-nulis di atasnya. Yogi tidak melihat ada tambahan spesifik pada kertas itu. Punggungnya tegak saat Bintang mendongak. Hal pertama yang Bintang lihat bukanlah junior tekun di depannya, melainkan benda bulat di dinding. Sudah jam tiga lewat. "Besok kita ke PT. Bentang Buana." Bintang berkata dengan nada datar. Begitu juga wajahnya yang kaku dengan ketegasan tak terbantahkan. Yogi hanya bisa mengangguk pelan. Saat Bintang mulai mengepak barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas, Yogi ingin memastikan sesuatu dan bertanya. "Apa kita akan menemuinya besok?" "Aku harap kita bisa bertemu dengannya besok." "Apa Bapak pikir mungkin dia lari dari kita?" Yogi bertopang dagu sambil menonton punggung Bintang. "Bisa jadi. Sudah hampir satu minggu tapi tulisannya belum dimuat di koran. Mungkin saja dia memang ingin menggertak." Bintang selesai dengan urusannya dengan tas. Dia menoleh ke arah Yogi yang masih duduk manis. "Apa kau tidak mau pulang?" "Hm? Mau." "Kenapa belum bersiap?" "Oh, aku tidak mengeluarkan apapun dari tas. Jadi tidak perlu menyiapkan apapun untuk pulang." Yogi menjawab santai sembari memasukkan pena hitamnya ke dalam saku. Dua orang keluar lewat satu-satunya pintu di ruang itu. Lampu dimatikan dan pintu dikunci. Tidak ada yang aneh sama sekali. Semuanya begitu damai hingga membuat siapapun lengah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN