15. Asa Shaqila Aisyah mematung. Benaknya kembali menawan tentang percakapan dengan Ammar tadi sewaktu di depan perpustakaan. Ada sebersit janggal menyusup hati. Ucapan Ammar layaknya orang yang akan pamit dan tak akan kembali saja. Cemas. Aisyah merasakan ada ketakutan meruangi hati. Aisyah jadi takut, apalagi kemarin papa-nya juga sempat berpesan seolah beliau akan pergi jauh. Pak Hanif memberi pesan padanya, jika dia harus selalu seperti sekarang. Menjaga ibadah, menjaga auratnya sebagai perempuan, juga menjaga adab terhadap siapapun. Aisyah menangis dalam pelukan sang papa. Rasa bersalah juga syukur karena dia tidak telat menyadari semua kesalahan dan memperbaikinya. Husnudzon Aisyah! Jangan berpikir yang tidak-tidak!!! Batin Aisyah berontak. Mengingatkan agar tetap berpikir p

