Bab 1 — Bencana di Kala Merindu
Ayu’s PoV
Sudah beberapa bulan, aku hanya bisa berkeluh kesah tanpa lagi ada sahutan. Tak ada lagi bahu tempat bersandar—menumpahkan segala beban dirasakan. Tak akan bisa lagi aku dengar kalimat-kalimat lembut yang menenangkan hati.
"Aku harus gimana, Kak? Apa boleh ikut menyusul kamu ke sana? Aku capek banget rasanya, enggak punya energi untuk ngapa-ngapain." Tanganku mengusap batu nisan di depanku. "Apa aku enggak diizinkan untuk bahagia? Kenapa Tuhan mengambil kamu yang satu-satunya merupakan sumber kebahagiaanku?"
Tetesan air mulai turun perlahan membahasi tanah dan semilir angin yang menerpa wajahku, namun hal itu tak lantas membuatku beranjak dari tempat favoritku belakangan ini. Masih ingin berbicara padanya yang berada di dalam gundukan tanah, yang tak akan bisa menyahutiku. Aku tak punya lagi seseorang tempat mengadu. Sampai sekarang rasanya masih sulit untuk aku terima, kenapa orang sebaik dia harus pergi secepat ini?
"Aku sedang belajar untuk ikhlas, tapi kenapa rasanya sulit sekali? Maafin aku yang masih sering kebayang-bayang kebersamaan kita, apa pun tentang kamu. Aku rindu… “
Gerimis yang turun perlahan seolah ikut merasakan kesedihanku. Kesedihan yang tak kunjung hilang, ada bayang-bayangnya yang sulit untuk ditepis. Kebersamaan kami, bagaimana caranya memperlakukanku dan banyak lain tentangnya—cerita tentang kami berdua.
Aku rasanya tak punya semangat hidup setelah kepergiannya. Almarhum Kak Elang, lelaki itu sangat berarti dalam hidupku. Hidupku mulai berwarna kembali sejak mengenal dirinya pada masa kuliah. Dia merupakan kakak tingkatku mendekatiku dan kami berpacaran setelah sebelumnya aku sempat menolaknya dua kali. Tak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun awalnya saat itu. Hubungan kami awet meski sesekali ada permasalahan kecil tentunya dalam menjalin sebuah hubungan. Kak Elang yang lebih tua 2 tahun dariku, lebih bijak dalam menanggapi sesuatu. Dia juga membimbingku, hingga setahun lalu dia mengutarakan niatnya yang ingin menikahiku. Kak Elang tak langsung melamar, akan tetapi dia bekerja keras mempersiapkan segala sesuatu untuk masa depan yang dia rasa masih ada yang harus dikejar. Meski merupakan anak tunggal, tetap saja lelaki itu pekerja keras.
Lima bulan setelah mengutarakan niatnya ingin menikahiku, Kak Elang pun melamarku secara resmi. Aku merasa jadi perempuan yang sangat bahagia kala itu. Dilamar oleh lelaki yang begitu sayangi, yang akan membawaku keluar dari suramnya kehidupan di dalam keluargaku. Aku yang ternyata bukan merupakan anak kandung, menjalani kehidupan yang tak baik di keluargaku. Aku baru mengetahui hal tersebut saat SMA. Baru tahu kenapa aku diperlakukan tidak adil dibanding adikku, yang tak lain karena bukan merupakan anak kandung mereka. Sempat terpikir ingin pergi, tetapi bagaimana pun mereka telah berjasa membesarkanku dan memberikan pendidikan yang layak. Aku tetap bertahan di rumah itu.
Ketika baru saja mendapatkan pekerjaan begitu lulus kuliah, papa jatuh sakit dan kehilangan jabatannya yang cukup tinggi karena harus bedrest total. Dari sana, keuangan keluarga mulai memburuk karena papa sampai berobat ke luar negeri, hingga pada akhirnya terpaksa rumah besar yang biasa kami tinggali dijual. Kami pindah ke rumah sederhana dan aku juga membantu perekonomian keluarga, yang mana adikku masih sekolah dan mamaku terusan-terusan mengeluh karena terpaksa harus menjual satu-persatu perhiasan yang dimilikinya. Aku yang meski bukan anak kandung, tetap memilih bersama mereka. Balas budi atas jasa mereka kepadaku selama ini. Walau perlakuan mereka tak baik kepadaku, tapi aku dibesarkan dan bisa mendapatkan pendidikan karena mereka.
Aku sebelumnya memendam apa yang aku jalani sendirian, hingga Kak Elang datang dan bisa meyakinkanku untuk bersamanya. Kepada lelaki itu, aku perlahan membuka diri, menjadi terbiasa menceritakan segalanya yang aku alami. Kak Elang yang paling tahu bagaimana kerasnya hari-hariku. Masih tak menyangka, kebersamaan kami selama kurang lebih 5 tahun sejak aku berusia 21 tahun harus terpisah karena kecelakaan maut yang dialami Kak Elang di jalan tol balik dari Bandung untuk urusan pekerjaan. Harusnya kami menikah 2 bulan setelah acara lamaran resmi, tak menyangka takdir berkata lain. Sebulan sebelum acara pernikahan, hatiku patah sepatah-patahnya.
Entah sudah berapa lama berbicara pada nisan di depanku, aku pun beranjak dari sana dengan langkah gontai. Aku akan kembali ke rumah, mau tak mau harus siap menjalani hari-hari berat seperti biasa. Menghadapi orang-orang di rumah yang sampai saat ini tak pernah benar-benar bersikap baik kepadaku, meski beberapa tahun ini aku telah membantu perekonomian keluarga. Hal itu tak lantas cukup untuk membuat mereka bersikap baik kepadaku.
Aku melangkah menuju mobilku yang terparkir di pinggir TPU. Mobil tersebut adalah pemberian dari orang tuanya Kak Elang. Setelah kecelakaan kala itu dan mobilnya diperbaiki, orang tuanya memberikan kepadaku sebelum mereka pindah ke luar negeri. Mamanya Kak Elang yang memutuskan untuk pindah ke luar negeri, terlalu sedih selalu teringat akan anak semata wayangnya itu. Mungkin beliau lebih-lebih lagi sedihnya dari pada aku. Hanya saja, dia masih bisa tersenyum saat bertemu denganku. Yang aku rasa, beliau tak ingin menunjukkan kesedihannya. Walau pada akhirnya, beliau katanya tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Beliau memintaku untuk menjaga mobil milik Kak Elang, yang mana mobil tersebut juga banyak kenangan antara kami berdua juga. Kak Elang yang baru berganti mobil beberapa tahun lalu saat naik jabatan.
"Ikhlasin Elang ya, Ayu... Kamu harus bangkit, semangat lagi. Elang pasti enggak akan suka ngeliat orang yang dia sayang terus-terusan sedih begini."
Aku hanya mengangguk tanpa suara, dengan air mata yang tak mampu aku tahan.
"Suatu saat, Mama yakin jika kamu akan mendapatkan seseorang yang seperti Elang baiknya." Mamanya Kak Elang maunya dipanggil mama olehku.
Di dalam mobil, aku menyeka air mataku. Teringat akan kata-kata yang keluar dari mulut mamanya Kak Elang. Dia selalu memberikan kata-kata semangat padaku sebelum pindah ke luar negeri. Dia juga sangat-sangat baik, sama seperti Kak Elang. Mereka merupakan keluarga cemara yang mau menerima aku yang merupakan anak angkat, tak tahu siapa orang tua kandungku sebenarnya. Kak Elang dan keluarganya tak pernah mempermasalahkan. Status sosial pun tak juga menjadi penghalang hubungan kami. Tak ada masalah yang serius yang berarti di antara kami.
Aku mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang di tengah gerimis yang tak kunjung reda. Di tengah jalan, ponselku berdering. Aku berusaha mengambil benda pipih tersebut di dalam tas, karena kalau itu panggilan telepon dari mama, dia akan marah-marah apabila tak kunjung di angkat. Aku tadi tak bilang jika pulang agak telat. Aku izin pulang kerja lebih awal, berkata bohong jika sedang tak enak badan. Padahal aku hanya ingin ke makam, berlama-lama di sana.
Saat aku meraih ponselku dengan mata yang tak ada sekejap menoleh ke arah tas, aku mendapati sebuah motor menyalip dari arah berlawan dengan tiba-tiba tanpa sempat aku hindari. Aku menginjak rem mendadak tetapi tetap menabrak motor tersebut dan kepalaku terbentur. Perlahan... mulai menggelap.
***
Saat membuka mata, aku telah berada di sebuah ruangan serba putih yang tak lain adalah sebuah rumah sakit. Aku terbaring di sebuah brankar.
"Udah bangun kamu?" Suara mama terdengar ketus. Beliau baru saja memasuki ruangan. "Kamu niat menyusul calon suami kamu ke alam sana? Sengaja nabrak?"
Aku menggeleng lemah. Meski sempat terpikir untuk menyusul Kak Elang, tetapi aku masih berusaha untuk tetap hidup. Aku terus meyakinkan diri untuk tetap bertahan hidup mengingat kata-kata Kak Elang dulu, juga kata-kata dari mamanya.
"Enggak ada begitu, Ma. Aku beneran enggak sengaja."
"Halah!!"
Aku memegang kepalaku yang diperban saat ini. Kepalaku terasa agak nyeri. "Terserah kalau mama enggak percaya," ucapku lelah.
"Kalau mau mati, kenapa nggak loncat aja ke jurang? Kenapa dramatis banget pengen nyusulin mantan calon suami kamu itu dengan hal yang sama? Kamu pikir, akan langsung ketemu dia di surga karena sama-sama meninggal akibat kecelakaan mobil?"
Aku diam saja. Mama memang tak akan percaya apa pun yang aku katakan. Apa pun yang aku lakukan, tak akan pernah beliau pedulikan. Kecuali jika berhubungan dengan uang. Salah satu alasannya merestui hubunganku dengan Kak Elang, karena Kak Elang berasal dari keluarga yang cukup berada.
"Kita itu hidupnya susah, kenapa kamu malah bikin masalah? Yang kamu tabrak itu yatim piatu katanya, sampai sekarang belum ada pihak yang menuntut. Tapi, gimana kalau tiba-tiba ada saudaranya yang datang dan... " Ucapan mama terhenti karena seorang lelaki baru saja memasuki ruangan.
Aku tak mengenal sosok lelaki tersebut. Apa mungkin dia adalah perwakilan dari keluarga yang aku tabrak?
"Bisa keluar sebentar?" Lelaki itu berbicara kepada mama dengan nada dingin. "Saya mau berbicara dengan orang yang sedang berbaring di sana."
"Kamu siapa?" tanya mama, tak langsung menuruti ucapan lelaki itu.
"Saya dari pihak korban yang dia tabrak." Lelaki itu menjawab pertanyaan mama, akan tetapi pandangannya tertuju ke arahku. Dia menatapku dengan sorot mata tajam.
Mama langsung terdiam. Mama pun keluar, setelah sebelumnya memberikan tatapan tajam padaku juga. Tampak raut wajah mama yang kesal sekali padaku.
Aku menarik napas perlahan, harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Mungkin ini sudah menjadi takdirku. Meski motor itu tiba-tiba saja datang menyelip dari sisi berlawanan, tetap saja mobil yang salah. Aku juga mungkin salah, sekejap menoleh ke arah tas.
Lelaki itu pun melangkah mendekat ke arah brankar.
"Saya nggak akan memperpanjang masalah ini—nggak akan menuntut kamu, tapi bukan berarti melepaskan begitu saja seseorang yang telah menewaskan calon istri saya."
Mataku membola seketika.
A-apa? Aku telah menyebabkan seseorang meninggal dunia?
***