Lima

865 Kata
Nial meneliti berkas-berkas pekerjaan yang baru saja diberikan oleh Key sekretaris nya. Nial memijit pelipis nya, kepala nya terasa sangat pusing. Nial menghentikan pekerjaan nya dan memilih untuk istirahat barang sejenak saja. Pagi nya Ema bangun dengan mata panda nya karena memikirkan Nial, sungguh Ema tidak mengira ia akan bermimpi tentang Nial. Didalam mimpi nya ia dan Nial menikah, sungguh mimpi yang sangat mengerikan bagi Ema. Bisa-bisa nya ia bermimpi seperti itu, andai saja mimpi bisa diubah maka sekarang ini tidak ada lingkaran hitam disekitar mata nya. Ema menyiapkan jus jeruk dan sarapan pagi nya, Ema memasak nasi goreng dengan telur setengah matang diatas nya. Ema sangat mahir dalam memasak, bagi nya setiap wanita yang akan menikah suatu saat nanti harus lah paham memasak agar suami kelak betah tinggal dirumah. Setelah sarapan Ema langsung ke kantor dan menanyakan jadwal nya pada Sari. “jadwal ku hari ini apa, Sar?” “Dari jam 9 sampai jam 11 pagi Nona ada pemotretan dengan aden di Marshwan hotel” “setelah itu?” “tidak ada” “baiklah, ayo kita siap-siap sekarang” “iya” __ “bagus sayang, angkat dagu mu lebih tinggi lagi, oke perpect” Ema melepaskan paksa rangkulan mesra Aden, Ema merasa tidak nyaman. Aden Wijaya tipe pria idaman yang banyak digemari wanita bahkan gadis yang baru beranjak dewasa, tapi tetap saja Ema hanya menganggap Aden sebagai rekan kerja tidak lebih maupun tidak kurang. Banyak dari penggemar yang mengharapkan mereka untuk menjalin kasih tapi Ema sama sekali tidak berminat dan mengatakan ‘kami teman dan rekan kerja’. Ema menghampiri Sari yang sedang memeriksa hasil foto lalu berbisik. “aku pulang duluan, kau bawa saja mobil. Aku naik taksi. Ah, pinjam ponselmu” Ema lupa meletakan ponselnya, mungkin ada didalam tasnya, tapi tetap saja Ema malas untuk mengeceknya. "ada nomor Nial kan?" "Ada Nona" Setelah mengatakan itu Ema langsung keluar dan mencari taksi. Tujuan nya adalah kantor Nial, ia sungguh ingin melihat ekspresi kesal Key. Sampai didepan kantor Nial, Ema menelpon pria itu. Ema sangat malas berhadapan dengan Key jika tidak ada Nial. Sudah deringan ketiga namun Nial belum juga mengankat telpon nya membuat Ema kesal sendiri. “baik lah, jika sekali lagi kau tidak mengangkat telpon ku maka aku tidak akan menghubungi lagi!” Ema mencoba menelpon Nial tapi tetap saja tidak ada jawaban dari Nial. Mata Ema melihat dua pegawai Nial baru saja keluar dari gedung. “permisi.” Ujar Ema tersenyum “Ema Setyoningrum Utomo? Model sexy itu?” ujar salah satu pegawai itu tidak percaya membuat Ema tersenyum canggung. “iya benar” jawab nya. “ada yang bisa kami bantu? Katakan saja kami pasti akan membantu” “em, apakah Ni..ah maksud ku pak Danial ada dikantor?” “pak Danial tidak masuk kerja hari ini, ada yang mengatakan pak Danial sedang sakit” “terima kasih info nya” ujar Ema cepat lalu menaiki taksi yang ia tumpangi tadi. Setelah Ema pergi, dua pegawai itu baru menyadari jika Ema sudah hilang dari pandangan mereka. “bidadari cantik sekali..” “aku sampai tidak bernafas karna mencium bau parfum nya” “sangat menggoda” __ Ema memasukan sandi apertemen Nial, 300493 hari ulang tahun dirinya, sandi yang baru beberapa minggu ini diubah oleh Nial. Ema meletakan asal tas nya dan langsung masuk kedalam kamar Nial. Nial terbaring lemah ditempat tidur dengan keringat membanjiri pelipis nya. Ema mengurus Nial dengan kasih, hingga ia tertidur dengan posisi duduk disamping Nial sambil memegang kompres dikening Nial agar tidak jatuh. Nial yang sadar ada sesuatu dikepala nya dengan perlahan membuka mata nya, hal pertama yang ia lihat adalah Ema yang sedang tidur pulas dengan posisi yang tidak nyaman. Dengan kepala yang masih pusing Nial membaringkan Ema disebelah nya lalu memeluk Ema erat, hangat. Ema mencari letak kenyamanan nya didada bidang Nial, membuat nial jadi gelisah. ‘jangan bergerak lebih jauh’ Ema memeluk leher Nial, udara panas yang dihasilkan karena nafas teratur milik Ema membuat Nial merinding. Dengan perlahan Nial menempatkan kepala Ema diatas d**a nya, ‘seperti ini lebih aman’ batin Nial lalu mulai tidur dengan nyenyak. Pukul 5 sore Ema membuka mata nya dan ia baru sadar jika ia sudah tidur terlalu lama seperti ia lah yang sedang tidak sehat. Ema langsung turun dari tempat tidur ketika menyadari ia tidur dengan memeluk Nial erat. Ema berjalan kedapur lalu membuatkan Nial bubur dan menyiapkan obat untuk Nial. “Nial..bangun, aku telah menyiapkan bubur. Bangun lalu minum obat” ujar Ema membangunkan Nial dengan lembut, tapi tidak ditanggapi oleh Nial. Jika saja sekarang Nial sedang sehat maka habis sudah riwayat Nial, berhubung Nial sedang dalam kondisi yang tidak sehat Ema jadi sabar mengahadapi Nial. “makan bubur, minum obat mu lalu kau bisa tidur lagi, ayo lah nial bangun dulu” Nial membuka mata nya. “buka mulut mu” ujar Ema menyuapi Nial, Nial menggelengkan kepala nya. “sedikit saja, say aaa” Nial mengangguk lalu menerima suapan dari Ema, “sekali lagi lalu minum obat” Nial mengelengkan kepala nya saat Ema memberikan nya obat. “aku tidak suka, pahit” “mau sembuh tidak, lagian mana ada obat yang manis selain obat untuk anak-anak” Nial tetap menggelengkan kepala nya. “pahit” Ema jadi jengah sendiri lalu berjalan kearah tas nya dan mengambil permen dari sana. “cepat minum setelah itu makan permen” “tidak mau” “LALU KAU MAU NYA APA? SAKIT TERUS BEGINI!” “aku sedang sakit, jangan berteriak” “kau membuat kesal, cepat minum obat mu” “baiklah, tapi aku tidak mau permen nya” “dasar labil, katanya tidak suka pahit dikasih permen malah ditolak” ujar Ema memberikan air minum dan pil pada Nial, setelah itu Ema memakan permen. Dari pada mubazir sudah dibuka juga. Melihat Ema sudah memasukan permen Ke dalam mulut nya dengan cepat Nial menelan pil nya lalu mencium bibir tipis milik Ema. Nial mengambil alih permen dari dalam mulut Ema. “kalau ini aku suka” “sinting” Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN