Ema membangunkan Nial ketika masakan nya sudah masak.
“nial.. hei... bangun..”
“em...”
“bangun, makan!” ujar Ema membuat Nial bangun dari tidur nya.
“kau cuci muka lalu keruang makan” Nial tidak menjawab ia langsung kekamar mandi membasuh wajah nya.
Nial menatap makanan yang disajikan dimeja makan, sedetik kemudian kening nya berkerut.
“kau memasak? Atau...”
“aku yang masak, cobalah” potong Ema membuat Nial mengangguka-anggukkan kepalanya. Dengan ragu Nial mulai memakan masakan Ema, sekali suapan lalu sesuap lagi dan begitu seterusnya hingga nasi dipiring Nial habis dan ingin makan lagi. Masakan Ema sangat enak, pas dilidah.
“lagi?” tanya Ema meminta kepastian dari Nial, pasalnya ini sudah piring ketiga.
Nial menganggukan kepalanya, Ema geleng-geleng kepala dan menuangkan nasi beserta lauk kepiring Nial.
“kau sungguh memasak semua ini?” tanya Nial disela makan nya.
“iya”
“sejak kapan kau bisa masak?”
“em, kapan ya...waktu umurku sepuluh tahun kalau tidak salah” jawab Ema setengah yakin
“pantas saja masakan mu sangat enak” puji Nial
“memang seharusnya wanita pandai memasak””
“Aletha tidak” ujar Nial membuat gerakan Ema yang akan menuangkan minum terhenti.
“kalau itu pengecualian, Letha beruntung karena mempunyai suami yang pandai memasak”
“kau suka pria yang pandai memasak?” tanya Nial penuh selidik
“tentu saja, kami akan menjadi pasangan yang serasi. Memasak bersama, sungguh menyenangkan” jawab Ema sambil menerawang masa depan nya. Jawaban Ema membuat mood Nial tiba-tiba jatuh begitu saja.
“aku lupa, aku ada meeting. Aku pergi dulu”
“hm. Hati-hati”
Ema membiarkan saja Nial pergi dan memilih masuk kekamar dimana Bara sedang tidur sekarang.
Sedang Nial sampai dikantor langsung masuk kedalam ruangan nya, sebenarnya ia tidak ada jadwal meeting sekarang hanya saja jawaban Ema tadi membuat pikiran nya terganggu. Nial keluar mencari keberadaan Key karena setelah dihubungi Key sama sekali tidak mengangkat panggilannya.
Kursi Key kosong, pantas saja tidak ada sahutan. Nial masuk lagi kedalam ruangannya lalu memutar-mutar kusri nya seperti seorang pemikir sejati.
Sedangkan tangan nya sibuk mengotak-atik ponsel membuka aplikasi youtube tentang memasak. Dari hasil pengamatan nya, Nial dapat menyimpulkan bahwa memasak sangat lah ribet. Lalu bagaimana Leo bisa sampai pandai memasak.
“bapak memanggil saya?” ujar Key masuk membuat Nial terkejut.
“carikan aku guru memasak yang bisa membuat pandai memasak dalam sebulan” ujar Nial membuat Key mengerutkan kening nya, namun kemudian nya dia mengangguk kan kepalanya.
“baik pak”
Setelah Key keluar dari ruangannya, nial kembali membuka vidio tentang memasak.
Drt...drt...
Seulas senyum terbit diwajah nial ketika melihat siapa yang menghubungi nya.
“ada apa?”
“ah tidak, aku hanya memberi tahu mu Aletha dan Leo sudah pulang, jadi kau tidak perlu datang. Aku pun akan pulang sekarang”
“baiklah”
“hm. Aku tutup”
Setelah panggilan usai Key masuk kedalam ruangan Nial.
“sudah dapat?” tanya Nial langsung membuat Key menganggukan kepala nya.
“ini yang bapak butuhkan” ujar Key memberikan tab nya pada nial
“terima kasih”
“sama-sama pak”
Nial mengamati foto chef yang baru saja diberikan oleh Key, tampak familiar tapi ia lupa siapa. Nial meletakan tab diatas meja nya lalu mulai mengecek pekerjaan nya. Selagi bekerja Nial juga mengingat-ingat siapa chef wanita dalam foto itu.
'who you?'
ditempat duduk nya, Key mencoba mencari tau apa yang sedang dilakukan oleh boss nya. apakah ini berhubungan dengan Ema? jika iya maka Key tidak akan terima, ia akan mencari tau apa yang dipikirkan oleh Nial baru nanti ia merencanakan langkah selanjutnya .