Hari berlalu begitu cepat, Danial sudah pulang dari amsterdam dan semua masalah nya sudah teratasi. Sekarang Danial berada dirumah Leo, pagi-pagi sekali ibu nya meminta nya datang. Awal nya Nial enggan tapi jika ia datang banyak yang beranggapan diri nya belum move on dari Aletha.
“bang, titip Bara. Aku dan Leo akan mencari keperluan untuk acara Bara lusa” ujar Aletha santai sambil memberikan Bara pada nya.
“kan ada ibu Leth”
“abang tau lah, ibu sangat sibuk belum lagi nanti nya ibu, mami, dan mama yang akan menyusun semua nya”
“aku juga sibuk”
“Letha tau. Dan Letha yakin abang bisa menyampingkan semua itu untuk menjaga Bara. Letha percayakan pada abang. Ah ya aku juga sudah memberitahu kak Ema. Kami berangkat bang”
Nial tidak bisa berkata-kata ia hanya menatap kosong kearah leo dan aletha yang sedang keluar rumah. Pandangan Nial lalu jatuh pada Bara yang siap menangis dan tak lama kemudian Bara mengeluarkan tangis kencang nya.
Nial tidak bisa berbuat apa-apa memanggil ibu nya pun percuma. Ibu nya sudah pulang tidak ada orang dirumah Leo kecuali diri nya dan Bara.
Nial menghubungi Ema sambil mengayun-ayun kan Bara agar tangis nya reda. Sudah berapa kali Nial menghubungi Ema namun yang dihubungi tidak juga kunjung mengangkat panggilan dari nial. Nial menghubungi Sari, dan syukur nya diangkat.
“ha..”
“DIMANA EMA?!”
Teriakan Nial berhasil membuat tangis bara bertambah kencang.
“tidak..tidak.. cup..cup...uncle tidak berteriak pada mu...diam ya” ujar nial panik sendiri.
“kau! Katakan pada Ema suruh dia datang kerumah Leo sekarang! Ini perintah!”
Nial memutuskan panggilan sepihak dan mencoba membuat Bara agar tangis nya diam.
Sedangkan dilokasi pemotretan Sari langsung berbisik pada Ema yang sedang menjalan kan sesi potret.
“Danial baru saja menelpon, kata nya dia mau kau kesana sekarang”
“aku sibuk Sar, kau tau sendiri” jawab Ema membenarkan rambut nya.
“dari nada suara nya tadi Danial nampak marah belum lagi aku mendengar suara tangis bayi”
“tangis bayi?”
“aku rasa itu suara Bara, soal nya Danial menyuruh ku memberitahu mu datang kerumah Leo”
Jawaban dari Sari membuat Ema teringat, bahwa Aletha telah meminta nya untuk menjaga Bara.
“Sar, tolong urus disini. Aku akan kerumah Leo”
“baik”
Ema melajukan mobil nya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia khawatir Nial tidak bisa meredakan tangis Bara.
Benar saja saat Ema sampai dikediaman Leo, Bara menangis sangat kencang. Ema tidak tahan melihat nya lalu mengambil alih Bara.
“sayang nya aunty kenapa? Tidak suka pada uncle ya? Ah, bagaimana jika kita keluar mencari udara segar tapi sebelum itu kita buat s**u untuk mu dulu ya”
Nial menatap Ema tidak percaya hanya dengan kata-kata seperti itu Bara berhenti menangis belum lagi Bara tertawa. Nial mengikuti Ema menuju dapur.
“tolong seterilkan botol dot nya” ujar Ema memberikan Nial botl dot lalu memanaskan air hangat. Nial memberikan dot yang sudah ia seterilkan.
“aku rasa kau memang tidak cocok menjadi ayah” sindir Ema sambil memasukan s**u bubuk kedalam dot.
“kata siapa? Aku sangat cocok jadi ayah” jawab Nial dengan percaya diri
“percaya diri sekali? Mengurus Bara saja kau tidak bisa bagaimana mengurus anak mu”
“aku percaya anak ku nanti nya”
“terserah-terserah”
Setelah s**u Bara habis Ema membawa Bara masuk kedalam rumah, Ema mendapatkan Nial yang tertidur diatas sofa. Ema memberikan bantal diatas kepala Nial. Ia tahu sebelum dia datang kerumah Leo, Nial sudah berusaha keras untuk membuat Bara tidak menangis.
“kau sudah berusaha keras” ujar Ema sambil mengelus sayang pelipis Nial.
Setelah mengatakan itu, Ema masuk ke kamar Bara. Menidurkan Bara, karena memang sudah waktu nya Bara tidur.
Hanya perlu beberapa menit saja Bara sudah terlelap tidur, Ema keluar dari kamar lalu berjalan kedapur dan memasak untuk Nial berhubung Leo dan Aletha kemungkinan akan pulang malam belum lagi Ema tau jika Nial belum makan.
Tbc