PEREMPUAN DI APARTEMEN

3916 Kata
Bu Rahmi dan Sekar menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa, menuju ruang rawat inap kelas satu, di mana Raden Suryo dirawat. Suasana sangat hening ketika mereka tiba di Ruang Anggrek dengan nomor kamar 25. Keduanya berhenti sejenak dan saling pandang di depan pintu ruangan itu. Jantung Bu Rahmi berdetak melebihi kadar normal hingga membuat telapak tangannya penuh keringat. Sekar mengangguk sambil memegang lengan atas Bu Rahmi. Dan dengan hati yang berdebar—menahan rasa yang selama ini selalu dihindarinya—Bu Rahmi mengikuti Sekar yang lebih dulu membuka pintu dan masuk ke dalam. Bude Suryo yang sedang duduk di salah satu sofa di ujung ruangan, menoleh ketika mendengar ada yang membuka pintu. Perempuan ayu berwajah aristokrat itu kemudian bangkit begitu mendapati Sekar dan Bu Rahmi di depan pintu. Bude Suryo tak bisa menahan rasa sedihnya ketika mendapati kedua orang itu datang. “Syukurlah kalian berdua segera kemari…. Aku tak kuat jika harus menanggung kesedihan ini sendirian, Dik Rahmi,” Bude Suryo berkata lirih, kemudian memeluk Bu Rahmi dengan tangis sesenggukan yang tak bisa dibendung lagi. Sekar hanya menunduk dengan kesedihan yang sama, melihat apa yang menimpa Pak Puhnya. Perlahan gadis itu mendekati ranjang dan memegang lengan Pak Puh Suryo yang penuh dengan selang dan jarum infus. “Apa yang terjadi, Bude?” Sekar bertanya lirih. Bude Suryo dan Bu Rahmi sudah mengurai pelukannya. Bu Rahmi mengusap air mata yang mengalir di pipi. Hatinya sungguh nyeri ketika beliau berjalan mendekati ranjang Pak Puh Suryo. Sekar beranjak menjauh, membiarkan ibunya meratapi rasa sakit saat melihat Pak Puh Suryo. Sekar duduk di sofa, bersama Bude Suryo. “Bude ada di dapur, sewaktu mendengar debum di kamar mandi, Sekar. Saat Bude lihat, ternyata Pak Puhmu sudah terjatuh di kamar mandi,” Ratri, yang selalu dipanggil bude oleh Sekar, bertutur dengan tangis lirih yang tak bisa dibendung. “Apa sebelumnya sakit Pak Puh kambuh, Bude?” Sementara Sekar masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada budenya, Bu Rahmi hanya mengamati Pak Suryo dengan mulut terkatup rapat, tak ingin jika ia bertanya sepeti Sekar, tangisnya akan pecah di ruangan ini. “Iya, Nak Sekar,” jawab Bu Dhe Suryo. “Akhir-akhir ini Pak Puhmu memang sering mengeluh sakit kepala. Rencananya tadi juga mau berobat ke dokter.” “Yang sabar, Bude.” Sekar menepuk pelan punggung tangan budenya yang tampak bergetar. “Insyaallah dokter pasti akan berusaha berbuat yang terbaik untuk Pak Puh.” Bude Suryo hanya bisa mengangguk, sementara tangannya langsung menggenggam tangan Sekar. Diam-diam matanya mengamati Bu Rahmi yang masih berdiri di sisi ranjang. Hatinya mendadak nyeri, seolah tahu apa yang dirasakan Bu Rahmi. “Bude takut terjadi sesuatu pada Pak Puhmu, Sekar....” “Bude tak baik bicara seperti itu! Kita percayakan semua pada Tuhan dan dokter, ya? Sekar yakin, tim medis akan memberikan yang terbaik untuk Pak Puh.” Sekar memegang bahu Bude Suryo yang mulai terguncang oleh tangisan. “Bude harus kuat.” “Keinginan beliau yang akhir-akhir ini sering terucap adalah melihat pernikahan Faisal sama kamu. Apa tidak sebaiknya kita segera mengabulkan keinginan beliau, Sekar?” tanya Bude Suryo lirih. Sekar tercenung dan menatap Bude Suryo dengan wajah berkerut. “Apa tidak terlalu aneh, kalau dibicarakan sekarang, Bude? Pak Puh sedang tidak sehat.” Meskipun menganggap topik ini agak kurang pas diangkat ke permukaan, tetapi Sekar tak dapat menyembunyikan rona kemerahan pada pipinya saat memikirkan Faisal. “Tidak ada yang aneh untuk mewujudkan keinginan terakhir beliau, Sekar.” Bude Suryo bicara dengan nada bergetar dan mata yang berkaca-kaca hendak menangis. “Faisal harus segera dihubungi.” Sementara Bu Rahmi masih saja tak bergeming dari posisinya semula, memperhatikan Raden Suryo yang masih memejamkan mata. Melihat hal itu, Bude Suryo semakin merasa bersalah. Melihat bagaimana terpukulnya Rahmi dengan kondisi Raden Suryo saat ini. Tidak ada pilihan lain. Bude Suryo mengambil telepon genggam miliknya yang berada di dalam saku. “Bude ma-mau menghubungi siapa?” Sekar bertanya gugup. Firasatnya sudah menebak siapa yang akan dihubungi budenya. Bu Suryo menatap Sekar dan mengembuskan napasnya yang terasa sesak. “Kita tidak punya banyak waktu, Nduk. Kita harus memberitahu Faisal soal kondisi bapaknya yang kritis.” Seketika Bu Rahmi menoleh demi mendengar kata ‘kritis’ yang tadi terlontar. “Apa maksud Mbakyu?” Bu Rahmi bertanya dengan nada tajam. Bude Suryo sedikit gelagapan. Perempuan itu berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Bu Rahmi yang telah duduk di sisi ranjang Raden Suryo. “Maaf, Rahmi. Ini memang bukan lagi kondisi biasa. Mas Suryo terjatuh di kamar mandi karena darah tinggi beliau kambuh.” Jawaban Bude Suryo membuat Sekar dan juga Bu Rahmi terpekur beberapa saat. d**a Bu Rahmi terasa nyeri bagai terhantam ribuan paku yang menusuk tajam ke arah jantungnya. “Menurut diagnosa dokter, pembuluh darah menuju otak milik Mas Suryo sudah pecah.” Bude Suryo kembali terisak, membuat ruangan itu dipenuhi getir dan hujan air mata. Bu Rahmi lemas. Keringat dingin yang mengguyur seluruh tubuhnya seolah menyempurnakan kegundahan dan rasa takut kehilangan yang bertahun-tahun ini diidapnya. Kehilangan yang sebenarnya sudah dia rasakan sejak berpuluh tahun lalu, ketika Raden Suryo dengan tegas memutuskan untuk menikahi Ratri. Kehilangan yang dialami Bu Rahmi saat itu memang menyakitkan. Akan tetapi, setidaknya, ia masih bisa melihat Raden Suryo—meski hal itu semakin menyakitinya karena Ratri terlihat begitu bahagia dan terhormat berada di sisi Raden Suryo. Namun, kini... dia akan merasakan yang lebih sakit lagi. Raden Suryo, lelaki yang diam-diam masih dicintainya itu, kini meregang nyawa. Lelaki itu terdiam dalam komanya. Bu Rahmi terpuruk. Kakinya seolah tak bisa lagi menopang tubuhnya, hingga membuat perempuan itu terduduk lemas di sisi ranjang, membiarkan tangisnya luruh untuk mengimbangi hatinya yang remuk tanpa bentuk.   * * * Jakarta, di sebuah apartemen. Faisal baru saja merebahkan tubuhnya yang penat. Pekerjaan kantor demikian menyita waktu dan pikirannya. Dering telepon genggam yang diletakkannya di atas nakas kamarnya dibiarkan begitu saja. Faisal memejamkan mata, mencoba mengabaikan dering dan getar yang tak juga berhenti setelah beberapa saat diabaikannya. Laki-laki itu menduga dengan pasti bahwa si penelepon pastilah Dita, karena sejak siang tadi perempuan itu terus-menerus menghubunginya. Tak juga berhenti berdering, akhirnya Faisal memutuskan untuk mengangkat telepon itu dan berniat untuk meminta Dita berhenti menghubunginya. Dengan malas, Faisal meraih teleponnya. Dugaannya benar. Nama Dita terpampang di layar telepon pintarnya. “Apa lagi mau kamu, Dita?” Faisal bertanya dengan sangat malas. “Apa yang bikin kamu jadi kayak gini ke aku? Mana Faisal yang dulu? Katamu, kamu mencintaiku dan bakal selalu ada untukku! Mana janji kamu, Sal?” Perkataan Dita menjadi pemantik yang menyulut api pertengkaran di antara mereka. Faisal bangun dari posisi tidurnya, kemudian dengan sigap duduk di atas ranjang. Wajahnya terlihat kesal. Kalimat Dita menyudutkannya, seolah keadaan ini semata-mata karena kesalahannya. “Dengar ya, Dit! Aku bersikap seperti ini karena kamu. Aku memangkas hubungan kita karena ini memang pilihan kamu! Kalau kamu menghargai hubungan kita, kamu tidak akan menolak undangan bapak dan ibuku waktu itu. Jadi pikir kembali, sebelum kamu mengoceh  kalau semua yang terjadi saat ini karena kesalahanku!” hardik Faisal panjang lebar. Wajahnya memerah menahan amarah. Di seberang, Dita tertawa sinis dan mengejek. “Dengar, ya, Sal, kesalahanku sepertinya gak akan sebesar itu, seandainya gak ada perempuan pengganggu itu di antara kita!” “Jangan coba-coba membenarkan diri kamu dengan membawa nama orang lain dalam permasalahan kita, Dit! Ibu dan bapakku gak akan pernah menghadirkan perempuan lain kalau kamu memang berniat baik untuk menjalin hubungan serius denganku. Tapi apa yang kamu lakukan? Kau menyepelekan hubungan kita dengan mengabaikan undangan bapak sama ibuku!” “Udahlah… jangan mencari alasan untuk membenarkan sikapmu yang menjauhi aku demi perempuan itu.” “Aku gak bakal membenarkan sikapku selama kamu gak terus-menerus menyalahkan aku! Dan kuminta, ini telepon terakhirmu yang menggangguku! Selamat malam.” Faisal mematikan sambungan telepon secara sepihak dan melempar dengan kesal benda persegi panjang itu ke kasur. Lalu, saat merasa sangat jengah dan jengkel, ia ikut menghempaskan tubuhnya di kasur. Drrtt…. Drrtt…. Telepon Faisal kembali bergetar. Kesal karena berpikir Dita tak menghiraukan ancamannya, Faisal mengangkat telepon itu, tanpa melihat nama siapa yang terpampang di atas layar. “Harus aku katakan berapa kali lagi, Dita? Jangan sekali pun kamu menghubungi aku lagi! Hubungan kita sudah berakhir!” bentak Faisal kasar. “Sal? Apa-apaan ini?” Suara dari orang yang meneleponnya, spontan membuat Faisal terkejut. Bukan suara melengking Dita, melainkan suara lembut yang sangat dikenalnya. Ini suara ibunya. “I-ibu?” “Iya, Sal. Ini ibu.” Faisal mencoba menajamkan pendengarannya. Suara sang ibu kali ini sedikit terdengar berbeda dari biasanya. “Kok suara ibu kedengarannya lain? Ibu sedang menangis?” Di kepalanya muncul berbagai spekulasi apa yang menyebabkan ibunya bersedih. Lalu, ia merasa seperti ditusuk tongkat di leher, ketika didengarnya ibunya mulai terisak, meskipun isakan itu berusaha ditahan. “Bu? Ada apa? Kenapa ibu menangis?” Faisal panik. Ia jarang mendengar ibunya menangis seperti sekarang. “Bapak, Sal….” Suara Bu Ratri terputus tangis. “Bapak kenapa, Bu?” Tidak ada jawaban dari seberang. Bu Ratri tidak sanggup meneruskan ceritanya kepada Faisal. “Halo? Ibu? Ibu sama bapak kenapa?” Faisal semakin panik ketika tak ada kelanjutan dari telepon ibunya. “Maaf, Mas… ini Sekar.” Tiba-tiba terdengar lirih dan lembut suara perempuan muda yang menggantikan isak ibunya. Diam-diam Faisal lega ketika mendengar suara Sekar. Bukan karena hal lain, tetapi  setidaknya ibunya tidak sendirian. “Sekar, apa yang terjadi sama bapak dan ibu?” “Pak Puh sekarang sedang berada di rumah sakit, Mas.” Faisal terdiam beberapa saat, menyerap informasi tersebut. Laki-laki itu kemudian mengusap wajahnya yang letih. “Astaga… apa yang terjadi, Sekar? Kenapa bapak sampai dibawa ke rumah sakit?” “Kata Bude, Pak Puh jatuh di kamar mandi.” “Lalu? Bagaimana kondisinya?” “Sementara sudah ditangani sama dokter, Mas.” “Syukurlah.” Faisal mengembuskan napas lega. “Bisa aku bicara sama ibu, Sekar?” “Bisa, Mas. Monggo.” Faisal kemudian mendengar percakapan kecil antara Sekar dan ibunya. “Halo, Sal?” Tak lama, terdengar suara serak milik Bu Ratri. “Ya, Bu?” “Bisa pulang sebentar, Nak?” Faisal kebingungan menjawab. Bagaimana mungkin dia akan mengambil cuti lagi, sementara beberapa waktu lalu Faisal sudah mengambil cuti?  “Sal?” Panggilan Ratri membuat Faisal tergagap. “I-iya, Bu. Bisa. Faisal bisa pulang. Besok Faisal akan usahakan mengambil penerbangan paling pagi.” Terlepas apakah diperbolehkan cuti atau tidak, Faisal memutuskan untuk tetap pulang. Bapaknya lebih penting dari apa pun saat ini. Setelah panggilan terputus, Faisal langsung mengambil beberapa kemeja, kaus dan celana yang segera dimasukkannya ke dalam tas. Ia juga menyiapkan satu set pakaian kasual yang akan dipakainya berangkat besok pagi. Setelah itu, dia lantas duduk mencari tiket pada jadwal penerbangan paling pagi yang bisa dia dapatkan untuk pulang besok.   * * *   Langit kota pagi ini mendung. Bu Rahmi, Bu Ratri dan Sekar yang sejak semalam nyaris tak bisa tidur di ruang rawat inap Raden Suryo, terlihat lesu. Ketiga perempuan itu lebih banyak diam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Sementara Raden Suryo masih tetap dalam komanya. Tak ada pergerakan maupun reaksi apa pun sejak semalam. Pandangan mata Bu Rahmi seolah kosong saat menatap Raden Suryo yang terpejam. Sesekali mata Bu Rahmi menatap layar monitor yang menampilkan gerakan jantung Pak Suryo. Terlihat lemah, tetapi grafiknya masih menunjukkan bahwa jantung itu masih berdetak. Sesekali pandangan Bu Ratri beralih, antara wajah Bu Rahmi dan juga wajah suaminya, Raden Suryo. Ada sorot kesedihan yang terpancar di wajah Bu Ratri melihat bagaimana kosongnya mata Bu Rahmi. Bu Ratri tahu apa yang ada di kepala Bu Rahmi. Diam-diam perasaan bersalah menghantuinya kali ini. Dalam hati Bu Ratri berjanji, nanti, jika saatnya tepat, Bu Ratri akan bicara enam mata dengan mereka. Ya, mau tidak mau, Bu Ratri harus membahas semua keganjilan yang selama ini menghantui kehidupan mereka bertiga. Setidaknya Bu Ratri ingin mengurai dan meluruskan kisah rumit yang selama ini ia pendam dalam diam. Dan Bu Ratri bertekad akan membangun kembali keluarganya yang selama ini mungkin benar menurut norma, tetapi penuh kepalsuan di dalamnya. Bu Ratri akan rela membangun kembali kehidupan mereka agar lebih baik. Mungkin tidak lazim. Namun, setidaknya Bu Ratri bisa menebus kesalahan yang selama bertahun-tahun ini digenggamnya. “Coba hubungi mas kamu, Sekar. Apa dia sudah sampai di bandara apa belum.” Suara lirih Bude  Suryo hanya dijawab anggukan oleh Sekar. Lalu, Sekar mengambil telepon genggam milik budenya dan men-dial nomor Faisal. Namun, panggilan itu hanya terjawab dengan suara operator yang menginformasikan nomor Faisal sedang tidak aktif. “Bagaimana, Sekar?” tanya Bu Suryo. Sekar menggeleng. “Belum aktif, Bude.” “Mungkin pesawatnya belum mendarat.” Bu Rahmi yang sejak semalam lebih banyak diam kini angkat bicara. Bude Suryo mengangguk kemudian menatap Bu Rahmi. “Aku ndak tahu apa kita masih punya kesempatan yang lebih baik lagi ke depannya, Rahmi. Tapi kondisi Mas Suryo tak bisa kita prediksi akan menjadi lebih baik.” “Apa maksud Mbakyu?” Bude Suryo terdiam sesaat, sebelum menjawab dengan nada yang ditatanya agar menjadi tenang. “Kita harus menyiapkan diri untuk kemungkinan yang paling buruk sekalipun, Rahmi. Kamu tahu, bagaimanapun, beliau adalah suamiku. Aku menghargai, menghormati dan menyayangi beliau. Tapi kita tak bisa memaksakan takdir jika memang hal yang paling buruk itu terjadi.” Bu Suryo mencoba menegarkan diri, meski hatinya menangis darah ketika menyadari kemungkinan Raden Suryo untuk sembuh semakin tipis. Apalagi seiring keterangan yang diberikan dokter pagi tadi. Dokter Alam, yang menangani Pak Suryo, pagi tadi berkata, “Kita sudah berusaha semampu kita, Bu. Tinggal doa dan keajaiban yang kita butuhkan untuk beliau.” Perkataan tersebut masih terbayang di telinga Bu Rahmi pun Bu Ratri. “Dan kita akan tetap menanti keajaiban seperti yang dikatakan dokter Alam, Mbakyu.” Bu Rahmi tetap menegarkan diri untuk menunggu segala keajaiban yang mungkin datang, meski sebenarnya dia tahu, keajaiban itu sangat kecil kemungkinannya. Namun, bukankah meskipun kecil, harapan itu tetap ada? Rahmi menghibur diri sendiri. Diam. Mereka semua terdiam ketika tiba-tiba pintu kamar rawat inap itu terbuka. Semua mata tertuju pada sosok di balik pintu. Lalu, Bu Ratri berdiri ketika menyadari siapa yang datang. “Faisal…!” Bu Ratri langsung menghambur ke pelukan laki-laki yang baru masuk itu, dan tangisnya kembali pecah. Faisal, laki-laki itu, hanya terdiam menyambut tangisan ibunya. “Apa yang terjadi, Bu?” tanyanya lirih. Bu Ratri mengajak Faisal mendekat ke arah ranjang untuk melihat kondisi Raden Suryo. Sementara Sekar dan Bu Rahmi hanya berdiri di tempat yang sedikit renggang dari anak beranak itu. Dengan singkat, Bu Ratri menceritakan bagaimana kejadian yang menimpa Raden Suryo hingga laki-laki itu kini terbaring dalam koma. “Kemarin ibu lihat bapakmu tiba-tiba murung. Waktu ibu tanya kenapa, bapakmu hanya menggeleng. Lalu ibu menawarkan teh hangat, dan beliau setuju. Begitu ibu ke dapur untuk membuat teh, ibu mendengar suara dentuman keras di kamar mandi. Ibu langsung berlari ke sana, tapi… ternyata bapakmu sudah terjatuh, Sal. Ibu langsung berteriak-teriak memanggil Pak Atmo.” Faisal mengangguk. Tangannya yang kokoh dan halus itu mengusap lembut rambut bapaknya yang mulai memutih. Wajah Faisal tak terbaca. Seberapa pekat mendung yang menggayuti wajahnya, ada perasaan bersalah yang menghantam dadanya ketika ibunya berkata sebelum terjatuh, wajah bapaknya itu terlihat murung. Apa itu karena…. Faisal menggeleng. Menghalau satu pikiran yang terlintas tentang penyebab bapaknya murung. “Saya yakin, bapak akan kuat untuk kita, Bu.” Faisal mengaminkan ucapannya, meskipun sejujurnya ia sedang berusaha meredam keresahannya sendiri. “Ya... ibu juga berharap demikian.” Setelah hening sesaat, Faisal menyadari bahwa ada orang lain di antara ia dan ibunya. Faisal menoleh ke arah Bu Rahmi dan Sekar. “Bulik Rahmi dan Sekar di sini sejak semalam?” tanya Faisal mendekati Bu Rahmi dan menyalami beliau. Kemudian ia menoleh ke arah Sekar dan menyambut uluran tangan gadis itu berikut ciuman takzim di tangan. “Terima kasih karena Bulik dan Sekar sudah menemani ibu di sini,” ucap Faisal lirih. Bu Rahmi mengangguk dengan senyum sendu yang tak lepas dari wajahnya. “Kami tidak mungkin membiarkan ibumu menghadapi semua ini sendiri, Sal.” “Lalu bagaimana keterangan dokter, Bu?” Faisal melanjutkan sesi bertanyanya, tetapi dia langsung merasa bersalah ketika melihat mendung itu kembali menggayuti wajah ibunya. “Kesimpulan dokter, pembuluh darah ke arah otak bapakmu telah pecah.” Bu Ratri terisak lagi. Begitupun dengan Bu Rahmi yang mendengar percakapan itu, tak bisa menyembunyikan air mata yang kembali luruh. “Ibu tenang, ya…. Saya yakin dokter akan melakukan yang terbaik untuk bapak, Bu.” “Ibu takut kita tak seberuntung itu, Sal.” “Apa maksud ibu?” Faisal menatap tajam ibunya. Sambil tersedu, Bu Ratri berkata, “Ibu tidak begitu yakin, apa kita memiliki kesempatan yang baik mengenai kesehatan bapakmu, Sal. Karena akhir-akhir ini memang beliau sering kambuh. Dan ibu takut… tak punya kesempatan untuk menunaikan keinginan terakhir beliau.” “Keinginan? Apa keinginan bapak yang belum terpenuhi, Bu?” Faisal memegang lengan atas ibunya, sementara Ratri menatapnya sendu. “Iya, Nak…. Beliau ingin melihat pernikahanmu segera dilaksanakan.” Deg!! Jantung Faisal seperti terhantam palu karena hal ini pula yang kemarin sore menjadi perbincangan di telepon antara dirinya dengan Raden Suryo, tepat sebelum Raden Suryo kedapatan jatuh di kamar mandi. “Bu? Bukannya suasana sedang tak memungkinkan?” Faisal menyuarakan isi hatinya. “Sal, kita tidak tahu, apa bapak akan membaik atau sebaliknya. Jadi selagi kita masih bisa mewujudkan keinginannya, ibu rasa, lebih cepat lebih baik.” “Tapi, Bu… bapak sedang sakit. Bagaimana caranya kita melaksanakan pernikahan saya?” lirih Faisal. “Ingat ini keinginan terakhir bapakmu, Nak,” jawab Bu Ratri. “Bu, kita akan tetap menyelenggarakan pernikahan saya dengan Sekar seperti keinginan bapak. Tapi kita akan melaksanakannya nanti, setelah bapak sehat.” “Bagaimana kalau kesehatan bapakmu tidak membaik?” Bu Ratri menatap Faisal dengan tatapan keras kepala, tak mau jika perkataannya dibantah lagi. Faisal membuang pandangannya, tak tahan dengan tatapan tajam dan menohok yang dilemparkan oleh ibunya. Laki-laki itu berdiri dan sekali lagi mengusap kepala Raden Suryo dengan tangannya yang kokoh, tetapi penuh kelembutan. Kepala Faisal tertunduk sedikit agar dapat berbisik lirih kepada bapaknya. “Saya akan menunaikan keinginan bapak. Apa pun itu. Asal bapak segera sembuh.” Lalu badannya kembali ditegakkan dan ia menoleh kearah ibunya dan Bu Ratri. “Saya akan menikahi Sekar sekarang juga.” Dan sebuah reaksi luar biasa terjadi. Monitor yang menampilkan detak jantung Raden Suryo menunjukkan pergerakkan signifikan. Rahmi dan Sekar yang melihat hal tersebut bergegas mendekati ranjang. “Lihat reaksi Mas Suryo, Mbakyu. Mungkin beliau mendengar apa yang dikatakan Faisal,” Bu Rahmi berkata lirih. Bu Ratri mengangguk kecil. Ada senyum yang tersungging halus penuh kelegaan di wajah aristokratnya. “Mas, bisa kita bicara sebentar?” Tiba-tiba Sekar menyela sambil menatap Faisal. Faisal mengamati Sekar sebentar, sebelum mengangguk. Sekar kemudian pamit pada ibu dan budenya, diikuti Faisal. Mereka berjalan ke luar ruangan, menyusuri lorong rumah sakit. Lalu, berhenti di balkon yang menyediakan meja dengan dua buah kursi. “Monggo, Mas,” kata Sekar, mempersilakan Faisal untuk duduk terlebih dahulu kemudian ia ikut duduk di kursi yang lain dengan santun. “Maaf kalau lancang, Mas. Mengenai rencana bude dan keinginan Pak Puh, njenengan boleh mengabaikannya jika memang njenengan tidak berkenan.” Sekar mengawali percakapan dengan menunduk, tak berani menatap Faisal yang pasti menatapnya dengan jengkel. Faisal mendengus, mengembuskan napasnya kuat-kuat. “Kalau boleh jujur, Sekar, benar aku tidak setuju dengan cara kolot dan kuno yang diterapkan bapak sama ibu. Tapi ini adalah perintah dan amanah orang tuaku, yang meskipun pahit, tetap tak bisa aku abaikan. Jadi, Sekar, terlepas apa kamu setuju atau tidak, aku suka atau tidak, nyatanya kita terlanjur menyanggupi  semua ini di depan bapak, ketika kami datang melamarmu.” Sekar mendongak. “Tapi, Mas….” Faisal menggeleng. “Gak, Sekar. Kita telanjur memulai semua. Kita udah gak bisa mundur lagi.” Faisal terdiam beberapa saat, kemudian berkata pelan,” Sebaiknya kamu berkemas. Aku akan meminta Bulik Rahmi memanggil suami Bulik Aning. Beliau wali yang sah untukmu.” Faisal berdiri dan berjalan meninggalkan Sekar yang masih mendongak dan terpaku, tak bisa mengatakan apa pun untuk menyanggah perkataan laki-laki itu.   * * *   Suasana rumah keluarga Raden Suryo kini lenggang kembali. Sanak-saudara yang kemarin memenuhi rumah untuk ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Raden Suryo, satu per satu kembali pulang ke rumah masing-masing. Sepi kembali merambahi rumah ini. Hanya Pak Atmo dan Mbok Pariyem yang sesekali terlihat berlalu lalang. Ya… setelah semua sepakat untuk melaksanakan pernikahan antara Faisal dan Sekar seperti yang diwasiatkan Raden Suryo, kesehatan Raden Suryo yang semula menunjukkan grafik meningkat lebih baik, tiba-tiba menurun. Suasana sendu pernikahan yang dilaksanakan di kamar rawat inap Raden Suryo, secara mendadak berubah semakin mendung saat grafik di layar monitor menunjukkan garis lurus. Tangis yang terdengar, menjadi hiasan kelabu pernikahan Faisal dan Sekar. Itu beberapa hari yang lalu. Namun, kini di ruang tengah rumah besar itu, Bu Ratri duduk termenung dengan wajah kusut masai. Kesedihan akan kepergian suami yang sangat dihormatinya itu sangat memukul hatinya. Bu Ratri merasa masih banyak yang belum dia lakukan untuk membahagiakan Raden Suryo. Ada banyak rencana yang bahkan belum sempat terucapkan. “Bu….” Faisal datang dan duduk di sebelah ibunya. Dia menggenggam tangan perempuan setengah baya itu. Bu Ratri hanya diam. Enggan merespon panggilan Faisal untuknya. “Ibu harus mengikhlaskan kepergian bapak. Ini semua sudah menjadi ketentuan yang Maha Kuasa,” kata Faisal lirih. “Semua ini terlalu cepat, Sal.” Bu Ratri kembali meneteskan air matanya. “Ini bukan masalah cepat atau lambat, Bu. Tapi ini memang sudah kehendak-Nya yang tak bisa kita lawan.” “Sekar adalah amanah bapakmu satu-satunya, Faisal. Ibu tak mau melihatmu teledor dengan amanah ini.” Bu Ratri mencoba mengalihkan kesedihannya dengan mengingat Sekar. Faisal mengangguk. “Iya, Bu. Saya akan mencoba memenuhi amanah bapak dan ibu. Tapi kalau ibu kesepian di sini, saya bisa meninggalkan Sekar di sini untuk menemani ibu.” Bu Ratri menggeleng. “Tidak usah, Nak. Bawalah Sekar. Dia sudah menjadi tanggung jawabmu.” “Tapi ibu akan sendirian….” “Ada Mbok Pariyem dan Pak Atmo yang bakal menemani ibu di sini. Kamu tak perlu khawatir.” Faisal mengangguk sambil mengelus penuh sayang tangan ibunya yang ia genggam. “Kapan kamu kembali ke Jakarta?” “Saya bakal balik ke sana, kalau ibu sudah lebih baik.” “Ibu akan baik-baik saja, meski semua ini demikian menyedihkan, Nak. Mungkin nanti ibu akan ajak Bulik Rahmi untuk tinggal di sini.” Faisal tersenyum. “Ibu benar. Mungkin kalau ada Bulik Rahmi di sini, ibu akan sedikit terhibur.” Bu Ratri membalas dengan senyum sendu. “Sana… kamu siap-siap kembali ke Jakarta. Pekerjaanmu di sana juga penting, Sal. Untuk kepindahan kuliah Sekar, mungkin kita bisa minta tolong sama Paklik Aryo untuk mengurus segala sesuatunya.” Faisal mengangguk. Dia tak tahu harus merasa senang ataukah sedih ketika kenyataannya kini dia sudah menjadi suami orang. Suami dari seorang perempuan yang sebelumnya tak pernah terpikir olehnya sama sekali. Perempuan yang menjadi istrinya hanya karena amanah dari kakek terdahulunya. Sungguh, ini beban paling berat yang pernah Faisal terima.   * * *   Keluar dari lift apartemen, Sekar terlihat menenteng tas, sementara Faisal membawa kopor. Mereka berjalan menyusuri lorong apartemen dalam diam. Sekar hanya mengikuti langkah lebar Faisal. Sesuai anjuran Bu Ratri, Faisal akhirnya membawa Sekar, yang kini sudah menjadi istrinya, ke Jakarta. Segala kepindahan kuliah Sekar, diserahkan semua pada Paklik Aryo, yang merupakan adik kandung dari bapaknya Sekar. Beliau jugalah yang kemarin menjadi wali nikah Sekar. Di depan hunian modern dengan nomor 215, Faisal berhenti dan membuka pintunya. Akan tetapi, baik Sekar maupun Faisal sama-sama terkejut saat mendapati seseorang sedang duduk santai sambil menikmati cemilan di dalam ruang tamu apartemen. Seseorang itu…. * * *      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN