TAMU PAGI INI

3045 Kata
Dari gerak-geriknya, Faisal bisa menebak siapa tamu tak diundang yang masuk ke dalam apartemennya itu. Siapa lagi perempuan yang berani datang dan masuk ke dalam apartemennya kalau bukan Dita? Mendengar suara pintu yang terbuka, Dita menoleh dan memasang senyum sumringah untuk menyambut Faisal. “Hei, Sal! Aku udah dari kemarin nunggu kamu di sini,” seru Dita, sembari bangkit dan mengalungkan lengan cantiknya ke leher Faisal, kemudian ia mendaratkan ciuman kecil di bibir Faisal yang langsung mengelak. Dita masih tak menyadari kehadiran gadis lain di sisi Faisal. “Sal… kamu gak kangen sama aku?” Dita tersenyum menggoda dan hampir melanjutkan kegiatannya, sebelum akhirnya dia sadar jika Faisal tidak sendirian. Faisal tak menjawab. Dia melepaskan rangkulan tangan Dita yang terasa mencekik lehernya. “Apa-apaan ini, Sal? Kenapa kamu bawa perempuan ini ke sini, hah? Bukannya aku udah minta maaf sama kamu?” Dita bertanya sengit, penuh rasa tak suka. Faisal tak mengacuhkan ocehan Dita. Laki-laki itu mendekati Sekar yang sejak tadi masih berdiri di depan pintu dengan menunduk, tak mau melihat interaksi antara Faisal dan perempuan yang ada di apartemen ini. “Sekar.  Ayo, aku tunjukkan kamarmu.” Faisal mengambil alih tas yang sejak tadi dibawa Sekar kemudian menuntun gadis itu menuju ke salah satu kamar yang ada di apartemen. Sementara Dita menatap Faisal dan Sekar dengan pandangan kesal dibakar api cemburu. Sekar mengikuti ajakan Faisal tanpa banyak bertanya. “Ini kamar kamu. Seperi kesepakatan kita waktu itu. Kita tahu, kalau kita belum siap menjadi sepasang suami-istri. Jadi aku butuh waktu untuk menjalani peranku, dan aku juga memberimu waktu untuk mengambil peranmu. Mandi dan istirahatlah dulu, mungkin kamu lelah. Aku akan mengurus tamuku dulu,” kata Faisal, yang hanya dijawab anggukan oleh Sekar. Faisal menyalakan AC ruangan kamar Sekar dan keluar setelah menutup pintunya rapat-rapat. Sepeninggalan Faisal, Sekar duduk di atas kasur dengan desain minimalis dan bernuansa hitam-putih. Matanya memandang sekeliling ruangan yang akan menjadi tempat tidurnya entah untuk berapa lama. Suasana sejuk yang keluar dari AC kamar membuat Sekar merasa rileks. Perempuan muda itu membawa langkah kakinya menuju tirai jendela dan membukanya, kemudian merasa beruntung karena ternyata kamar ini memiliki jendela yang menampakkan suasana kota. Diam-diam Sekar tersenyum menatap Jakarta yang demikian padat di bawah sana. Sekar kembali ke kasur untuk merebahkan diri, memanjakan matanya yang terasa berat. Perjalanan dari kampung halamannya ke Jakarta, meski tidak jauh karena mereka menggunakan pesawat komersil, cukup melelahkan. Ia kemudian tertidur. Tak tahu apa yang terjadi antara sang tamu itu dengan Faisal. Melihat interaksi keduanya, sepertinya perempuan tadi adalah kekasih Mas Faisal. Hanya itu pikiran naif yang melintas di kepala Sekar, sebelum gadis itu benar-benar terlelap Sementara itu, Faisal yang telah mengantar Sekar ke kamar, langsung menemui Dita yang  duduk dengan wajah yang terlihat manyun, tak sedap dipandang. Faisal duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Faisal dengan nada yang ditekan sekuat mungkin agar tidak terlihat marah. “Hei! Kamu nanya, kayak aku gak pernah nginap di sini aja, ck. Harusnya kamu gak lupa, aku nyaris menghabiskan waktuku lebih banyak di sini sama kamu!” Dita menjawab sengit. Faisal mengembuskan napasnya, masih dengan wajah yang terlihat menahan diri untuk tidak meledak. “Aku tahu dan aku ingat, Dita. Tapi itu dulu, beberapa waktu yang lalu sebelum kamu gak menghargai hubungan kita dan mengabaikan undangan bapak sama ibuku.” “Sal! Kenapa kamu selalu mengungkit masalah yang sama dan itu-itu aja? Aku bosan dengerin kamu yang selalu ungkit masalah undangan itu terus! Kamu tahu, kan, posisiku waktu itu?” “Iya, aku sangat tahu soal posisimu itu, Dit. Kamu lebih milih karirmu daripada hubungan kita!” Faisal mulai meninggikan ritme suaranya.  “Stop! Aku gak mau kita bahas hal yang itu-itu aja. Siapa perempuan itu?” Tak tahan dengan rasa ingin tahunya, Dita memilih interogasi terlebih dahulu. “Perempuan yang mana?” tanya Faisal dengan pongahnya, membuat Dita semakin naik darah. “Emangnya ada berapa perempuan di rumah ini?” “Oo, yang tadi? Namanya Sekar,” Faisal menjawab singkat dan tenang. Dalam hati ia menemukan ide dengan menggunakan Sekar untuk mengusir Dita. “Perempuan yang bareng kamu di bandara waktu itu?” Dita memburu Faisal dengan pertanyaan sengit. “Ya.” “Dia siapa emang, heh? Sampai-sampai kamu bawa ke sini.” Faisal menghela napas sedikit berat. Ada banyak pertimbangan yang berebut dominan di kepalanya. “Dia adik sepupuku. Anak dari Bu lik-ku.” “Adik sepupu? Kamu gila! Kamu bawa dia ke sini, tinggal serumah, seolah kalian sepasang suami-istri?” Dita melotot marah, apalagi me;ihat sikap Faisal yang demikian tenang, tanpa rasa bersalah. “Sayangnya… kesimpulan kamu benar, Dita.” Dita melotot mendengar pengakuan Faisal. “A-apa maksud ka-kamu, Sal?” Faisal menghela napas. “Kamu benar, Dita. Sekar adalah istri yang dipilihkan bapak sama ibu untukku. Kamu yang waktu itu aku perjuangkan, ternyata gak menghargai apa yang aku lakukan. Jadi jangan salahkan aku kalau akhirnya aku menerima Sekar sebagai istriku!” Muka Dita merah padam mendengar kalimat tenang yang diucapkan Faisal. Perempuan itu serta merta bangkit dari duduknya kemudian dengan marah menyerang Faisal. Memukul laki-laki itu sekuat yang mampu ia lakukan. Faisal yang tak menyangka akan mendapat serangan dari Dita, hanya mencoba mengelak, tanpa melawan sedikit pun. Karena dia tahu, Dita sedang emosi. “Kamu b******n! Laki-laki kurang ajar!” Dita mengumpat dengan kalimat-kalimat kasar yang tak biasanya ia ucapkan. Hatinya demikian gelap oleh rasa marah dan tidak terima atas perlakuan Faisal yang meninggalkannya secara sepihak. “Dita! Dita, sadar! Kamu terlihat seperti perempuan gak punya etika!” Faisal membentak Dita dan akhirnya berhasil memboikot lengan perempuan itu dan mendekapnya, agar tidak melakukan hal frontal lagi. Napas Dita terengah oleh amarah, begitu pun dengan Faisal. “Lepasin aku! Aku benci sama kamu!” Dita berontak dari dekapan Faisal dengan umpatan penuh kebencian. Dengan terpaksa Faisal melepaskan dekapannya, membuat perempuan penuh emosi itu terhuyung. Namun, ia segera menegakkan diri kemudian bergegas mengambil tas tangan yang tadi diletakkan di atas buffet, meninggalkan Faisal yang masih berdiri dan menatapnya penuh rasa bersalah. Sesampainya di dekat pintu, Dita menoleh ke arah Faisal dengan sorot mata penuh kebencian. “Aku gak terima kamu perlakukan kayak gini, Sal! Aku benci sama kamu!” ucapnya dengan nada bergetar, menahan amarah. Dia pergi, meninggalkan apartemen Faisal, setelah membanting pintu. Faisal menghempaskan diri di atas sofa sembari menghela napas panjang.“ Maafin aku, Dit…. Seandainya kamu tahu, aku udah gak bisa menolak semua ini,” gumamnya. Faisal tak sadar jika ucapannya didengar Sekar yang tak bisa tertidur nyenyak setelah mendengar keributan yang berasal dari ruang tamu. Diam-diam gadis itu keluar dari kamarnya untuk meelihat apa yang sedang terjadi. Mendengar kalimat lirih Faisal, Sekar merasa bersalah. Ia membulatkan satu tekad, tetapi belum mampu merealisasikannya sekarang. Sekar akan mengatakannya nanti, jika suasana hati Faisal sudah lega. Dengan langkah pelan agar tidak terdengar Faisal, Sekar kembali ke kamar. Dia bertekad untuk tidak terbawa arus perasaan. Tidak. Sekar tak pantas bersedih ketika akhirnya dia mendapati kenyataan bahwa ada perempuan lain di dalam kehidupan Faisal. Sejujurnya, Faisal memang bukan miliknya seutuhnya. Meski mereka terikat pernikahan, tetapi Sekar tahu diri dan posisi. Faisal mau menerima dirinya menjadi istri bukan karena cinta. Namun, demi kepatuhan pada orang tua. Dan setulus hati, Sekar menghormati hal itu. Maka tak pantas jika ia harus menuntut sesuatu yang lebih. Sejauh ini, pengorbanan yang dilakukan Faisal sudah cukup besar.   * * *   Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Senja menyapa, ketika Faisal terbangun dari tidurnya dengan posisi yang jauh lebih nyaman. Jika tadi saat tertidur ia masih memakai kaos kaki dan tanpa bantal kepala, kini saat terbangun, kaki Faisal sudah terbebas dari kaos kaki dan kepalanya demikian nyaman karena memakai bantal yang membuat tidurnya tadi semakin nyenyak. Faisal mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Sepi. Apartemennya sepi. Lalu Faisal ingat, dia datang bersama Sekar. Laki-laki itu lantas bangkit dan berjalan ke kamar Sekar. “Sekar! Sekar!” Faisal mengetuk pintu kamar Sekar yang tertutup. Sesaat tak ada jawaban. Faisal mencoba mengetuk kembali pintu kamar di hadapannya. Lalu terdengar kunci pintu yang dibuka, disusul wajah Sekar yang tak menampilkan ekspresi apa pun, padahal gadis itu baru saja melihat suaminya kedatangan tamu perempuan. “Ya, Mas?” Faisal sejenak kehilangan kata-kata demi melihat ekspresi polos Sekar yang sama sekali tak terpengaruh keadaan. “Maaf, aku ketiduran. Aku lupa kamu belum makan. Dan aku belum menyiapkan bahan-bahan masakan untuk kita. Jadi… bagaimana kalau kita cari makan di bawah apartemen?” Sekar tersenyum dan mengangguk. “Mas silakan mandi dulu. Saya akan menunggu,” Sekar menjawab sopan. Faisal mengangguk dan perlahan meninggalkan depan pintu kamar Sekar menuju kamarnya sendiri. Bagamana mungkin Sekar demikian tenang, tanpa rasa marah, sekalipun melihat keberadaan Dita tadi? pikirnya. Terlalu banyak spekulasi dan dugaan-dugaan yang menghambur di kepala Faisal sehubungan dengan sikap tenang yang ditunjukkan Sekar, tetapi ia akan membahasnya nanti. Pukul setengah tujuh, keduanya turun dari hunian mereka dan berjalan ke rumah makan yang terletak tak jauh dari apartemen. Di rumah makan inilah tempat yang biasa dihubungi Faisal untuk memesan makanan jika ia malas turun. Faisal mengajak Sekar duduk di kursi yang paling pojok. Dia sengaja memilih tempat itu karena ingin membahas kehidupan pernikahan mereka. Seorang pelayan yang datang segera mencatat pesanan Faisal dan Sekar. Mereka memesan menu ringan malam ini. Pelayan itu kemudian datang membawa pesanan mereka. Sesekali Faisal mencuri pandang ke arah Sekar yang menikmati makan malamnya dengan santun. Melihat Sekar yang tak banyak bicara saat sedang makan, Faisal pun menunda keinginannya untuk mengobrol, sampai makanan mereka habis. “Sekar….” Panggil Faisal ketika gadis itu telah menandaskan makannya. Sekar mendongak dan memperhatikan wajah Faisal yang meskipun terlihat lelah, tetapi garis ketampanan di wajahnya masih tercetak jelas. Namun, gadis itu lekas menunduk karena Faisal yang juga menatapnya tepat di manik mata. Faisal tersenyum. Sungguh, seumur hidup baru kali ini dia mengenal perempuan sesantun Sekar. “Apa kamu gak mau tahu perempuan yang tadi siang ada di apartemen?” Faisal membuka percakapan. Sekar mendongak kembali, mencoba memberanikan diri untuk menatap Faisal. Dia lalu menggeleng, tanda tak ingin tahu terlalu jauh tentang siapa perempuan itu, meski pada kenyataannya ia sudah bisa menebak siapa perempuan itu. “Namanya Dita.” Meskipun begitu, Faisal tetap melanjutkan ceritanya. Sekar hanya mengangguk kecil, mendengarkan dengan baik setiap kata yang diucapkan Faisal. Entahlah… ia mulai tak peduli siapa perempuan itu bagi Faisal. Apa yang terpenting saat ini adalah perasaan bahagia yang merasuki hatinya saat Faisal mulai bicara banyak dan terbuka dengannya. “Apa kamu juga gak penasaran seperti apa hubungan aku dengan perempuan itu?” Faisal kembali memancing reaksi Sekar. Sekar tersenyum lugu. “Itu area pribadi njenengan, Mas. Saya enggak pantes mengorek terlalu jauh.” Jawaban Sekar benar-benar membuat Faisal terkejut. “Meskipun kita udah menikah dan kamu udah jadi istriku?” Lagi-lagi Sekar tersenyum. “Meski saya dan njenengan adalah suami-istri, bukan berarti saya harus ikut campur terlalu jauh dengan area pribadi njenengan, Mas. Bagaimanapun njenengan tetap pribadi yang merdeka. Saya ndak mau, keberadaan saya menyusahkan hidup njenengan.” Faisal terperanjat, tak menduga bahwa Sekar akan selapang ini menghadapi kehadiran Dita yang di luar rencana. “Terima kasih untuk pengertianmu, Sekar,” ucapnya. Sekar masih tersenyum sembari menggeleng. “Seharusnya saya yang berterima kasih sama njenengan. Sudah banyak yang njenengan korbankan untuk apa yang kini sedang kita jalani.” Faisal mengangguk. “Apa yang bapak amanahkan memang berat untukku, Sekar. Kamu tahu, ini sama sekali gak terduga. Sayangnya kita sudah telanjur melangkah maju. Jadi aku minta… kamu bersedia bekerjasama, membuat pernikahan ini baik-baik saja.” Sekar turut mengangguk. “Iya, Mas. Saya akan berusaha semampu saya untuk menjaga pernikahan ini agar berjalan baik.” “Tapi kamu tahu, Sekar… kita butuh waktu untuk menjalani kehidupan suami-istri yang sesungguhnya. Aku telanjur menganggapmu sebagai adik. Jadi, jika harus... harus….” Faisal tak bisa meneruskan kalimatnya. Dia merasa seperti pria dewasa yang sedang mengencani gadis ABG, dan itu sungguh membuat suasana menjadi kikuk. “Mas ndak perlu melanjutkan. Saya tahu apa yang njenengan maksudkan. Ya, saya sepakat dengan njenengan untuk tetap berperan sebagai seorang kakak dan adik, meski secara hukum kita adalah suami-istri.” Faisal mengangguk dengan senyum yang sedikit lepas. Jujur saja, dia lega setelah mengungkapkan apa yang selama ini menjadi momok dalam pikirannya. “Terima kasih, Sekar.” Faisal mengulang kembali ungkapan rasa terima kasihnya atas kompromi yang diucapkan Sekar. Gadis itu mengangguk. Faisal lantas bangkit dari duduknya. “Sepertinya kita harus belanja. Selama ini aku gak pernah memasak di apartemen, jadi aku tidak tahu alat dan bahan apa saja yang diperlukan,” kata Faisal, mencoba bersikap biasa dalam berinteraksi dengan Sekar. Bagaimanapun, dia harus mencobanya. “Saya tahu. Tadi, saat njenengan tidur, saya mau masak tapi ndak jadi. Di kulkas cuman ada botol dan kaleng minuman,” Sekar berkata dengan senyum kecil. Faisal tertawa lepas melihat ekspresi lugu Sekar. Tawa itu membuat Sekar kembali berdebar. Diam-diam rasa senangnya tumbuh saat melihat Faisal bahagia. “Ayo kita ke mini market sekarang. Tunggu sebentar, aku ke kasir dulu. Kamu bisa menunggu di sini atau di depan sana.” Faisal menunjuk halaman dari rumah makan kemudian ia pergi ke kasir untuk membayar tagihan makanan yang mereka habiskan tadi.   * * *   Rumah besar keluarga Almarhum Raden Suryo malam ini terlihat lengang sebagaimana biasanya. Semenjak beliau tak ada, suasana semakin lengang. Sedikit demi sedikit, Bu Ratri terus mencoba menjalani kehidupannya kembali. Tidak mudah memang, tetapi yang pasti, ia harus tetap maju. Malam ini, perempuan janda Raden Suryo itu menghubungi Bu Rahmi dan meminta adik iparmya itu untuk datang ke rumah. Mereka sedang duduk berdua di ruang tengah. Beberapa saat kemudian Mbok Pariyem terlihat bersama mereka. Setelah mengantar teh panas yang diletakkan di dalam teko kuno, serta dua gelas cangkir keramik, Mbok Pariyem duduk di dekat kaki Bu Ratri. “Rahmi?” Bu Ratri membuka pembicaraan, sementara Mbok Pariyem memijat kakinya. “Ya, Mbakyu?” “Sudah enam bulan kita membiarkan Sekar ke Jakarta. Apa kau tak kangen dengan anak perempuanmu itu, Rahmi?” Rahmi mengangguk. “Meskipun saya sangat merindukannya, tapi Sekar sudah ikut suaminya, Mbakyu. Dan saya tak lagi berhak mengekang, bagaimanapun dia milik suaminya sekarang.” “Tapi kita juga ibu mereka, Rahmi.” “Sekar sering telepon saya, Mbakyu.” “Ya, dia juga selalu telepon aku, setelah telepon kamu. Kalau Faisal, jangankan telepon, dia terlalu sibuk. Setiap telepon, Sekar selalu bilang, Faisal sibuk dengan pekerjaannya.” Rahmi terdiam, menganguk kecil. “Namanya juga bekerja, Mbakyu.” “Bagaimana kalau kita ke Jakarta, Rahmi?” Mata tua Bu Ratri berbinar saat mengajukan rencananya. Bu Rahmi mendongak, menatap kakak iparnya itu. “Maksud Mbakyu? Kita menjenguk mereka?” Bu Ratri mengangguk semangat. “Apa tidak merepotkan mereka? Katanya tempat tinggal mereka kecil, Mbakyu….” Bu Ratri tersenyum. “Kamu tak usah khawatir, Rahmi. Mereka punya dua kamar. Cukup untuk kita berbagi ruangan.” “Mbakyu sudah pernah berkunjung ke rumah Faisal di Jakarta?” Bu Ratri tertawa kecil. “Tentu saja aku pernah ke sana, Rahmi. Beberapa tahun lalu, ketika Mas Suryo masih sehat. Kalau kurang luas, kita bisa tidur di hotel sekitar apartemen mereka. Bagaimana?” Bu Rahmi terlihat berpikir sejenak, sedang menimbang-nimbang usulan Bu Ratri. Bu Ratri mengajak Bu Rahmi ke Jakarta bukan tanpa tujuan. Namun, diam-diam, ia sedang menyusun rencana. Semenjak kepergian Almarhum Pak Suryo, Bu Ratri melihat bagaimana terpukulnya Bu Rahmi. Perasaan bersalah yang ada di hati Bu Ratri semakin besar, ketika melihat sorot mata yang seringkali kosong. Tak ada pancaran hidup di wajah Bu Rahmi. Bu Ratri menyusun waktu. Nanti, jika waktunya sudah tepat, Bu Ratri akan mengungkapkan semua rahasia yang selama bertahun-tahun ini dipendam dalam diam. Bukan maksudnya bermain rahasia, tetapi semua itu atas permintaan Almarhum. Sebagai kompromi atas pernikahan mereka. “Bagaimana, Rahmi?” Bu Rahmi mendongak, menatap Bu Ratri yang tetap ayu dalam usianya yang sudah tidak muda itu. Lalu, Bu Rahmi mengangguk. “Iya, Mbakyu. Saya mau berangkat ke Jakarta.” Bu Ratri tersenyum senang.   * * *   Semenjak Faisal menikah, Dita mencoba menerima keadaan bahwa pernikahan Faisal adalah salah satu dari kesalahan yang pernah dia lakukan, karena mengabaikan undangan orang tua Faisal waktu itu. Beberapa kontrak kerja dan pemotretan yang datang padanya, dia sanggupi tanpa berpikir dua kali. Selama masih ada jadwal yang luang, Dita memerintahkan pada asistennya untuk menerima semua kontrak. Semua ini dilakukan untuk menghindari kenangan-kenangannya akan Faisal. Bagaimanapun, bukan hal yang mudah baginya untuk melupakan Faisal. Beberapa tahun hidup bersama laki-laki itu, jelas menimbulkan ketergantungan tersendiri bagi gadis itu. Segala rasa rindu yang dia pendam berbulan-bulan ini, pagi ini mencuat ke permukaan. Tiba-tiba saja, dia sangat ingin bertemu dengan Faisal. Tak bisa dipungkiri, laki-laki itu memiliki tempat khusus di hati Dita. Maka pagi ini, dia bertekad untuk datang ke apartemen laki-laki itu. Meskipun nanti dia akan mendapati istri laki-laki itu di sana, Dita tak peduli. Yang pasti, kerinduannya harus tuntas. Sabtu pagi, Faisal masih bermalas-malasan di kamarnya. Sabtu pagi selalu menjadi saat yang paling tepat baginya untuk memuaskan selera tidur. Ada aroma gurih yang tercium hidungnya. Dan Faisal yakin bahwa itu pekerjaan Sekar. Gadis itu selalu rajin memasak, entah Faisal makan di rumah atau tidak, Sekar pasti memasak. Seperti biasa, setelah selesai memasak, Sekar berkemas untuk berangkat ke kampus. Meski hari ini tidak ada jam kuliah, tetapi Sekar punya janji dengan Ema. Hari ini mereka akan mencari buku di Gramedia. Makanan yang telah siap saji itu Sekar letakkan di lemari makanan biasa. Pagi ini dia tak mengetuk pintu kamar Faisal untuk membangunkan laki-laki itu, karena dia sudah hafal bahwa lelaki itu selalu bangun siang jika hari libur. Setelah menenggak teh hangat yang tadi diseduhnya, Sekar mengambil tas dan beranjak meninggalkan kamar. Sebelumnya dia mematut diri sejenak di cermin lemari kamarnya. Sekar sengaja mengenakan sepatu flat agar tidak menimbulkan suara-suara yang akan membuat Faisal terganggu. Tiba di depan kamar Faisal, Sekar berhenti sejenak. Dia berniat hendak mengetuk pintu kamar suaminya itu untuk berpamitan. Namun, saat tangannya sudah akan mengetuk, Sekar ragu. Dia khawatir ketukannya akan mengganggu tidur Faisal. Maka Sekar kemudian berjalan ke arah meja kerja Faisal yang terletak di dekat kursi tamu> Dia mengambil notebook dan menulis pesan untuk Faisal. Selesai. Gadis itu tersenyum kemudian mengambil perekat yang dia pakai untuk merekatkan tulisan pesannya di pintu kamar Faisal. Beres. Sekar kembali meneruskan niatnya ke Gramedia bersama Ema. Sekar baru akan membuka pintu rumah, sebelum kehadiran tamu di depan pintu membuatnya terkejut. * * *  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN