Sekar terkejut, mendapati kedua perempuan yang kini berdiri di hadapannya dengan senyum lembut dan sorot mata penuh kerinduan. Tersenyum lepas, Sekar menyalami dengan takzim kedua perempuan setengah baya itu kemudian memeluk mereka bergantian, mendekap penuh kerinduan. “Ibu? Bude? Kok ndak ngasih kabar ke Sekar atau Mas Faisal? Mari, sini... sini masuk.” Sekar dengan tergesa mengambil tas yang ditenteng oleh kedua perempuan itu. Bu Rahmi dan Bu Ratri tersenyum senang melihat kebahagiaan Sekar atas kedatangan mereka. “Bude yang larang ibumu ngasih kabar, Nduk. Bude bilang biar kejutan,” kata Bu Rahmi sambil melirik Bu Ratri. “Rahmi, sebaiknya Sekar tidak memanggilku dengan sebutan Bude lagi. Dia harus memanggilku ibu karena dia sekarang menantuku. Bukan begitu, Sekar?” protes Bu Ratri.

