“Faisal?” “Iya. Saya Faisal dari Jakarta.” “Maaf, ini sudah malam. Waktunya beristirahat.” Fahri menolak pembicaraan bisnis—jika lelaki yang menelponnya ini berniat untuk memberi pengajuan bisnis kerja—dengan halus. “Saya tahu, Pak. Tapi saya menghubungi Anda karena ada hal penting yang mendesak.” “Maaf, saya tidak ada kepentingan dengan siapa pun Anda, ya, Pak Faisal.” “Memang tidak, Pak Fahri. Tapi saya menghubungi Anda atas permintaan Dita.” DEG Jantung Fahri mendadak berdetak lebih kencang ketika nama Dita disebutkan oleh penelepon. Namun, rasa gugup itu terganti dengan setumpuk rasa kesal dan kecewa. “Maaf, Pak Faisal. Siapa pun Anda dan apa pun hubungan Anda dengan Dita, yang pasti ... saya tak ingin kehidupan saya diganggu.” “Saya juga tak akan menghubungi Anda jika bukan a

