Seminggu sejak kembali dari klinik, kesehatan Sekar sudah jauh lebih baik. Wajahnya menjadi jauh lebih ceria, tak lagi pucat, dibanding sebelumnya. Mengenai pekerjaan, sebenarnya Sekar ingin tetap bekerja. Bukan untuk mencari materi karena seperti kata Bu Aning, kebun peninggalan ayahnya sangat cukup untuk biaya hidup beberapa tahun. Namun, Sekar ingin beraktifitas untuk mengalihkan perhatiannya akan Faisal. Sekar sadar, untuk tetap bekerja di rumah Pak Fahri bukan pilihan bijak jika memang laki-laki itu tidak mau mempekerjakan seorang perempuan yang hamil—apalagi tanpa suami, seperti dirinya. “Non mau ke mana?” Bi Atun bertanya ketika melihat Sekar bersiap pagi ini. Tunik abu-abu dan celana panjang hitam dikenakan Sekar bersamaan dengan kerudung hitam. Sekar memperbaiki kerudungnya, se

