Sekar masih berusaha untuk mengorek ingatannya ketika kemudian perempuan itu berkata dengan nada angkuh dan penuh kemenangan. “Hai, Sekar. Apa kabar?” Suara merdu perempuan itu terdengar menusuk gendang telinga Sekar. “Alhamdulillah, saya baik.” “Oh, ya, sebenarnya aku cuman mau ngucapin turut bersedih atas perceraian kalian. Tapi aku juga bakal ngasih tahu kabar gembira sama kamu. Mulai saat ini, Faisal bakal jadi calon suami aku. Aku harap kamu mau datang saat resepsi pernikahan kami, ya!” Kalimat yang diucapkan dengan penuh kemenangan dan culas itu membuat hati Sekar kembali berdarah. Namun, seperti sikapnya biasa, Sekar hanya bisa menunduk tak menjawab sama sekali. “Dita! Kamu ngomongin hal yang gak penting dan tepat sekarang!” hardik Faisal dengan emosi. Dita menatap Sekar dan

