.
.
.
.
Lola mulai mengerjapkan kedua matanya, kesadarannya masih belum pulih sepenuhnya. Ditambah kepalanya yang cukup sakit. Setelah dirasa cukup baik baik saja, Lola Mencoba bangun dari tempat berbaringnya dengan mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan yang saat ini ditempatinya. Lola masih belum tahu bahwa ada orang lain yang ada disampingnya, yang tidur satu ranjang dengannya.
"Kamar siapa??" tanya Lola pada dirinya sendiri.
"Gue kayak familiar dengan baunya."
Disaat Lola sedang sibuk dengan fikirannya, dia dikejutkan dengan suara alarm dari sebuah jam diatas meja pinggir ranjang. Yang semakin membuat Lola terkejut ada sebuah tangan yang terulur untuk mematikannya. Sebuah tangan yang tiba tiba muncul dari dalam selimut.
Lola menyingkap selimut yang ternyata menutupi seseorang yang tertidur dengan posisi tengkurap. Seorang laki laki dengan tubuh bagian atas tanpa baju. Dan semalam seranjang dengan Lola.
"Ayo Lola ingat ingat, siapa yang kemarin malam lo ajak ngamar. Tapi, gak mungkin gue seberani itu. Lagian posisi gue masih PDKT sama Dewa." batin Lola.
"Tunggu, kemarin gue ke Pub dianter Dewa, lalu malamnya gue kenalan dengan seorang cowok dan gue diberikan sebuah minuman sebagai ucapan perkenalan. Setelah itu tubuhnya merasa aneh dan gue pamit pulang tanpa memberitahu Dewa. Setelah itu... " Lola masih mencoba mengingat ingat lagi kejadian setelahnya, tapi, sialnya bagian saat dia pulang dari Pub lost. Lola tidak ingat, atau lebih tepatnya Lola belum mengingatnya.
"Jadi, siapa yang seranjang dengan gue tadi malam??? oh.. Tuhan apa yang harus gue lakukan. Tolong jangan kirimkan cowok breng**k lagi. Menghadapi playboy kayak Dewa sudah cukup buat gue makan hati." batin Lola dengan segala doanya.
Lola mulai turun dari ranjangnya, mencoba berdiri dengan niat mendekat disisi ranjang sebelahnya agar dapat melihat partner ranjangnya.
"Iiissshhhhh.... kok agak ngilu, perih juga. Gue masih perawankan??" tanya Lola pada dirinya sendiri dengan takut takut. Karena perkataan Lola yang keluar dari bibirnya, tidak sengaja membuat orang yang sudah terbangun tapi, belum sepenuhnya sadar langsung membuka matanya.
"Kenapa??? apa sekarang perlu main dulu biar lo tahu masih perawan apa gak???" sebuah pertanyaan tiba tiba terdengar ditelinga Lola. Lola langsung mengalihkan pandangannya keranjang.
deg..
"Kak Dewa...!?" cicit Lola.
"Bagaimana bisa??" tanya Lola pada Dewa.
"Kenapa?? lo berharap cowok kemarin yang lagi ngamar ama lo?" tanya Dewa.
"eehh... eng... enggak gitu." jawab Lola gelagaban.
Dewa bangun dari ranjangnya yang hanya menggunakan boxer seolah tidak peduli meskipun Lola melihatnya, toh Dewa dan Lola sudah pernah telanjang berdua, meskipun Dewa yakin Lola tidak akan ingat.
"Kak Dewa apa gak bisa pake celana dulu??" tanya Lola dengan menutup kedua matanya.
Dewa menyeringai, berjalan menghampiri Lola yang masih setia berdiri disisi ranjang.
"Gak usah sok suci, lo lupa kemarin malam bagaimana liar nya elo??" jawab Dewa dengan senyum mengejek.
Lola langsung membuka tangan yang menutupi matanya menatap wajah Dewa dengan ekspresi tidak mengerti
"Apa maksudnya??" tanya Lola.
Dewa mengikis jaraknya dengan Lola, dengan tangan yang memeluk pinggang Lola, Dewa mulai membisikkan sesuatu.
"Haruskah kita mengulanginya pagi ini?? Gue sih gak keberatan, gue tunggu dikamar mandi." Dewa meninggalkan Lola tanpa menunggu jawabannya dengan meninggalkan jilatan disepanjang leher Lola, yang cukup membuat bulu kuduk Lola meremang.
.
.
.
.
"Sial*n..." umpat Dewa saat berada didalam kamar mandi, lebih tepatnya dibawah shower.
"Bangs*t dia gak lagi telanjang beg* tapi respon lo berlebihan." ucap Dewa, berbicara pada pusakanya.
Dewa mendesah panjang dibawah guyuran air dingin dengan tangan dihiasi cairan sp***a, karena melihat penampilan Lola bangun tidur dengan pakaian yang seperti itu sudah cukup membuat tubuh Dewa menjadi panas. Dan Dewa butuh air dingin untuk bermain solo. Bagi Dewa penampilan Lola pagi ini sangat biasa dibandingkan dengan perempuan perempuan yang mendekatinya, tapi, meskipun begitu ternyata cukup berefek bagi senjata Dewa. Ternyata semenarik itu Lola dimata Dewa.
Walaupun begitu, nyatanya belum bisa merubah keputusan final Dewa tentang rencana perjodohan mereka.
"Gue masih belum bisa menyerah sekarang." batin Dewa. Entah apa yang ada difikiran Dewa dengan langkah PDKT Lola saat ini. Nyatanya beberapa waktu bersama dengan Lola, Dewa kesulitan menolak visual sempurna yang dimiliki Lola.
Dewa akan membuat rencana, agar keputusannya tidak berubah.
Setelah beberapa menit mendinginkan tubuh dan nafsunya dikamar mandi, Dewa keluar dengan menggunakan sebuah handuk yang melilit dipinggangnya. Mengedarkan pandangannya keseluruh kamar, mencoba mencari keberadaan cewek yang sudah membuat tubuhnya harus mandi air dingin dipagi hari.
Nihil... kosong.... Tidak ada siapa pun. Bahkan ranjangnya sudah rapi.
"Untung saja sudah gak ada, gue gak mau kalau harus mandi lagi." ucap Dewa dengan berjalan mencari baju ganti.
.
.
.
.
Setelah menyelesaikan ritualnya dikamar, Dewa turun dengan pakaian casual untuk pergi kekampus. Baru keluar dari kamarnya beberapa langkah, penciumannya sudah dimanjakan dengan bau yang cukup membuat perut menjadi lapar.
"Gue kira lo udah pulang." sebuah kalimat keluar dari mulut Dewa, saat matanya melihat gadis yang dicarinya sedang menata sarapan dimeja makan.
"Habis sarapan balik, mumpung ada temennya." jawab Lola mulai duduk dikursi.
"Emang biasanya lo sarapan sendiri??" tanya Dewa duduk didepan Lola.
"Gak juga, tapi lumayan sering. Kalau jadwal kuliah siang, gue malah gak sarapan. Langsung makan siang dikampus." jelas Lola. Mungkin hal itu biasa saja bagi Lola karena Lola sudah terbiasa dikeadaan seperti itu karena seringnya ortu Lola mengurus bisnis diberbagai kota dan negara.
"Ada pembantu kan??" tanya Dewa.
"Ada, tapi lebih sibuk didapur kalau gak ngurus rumah." jawab Lola santai.
"Gue udah selesai, thanks buat sarapannya. Kalo mau ganti baju lo boleh pinjem baju gue ada dilemari kamar." ucap Dewa dengan berjalan keluar apartemen tanpa menunggu jawaban dari Lola.
"Mobil lo juga masih diparkiran, cuma baju lo belum bisa dibawa pulang, masih dilaundry." lanjut Dewa lalu meninggalkan Lola.
Setelah ditempat parkir mobil, Dewa langsung masuk kedalam mobilnya, tapi, tidak segera mengemudikannya. Apa yang dipirkirkan, Dewa malah mengeluarkan rokoknya dan menyalakannya. Terlihat sekali Dewa sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin merencanakan sesuatu.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian.
Bengkel Bryan jam 14.00 wib
"Bagaimana hubungan lo sama Lola?" tanya Reza.
"Nothing special." jawab Dewa singkat yang mulai menyalakan rokoknya.
"Kurang 3 hari lagi waktu satu bulan yang diminta Lola bakal habis, keputusan lo bagaimana?" kali ini yang bertanya Kenda. Setelah dikirim oleh tuan besar Pramuntara hampir 2 minggu keSurabaya akhirnya balik.
"Masih sama." jawab Dewa.
"Apa cuma perasaan gue, kalau lo akhir akhir ini kayak menghindari Lola." kali ini Denis mengeluarkan suaranya.
Dewa hanya mengangkat bahunya seolah tidak peduli dan tidak ingin menjawab.
"Dewa hanya cari aman, apa kalian gak sadar sedari awal Dewa sudah mulai bingung dengan hatinya, hanya saja belum bisa melepas kebebasannya." sebuah opini keluar dari mulut Bryan dengan menampilkan senyum mengejek.
"pantes Lola merasa kesulitan, sedari awal lo memang sudah menghadang usahanya." timpal Reza.
"Lo takut apa pengecut Wa?" tanya Denis.
"Gak tahu gue. Gue masih males mikir. Siapa tahu dalam waktu 3 hari ini banyak yang berubah." jawab Dewa.
Para sahabatnya Dewa hanya saling pandang saat mendengar jawaban dari Dewa.
Entah kenapa saat mereka melihat perjodohan Dewa, jalan ceritanya terlalu sulit. Mungkin malah terkesan Dewa yang egois karena sampai saat ini Dewa hanya mencari cara mempertahankan kebebasannya tanpa melihat usaha Lola dalam merebut perhatiannya.
Dewa penikmat wanita dan itu bukan kabar baru bagi yang sudah mengenal Dewa, tapi, demi menjaga privasinya tidak terusik dengan sebuah komitmen, Dewa rela menahan nafsu binatangnya saat bersama Lola. Dewa tidak ingin memiliki rasa harus bertanggung jawab bila Lola kehilangan keperawanannya karena ulah Dewa.
.
.
.
.
TBC