Cap. 15

1210 Kata
. . . " sh*t apa yang lo lakuin Lola?!" ucap Dewa saat melihat kondisi Lola. Lola baik baik saja, tapi keadaannya sekarang benar benar membuat Dewa menjadi tegang. " stop it Lola." ucap Dewa penuh dengan penekanan dengan memegang tangan Lola agar tidak melanjutkan kegiatannya. Dewa sudah mati matian mengendalikan nafsu binatangnya agar tidak keluar, bila sekarang Lola melanjutkan kegiatannya, Dewa takut sifat binatangnya benar benar keluar dan memakan Lola. " ih, panas tau. Lepasin tangan gue brengs*k." berontak Lola. " habis ini lo gue lepasin, sekarang rapihin baju lo." tawar Dewa. " gak mau, panas banget. Kalau pake baju tambah panas. Gue pengen minum." jawab Lola yang mulai meracau seenaknya. Karena merasa bodoh berbicara dengan orang yang tidak sadar, Dewa mencoba merapikan sendiri baju Lola, tidak mudah memang, karena beberapa kali Lola mencoba menghalangi tangan Dewa, selain itu Dewa juga disajikan dengan tubuh mulus Lola yang banyak terekspose karena pergerakannya. Sejenak Dewa menelan salivanya sulit. Dewa butuh air dingin sekarang. . . . . Setelah berusaha dengan keras dengan menekan segala macam nafsunya, Dewa berhasil sampai dikamar apartemennya. Berbeda dari kamar yang sempat Lola tempati dulu saat mabuk. Ya, sekarang Dewa membawa Lola kekamar pribadinya. Dewa meletakkan Lola dibathup dan mulai menyalakan kran air dingin, berharap dapat meredam obat perangsang yang sudah diminum Lola. Setelah dirasa Lola cukup tenang, Dewa mulai beranjak dari pinggiran bathup dan mulai melepas pakaiannya dengan menyisakan boxer yang menutupi kejantanannya. Disaat Dewa fokus dengan kegiatan mendinginkan hasratnya dibawah shower dengan air dingin, seketika tubuhnya menegang saat ada sepasang tangan melingkar diperutnya. Merapatkan tubuhnya dengan Dewa hingga tidak ada jarak. Tangan itu mulai bergerak naik membelai pelan d**a Dewa hingga leher, tanpa sadar Dewa mendongakkan kepalanya dengan mata yang terpejam, merasakan sebuah kenikmatan. Tangan itu masih menyusuri tubuh polos Dewa, dan sekarang mulai mendekat dikejantanan Dewa. "Aahhhhh..." tanpa sadar desahan Dewa lolos dari bibirnya. Dewa mematikan air showernya dan langsung menghentikan tangan Lola saat tangan itu mulai menurunkan boxer yang dipakai Dewa. "Berhenti Lola, gue gak mau kalau sampai gue lepas kendali." peringatan Dewa pada Lola yang mulai menggerakkan tangannya liar. "Dideket lo lebih nyaman." jawab Lola pelan. Bibir Lola mulai mencium punggung polos Dewa. Dengan pelan Lola mulai menggeserkan badannya untuk berdiri didepan Dewa, mengalungkan kedua tangannya dileher Dewa, mengendus leher, meninggalkan beberapa tanda disana dan terakhir mencium bibir Dewa dengan rakus. Jiwa kelaki lakian Dewa yang coba dia redam susah payah mulai terbangun saat dihadapkan dengan godaan yang cukup membuat tubuh Dewa menjadi panas. Meskipun ciuman Lola terasa kaku dan terlihat amatir. Lola melepaskan ciumannya karena merasa nafasnya mulai menipis. Setelah dirasa cukup Dewa mulai mencium Lola tak kalah rakus. Merengkuh pinggangnya, Dewa tidak memberikan Lola waktu untuk menjauh ataupun menghindar. Semakin lama ciuman Dewa semakin liar, bibir Dewa yang basah mulai menyusuri leher Lola dan memberikannya tanda. Tangan nakal Dewa mulai berani membuka resleting dress Lola hingga terjatuh dan tak lupa menanggalkan celana dalam Lola. Semakin lama Dewa menurunkan badannya, menyusu dipayud**a Lola dengan rakus dan bergantian. Tidak lupa memberikan tanda disana. Dewa tidak peduli bila bekas itu besok akan terlihat yang terpenting sekarang menghilangkan efek obat yang sudah masuk ditubuh Lola. Lola semakin mendesah dan nafasnya memburu tidak beraturan saat Dewa sudah menikmati kewanitaan Lola memggunakan lidahnya dengan salah satu kaki Lola berada dipundaknya. Dengan rakus Dewa menjilati dan mengulum kewanitaan Lola sampai lenguhan panjang keluar dari bibir sensual Lola. Tidak langsung berhenti disana, Dewa masih asyik menikmati cairan dari sisa sisa pelepasan Lola, semakin melebarkan belahan kewanitaan Lola, semakin rakus mulut Dewa mengulum klitor*s Lola dan semakin Lola dibuat kuwalahan dengan permainan mulut Dewa. "ahhhh... ahhhhh...aaahhhhh... stop... stop... ahhhh.... stop...." permintaan Lola dengan nafas yang terengah engah dengan tangan yang terus menjambak rambut Dewa, menyalurkan segala kenikmatan dan gairahnya yang mulai tersulut lagi. Tidak ada jawaban dari Dewa, tapi, Dewa dengan sadarnya membuat Lola tidak bisan berhenti mendesah. Dengan mulut yang mengobrak abrik kewanitaan Lola, sekarang salah satu tangannya mulai menggoda payud**a Lola yang menegang. Lola tidak dapat menolaknya, entah karena efek obat perangsang itu atau entah karena gairah nafsu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Pelepasan itu menghampiri Lola lagi, tapi Dewa membiarkan cairan itu jatuh mengalir disela sela paha Lola, Dewa ingin melihat wajah Lola yang dilanda kenikmatan karena ulah nya. "you are sexy with that passion, Lola." puji Dewa disela dia mengamati wajah Lola yang masih sibuk mengatur nafas dan tubuh yang mulai melemas bersandar didada Dewa. "sekarang giliran gue Lola." ucap Dewa yang segera membalikkan tubuh Lola agar membelakanginya. "aahhhhh.." desah Lola saat kedua payud**anya menempel dengan sempurna pada dinding. Dewa mengunci kedua tangan Lola dibelakang punggung Lola dan dengan cepat Dewa melepaskan boxernya. Merapatkan kedua kaki Lola dan melesatkan kejantanan Dewa yang sudah keras dengan sempurna diantara paha Lola. Dewa tidak akan memasuki Lola malam ini, meskipun tidak senikmat lubang hangat Lola, tapi, cara seperti ini bagi Dewa cukup untuk sekarang. Bila belum puas, Dewa akan paksa Lola untuk memuaskannya menggunakan mulut dan tangan bila perlu dengan kedua payuda**anya. "aahhhh..." "aahhhh..." setelah Dewa mendapatkan pelepasannya disusul Lola yang juga mendapat pelepasan untuk yang kesekian kalinya. Dewa melepas kunciannya pada pergelangan tangan Lola, dan secara langsung tubuh Lola merosot jatuh dibawah Dewa dengan nafas memburu, membuat payud**a Lola yang membusung bergerak naik turun. Dewa masih berdiri disamping tubuh polos Lola yang terbaring dibawah, mulai menyalakan air shower dengan kecepatan dan suhu sedang, matanya masih setia menikmati karya tuhan yang tidak berdaya dibawah kakinya. "Sial*n, kalau begini terus, gue gak tahu sampai kapan dia bakal terus perawan." ucap Dewa bicara sendiri. "Kalau sampai dia gak perawan lagi gara gara gue, bisa bisa gue dipaksa nikahin dia." lanjut Dewa "Brengs*k, Lola bangs*t." umpat Dewa karena melihat Lola tak berdaya dengan tubuh polos dibawah kakinya membuat kejantanan Dewa kembali tegang. . . . . Dewa mematikan air showernya, mulai berjongkok dengan Lola terbaring diantara kakinya. Dewa mulai mencium bibir Lola melumatnya dengan rakus dengan tangan meremas kedua payud**a Lola dan sesekali menjepit put**g Lola menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya, sampai Lola mengeluarkan lenguhan disela sela lumatan bibir Dewa. "Sh*t gue udah gak tahan." umpat Dewa. "Gue pinjam payud**a lo." ucap Dewa didepan wajah Lola. Dewa mulai menangkup kedua payuda**a Lola dan memposisikan kejantanan disela selanya. "Aaahhhh.... sial*n, payuda**anya aja seenak ini. Aahhh bang**t." umpat Dewa keenakan. Karena merasakan goncangan ditubuhnya, Lola dengan susah membuka matanya, samar samar Lola melihat siluet seorang laki laki tidak begitu jelas karena Lola masih cukup lemas karena efek obat dan pelepasannya tadi. Setelah beberapa menit Dewa menikmati permainnannya sendiri dengan meminjam tubuh Lola, akhirnya sebuah lenguhan tak tertahan keluar dari mulutnya. Membiarkan sp***anya mengotori d**a dan wajah Lola. "Semoga gue bisa lihat pemandangan kayak gini lagi. Ketidakberdayaan lo bener bener buat gue bergairah." ucap Dewa disela sela menikmati pelepasannya. . . . . Setelah Dewa membersihkan dirinya sendiri dan Lola. Dewa keluar dari kamar mandi dengan menggendong Lola setelah memastikan tubuhnya cukup kering dengan keadaan yang sama sama polos. Meletakkannya diranjang dan mengambil sebuah kaos untuk Lola dan setelah itu giliran Dewa yang berganti pakaian, tidak lengkap cuma mengambil sebuah boxer ketat untuk menutupi kejantannya yan tertidur. "Istirahatlah, thanks buat tadi." ucap Dewa dan memberikan sebuah kecupan singkat dikening Lola sebelum ikut berbaring tidur disebelah Lola. Mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan yang bakal keluar dari mulut Lola. . . . . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN