.
.
.
Sore hari diapartemen Dewa.
"oke Lola semangat. Lo punya banyak PR sekarang. Dan ini tidak mudah." ucap Lola pada diri sendiri. Mencoba menyemangati meskipun semuanya terasa mustahil untuk merubah isi hati seorang predator kayak Dewa.
Setelah berkutat beberapa jam didapur apartemennya Dewa, Lola berhasil menyelesaikan menu yang cukup dikuasainya. Bukan menu mewah seperti direstoran tapi cukup untuk mendukung suasana romantis yang ingin Lola ciptakan.
Dua porsi spageti dengan sebotol wine dan dua gelas sudah tertata rapi dimeja makan. Tidak lupa lilin yang berada ditengah tengah meja. Setelah dirasa semua sudah lengkap, rapi dan sempurna Lola naik kelantai dua untuk memanggil Dewa, dan Lola pergi untuk merapikan diri dan berganti pakaian. Meskipun lokasinya hanya diapartemen tapi, Lola tetap ingin terlihat cantik didepan Dewa, walaupun tidak secantik cewek cewek yang selalu mengelilingi Dewa. Karena Lola harus memanfaatkan waktu satu bulan ini dengan baik untuk PDKT.
.
.
.
.
Mini dress berwarna navy dengan model krah deep cowl sudah melekat indah ditubuh Lola, didukung sepasang anting dan kalung berwarna silver dan kaki yang dibalut heels yang senada dengan warna dressnya, tidak lupa rambut ditata model cepol keatas dengan beberapa anak rambut bagian depan tergerai bebas semakin membuat Lola terlihat lebih angun. Leher dan kaki yang terexpose, terlihat lebih jenjang.
" oke cukup, gak sia sia gue minta saran ke Tara. Ternyata gue bisa cantik." ucap Lola setelah beberapa kali melihat penampilannya didepan cermin. Satu kata untuk saran penampilan Lola malam ini yang diberikan oleh Tara "puas".
Diawal Lola sudah protes dengan dress yang disarankan oleh Tara, selain panjang dress hanya setengah pahanya, belahan dadanya juga terlalu rendah. Lola tidak pernah menggunakan model baju seperti ini. Dia selalu cari aman dengan model model yang cukup tertutup meskipun menempel press dibody. Tapi, karena Tara bilang " kalian hanya dinner berdua, tempatnya juga diapartemennya Dewa, bukan diresto atau ditempat terbuka jadi berpenampilan lebih sexy dari biasanya juga gak apa apa dong?! kan lo juga lagi PDKT tonjolin yang ada didiri lo." Dan akhirnya Lola setuju dengan saran dari Tara.
.
.
.
.
Lola menunggu Dewa dengan gugup dimeja makan. Meskipun dia puas dengan penampilannya dan yakin dengan rasa masakannya, tapi, Lola tidak terlalu PD bila berpakaian seperti ini didepan orang lain apalagi didepan lawan jenis.
Duduk.. berdiri... duduk lagi... berdiri lagi...
" ini gue lagi ngapain sih?!" tanya Lola pada dirinya sendiri.
" apa gue ganti baju aja ya, tapi kan tadi cuma bawa 1. Gue gak tahu kalo bakal segugup ini." lanjutnya mulai menyesali karena tidak membawa baju cadangan model lain.
Karena semakin detik semakin gugup, Lola mulai mencari keberadaan rokoknya. Sepertinya dia butuh beberapa batang agar lebih rileks. Tidak peduli kalau nanti parfum mahalnya tertutup dengan asap rokok yang terbang kemana mana. Toh dia dan Dewa juga tidak akan berada dalam jarak dekat banget.
Lola berjalan kebalkon, menghirup udara malam yang cukup sejuk dan mulai menghidupkan rokoknya. Lola mulai merasa tenang, dia harus belajar yakin dengan penampilannya saat ini, toh yang melihatnya hanya Dewa.
Terlalu fokus dengan pikirannya, Lola tidak sadar sudah menghabiskan hampir 3 batang rokok. Entah kenapa angin malam ini cukup membuat dia terlena. Apartemen Dewa yang terletak ditengah kota, dengan pemandangan lampu lampu jalan berbagai warna dan beberapa gedung tinggi, serta angin yang berhembus tidak terlalu kencang dan tidak sampai membuatnya kedinginan seperti dikirim oleh sang pencipta khusus untuk menemaninya. Hingga Lola tidak tahu ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya.
.
.
.
.
" apa gue mulai punya hobi baru sekarang??" tanya Dewa pada dirinya sendiri dengan mata yang melihat ke layar hp yang saat ini menampilkan hasil jepretannya.
" sepertinya gue harus konsultasi ke Reza." saran Dewa pada dirinya sendiri. Sejak Dewa dengan berani mengambil gambar Lola tanpa sepengetahuannya, entah kenapa Dewa merasa memiliki jiwa stalker. Dewa yakin kebiasaan dan jiwanya ada yang bermasalah.
Dewa berjalan menuju balkon, menghampiri Lola yang sepertinya tidak sadar dengan kehadirannya.
" apa lo gak kedinginan??" tanya Dewa yang tiba tiba berada dibelakang Lola.
Lola terkejut dengan pertanyaan yang tiba tiba masuk dipendengarannya. Karena terlalu hanyut dengan kegiatannya Lola sampai lupa kalau sedang menunggu Dewa. Lola langsung membalikkan badan dan mematikan rokoknya.
" tidak terlalu dingin tapi, cukup untuk membuat bulu kuduk meremang." jawab Lola asal.
" sudah bisa mulai makan??" tanya Lola pada Dewa.
Dewa menganggukan kepala sebagai jawabannya.
Lola berjalan mendahului Dewa menuju meja makan dan duduk disalah satu kursi yang sudah Lola siapkan. Diikuti Dewa dibelakangnya.
" cantik dan sexy." batin Dewa saat melihat Lola dari jarak dekat.
" sebentar, gue putar musik dulu biar gak terlalu sepi." ucap Lola sembari memilih lagu dihp nya.
" oke, silahkan dimakan. Maaf kalau tidak sesuai ekspektasi kak Dewa." ucap Lola dengan mulai memakan makanannya dan diikuti oleh Dewa. Tidak ada percakapan dari mereka selama menyantap makanannya. Mereka seperti sedang menikmati hari tenang, dengan mendengarkan lagu dari hp nya Lola dan ditemani makanan yang cukup lezat dilidah Dewa.
Setelah dirasa cukup dengan makanannya, Lola mulai membuka wine yang sudah dibawanya.
" kata kak Bryan, ini minuman yang sering dipesan sama kak Dewa. Jadi, gue beli satu botol buat malam ini." ucap Lola dengan menuangkan minumannya.
.
.
.
.
Mereka menikmati minumannya dibalkon apartemen Dewa. Tidak ada yang spesial karena mereka hanya membiarkan keheningan yang menemani mereka.
Lola terlalu bingung untuk memulai pembicaraan, dan Dewa terlalu biasa untuk keadaan saat ini, karena keadaanya yang sekarang hanya Lola yang menginginkan.
Setelah beberapa menit Lola menikmati minumannya, Lola melihat jam yang melingkar indah dipergelangan tangannya.
" apa kak Dewa sudah selesai??" tanya Lola.
" hm" jawab Dewa singkat.
" baikkah, kalau gitu akan Lola bereskan semuanya." ucap Lola mulai beranjak dari duduknya.
.
.
.
.
Beberapa menit berkutat didapur, akhirnya Lola selesai membersihkan dapur dan peralatan makan yang tadi digunakan untuk makan malam. Merasa misinya malam ini sudah selesai Lola bersiap pulang. Karena setelah ini Lola ada janji dengan teman temannya.
" kak, gue pulang dulu. Thanks buat waktunya malam ini." ucap Lola dengan menghampiri Dewa yang masih duduk dibalkon apartemen.
" lo pulang kayak gitu??? gak ganti baju??" tanya Dewa.
" habis ini mau ke pub, udah ditunggu sama yang lain. Jadi, gak sempet buat ganti baju. Lagian gue cuma bawa ini" jelas Lola.
" bye kak." pamit Lola pergi meninggal apartemen Dewa.
.
.
.
.
" ke pub dengan baju kayak gitu??" seolah Dewa baru sadar saat Lola sudah menutup pintu apartemennya.
" sh*t.. sial*n." umpat Dewa.
Dewa langsung mengambil kunci mobilnya. Tidak lupa membawa salah satu kemejanya yang cukup panjang lalu berlari mengejar Lola.
" lama banget sih ini lift nya." gerutu Dewa dengan ketidaksabarannya.
.
.
.
.
Lola terkejut saat tiba tiba tangannya ada yang menghalangi saat ingin membuka pintu mobil.
" parfum ini?!" batin Lola. Lola tahu betul ini milik siapa. Lola langsung membalikkan tubuhnya.
" biar gue anter." tawar Dewa. Sebelum menuju mobilnya Dewa memakaikan kemejanya pada Lola tanpa izin. Dewa tidak akan membiarkan laki laki mata keranjang melihat penampilan Lola.
" jangan dilepas. Tanpa izin dari gue." pesan Dewa dan hanya diangguki oleh Lola sebagai jawaban. Lola hanya bisa diam saat Dewa dengan seenaknya menggandeng tangan Lola menuju mobilnya.
Dewa membukakan pintu mobil untuk Lola tidak lupa memasangkan sabuk pengamannya.
" dia kenapa? perasaan tadi dia cuek cuek aja waktu makan malam gue pake ginian?" batin Lola yang penuh dengan pertanyaan.
.
.
.
.
" ntar pulang bareng gue." pesan Dewa saat Lola ingin membuka pintu mobil. Lola hanya diam, tapi, sejenak Lola mendadak kaku saat Dewa mulai mendekat kearah Lola, tangannya meraih jepit rambut Lola dan membiarkan rambut Lola terurai sempurna.
" udah, lo bisa masuk sekarang." kata Dewa saat merasa penampilan Lola sudah cukup aman. Lola hanya bisa mengangguk patuh tanpa tahu maksud dari perlakuan Dewa.
.
.
.
.
Pub Fly 22.00 wib
" tumben baru dateng?" tanya Dewa pada Bryan.
" ada urusan. Dimana yang lain?" jawab Bryan sekaligus memberikan pertanyaan.
" gak tau, gak ada janji buat kesini sebenernya." jawab Dewa dengan sesekali menikmati minumannya yang berkadar alkohol rendah.
" lo kesini sendiri. Tumben. Butuh pelepasan apa butuh kamar??" tanya Bryan dengan menunjukkan senyum miringnya.
" sial*n lo. Gue kesini nganter Lola beg*." jawab Dewa.
" apa ini bisa disebut awal yang baik??" tanya Bryan.
" belum tahu gue. Tadi dia ngajak dinner diapartemen gue, terus dia ada janji ama sobat sobatnya disini. Ya udah gue ikut sekalian." jelas Dewa.
" Kenda kapan balik? betah banget diSurabaya." tanya Dewa yang masih setia memandangi Lola dari lantai atas.
" belum tahu, tadi gue juga ditelpon kalau dia mau ngomongin sesuatu. Tapi, gak ngomong kapan pulang." jelas Bryan.
" gue kerja dulu." pamit Bryan dan dijawab anggukan kepala oleh Dewa.
.
.
.
.
Jam 00.30 Pub Fly.
Bryan keluar dari ruang kerjanya setelah mengecek laporan harian dari Pub nya. Didepan pintu dia disuguhkan pemandangan yang membuat cukup penasaran. Kerena posisi sahabatnya, Dewa tidak berubah. Hanya saja sudah ada beberapa gelas kosong didepannya. Dengan mata yang setia menatap kebawah.
" lo gak bosen??" tanya Bryan dengan berjalan menghampiri Dewa.
" maksud lo?" Dewa dengan pertanyaannya, tidak mengerti maksud dari pertanyaannya Bryan.
" lo udah dari 2jam lalu disini dengan tempat, posisi dan pandangan yang sama." jelas Bryan.
" 2jam??? masak sih???" tanya Dewa.
" sebenernya lo ngapain??" tanya Bryan.
" gue lagi liat orang joget, emang mau ngapaen lagi?!" jawab Dewa asal.
Bryan mengambil sebatang rokok dari saku celana dan menyalakannya. Mengambil posisi yang nyaman disamping Dewa dengan mata mengikuti arah pandang Dewa.
" gue balik dulu." ucap Dewa pada Bryan. Tanpa menunggu jawaban dari Bryan, Dewa buru buru turun menghampiri temen temen Lola, saat pandangannya tidak mendapati Lola dilantai dansa.
" Lola mana??" tanya Dewa pada sahabatnya Lola.
" udah pulang kak, baru aja pamit." jawab Rena.
" sial." umpat Dewa dan langsung pergi meninggalkan para sahabatnya Lola yang kepalanya penuh tanda tanya tidak mengerti dengan tingkah Dewa.
.
.
.
.
" apa yang lo lakukan brengs*k." saat mendapati seorang laki laki yang berusaha mengajak Lola masuk kedalam mobilnya.
" gue mau nganter cewek ini pulang. Udah jangan ganggu." kata laki laki itu, berusaha mengusi Dewa yang menghadang jalannya.
" gak usah, biar gue yang nganter." tawar Dewa.
" emangnya lo siapa?? mending lo pergi urus urusan lo sendiri." ucap laki laki itu dengan suara yang sedikit keras.
Dewa ingin sekali langsung merebut Lola, tapi, sepertinya laki laki itu tidak akan membiarkan Dewa mengambil Lola dengan mudah. Saat mata Dewa tidak sengaja memperhatikan Lola yang sudah duduk didalam mobil, Dewa benar benar sudah tidak dapat manahan kemarahannya.
" dasar laki laki brengs*k. Apa yang sudah lo kasih ke Lola bangs*t?!" teriak Dewa dihadapan laki laki itu, tidak lupa memberikan sebuah pukulan diwajahnya. Tidak membiarkan laki laki itu menjawab, Dewa memberikan pukulan lagi diwajah dan perutnya hingga laki laki itu terjatuh menahan sakit.
Dewa langsung mengangkat Lola, membawa menuju mobilnya. Setelah dirasa nyaman dan sabuk pengaman sudah terpasang, Dewa menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
.
.
.
.
Fokus Dewa terbagi antara menyetir dan memperhatikan kondisi Lola, karena sedari tadi Lola bergerak tidak nyaman. Ini bukan karena mab*k, Dewa tahu itu. Karena saat pertama kali Dewa membawa Lola karena mab*k respon tubuhnya tidak seperti ini. Lola mulai membuka kancing kemeja yang dipakaikan Dewa, dia juga melepas sabuk pengamannya.
" kenapa panas banget sih?! ac mobilnya mati ya?" racau Lola dengan tangan mengatur tombol ac mobil.
Dewa hanya membiarkan Lola dan sesekali melihat kondisinya. Sekarang bukan waktunya melarang larang Lola, karena Dewa harus fokus dengan kegiatan menyetirnya agar segera sampai diapartemen dengan cepat dan selamat.
" akhirnya sampe juga." ucap Dewa dengan mematikan mesin mobilnya.
" sh*t apa yang lo lakuin Lola?!" ucap Dewa saat melihat kondisi Lola. Lola baik baik saja, tapi keadaannya sekarang benar benar membuat Dewa menjadi tegang.
.
.
.
.
TBC