.
.
.
Pagi hari masih diapartemen Dewa.
Setelah Lola mematikan alarm jam nya, dia beranjak dari posisi berbaringnya, merenggangkan otot ototnya lalu merapikan selimut dan bantalnya. Berjalan kekamar mandi, membersihkan tubuhnya sebentar lalu mulai masuk dapur, mencoba melihat isi kulkas dan mengelurkan bahan yang bisa digunakan untuk membuat sarapan.
Setelah 2 jam berkutat didapur dan menghasilkan cap jay dan ayam goreng tidak lupa nasinya, Lola mulai menata dimeja makan dan membereskan dapur secepatnya. Dia ada kelas jam 10 pagi jadi dia harus bergegas pulang dan bersiap untuk kuliah. Tidak peduli Dewa belum bangun yang penting urusan Lola diapartemen Dewa sudah selesai.
"gue pulang dulu, jangan lupa sarapan." ucap Lola didepan wajah Dewa yang masih nyenyak tertidur. Merapikan selimut Dewa lalu beranjak pergi dari apartemennya Dewa.
.
.
.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Dewa membuka matanya. Ya, Dewa sudah bangun sedari tadi tapi dia pura pura tidur kembali. Tidak ada alasan kenapa dia melakukan itu, Dewa hanya reflek menutup matanya saat melihat ada pergerakan dari orang yang tertidur diseberangnya yang ternyata adalah Lola.
Dewa tidak berfikir bahwa Lola akan bersedia membuat sarapan sebelum dia pergi. Dia terlihat seperti gadis pada umumnya yang jarang masuk dapur, namun nyatanya Dewa salah, setelah melihat Lola dari belakang saat berkutat didapur Dewa bisa mengambil kesimpulan Lola cukup mahir dalam memasak.
"sexy..." batin Dewa saat melihat Lola memasak dari belakang.
Beranjak dari tidurnya Dewa duduk dimeja makan dan mulai mencicipi makanan yang dibuat Lola. Melupakan kalau dia belum membersihkan diri atau menggosok giginya.
"apa ini salah satu cara dia buat PDKT ???" tanya Dewa pada diri sendiri setelah mencicipi makanan yang dibuat Lola.
.
.
.
Dikantin kampus, makan siang.
"gimana kemarin malem???" tanya Ana pada Lola.
"ternyata bawa pulang orang mab*k itu melelahkan." jawab Lola dengan memakan baksonya.
"apa gak terjadi sesuatu???" tanya Ana dengan menatap Lola penuh selidik.
"gak ada. Setelah sampe, terus tidur. Itu aja gue rebahin disofa. Berat banget beg*, tenaga gue udah habis buat bawa dari parkiran sampe apartemen." jelas Lola.
"hai girls... " sapa Reza yang ikut duduk dengan Lola CS, disusul Denis dan Bryan.
"kenapa cuma bertiga???" tanya Ana.
"Kenda masih ada bisnis." jawab Denis dan diangguki oleh Tara tanda membenarkan jawaban dari Denis.
"kalo yang lo maksud Dewa, tuh.... " jawab Reza dengan menunjuk arah pintu masuk kantin.
"hah sial*n.... gue bener bener pengen ngumpat sekarang." sela Lola.
"nih minum dulu, biar adem." tawar Sila dengan menyodorkan jus jeruknya.
"thanks, tapi gue belum butuh." jawab Lola.
"kenapa gue merasa lo sedikit sensi ya??? lo lagi PMS???" tanya Tara penuh selidik.
"apa lo merasakan sesuatu karena lihat Desa dengan Sinta???" tanya Rena.
"kalo untuk sekarang gue masih belum merasakan apa apa." jawab Lola tegas.
"lo gak keganggu liat Dewa digelayuti ama tuh cewek??" tanya Rena.
"biasa aja, kemarin gue malah liat mereka main dikelas fakultas hukum." jawab Lola santai.
"lo diem aja???" tanya Sila pada Lola.
"ya mau gimana lagi, ceweknya ngasih cowoknya juga mau. Gue harus gimana dong????" tanya Lola pura pura beg*.
"lo nonton live??" tanya Tara.
"ya gak langsung juga, gue nunggu didepan kelas sambil dengerin musik, ya kali gue langsung masuk yang ada malah ngerusak moment. Gak enak tau kalo setengah setengah." jawab Lola.
Mereka hanya tertawa pelan sambil berpandangan. Beda respon dengan teman teman Dewa, mereka seolah tidak mengerti jalan pikiran Lola, bagaimana bisa Lola membiarkan cowok yang dijodohkan dengan bermesraan didepan mata dengan wanita lain.
Dewa dan sinta, mereka berdua ikut bergabung dengan meja Lola cs setelah memesan makanan. Bukan pemandangan yang asing bagi mahasiswa dan mahasiswi universitas Karya Merdeka bila melihat lima predator bergandengan dengan cewek apalagi dalam hitungan hari sering bergonta ganti.
.
.
.
"apa yang lo lakukan??" tanya Denis pada Dewa.
"apa maksud lo???" tanya Dewa balik dengan mengangkat satu alisnya tanda tidak mengerti.
Reza mengangkat dagunya menunjuk ke arah Lola sebagai jawaban dari pertanyaan Dewa.
"gue sedang menikmati istirahat gue. Apa lagi??" bela Dewa.
"dengan mengajak Sinta disini??" tanya Denis.
"apa yang salah?? apa lo gak liat Sinta lagi manja ke gue??" tanya Dewa balik.
"biarin aja, itu gak akan lama." sela Bryan ditengah tengah perdebatan para sahabatnya.
.
.
.
Ingin sekali mereka mengumpat lihat kemesraan Dewa dan Sinta, mereka berdua jelas sadar tidak ada yang membawa pasangan tapi kelakuan Dewa dan sinta seolah olah mengejek mereka yang ada disana. Bukan mereka semua sebenarnya, tapi Dewa ingin menunjukkan kepada Lola meskipun perjodohan itu dilanjutkan kelakuan Dewa tidak akan berubah. Dan meskipun Lola meminta waktu PDKT tidak akan bisa merubah keputusan Dewa.
Sahabat sahabat Lola menatap Lola dengan prihatin, meskipun tidak ada perlakuan yang kentara tapi tatapan mata mereka sudah menjelaskan semuanya. Bagaimana bisa sahabat mereka yang tidak pernah pacaran malah mendapat calon seorang playboy sekelas suhu. Dan dengan kedua matanya sendiri si calon sedang 'main' bareng didepan Lola. Ibarat main game sekarang Lola sudah pasti 'doble kill'.
.
.
.
"eh elo... ??? kita ketemu lagi?!" sapa Sinta pada Lola.
"halo kak?! iya, gak nyangka ya ternyata kampus kita gak seluas hati wanita yang terdzolimi. Cepet banget ketemu lagi." jawab Lola dengan santai.
"bahasa lo kayak cewek merana aja." timpal Sinta.
"lo masih ngejar ngejar Dewa???" lanjut Sinta dengan senyum meremehkan.
"nih liat, dia udah jadi milik gue." lanjut Sinta dengan manja kepalanya dia senderkan dibahu Dewa.
"selamat kak. semoga langgeng. Kalau gitu gue pergi dulu ada kelas." jawab Lola dengan beranjak dari kursinya. Baru beberapa langkah Lola berbalik dan menghampiri Sinta.
"lain kali kalo diajak 'main' jangan mau dikelas. Keluarga Wicaksana gak akan bangkrut kalau uangnya hanya buat sewa hotel." pesan Lola dengan menunjukkan senyum manisnya.
Dan langsung disambut senyum tertahan sahabat sahabat Lola disana.
"sial*n tu cewek." batin Sinta.
.
.
.
"beb Dewa kenapa gak bela aku sih??" tanya Sinta pada Dewa.
"ngapaen buang buang tenaga gak penting juga." jawab Dewa santai.
"jadi maksud kamu aku gak penting???" tanya Lola.
"enggak, biasa aja. Udah, ayo gue antar pulang." ajak Dewa.
Sinta hanya bisa menghentakkan kakinya kesal. Jelas dia hanya bisa melakukan itu, dekat dengan Dewa butuh waktu panjang dan menunggu Dewa khilaf, jadi kalo Sinta terus menuntut perhatian dan cinta dari Dewa yang ada Sinta bakal dibuang hari ini juga. Sinta belum pamer, mana mungkin dia melepaskan Dewa sekarang. Terlalu berharga kalau lepas sekarang. Ibarat ikan, Dewa itu tangkapan besar jangan sampai lolos.
.
.
.
"apa Lola baik baik aja??" tanya Rena.
"untuk sekarang gue yakin dia baik baik aja." jawab Tara.
"bagaimana lo tau??" tanya Ana.
"karena kalo dilihat dari waktu mereka bertemu dalam artian tahu kalo Dewa orang yang dijodohkan dengannya itu baru beberapa hari yang lalu, dan kalo menurut gue, Lola bukan tipe cewek yang ketemu beberapa kali langsung jatuh cinta. Apa lagi saat tahu kelakuan si cowok kayak gitu." jelas Tara.
"gue setuju ama Tara, lagian kalo seumpama Lola udah punya perasaan ke kak Dewa, pasti Lola sudah pasang hati buat berada dikeadaan kayak gini." timpal Sila.
.
.
.
" mau taruhan???" tawar Denis pada sahabat sahabatnya.
"soal apa??" tanya Ana.
"Dewa dan Lola." jawab Reza singkat.
"menurut kalian hubungan Dewa dan Lola endingnya bagaimana???"
"perjodohannya bakal batal. Gue bertaruh 1 juta buat prediksi gue." jawab Denis.
"Lola gak mungkin nyerah. Gue yakin kak dewa bakal luluh dengan usahanya Lola. Gue bertaruh 500rb dengan keyakinan gue." jawab Ana.
"gue ngikut Ana." jawab Sila.
"gue juga." timpal Rena.
"kalo gue tetep dukung Lola, gue yakin perjodohan mereka tetep lanjut. Gue pasang 500rb." jawab Tara.
"kalo gue, cukup bingung juga. Mereka diposisi yang sama. Yang satu baru mengenal hubungan yang satu udah terlalu sering berhubungan. Ya, mungkin aja dari sini Dewa berubah dan memilih Lola jadi satu satunya. Gue pasang 1juta dukung Lola." jawab Reza dengan jelas.
"oke, kita tunggu satu bulan kedepan." timpal Rena.
"kak Bryan gak ikut??" tanya Ana.
"gue bertaruh, perjodohan mereka batal dan Dewa bakal nyesel. Gue pasang 2juta." jawab Bryan.
"kenapa kak Bryan bisa nebak begitu???" tanya Tara dengan menatap Bryan.
"Dewa berada diposisi kebebasannya sekarang, meskipun Lola PDKT selama apapun kalo Dewa belum mau berhenti, usaha Lola bakal sia sia. Terus Lola, meskipun Dewa tidak dekat dengan Lola, tapi dibalik itu Dewa sadar Lola calon yang sempurna buat dia dan keluarganya. Perjodohan mereka bakal batal bisa jadi Lola yang memutuskan perjodohan ini, tapi penyesalan juga akan menghantui Dewa." jelas Bryan.
"ganti jawaban boleh gak sih?? gue kok setuju ama pendapatnya kak Bryan." tanya Ana.
"no. Kagak bisa. Jawabannya yang tadi udah final." jawab Reza.
.
.
.
Sore hari diapartemennya Dewa.
Dewa mematung didepan pintu saat mengetahui siapa yang sore sore dengan lancangnya memencet bel apartemen dan mengganggu acara istirahatnya.
Seorang gadis dengan pakaian seadanya, kaos pendek warna abu abu dan celana pendek setengah paha warna hitam, rambut yang digelung asal diatas kepala, tas ransel dan kedua tangan yang penuh dengan belanjaan.
"apa benar dia keturunan dari keluarga Agrisa??" tanya Dewa dalan hati. Karena, penampilannya Lola sekarang jauh dari kata elegan yang selalu melekat pada anak orang kaya. Meskipun kecantikannya tetap tidak berkurang.
"ada apa??" tanya Dewa pada Lola didepan pintu.
"mau ngajak dinner." jawab Lola.
"dimana??? ini masih terlalu sore buat dikatakan dinner." tanya Dewa dengan melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
"disini aja. Gue yang masak." jawab Lola dengan menampilkan tentengan belanjaan yang ada dikedua tangannya.
"terserah loh aja. Gue mau lanjut tidur." jawab Dewa singkat dengan membiarkan pintu terbuka, tanda Lola dipersilahkan masuk.
"jangan berantakin apartemen gue. Kalo lo mau tidur, disitu ada kamar yang bisa lo gunain." ucap Dewa lalu naik kelantai dua menuju kamar pribadinya tanpa repot repot menunggu jawaban dari Lola.
.
.
.
.
TBC