Cap. 12

1113 Kata
. . . "siapa yang lo lihat???" tanya Dewa pada Bryan yang sedari tadi fokus melihat lantai dance. "adiknya Kenda bareng temen temennya." jawab Bryan dengan mata fokus pada segerumbulan cewek yang sedang asyik menngoyangkan tubuhnya. Tidak, Bryan tidak melihat semua, Bryan hanya fokus pada satu cewek, Tara. "gue penasaran, kemarin kata Reza dan Denis gue dilarang bertanya karena mereka mau jadi cowok beg*, tapi sekarang gue beneran pengen tau. Apa yang lo lakuin ke Tara??" tanya Dewa pada Bryan dengan menikmati rokok. "gue gak suka mata para cowok cowok brengs*k itu ngelihat mereka." jawab Bryan tidak nyambung. "gak usah sok sok an ngalihin pembicaraan." timpal Dewa "lalu apa yang lo lakuin ke Lola??" tanya Bryan dengan menikmati minumannya. "gak banyak. Karena dari awal gue bakal nolak, jadi ya... cuma ngasih tanda doang."jawab Dewa. "gak usah sok amatir didepan gue. Gue hapal betul kelakuan lo." timpal Bryan dengan senyum miringnya. "ahhhhhh elo... gue berasa kepergok bangs*t. Gue cuma bantu Lola dapetin pelepasan pertamanya." jawab Dewa santai. "enak...???" tanya Bryan. "apanya???" tanya Dewa balik. "nahan sendirian." terang Bryan dengan senyum miringnya lalu meninggal Dewa dengan segala umpatannya. "sial*n lo Bry... " umpat Dewa. "Lola.... Lola.... tubuh lo bener bener candu. Nahan diri biar kagak keterusan. Sekarang malah tambah penasaran. aaahhhhh sh*t Bryan brengs*k ngotorin otak m***m gue aja." gerutu Bryan yang masih bisa didengar Reza dan Denis yang tiba tiba ada disampingnya. "lo bod*h apa beg*??? kalo udah m***m berarti ya udah kotor namanya." timpal Denis. "gimana nasib klien lo kalo nanti pengacaranya elo." sela Reza. "diem bangs*t... gue lagi cari pasal yang bisa ngedukung gue buat nidurin Lola tanpa harus membuat gue malu???" bela Dewa dengan menikmati rokoknya. "malu..???" tanya Denis tidak mengerti. "ohhhhh sobat gue Denis kenapa juga lo mendadak lemot. Ya jelas Dewa bakal merasa malu. Diawal perjodohan udah terang terangan nolak, eh sekarang malah pengen nidurin." jelas Reza. "ohhhhh....tapi kalo Dewa benar benar melakukan itu, udah jelas Dewa seorang cowok brengs*k yang beg*". timpal Denis. Dan langsung didukung dengan Reza yang tertawa ngakak seolah olah sedang mengejek Dewa. . . . "jadi apa keputusan Tara???" tanya Bryan yang tiba tiba datang dan ikut duduk dengan mereka bertiga. "dia minta waktu satu bulan buat PDKT. Kalau setelah PDKT itu keputusan gue gak berubah, Lola juga bakalan nolak perjodohan ini." terang Dewa. "waoowwwww satu bulan buat PDKT, apa bisa membuat predator kayak lo tobat??? terdengar mustahil." ucap Reza dengan memberi tanggapnnya. "sepertinya itu bukan masalah membuat tobat atau enggak. Kalau dilihat dari sifatnya Lola, Lola cenderung memikirkan sesuatu sebelum memberi keputusan. Jadi dari permintaannya Lola, Lola terkesan ingin mencobanya dulu, alih alih langsung menolak. Ibarat kata, dia akan menyerah bila memang usahanya telah kalah." tanggapan Denis. "gue suka pemikirannya Lola. Dia ingin memastikan bila nanti dia gak akan menyesal meskipun perjodohannya gagal. Karena Lola sudah berani mencoba." timpal Bryan. "kalian tahu Lola bilang apa ke gue?? Dia bilang, kalo playboy itu bukan penyakit turunan tapi penyakit yang timbul dari diri sendiri. Jadi bila kak Dewa tidak ingin berhenti maka Lola juga tidak bisa menghentikannya." jelas Dewa. "gue setuju ama Lola." ucap Reza. "dan sekarang Dewa sudah merasa nyaman dengan kelakuan playboynya, jadi untuk melepaskan keplayboyan nya dia masih belum siap. Padahal kandidat cewek yang dipilih untuk membuatnya berhenti cukup menggiurkan." lanjut Reza. "kalo lo terlalu nyaman dengan keadaan lo sekarang, takutnya lo yang akan menyesal. Karena lo seperti udah bangun tembok yang tinggi diawal agar Lola gak bisa mengusik kenyamanan lo." terang Denis. "tapi, sepertinya Lola lebih siap dari yang elo pikirkan." timpal Bryan. "maksud lo??" tanya Dewa. "dia hanya meminta waktu satu bulan, jelas dia sadar waktu segitu gak akan cukup buat nakhlukin elo. Tapi, dia tetep mencoba. Berarti dia bener bener siap dengan hasil terburuknya." jelas Bryan. "dan gue yakin Lola gak akan menyesal dengan permintaannya ini, meskipun disini Lola terkesan yang mengejar ngejar elo." lanjut Bryan. Tidak ada sanggahan dari Dewa, Dewa hanya menikmati minumannya yang entah sudah habis berapa gelas. Mendengarkan omongan para sahabatnya membuat pikiran Dewa mendadak jadi serba salah dan mulai bimbang dengan keputusannya. Haruskah Dewa menyalahkan sahabat sahabatnya yang sudah banyak omong??? padahal nyata para sahabatnya hanya memberikan pendapat tanpa memaksa Dewa untuk menerimanya. "aaahhhhhh.... gue udah gak kuat, gue pengen balik." ucap Dewa dengan beranjak dari duduknya. "gue anter." sela Bryan dengan memapah tubuh Dewa yang sudah tidak bisa berdiri tegak. "lo tunggu dimobilnya Dewa. Gue panggilin sopir istimewa buat Dewa." ucap Reza pada Bryan. . . . "nih... katanya lo mau PDKT sama Dewa. Gue kasih jalan buat permulaan. Dia mab*, sekarang jalan keparkiran dianter Bryan." ucapa Denis yang tiba tiba datang menghampiri Lola dengan menyodorkan kartu akses apartemen Dewa. Lola masih tidak bergeming. Pikirannya mendadak bingung, belum bisa berfikir apa yang seharusnya Lola lakukan??? masuk kekandang predator jelas bukan pilihan yang bijak, meskipun predatornya teler dan gak sadar. Nasib baik waktu mabuk kemarin Dewa cuma ngasih kissmark, tapi malam ini siapa yang tahu?? Padahal dulu Dewa ngelakuin hal yang lebih dari itu, Lola nya saja yang lupa gara gara mab*k. "kenapa??? lo gak mau???" tanya Denis. "udah sono, pergunakan kesempatan yang datang dengan baik." dukung Sila dengan mengambil kartu apartemen Dewa dan memberikannya pada Lola. . . . Apartemen Dewa Dengan usaha yang keras akhirnya Lola berhasil membawa Dewa pulang dengan selamat. Meskipun butuh perjuangan extra untuk merebahkan tubuh kekar Dewa. Lola merebahkan tubuh Dewa disofa depan televisi, jujur kalau harus membawa Dewa sampai kamar Lola gak sanggup. Setelah dirasa nyaman, Lola melepaskan jaket dan sepatunya Dewa, mengambil selimut dan bantal dikamar Dewa. Dan mulai dari sini Lola bingung, sekarang apa yang harus Lola lakukan. Pulang kerumah apa nginap dirumah Dewa. Lagi pula kendaraan Lola ada di pub dan sekarang waktu sudah menuju pagi. Akhirnya dengan berat hati Lola memutuskan untuk menginap dirumah Dewa. Mengambil selimut dan dan bantal tambahan dari kamar Dewa, Lola mulai merebahkan tubuhnya disofa berseberangan dengan Dewa. "entah apa yang gue lakukan sekarang. Bahkan gue gak punya pengalaman PDKT." ucap Lola dalam hati dengan menatap wajah Dewa yang terlelap tidur. Hinggah akhirnya Lola mulai lelah dan tertidur. . . . Pagi hari apartemen Dewa. "uuggghhhh..." Dewa merenggangkan otot otot tubuhnya, dengan mata masih menatap langit langit. Mencoba mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam. "siapa yang nganter gue?? bener ini rumah gue." tanya Dewa pada diri sendiri. Dewa mulai mengedarkan pandangannya dan menemukan seseorang yang sedang tertidur disofa yang berseberangan dengannya. Tidak tahu siapa karena posisi Lola yang membelakangi Dewa. Hingga suara hp diatas meja menyadarkan Dewa, dan membuat Lola terusik. Alarm jam,, tangan Lola meraih hp diatas meja dan mematikan alarm nya. Sedangkan Dewa pura pura tidur lagi. "sh*t... ngapain juga gue harus pura pura tidur lagi??" batin Dewa bertanya pada diri sendiri. . . . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN