Marcel bertanya kepada Michelle dengan nada yang sangat mengintimidasi. Wanita itu langsung menarik napasnya dalam –dalam lalu membuang mukanya. Pria itu cukup mengenalnya dan sebisa mungkin Michelle tak membuat Marcel curiga kepadanya. Kalau sampai Marcel curiga, bisa habis dia! Pria di hadapannya ini sebenarnya jauh lebih berbahaya daripada sepupu sialan yang tak mau diakuinya itu. Kenapa? Marcel lebih tak kenal ampun dibandingkan dengan Ares.
“Apa salahnya aku pulang terlambat? Aku sedang ada masalah dan menenangkan diri sebentar,” jawab Michelle sesantai mungkin membuat Marcel hanya memicing kepada wanita itu. Ekspresi yang terkesan datar dan biasa saja. Marcel tak bisa menilai apa yang sebenarnya dilakukan wanita ini hanya dari ekspresinya saja.
“Begitu kah? Michael menanyaimu sejak tadi sore bahkan kepadaku. Kamu yakin tidak menerima panggilan darinya?” tanya Marcel lagi membuat Michelle agak terkejut.
“A –aku tidak menghidupkan ponselku, Mas! Sudah lah! Jangan bertanya yang aneh –aneh! Tidak baik ipar berbincang seperti ini di tengah malam. Kita sekarang kakak- adik kan? Jangan berharap lebih ya, Mas Marcel!” jawab Michelle sambil memberi senyum mengejeknya kepada Marcel.
“Michelle, aku tidak sedang memikirkan soal itu sekarang! Kamu yang sekarang bukan lagi wanita yang aku cintai dulu. Aku hanya perlu berhati –hati dengan sikap dan tindakanmu yang bisa menusukku dari belakang kapan saja kan? Ya, kalau begitu selamat malam saja,” balas Marcel lalu melangkah ke kamarnya meninggalkan Michelle yang terdiam di tempatnya. Wanita itu menghela napasnya lega sambil menutup matanya.
‘Untung saja dia tidak bertanya yang aneh –aneh lagi!’ Michelle langsung masuk ke kamarnya dan beristirahat. Hari besok akan datang dan dia akan menghadapi hari demi hari dengan segala kekuatan yang dia miliki.
Langit gelap malam berganti dengan terang karena matahari telah menyinari langit. Michelle mengerjapkan matanya dan perlahan memerhatikan sekitarnya. Di sebelah ranjangnya kosong, karena Michael sang suami sedang dalam perjalanan bisnis di luar kota. Ia perlahan mendudukkan dirinya di ranjang sambil mengumpulkan kesadarannya.
“Oee!! Oee!!” tangisan Rose mengalihkan perhatian Michelle dan langsung saja dia berdiri untuk menenangkan bayi kecilnya itu. Michelle mengayunkan box bayi Rose sambil menyeimbangkan dirinya yang baru terbangun. Saat akan menggendong Rose, tiba –tiba dia melihat sebuah tangan pucat yang memegang box bayi Rose dan membuatnya mendongak.
‘DEG!’
Michelle terkejut, bahkan jantungnya terpacu berkali –kali lebih cepat. Napasnya mulai tersenggal –senggal karena melihat Mikaela yang menatapnya dengan penh kemarahan dan dendam. Saat tangan pucat itu mencoba meraih bayinya, dengan cepat Michelle meraih Rose menjauh dari sosok menyeramkan Kaela yang bisa disebut juga sebagai bayangan mimpi buruk atau hantu.
“Kenapa kau membunuhku, Michelle?”
“Mbak! Pergi! Jangan sakiti anakku!” teriak Michelle karena sosok itu terus saja berjalan mendekat kepadanya.
“Kau tidak memikirkan anak –anakku? Kau pikir mereka bisa hidup tanpaku?”
“Pergi! Pergi!!! Jangan sakiti putriku!” Michelle berteriak sejadi –jadinya. Tak lama, dia melihat bayangan kedua telapak tangannya berdarah yang semakin membuatnya ketakutan setengah mati. Suara tangisan Rose yang semakin menjadi –jadi membuat pikiran Michelle kacau di pagi hari
“Arrgghh!! Pergi kau!!” teriaknya semakin tak terkendali.
‘CEKLEK!!’
Pintu kamar terbuka dan terlihatlah anggota lainnya dari keluarga Buana yang datang ke kamar Michelle saat mendengar suara teriakan histeris dari wanita itu. Dengan sigap, mereka semua menghampiri Michelle dan Ribka meraih Rose yang sedari tadi menangis dalam gendongan ibunya.
“Ada apa?” tanya Elmand kepada menantunya.
“Dia ingin membunuh anakku!” jawab Michelle histeris.
“Siapa?” tanya Marcel lagi.
“Itu dia Mbak…” Seketika perkataan Michelle terhenti. Ia membekap mulutnya sendiri karena nyaris membuka kejahatan yang baru saja dia lakukan tadi malam. Yang lain masih bingung karena perkataan Michelle malah setengah –setengah dan sama sekali tak jelas.
“Mbak?” Ribka bertanya lagi kejelasan dari menantunya.
“Mbak kunti! Mu –mungkin di rumah ini ada hantu, Ma!” Michelle menjawab dengan kebohongan yang dia buat demi menutupi kesalahannya.
“Kunti? Hantu? Candaan macam apa itu, Michelle? Sudah berpuluh tahun kami semua tinggal di sini dan baru kali ini kami dengar mansion ini ada hantu? Kamu mimpi apa?” tanya Ribka merasa menantunya itu sangat aneh. Marcel hanya diam sambil mencoba memikirkan apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Michelle. Tidak mungkin ada pembicaraan soal makhluk halus di sini. Setelah berpuluh tahun, Marcel baru mendengar semuanya.
“Tapi Ma, me –memang dulu katanya kalau ada bayi ma –makhluk seperti itu bisa saja muncul.” Michelle berkilah membuat yang lain saling menatap satu dengan yang lain.
“Sudahlah Michelle! Kamu cepat bersiap, biar Mama yang urus Rose ya,” kata Ribka kemudian semuanya keluar dari kamar Michelle.
Setelah semuanya keluar, Michelle langsung lemas dan terduduk di ranjangnya. Ia menangis sejadi –jadinya bukan karena merasa bersalah, tapi takut. Sesudah beberapa menit, dia berjalan ke kamar mandi dan menghidupkan shower. Ia perlu air dingin untuk menenangkan dirinya yang terlalu banyak memikirkan hal yang tak mungkin. Michelle dari dulu percaya tidak ada hantu dan semua itu hanya khayalannya saja. Dan saat sibuk keramas, tiba –tiba dia merasa ada yang sosok yang memperhatikannya. Ia membuka matanya dan lagi dia melihat Kaela dengan rambut panjangnya yang tergerai dan tatapan penuh luka.
“Jangan! Jangan bunuh aku! Kau harusnya pergi dengan tenang bersama dengannya!!” teriaknya sambil menutup matanya sendiri. Setelah beberapa menit, Michelle membuka matanya dan di sekitarnya tak ada siapa pun. Tubuhnya kembali bergetar karena dipenuhi ketakutan. Perlahan, dia membuka mata dan kembali memerhatikan sekitar.
‘Tidak, tak ada siapa pun! Michelle, jangan pikirkan mereka lagi! Mereka sudah mati!’ batin Michelle lalu menyelesaikan acara mandinya.
***
“Pak Heinry, hanya ini yang kami temukan setelah melakukan pencarian satu malaman,” kata salah seorang anggota Tim SAR sambil memberikan sebuah blus wanita yang diyakini adalah milik dari adiknya. Heinry menatap blus dengan bercak darah dengan tatapan nanar.
Ia tak percaya! Ia menatap dan memegang erat blus itu dengan kedua tangannya. Perasaannya begitu sakit dan sesak karena tak mau percaya kalau ini nyata. Blus itu kelihatan rusak seakan baru tercabik habis, mungkin oleh hewan buas.
“Kaela… ini tidak mungkin kan? Kamu masih hidup kan? Kamu tidak boleh mati, adikku! Jalanmu masih panjang! TIDAKK!! Kalian harus cari dia sampai dapat!!” teriaknya tak terkendali. Sepanjang malam hingga pagi, Heinry sama sekali tak pulang demi memastikan sendiri kalau Mikaela masih hidup. Dan Anye sudah lebih dulu kembali karena harus mengurus anak –anak yang ada di rumah.
“Pak, kami menemukan sepasang sepatu yang juga sudah rusak,” kata anggota tim yang membawakan sepasang sepatu wanita yang kemudian dilihat oleh Heinry. Tak salah lagi! Ini memang sepatu milik adiknya!
“Kemungkinan, korban dilahap oleh binatang buas, karena danau di sekitar sini masih belum dinyatakan aman dari reptil seperti buaya dan ular,” ujar sang kepala tim membuat Heinry semakin terpukul.
Pria yang berusia nyaris kepala empat itu memeluk blus dan sepatu milik adik perempuan yang sangat dia sayangi itu. Air mata terus saja berderai karena duka yang tak kunjung selesai. Baru saja dia kehilangan ayahnya, kemudian disusuli oleh adiknya pula? Dia sama sekali tak terima akan semua ini! Heinry hancur, karena saat ini dia benar –benar sendiri. Walau memang dia punya istri dan anak –anak juga Selena, keponakannya. Tapi keluarga sedarahnya sudah pergi semua dengan cara yang tak seharusnya.
‘Kenapa? Kenapa semuanya pergi seperti ini? Ini sungguh tidak adil!’ batin Heinry merasa begitu pilu. Dan ya, kasus ini masih akan terus diusut oleh Heinry sampai dia menemukan kebenarannya.
***
“Apa? Mikaela kecelakaan? Sial! Bagaimana pekerjaanku bisa selesai di sini kalau begitu? Apa dia selamat?” tanya Helios kepada bawahan yang selama ini dia suruh untuk mengawasi pergerakan Mikaela. Ini memang diperlukan karena dia ingin memastikan Mikaela menandatangani surat penyerahan segala hak waris William Simon atas nama Ares Pratama secepatnya.
“Tuan, dari yang kami dengar di lapangan, sepertinya Nona Mikaela meninggal karena dilahap hewan buas dan lagi kecelakaannya sangat serius karena mobilnya menabrak pembatas danau Santer hingga tenggelam lalu meledak,” terang bawahannya membuat Helios terbelalak saking tak percaya.
Kemungkinan kalau Mikaela meninggal? Itu benar –benar di luar dugaan Helios. Pria itu sungguh tak menyangka kalau semua kecelakaan dan kegilaan ini terjadi saat mereka semua datang ke Indonesia. Ares dinyatakan meninggal karena kecelakaan dan Mikaela juga tak lama setelahnya. Helios merasa ada seseorang yang merencanakan semua kegilaan ini demi keuntungan pribadinya.
‘Kalau orang itu membunuh Tuan Ares dan Mikaela, mungkin saja target mereka setelah ini adalah si kembar sebagai ahli waris sah dari semua harta yang sangat banyak dan melimpah itu. Pasti! Orang itu mengincar harta Tuan Ares! Aku harus melindungi kedua bayi ini dari bahaya yang mengincar mereka berdua.’ Helios membatin. Dia berulang kali berpikir perihal keadaan anak –anak Ares yang sangat menyedihkan.
“Siapkan keberangkatan ke Boston secepatnya! Kita tidak boleh berada lebih lama lagi di sini!” perintahnya sebagai keputusan.
“Siap, Tuan!” ujar para bawahannya dengan loyal.
Helios pun berjalan masuk ke kamar bayi dan melihat para perawat sedang mengasuh kedua bayi itu dengan sangat baik. Ia menatap nanar dari kejauhan kedua bayi yang sangat kasihan itu. Usia mereka baru satu bulan, tapi sudah harus kehilangan kedua orang tua mereka. Helios mengepalkan tangannya sendiri, karena dia lah yang bertanggung jawab soal melindungi si kembar dari orang –orang jahat yang mencoba membahayakan mereka. Dia adalah wali yang akan memberikan kasih sayang kepada mereka setelah ini.
‘Tuan, aku akan merawat putra dan putrimu dengan baik. Akan kulindungi mereka berdua dengan segenap kekuatan juga kesungguhanku,’ tekad Helios dalam hatinya. Dan untuk saat ini, dia harus membawa keduanya ke Boston. Helios memang akan punya tanggung jawab berkali –kali lipat karena harus memastikan segala milik Ares aman dan keluarga dari tuannya bisa mendapat hak mereka di masa depan.
“Anak –anak tidak bertanggung jawab untuk kesalahan orang tuanya dan aku percaya itu!” gumamnya lagi lalu segera bersiap untuk kembali ke Amerika.
***
Marcel terdiam melihat berita di layar kaca yang menunjukkan kecelakaan yang membuat sebuah mobil meledak di danau Santer. Dan lagi, identitas dari korban sudah ditemukan. Pria itu benar –benar tak percaya kalau hal yang seperti ini bisa tiba –tiba menimpa sang korban yang tak lain adalah wanita yang masih menyandang status istri sahnya, Mikaela Cassandra Djuanda.
“Bagaimana bisa kau mati dengan cara gila seperti itu, Kaela?” herannya tak menyangka. Pria itu jelas terkejut batin. Walau dia tak suka kepada Mikaela setelah semua yang terjadi, dia tidak menginginkan kematian wanita itu. Dia hanya ingin Mikaela tidak mendapatkannya segalanya dengan mudah seperti dulu dan bahagia bersama orang yang dia benci. Hanya itu!
‘Apa ini direncanakan? Ada yang mau membunuh Kaela?’ batinnya lagi sambil mengepalkan tangannya dengan penuh rasa geram. Dia masih punya sedikit perasaan yang mungkin disebut sebagai kasihan kepada Mikaela yang malang itu. Tapi tak lama, dia teringat sesuatu hal. Ya, hal yang dia dapatkan dengan kematian Mikaela.
“Tapi… kalau Mikaela benar –benar meninggal, aku tidak akan sulit mendapatkan hak asuh Selena. Dan juga, aku bisa mengklaim harta milik William Simon dengan mudah kan?” monolognya. Kembali pikiran picik itu kembali memenuhi kepala pria tampan itu.
Bukannya berkabung atas kematian Mikaela, dia malah langsung memikirkan apa manfaat kematian seseorang baginya. Benar –benar keserakahan sudah memenuhi relung hati dan pikiran si sulung dari keluarga Buana ini. Seringaian licik terpatri di bibir tipisnya dan langsung dia mencari semua berkas yang diperlukan dalam mengurus perpindahan harta yang beratasnamakan Mikaela untuk menjadi miliknya.
_______________________________________
Siapa yang kesel sama Marcel mari ngumpul di kolom komen☺️☺️☺️