Heinry benar –benar kehilangan fokusnya untuk menemukan kebenaran di balik kematian ayahnya. Sungguh! Kecelakaan yang membuat adiknya diuga meninggal dunia sungguh mengguncang pikiran pria Djuanda ini. Keluarganya satu demi satu meninggalkannya dengan cara yang sangat menyedihkan, seakan ada misteri yang tersembunyi di balik semua ini. Heinry tidak terima dengan semua yang terjadi kepada ayahnya terlebih lagi Mikaela.
Adiknya itu terlalu banyak merasakan penderitaan untuk kesalahan yang bahkan tidak dia lakukan. Harusnya, Mikaela hidup bahagia layaknya seorang putri raja dan menikah dengan pria yang sangat mencintainya. Mikaela tidak perlu melewati tantangan hidup yang menyedihkan seperti yang saat ini dia alami. Heinry hancur hingga sampai detik ini dia tidak akan melakukan upacara pemakaman kecuali jasad Mikaela ditemukan. Tidak akan pernah!
Di sisi lain, Anye sedang sibuk dengan anak –anak yang mesti mendapat kasih sayangnya. Ia menatap sendu kepada Selena yang sampai detik ini sama sekali tidak tahu apa –apa soal ibunya. Hatinya tidak akan pernah siap kalau mesti jujur kepada keponakan kecil cantik yang sangat dia sayangi itu. Sesudah selesai menyusui Gaby, dia menghampiri Tasya putrinya yang sedang bermain dengan Selena.
“Aunty, kenapa Mama belum juga pulang? Apa Mama mau meninggalkan Selena sepelti dulu? Katanya Mama mau membawa adik ke sini?” tanya Selena yang ternyata selama ini memikirkan apa yang terjadi kepada ibunya. Seketika, perasaan Anye sangat sesak mendengar pertanyaan Selena yang selalu saja merindukan ibunya. Sejak kecil, Selena selalu saja menjadi korban ketidakadilan dalam hidupnya.
Selena Marcella Buana yang akan berusia empat tahun ini terlahir tanpa seorang ayah, walau dia tetap menyandang nama keluarga itu hingga detik ini. Baru sebentar merasakan kebahagiaan, ibunya diculik dan dibawa jauh darinya dan sekarang malah keluarganya hancur tak bersisa. Anye tak bisa membayangkan bagaimana mental Selena melewati semua ini. Dia masih kecil dan tak tahu apa-apa. Sungguh, Anye juga tak bisa membayangkan kalau seandainya Mikaela benar –benar meninggal dunia.
“Sayang, Mama sedang pergi sebentar! Sebentar saja…! Kamu jangan takut ya? Di sini ada Aunty dan juga yang lain. Ada Kak Stevan dan juga Tasya. Ada uncle dan adik Gaby. Jangan merasa sendirian ya.” Anye berkata kepada Selena dan hanya diangguki polos oleh Selena.
“Iya, Aunty! Selena senang berada di sini!” angguk anak itu membuat Anye semakin merasa bersalah menyembunyikan segala kebenaran mengenai Mikaela.
‘Mikaela, aku mohon jangan pergi seperti ini! Mereka yang ingin menghancurkanmu pasti sedang tertawa dan bahagia di atas penderitaanmu,’ batin Anye penuh harap. Entah itu sesuatu yang sia –sia belaka atau bagaimana.
***
UNIVERSITAS ESA UNGGUL
Hari yang ditentukan sudah datang juga. Kini adalah hari yang menjadi rapat penting untuk pemungutan suara ulang mengenai posisi direktur Yayasan Esa Unggul yang dulunya sebagian besar sahamnya adalah milik mendiang Adinata Djuanda yang diwariskan kepada Mikaela. Sayangnya, saat ini Mikaela tidak ada ditempat bahkan diduga meninggal. Anyelir duduk sendiri sebagi satu –satunya yang kontra dengan Michelle yang ingin sekali menggantikan posisi adik iparnya.
“Kami sangat menyesal mendengar kabar buruk soal Ibu Mikaela. Kalau kecelakaan begitu, bukankah berarti beliau sudah tiada, ibu komisaris?” tanya Pak Brahman ke arah Anye yang duduk di antara jejeran komisaris Yayasan. Sungguh! Dia sangat benci mendengar semua orang menganggap adiknya itu sudah meninggal. Tapi dia juga tak bisa membuktikan kalau Mikaela juga masih hidup.
“Kami sudah memutuskan, Michelle Prasasti Buana adalah pilihan terbaik saat ini,” kata dekan yang lain membuat Anye bisu. Dan kali ini, Michelle hanya bisa duduk diam karena pembelaan yang dilakukan ke arahnya akan terjadi tanpa dia harus berkutik sepatah kata pun. Semuanya mudah dan begitu mulus.
“Baiklah… lakukan semau kalian! Saya juga sudah tidak ada wibawa di hadapan kalian kan? Nama besar keluarga kami juga sudah tidak kalian pedulikan karena kematian mertuaku, bukan? Tapi ingat satu hal, selamanya kalian akan menyesal sudah menantang keluarga Djuanda!” tegas Anye lalu memilih keluar dari ruang rapat ini. Dia tak peduli dengan pandangan para rektor, dekan dan dosen lainnya bahkan sesama jajaran komisaris. Dan para petinggi lainnya sudah setuju menunjuk Michelle Prasasti sebagai direktur baru Yayasan ini. Tidak ada tantangan lagi dan setelah itu Michelle membungkukkan badan kepada semuanya sebagai rasa hormat yang dia tunjukkan.
“Terima kasih sudah mempercayakan semua ini kepada saya! Saya akan melakukan yang terbaik untuk Yayasan ini!” Michelle menyatakan janjinya kepada semuanya.
Keluarga Djuanda. Adalah nama besar keluarga kaya raya dari turun temurun. Tidak pernah ada yang meremehkan nama mereka selama ini, bahkan berhati –hati saat menyebutkannya. Tapi sebagian dari milik Adinata telah diberikan atas nama Marcel Arya Buana sebagai warisan milik Mikaela yang akan dia kelola sebagai menantu. Adinata juga bukan lagi Jenderal besar seperti dulu setelah pensiun beberapa tahun yang lalu. Anyelir sungguh tidak menyangka kalau keluarga suaminya akan kehilangan segala yang mereka miliki dulu.
Memang bukan berarti mereka bangkrut atau jatuh miskin! Sama sekali bukan begitu! Masih ada perusahaan besar yang mesti dikelola dengan baik, tapi nama baik yang selama ini dibangun sudah hancur lebur karena banyaknya intrik yang tidak terduga. Kini hanya tinggal Heinry dan Anye yang akan meneruskan segalanya dan menjaga apa yang tersisa dari milik mereka.
“Termasuk menjaga Selena dari keluarga Buana yang pasti akan membuat masalah dengan perkara hak asuh! Aku harus bisa melindungi Selena sampai akhir! Anak itu juga adalah putriku!” tekad Anye sambil menjalankan mobilnya kembali ke mansion. Saat datang ke mansion, pemikirannya memang tidak salah! Marcel datang, tapi langsung ditahan dan dihajar oleh suaminya. Dengan cepat, Anye turun dan memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Kau yang membunuh Papaku kan? Kau yang mendorong dia kan?” tanya Heinry sambil menarik kerah baju Marcel. Suaminya sangat tak terkendali karena dirundung emosi dan duka yang berkepanjangan dan tak terhenti. Marcel yang sudah sedikit terluka memilih untuk tidak lagi mengalah dan mendorong Heinry dengan kasar.
“Cukup!!” teriak Marcel hingga cengkraman Heinry di kerah Marcel terlepas dan pria itu memundurkan langkahnya.
“Jangan tuduh aku untuk sesuatu yang tidak aku lakukan! Aku bahkan tidak tahu apa alasan Tuan Djuanda datang hari itu dan kenapa dia bisa jatuh! Itu sama sekali bukan salahku!” tegas Marcel, tapi Heinry masih belum menerima juga! Dia masih marah, kesal dan benci kepada Marcel seakan ingin menghabisi, lalu memotong habis juga membakar jasadnya sampai tak bersisa. Sedikit mengerikan, tapi saat ini Heinry sedang dirundung emosi yang luar biasa.
“Ini semua karena kau! Kenapa kau ceraikan adikku? Apa salahnya padamu? Dia ditipu dan menurut hasil rekam medis di Boston, Ares melakukan pencucian otak padanya! Mana dia tahu kalau Ares melakukan hal kejam itu sehingga dia hamil? Kenapa? Kenapa kau kejam sekali pada adikku?” Heinry menyatakan segala rasa tak terimanya dengan apa yang terjadi pada Mikaela.
Memang benar, itu sama sekali tidak adil. Marcel terdiam dan teringat saat Mikaela terlihat tidak mengenalinya saat mereka bertemu di Boston tatkala dia ingin menemukan kembali istrinya. Benar, Mikaela memang mengalami pencucian gelombang otak sehingga nyaris melupakan sebagian ingatannya. Tapi waktu itu Marcel masih bisa terima. Yang tidak bisa dia terima adalah kebohongan Mikaela soal si kembar. Kalau saja Mikaela jujur, mungkin saja tidak akan begini. Mereka akan memikirkan cara lain, mungkin dengan menyingkirkan kedua anak dari pria yang dia benci itu.
‘Ini semua tetap salahnya Mikaela!’ Marcel masih bersikeras dengan egonya. Hidup tenangnya kacau karena Mikaela. Semua adalah karena wanita itu! Kalau saja Mikaela tidak terikat dengan keluarga Buana hanya karena mengandung Selena dan membuat Marcel menyesali kesalahannya, ini tidak bakal terjadi kan? Itu lah yang lagi dipikirkan oleh Marcel!
“Apa kalian tidak tahu atau bahkan tidak mengenali tabiat wanita itu? Sifatnya benar –benar seperti perempuan sampah yang tak tahu malu! Saat kami bertengkar, pergi ke mana dia? Ke rumah mantan kekasihnya kan? Dan sekarang, saat kami akan bercerai, apa yang dia lakukan? Dia membebaskan Ares karena berpikir akan lari ke pelukan pria itu saat resmi cerai dariku. Mikaela Cassandra Djuanda adalah perempuan terburuk yang aku kenal dalam hidupku!” jelas Marcel dari sudut pandangnya. Heinry terdiam dan mencerna semua perkataan Marcel yang sama sekali tidak sama dengan kenyataan. Ia pun berjalan dan ingin menghajar Marcel lagi.
‘PLAKK!!’
Sebuah tamparan dilayangkan oleh istrinya terlebih dahulu kepada Marcel. Anye menatap nanar dengan suami b******k Mikaela yang sama sekali tidak paham apa yang terjadi kepada adik iparnya. Betapa Marcel tidak mau peduli dengan perasaan Mikaela dan terus saja memikirkan dari sudut pandangnya sendiri saja.
“Mikaela hancur karenamu sejak awal! Karenamu!! William Simon adalah pria yang selalu menjadi bagian dari mimpinya itu memang terlambat, tapi saat dia kembali apa yang kau lakukan? Kau berusaha mengikatnya kan? Demi apa? Demi Selena! Apa yang Kaela lakukan? Dia mengalah. William juga mengalah padamu. Kau bilang sikapnya buruk?” tanya Anye benar –benar berhasil membungkam Marcel.
“Dan soal anak kembarnya. Kalau saja dia jujur, apa yang akan kau lakukan? Menyuruh Kaela aborsi? Kau pikir semudah itu? Sejak awal, Mikaela memiliki dinding rahim yang sangat kuat yang melindungi dengan baik anak yang dia kandung. Kuberi tahu padamu, dulu dia juga pernah berpikir untuk melenyapkan Selena. Tapi apa yang terjadi? Dia malah nyaris kehilangan nyawanya hikss…! Kau mau dia mati kalau melakukan itu? Atau… kau mau mentalnya semakin hancur karena membunuh buah kandungannya sendiri? Sadar diri juga Marcel!” Anye berteriak tak karuan karena melihat sendiri bagaimana penderitaan adik iparnya selama ini. Dia dan Mikaela sudah sangat dekat sehingga dirinya pun bisa merasakan betapa sakitnya berada di posisi Mikaela.
“Lantas… kenapa dia membebaskan Ares dari penjara?” tanya Marcel lagi.
“Kenapa? Itu juga demi kau! Dia memberi hak asuk si kembar kepada Ares supaya bisa kembali denganmu. Supaya tidak ada lagi yang mengusik pernikahan kalian dan Ares setuju! Dia setuju untuk pergi dengan kedua anaknya. Semua demi dirimu! Kau tidak melihat dari sisi itu, Marcel! Sama sekali tidak!” jawab Anye semakin membuat Marcel kelu.
Semua ini terlalu rumit untuk dipahami dengan perasaan yang tidak sepenuhnya. Marcel tidak memiliki cinta yang tulus sehingga dia tak bisa menerima kenyataan ini dengan baik. Marcel tidak benar –benar mencintai Mikaela, karena yang dia inginkan hanya lah memenuhi tanggung jawab kepada Selena. Pria itu hanya kasihan dan bersimpati kepada Mikaela yang selama ini menanggung segalanya sendirian. Tapi pria itu memilih diam, karena memang yang dikatakan Anye benar.
‘Kaela… sekarang siapa yang salah di antara kita? Apakah takdir yang gila ini?’ Marcel bertanya –tanya dalam hatinya.
“Papa!” Suara Selena seketika mengalihkan perhatian semuanya. Gadis itu keluar dari mansion Djuanda dan berlari ke arah Papanya. Selena memeluk ayahnya dengan penuh rasa rindu.
“Selena kangen Papa! Apa kita bisa pulang dan belkumpul sepelti dulu lagi?” tanya gadis kecil itu membuat yang lainnya bungkam. Tidak mungkin mereka menarik paksa Selena dari Marcel. Anak itu juga butuh kasih sayang dari ayah kandungnya.
“Selena sayang, untuk saat ini kamu sama Papa dulu ya? Kita harap, semoga Mama bisa segera kembali ya,” kata Marcel langsung diangguki oleh Selena.
“Mama pasti pulang! Kalena Mama sangat sayang sama Selena!” yakin gadis kecil itu dan kemudian Marcel membawa Selena ke dalam gendongannya.
“Aku sudah memutuskan untuk membawa Selena ikut denganku. Maaf, tapi dia adalah putriku,” kata Marcel lalu berbalik meninggalkan kediaman keluarga Djuanda. Heinry dan Anye hanya bisa terdiam melihat Selena pergi dari mereka walau masih melambaikan tangan kepada gadis kecil itu.
“Sayang, padahal Selena adalah satu –satunya yang tersisa dari Kaela,” sendu Heinry kini merasa kehilangan keponakannya. Semakin hancurlah hati dan perasaannya.
“Suamiku, ayo masuk ke dalam! Kamu harus menenangkan pikiranmu,” kata Anye mengalihkan perhatian Heinry supaya tak terus sedih. Memang sungguh kelam dan menyedihkan masa –masa ini.
***
Suasana rumah sakit begitu terlihat jelas di ruangan ini. Di ranjangnya, terlihat seorang wanita yang tengah berjuang melanjutkan hidupnya dengan selang dan oksigen yang ditaruh padanya. Bunyi detak jantungnya masih terdengar jelas di mesin medis yang ada di sebelahnya. Perlahan, ujung tangannya bergerak sehingga pria yang sedari tadi menungguinya terkejut. Terus saja pria itu memerhatikan sang wanita yang tak kian membuka matanya setelah beberapa hari ini. Tapi beberapa menit kemudian, iris hazel itu terbuka. Pria itu menarik senyuman bahagianya sambil meraih tangan kanan sang wanita.
“Akhirnya kamu sadar, Cassie!” katanya dengan lembut.
______________________________________
Sengaja dobel up biar gemuzz ☺️☺️