THE LEGACY

1915 Kata
Boston, USA Helios kini kembali menginjakkan kakinya di mansion megah keluarga Simon di Boston. Mungkin, bisa juga disebut sebagai istana milik Ares Pratama setelah pemilik sebelumnya dihabisi oleh Ares. Dan kini, semua itu akan diwarisi oleh dua bayi kecil yang masih sangat kecil. Helios menatap nanar kepada dua anak kembar yang sangat lucu itu. Dugaan kalau Ares dan Mikaela yang meninggal benar –benar sebuah pukulan telak bagi kedua anak ini. Jujur, Helios juga merasa sedih mendengar semua ini. Maka, dia segera ke Amerika untuk menjaga dan memastikan kalau kedua anak dari tuannya akan mendapat kehidupan yang selayaknya. Mereka berdua akan dirawat oleh babysitter terbaik tidak akan kekurangan kasih sayang. Helios menjanjikan itu dalam hatinya, karena dia juga seorang ayah. “Aku akan memberi semua kasih sayang yang seharusnya kalian berdua dapatkan, Raphael dan Haniel,” gumamnya saat melihat kedua bayi lucu yang sudah ditidurkan oleh babysitter di sepanjang perjalanan ke sini. Helios memastikan pengawasan dua puluh empat jam dan tidak akan kendor soal perhatian kepada si kembar. “Tuan, di mana kami meletakkan kedua bayi ini?” tanya salah satu maid di mansion ini. “Letakkan di kamar yang terbaik. Ingat! Jangan sampai terjadi apa –apa dengan kedua bayi itu. Saat ke sini, saya sudah cek bahwa kondisi fisik mereka sangat sehat. Jangan sampai mereka sakit atau terjadi hal buruk! Aku tidak akan mengampuni siapa pun yang membuat kelalaian,” jawab Helios sembari memberi peringatan. Semua pelayan yang sangat loyal kepada keluarga besar Simon akan melakukan yang terbaik. Mereka juag tidak mau sampai nyawa mereka melayang kalau sampai gagal. Lagipula, mansion besar yang sepi dan dingin ini akan sangat berwarna dengan kehadiran dua bayi yang menggemaskan itu. Para maid memang langsung merasa gemas sendiri dengan si kembar anak dari Ares, tuan mereka yang menyebalkan itu. ‘Semoga saja semuanya baik –baik saja! Aku harus tetap di sini dan terus mengawasi si kembar. Mereka masih terlalu kecil,’ batin Helios kemudian masuk ke ruang kerja. Saat baru saja bersandar di sofa, tiba –tiba suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Dia memicing kesal dan mengambil ponselnya. “Helios! Kau ke mana saja, huh? Tidak ada kabar setelah berhari –hari! Kau itu benar –benar tidak suka pulang ya?” Suara cerewet yang sangat panjang dan menyebalkan itu membuat Helios memutar bola matanya malas. Itu adalah Siska Arumi, perempuan yang dia resmikan menjadi istrinya beberapa bulan yang lalu karena mengandung anaknya. Sebenarnya, hubungan mereka berdua juga tidak terlalu baik karena Helios memang jarang pulang. “Ada apa?” tanya Helios malas kepada wanita itu. “Ada apa? Setelah sebulan tidak pulang? Janjinya sebulan sekali kau akan menampakkan batang hidungmu! Tapi sekarang kau sedang apa? Apa si Ares sialan itu terus memberimu pekerjaan menumpuk yang tidak ada habisnya?” Siska kembali merepet panjang membuat Helios harus sabar- sabar menghadapinya. Mau bagaimana lagi, dia memang sama sekali bukan figur suami yang baik. Dia hanya bisa memberi materi tapi tidak dengan kasih sayang. Dan lagi, semuanya dia lakukan hanya demi tanggung jawab kepada wanita itu. “Nanti aku pulang! Aku minta maaf,” jawab Helios pada akhirnya dan langsung memutuskan sambungan telponnya dari Siska. “Ternyata, semuanya nyaris kacau tanpa Tuan Ares. Huftt… aku harus segera mengatur rapat direksi sekaligus menutupi soal kematian Tuan Ares.Tidak ada seorang pun yang boleh tahu soal ini,” gumamnya kembali bekerja. Sungguh malang bawahan yang setia ini mesti bekerja terus menerus tanpa istirahat demi loyalitasnya. Dia akan menyelesaikan semuanya dan memastikan warisan untuk si kembar aman. *** Michelle sedang duduk sambil menyusui putrinya. Setelah beberapa hari berlalu, rasanya semua lebih damai. Dia sudah tak merasa bersalah sama sekali soal apa yang dialami oleh Mikaela. Sesudah Rose tertidur, Michelle meletakkan bayi kecilnya dan langsung membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaannya. Walau sekarang dia sudah kembali dari kampus, dia masih harus menyelesaikan banyak pekerjaan, termasuk mengelola harta warisan yang dimilikinya sebagai putri keluarga Simon. “Selamat malam, istriku!” sapa Michael mengalihkan perhatian sang istri. Michelle tersenyum lalu membawakan tas suaminya. Ia juga menyimpan jas Michael dengan baik di tempatnya. Memang, Michelle selalu melakukan tugasnya dengan baik. “Apa kamu tidak merindukanku?” tanya Michael sambil memeluk manja istrinya itu. Saat dia pulang, Michelle hanya tersenyum saja tanpa memberi kata sambutan seperti biasanya. “Mandi dulu sana! Aku sedang sibuk!” jawab Michelle sambil mendorong suaminya. Michael hanya mendengus kesal dengan sikap sok sibuk istrinya. Dia pun beranjak dan memilih melihat putri kecilnya yang lucu. “Hai, Tuan putri? Apa kamu kangen sama Papa? Sepertinya Mama sama sekali gak kangen loh! Oh, Tuan putri keluarga Buana yang satu ini lucu sekali sih,” gumamnya sambil mentoel –toel pipi Rose yang sedang tertidur. “Tuan putri keluarga ini adalah Selena. Setelah dia kembali, semua perhatian tertuju padanya,” balas Michelle membuat suaminya terkejut. Seakan, tersemat nada penuh ke-irian dari Michelle kepada keponakannya sendiri. “Kamu kenapa bicara gitu sih soal Selena? Kamu lagi bad mood ya? Hah… Michie sayang? Maukah kamu bercerita sesuatu?” tanya Michael dibalas kebungkaman oleh Michelle. Wanita itu membuang mukanya sambil kembali fokus ke layar laptopnya. “Mike, kau benar! Aku hanya kelelahan!” balas Michelle dan kembali mengabaikan suaminya. Michael terdiam dengan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya. Belakangan ini, sifat Michelle jauh berubah drastis seperti menjadi wanita yang sangat sibuk entah untuk mengurus apa. Ia melirik apa yang sedang diketik Michelle di laptop dan merasa semua itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Michelle di Universitas sebagai pengganti sementara Mikaela. Dokumen yang dikerjakan oleh Michelle lebih ke bisnis property. “Sayang, kamu ada bisnis selain kerja di kampus?” tanya Michael seketika mengejutkan sang istri. Michelle langsung menutup layar laptopnya karena tidak mau suaminya tahu hal yang sebenarnya. “Bukan apa –apa! Hanya sebuah uji coba saja! Jangan pikirkan ya?” jawabnya sambil mengelak. Dan Michael Arya Buana memilih percaya dengan perkataan istrinya. Setelah Michael pergi untuk mandi, wanita itu keluar dari kamarnya. Tak lama, dia mendapat sebuah e-mail yang merupakan undangan. Dia terbelalak dan langsung cepat mencermati isi e-mail itu dan tak lama dia menarik senyumannya. ‘Rapat dewan soal keputusan soal pimpinan bisnis? Aku harus segera pergi ke Boston!’ batinnya berteriak penuh semangat. Surel resmi itu dikirim langsung dari Amerika yang merupakan sebuah kesempatan Michelle yang akan segera memiliki segalanya. “Hei, apa yang sedang kau lihat, Michie?” tanya sebuah suara sehingga mengejutkan Michelle. Wanita itu melihat kakak iparnya yang ternyata menyamperin dia dari belakang. “Eh? Kak Marcel?” tanyanya sambil menutupi layar ponselnya. “Kau sedang menyembunyikan apa? Apa kau juga menerima e-mail dari Simon Property Group?” tanya Marcel lagi sehingga membuat Michelle terkejut bukan main. Pria itu tahu saja, padahal dia sudah berusaha untuk menyembunyikannya. “Bukan apa –apa, tapi aku juga dapat surel yang sama. Lebih tepatnya, dikirimkan melalui e-mail milik Kaela. Semalam aku membuka laptop miliknya yang kebetulan sama sekali tidak dikunci. Aku juga sudah mengambil semua berkas mengenai hak waris yang diberikan William kepada Mikaela,” jelas Marcel dengan terus terang kepada Michelle. Hanya wanita itu yang tahu soal ini, karena mereka berdua sama –sama saling menyimpan rahasia. “Jadi, apa kau akan ke Boston?” tanya Michelle. “Iya, tapi aku akan pergi lebih dulu supaya tidak ada yang curiga. Kalau bersamaan, yang lain akan menganggap kita berselingkuh,” jawab Marcel membuat Michelle tersenyum remeh. “Aku tidak sebodoh itu lagi,” balas Michelle. “Aku pun juga sama!” Marcel lalu melangkah dan meninggalkan Michelle. Kedua manusia yang sempat bersama selama tiga tahun itu sudah tak lagi memiliki perasaan yang sama karena saat ini keduanya akan saling menyerang. Terlihat di kubu yang sama, tapi ketika menemukan kelemahan masing –masing, maka mereka akan saling menjatuhkan. Karena Michelle mau pun Marcel sudah berubah karena rasa serakah. Michelle yang sekarang yakin bahwa yang membuat bahagia adalah memiliki segalanya dan tidak diremehkan oleh orang lain. Sedangkan Marcel ingin berada di kedudukan yang tidak bisa dijatuhkan sama sekali. Ambisi yang sama tapi menghancurkan mereka. *** “Akhirnya kamu sadar, Cassie!” Suara itu mengalihkan perhatian sang wanita yang baru saja sadar setelah beberapa hari berbaring tidak berdaya di ranjang pasien. Ia merasa seperti mimpi saat mendengar nama panggilannya saat di Amerika disebutkan. Dan suara itu sangat mirip dengan sosok yang sedemikian dia rindukan. Wanita itu- Mikaela kini mulai menitikkan air matanya karena merasa kini dirinya sudah tidak berada di tempat dia bisa memeluk anak –anaknya lagi. ‘Apa aku… sudah mati?’ batinnya. “Cassie, apa kamu dengar suaraku?” tanya sang pria yang duduk di sebelahnya. Mikaela pun menoleh dan melihat seorang pria dengan kemeja putih dan juga dengan senyuman hangatnya. Berulang kali wanita itu mengerjapkan matanya memerhatikan pria itu. “Willy? Apa sekarang aku sedang di surga? Tapi aku membunuh orang. Mana mungkin aku bisa ke surga!” tanyanya panik karena merasa kalau saat ini dia sedang berada di tempat lain yang mungkin saja alam baka. Tapi pria yang disebutnya Willy itu terkekeh karena merasa perkataan Mikaela sangat lucu. "Haha! Kamu belum di surga kok! Jangan terlalu cepat meninggalkan aku dan anak -anak," balas pria itu membuat Mikaela tersadar dan duduk di ranjang pasien. “Kau… ke mana saja kau selama ini?” tanyanya karena melihat pria itu santai sekali setelah semua yang terjadi. Melihat ekspresi Mikaela, pria yang disebut Willy itu hanya bisa tertawa kecil karena merasa reaksi wanita ini sangat persis seperti dugaannya. “Hmm… siapa? Willy? Menurutmu, apa yang dia lakukan di dalam kuburnya?” tanya pria itu balik dengan santainya. “Sudah kuduga! Kau menipu semuanya!” ujar MIkaela lagi. “Tidak juga! Hanya saja, ada tikus yang berusaha membunuh kucing yang punya sembilan nyawa,” katanya masih sangat santai. “Sial! Ares Pratama memang tukang tipu! Dan kenapa tadi kau memanggilku Cassie? Apa kau ingin menipuku juga di saat aku sudah ingat kalau Willy sudah mati?” tanyanya memberi tatapan menyelidik. “Bukan begitu, kok! Aku hanya ingin sedikit berlatih dan sedikitnya aku berhasil! Karena aku akan membuat sebuah permainan yang luar biasa!” jawabnya penuh dengan siasat. Sungguh! Mikaela geleng –geleng kepala dengan apa yang dipikirkan oleh Ares. Pria itu baru saja keluar dari penjara dan ada saja tingkahnya. Ares yang melihat Mikaela langsung meraih tangan wanita itu lalu menggenggamnya. Pria itu menatapnya dengan sangat serius. “Maukah kau ikut dengan permainan ini?” tawarnya. Mikaela terdiam sambil memikirkan bagaimana semuanya bisa terjadi. Yang terkahir kali diingatnya adalah dirinya yang didorong oleh Michelle ke danau yang sangat dalam dan nyaris mati di sana. Tapi sekarang, dia berada di sebuah rumah sakit dengan Ares sebagai penolongnya. Ares yang pura –pura mati dan sekarang menunjukkan batang hidungnya ini mengajaknya untuk melakukan sebuah permainan gila yang diyakini Mikaela akan sangat dramatis. Ya, Mikaela pernah terjebak dalam permainan yang diatur Ares sebelumnya. “Apa ini akan lebih gila dibanding sebelumnya?” tanya Mikaela membuat Ares menarik seringaiannya. “Tentu saja! Apa kamu tidak mau membalas semua orang yang sudah membuatmu seperti ini?” tanya pria itu lagi membuat Mikaela teringat kenapa saat ini dia bisa duduk tak berdaya di sini. Semua adalah karena Michelle dan saat ini kebencian Mikaela tumbuh kepada wanita itu. Padahal, di sepanjang hidup seorang Mikaela, sosok yang dia benci adalah adalah pembunuh Willy dan Ares. Tapi saat ini, dia membutuhkan Ares dan kebenciannya kepada Ares perlahan menipis. Michelle berhasil membuat sisi lain dari seorang Mikaela bangkit sehingga wanita itu menatap Ares dan menganggukkan kepalanya. “Aku akan ikut serta dengan permainan ini!” putusnya membuat Ares tersenyum senang. Ya, permainan yang sesungguhnya akan dimulai!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN