“Tapi sebelumnya, bagaimana kau bisa selamat dari konspirasi yang mencoba membunuhmu?” tanya Mikaela kepikiran soal Ares yang bisa selamat dari tabrakan maut yang terjadi waktu itu. Semuanya terasa begitu nyata, apalagi dengan keberadaan jasad yang gosong terbakar.
“Kan sudah aku bilang, kalau nyawaku itu sembilan,”jawab Ares santai membuat Mikaela mendengus jengah. Pria itu sama sekali tidak serius untuk menjawabnya kali ini.
“Aku serius!!” tegas Mikaela pada akhirnya membuat Ares mau memberi tahu kebenarannya.
Flashback
“Hentikan mobilnya!” perintah Ares kepada pria yang sedang membawa mobilnya.
Belum jauh dari mansionnya tapi sudah jauh dari jangkauan Helios dan yang lainnya. Pria yang duduk di bangku kemudi itu sedikit takut saat Ares menatapnya tajam dari kaca spion. Padahal, dia adalah mata –mata, tapi sekarang dia yang merasa diawasi oleh Ares Pratama.
“Hei, berapa atasanmu membayar untuk menjebakku? Kau itu… cari mati ya?” tanya Ares membuat supirnya tertegun. Ternyata memang benar! Dia ketahuan!
Ares bukan orang bodoh yang tidak tahu kalau dia diawasi sejak beberapa waktu belakangan ini. Tapi dia memilih diam karena ingin tahu siapa yang berani sekali mencari masalah dengannya. Sungguh sial nasib pria yang terjebak dengan Ares di dalam mobil ini. Karena sudah pasti, dia sama saja dengan menyerahkan nyawanya sendiri kepada Ares yang terkenal tak tahu ampun sama sekali.
“Hei! Aku suruh kau jawab!” perintah Ares membuatnya terbelalak. Tubuh pria itu gemetaran, tapi tak lama dia kembali mengumpulkan segala keberaniannya. Dia harus bisa membungkam Ares dan membuktikan kalau dia adalah seorang bodyguard dengan kualitas tinggi.
Sayang sekali, kalau masih seperti yang satu ini sangat jauh kelasnya dibanding dengan Ares. Pria itu meraih sebuah suntik yang ada di dalam saku jasnya lalu mengarahkannya kepada Ares yang ada di belakangnya. Tapi dengan mudah, Ares menahan tangannya. Bukan saja menahan, pria itu dengan kuat memutar pergelangan pria itu hingga nyaris patah.
“Argghh!!” rintihnya merasakan kesakitan yang begitu menyiksa. Sedangkan Ares hanya menarik seringaiannya karena merasa sangat puas sudah memberi pelajaran pertama kepada mata –mata itu.
“Masih sayang nyawa kan? Beri tahu aku, siapa yang menyuruhmu?” tanyanya lagi bak malaikat maut yang sedang menginterogasi.
“Sa –saya tidak akan buka mulut!” Pria itu sangat keras kepala dan terlihat sangat loyal dengan atasannya.
“Aku akan bayar sepuluh kali lipat dari yang dia beri! Cepat! Sebelum aku bunuh kau di sini!” paksa Ares lagi membuat pria itu semakin tak berdaya.
“Habisi saja saya! Karena itu lebih baik dibanding dia membunuh seluruh keluargaku! Toh juga, kau tidak akan selamat akhh!!!” teriaknya saat Ares malah menusukkan jarum suntik itu tepat di pergelangan tangannya. Itu adalah obat bius yang perlahan merenggut kesadaran mata-mata yang malang itu.
“Padahal, kalau kau buka mulut, kau bisa pulang kembali pada keluargamu dengan aman. Dasar bodoh!” gumamnya pelan.
Setelah memastikan pria itu tidak sadar, Ares memerhatikan sekitar. Untung saja kaca mobil Ares dilapisi dengan kaca film sehingga orang luar tidak tahu apa yang dilakukan di dalam. Pria itu memerhatikan keluar dan tidak ada tanda –tanda kalau mereka diikuti di sini. Maka Ares membuka jasnya lalu memakaikannya kepada pria itu. Dia juga memasukkan dompet yang berisikan semua kartu tanda pengenal dan lainnya supaya semua yang menemukan pria ini akan terjebak.
Ares kemudian mengambil topi dan masker yang dia simpan di balik kemejanya lalu mengaktifkan mode self- driving di mobil canggihnya. Ia juga tak lupa mengambil ponsel pria itu lalu menghubungkan titik koordinat mobil ini dengan ponsel mata –mata malang tadi. Setelah semuanya selesai, Ares keluar dengan mobilnya yang dijalankan sendiri menuju bandara sesuai pengaturan yang dia buat.
“Hmm… aku penasaran dengan apa yang akan terjadi,” gumamnya lalu memberhentikan sebuah taxi yang lewat.
“Pak, ikuti mobil hitam itu!” perintahnya langsung dilakukan oleh supir taxi yang dinaiki olehnya.
Mereka pun sampai ke persimpangan jalan besar, kemudian Ares melihat dua mobil yang mengikuti mobilnya dari belakang. Dari taxi ini, dia bisa melihat kalau dia sedang diikuti, bahkan mobilnya digempet. Ares terus saja memerhatikan semua itu dari dalam sini dan sedikit lega karena tadi dia sudah keluar lebih cepat.
“Pak, itu mobil hitam digempet di jalan sepi ini! Kita tolong atau telpon polisi, Pak?” tanya sang supir taxi kepada Ares.
“Biarkan saja! Bapak jalannya pelan dan jangan sampai dicurigai dua mobil silver itu. Kita hanya perlu menonton sebuah pertunjukkan,” jawab Ares membuat supirnya terdiam. Dia ingin menolong, tapi sepertinya penumpang yang dibawanya ini lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Saat jalan benar –benar sepi, kedua mobil itu sengaja menabrakkan mobil Ares dengan brutal dan tanpa ampun. Semua ini dilihat oleh Ares dan supir taxinya. Bahkan, Ares sudah memberi tahu supir taxi yang dia naiki ini untuk tetap dalam jarak aman dan tidak ketahuan. Karena kalau ketahuan, mereka dipastikan tidak akan lolos walau sebenarnya Ares tidak takut.
‘DORR!!’
Suara peluru terdengar dari salah satu mobil silver itu. Sebuah tangan keluar dan menembakkan peluru tepat di roda mobil hitam yang sebenarnya adalah salah satu koleksi kesayangannya itu jadi rusak. Hingga akhirnya, mobilnya terputar –putar dan menabrak sebuah tiang besar. Ares yang melihat semua konspirasi ini di depan matanya cukup terkejut. Sungguh matang dan membunuh jika dia tidak lebih cerdik.
“Putar balik! Sekarang kita ke Gama Tower!” perintah Ares membuat supir taxi itu terkejut. Tapi tidak ada gunanya juga jika dia ikut campur di sini. Kalau mereka ketahuan, maka saksi mata juga akan dikejar lalu dibunuh. Baru saja berbalik arah, Ares mendengar suara ledakan besar.
‘DUARR!!’
‘Mobilku diledakkan? Wah! Orang yang melakukan ini benar –benar ingin memastikan aku mati ya? Batinnya sambil menoleh ke belakang. Setelah lebih jauh, Ares memilih tenang dan memerhatikan ponsel dari mata –mata di mobilnya. Dia melihat pesan yang masuk yang berisikan, ‘Dasar bodoh! Kenapa kau tidak keluar? Harusnya kau tidak ikut mati dengan k*****t itu!’
‘Oh, pasti ini adalah rekannya!’ tebak Ares karena mereka pasti sudah berencana untuk membebaskan temannya lalu membiarkan Ares mati sendiri. Sayang sekali, Ares tidak sebodoh itu untuk berakhir di sini. Dia masih harus melakukan banyak hal penting! Tak lama, mereka sampai di area parkiran Gama Tower. Ares turun lalu memanggil salah satu bawahannya yang ada di sini.
“Berikan dia uang cash satu juta!” perintah Ares langsung diangguki bawahannya walau dia sedikit terkejut. Ia pun mengambil semua uang yang ada di dompetnya lalu membayarkannya kepada supir taxi itu.
“Pak, aku sarankan padamu untuk tidak memberi tahu soal kejadian hari ini kepada pihak berwajib dan anggap saja kau tidak melihat apa pun. Karena jika buka mulut sekali saja, taruhannya adalah nyawamu!” saran Ares dibarengi dengan ancaman.
“Si –siap Pak!” kata supir taxi itu lalu menerima uang bayarannya yang dianggapnya sebagai rezeki nomplok. Dia juga tak mau terkena banyak masalah dengan orang –orang kelas atas yang dipastikan akan terus mengawasinya setelah ini. Dia tidak boleh bodoh dan menerima saja upah untuk tutup mulut.
Ares menarik seringaiannya lalu memotret plat nomer taxi itu untuk berjaga –jaga. Dia memang tidak akan melepas seseorang yang tahu sesuatu dengan semudah itu. Dia harus memastikan musuhnya terkecoh dengan apa yang dilakukannya saat ini.
“Kau panggil Pramuda ke ruanganku sekarang juga! Dan kau suruh seseorang untuk memastikan supir itu tidak melakukan sesuatu yang aneh!” perintahnya kepada bawahannya. “Siap, Tuan!” jawab pria itu cepat dan melakukan semua perintah Ares dengan segera.
Ares masuk ke ruang pribadinya di gedung ini. Ini adalah salah gedung yang sebagian besar sahamnya adalah milik Ares. Dia bisa masuk walau tidak ada ID Card dan hanya dengan sidik jari. Pria itu duduk santai sambil meraih sebuah laptop di ruang kerja pribadinya. Tak sampai lima belas menit, rekan bisnisnya Aldrian Pramuda sudah tiba di depan ruangannya. Ares membuka pintunya dengan remote yang tersedia dan langsung mengisyaratkan pria itu untuk duduk.
“Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Aldrian.
“Tidak ada apa –apa! Tapi sebentar lagi, akan ada berita yang mengejutkan!” jawab Ares sambil menyalakan televisi 50 inci di ruangannya. Aldrian terdiam lalu tak lama sebuah berita ter –update muncul di layar kaca. Sebuah berita kecelakaan yang cukup mengejutkannya.
“Kau lihat? Itu adalah mobilku dan orang yang tewas di dalam sana harusnya aku.” Ares menjelaskan kepada Aldrian. Pria yang lebih tua beberapa tahun dari Ares itu masih terdiam dan memilih mendengarkan lagi penjelasan Ares.
“Tapi kau lihat kan? Aku masih hidup dan bernapas. Orang yang mati itu harus mendapat semua identitasku dan kuharap kalian semua tutup mulut, terlebih kepada Helios,” perintah Ares membuat Aldrian Pramuda terkejut. Dia tak mengerti kenapa Ares harus menutupi semua ini dari Helios yang selama ini selalu menjadi bayangannya.
“Paham?” tanya Ares. Tidak ada alasan untuk menentang Ares, terlebih dia juga bisa ada di titik ini karena Ares. Dia sangat menghargai rekan bisnisnya itu. Menurut adalah jalan terbaik dan harus dia lakukan.
“Siap, Tuan! Saya akan perintahkan semua jajaran yang ada di sini supaya tak tahu menahu soal kecelakaan itu! Saya permisi!” Aldrian langsung keluar dari ruangan Ares. Ares tersenyum penuh kemenangan karena rencananya untuk mengecoh musuh sudah berhasil.
Kemudian, perhatian Ares teralihkan pada ponsel yang dia bawa. Dia tak ingin ada yang curiga, maka dia hancurkan sampai lebur, lalu membakarnya di tong sampah besi yang ada di dalam ruangannya. Dia tidak akan memberi celah kepada musuh untuk curiga.
“Siapa yang berani bermain denganku ya? Siapa korbanmu selanjutnya?” gumam Ares sambil berpikir sedikit lebih keras. Semua ini seperti teka –teki yang mesti dia selesaikan dengan cepat, karena sepertinya orang yang ingin menghabisi dirinya ini tidak akan main lama –lama.
“Aku harus mengawasi Mikaela. Aku khawatir, kalau orang itu juga akan menghabisi Mikaela. Walau memang aku menduga pelakunya adalah Marcel. Apa mungkin, dia tega membunuh Kaela?” katanya lagi.
End Of Flashback
“Kau menduga Marcel adalah pelakunya? Nyaris saja kau mati di tangannya. Kalau itu benar, dia pasti sudah merasa menjadi orang paling hebat di dunia ini,” ujar Mikaela saat mendengar cerita dari Ares bagaimana dia bisa lolos dari konspirasi gila itu.
“Wah, Kaela sayang terdengar memedulikan aku. Aku terharu!” balas Ares dengan senyumannya hanya dibalas helaan napas malas oleh Mikaela. Oh, ayolah! Mikaela berkata begitu karena dia masih membutuhkan kekuatan dan juga perlindungan dari Ares.
Sebenarnya Ares paham kenapa Mikaela sangat butuh perlindungannya. Posisi Mikaela sangat tidak menguntungkan terlebih lagi setelah kematian ayah wanita itu. Semua orang yang memiliki hak atas harta kekayaannya yang melimpah itu jadi terancam karena manusia serakah itu. Ares tidak mengatai kalau dirinya tidak serakah, tapi setidaknya dia tak mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
“Aku tidak pernah mengingkari janjiku kan? Aku tetap akan hidup untuk menjaga si kembar,” kata Ares membuat Mikaela terdiam. Wanita itu menatap Ares yang kini wajahnya sudah jauh lebih lembut dibanding waktu pertama kali mereka bertemu. Pria itu tidak terlihat penuh ambisi seperti dulu. Ya, karena memang dia sudah membalaskan dendamnya. Dan untungnya, itu kepada orang yang tepat.
“Terima kasih!” Mikaela mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Ares.
Pria itu memang seseorang yang sanggup melindunginya. Dulu, Willy melindunginya dari semua kesedihan dan menjadi tempatnya berlindung saat ada masalah. Dan sekarang, Ares berada di posisi yang sama dengan Willy. Bahkan, Ares akan melakukan lebih banyak peran dalam misi mereka. Misi untuk melindungi si kembar dari orang –orang yang mengincar nyawa mereka. Pasti ada yang mengincar, karena si kembar yang masih bayi itu adalah pewaris sah dari semua harta milik Ares. Dan sekarang, Mikaela kembali melirik Ares dengan pertanyaan yang ada di kepalanya.
“Lantas, bagaimana kau bisa mengetahui posisiku saat itu? Maksudku, kenapa kebetulan sekali kau bisa menyelamatkan aku?” tanya Mikaela lagi kepada pria itu.
“Haruskah aku cerita lagi?” Ares baik bertanya dan diangguki cepat oleh Mikaela.
_____________________________
Note : Sistem self driving itu adalah sistem di mana mobil bisa berkendara secara otomatis dengan sistem komputer. Secara, mobil Ares juga keluaran terbaru dari luar, jadi dia punya sistem yang begini.