Flashback
POV 1 (Ares)
Tepat setelah kecelakaan itu, rumor mengenai kematianku menyebar luar di Indonesia. Bukan saja di sini, bahkan sampai ke Amerika. Para musuhku memanfaatkan semua ini supaya bisa menghancurkan bisnis yang sudah aku bangun dengan susah payah. Tapi untuk sementara ini, semuanya akan aku percayakan ke tangan Helios. Hanya sementara! Aku ingin mengurus satu hal yang akan membuat para musuhku di sini sangat terkejut. Soal William Simon! Kematian adikku belum terdengar oleh publik, bahkan sosoknya sama sekali tidak dikenal oleh para musuhku. Oleh karena itu, aku akan memanfaatkan situasi ini.
‘Pertama, aku harus diam –diam memindahkan kuburan Simon ke Amerika dan menghapus catatan kematiannya di sini,’ pikirku untuk memulai langkah awal rencanaku.
Saat aku memulai langkah awal rencanaku, rumor mengenai harta kepemilikan seluruh usahaku yang beratasnamakan adikku tersebar begitu saja entah dari mana. Helios pasti tidak bisa mengatasi semua ini sendirian, jadi aku terus mengikutinya. Aku harus pastikan, kalau dia bisa menjaga kepercayaanku. Siapa yang tahu, kalau dia ingin mengkhianatiku. Tapi memang tidak begitu!
Diam –diam, aku memerhatikan dia dan Mikaela yang sedang membahas soal semua ini. Tapi Mikaela menolak mengembalikan semua harta atas nama adikku. Bukan masalah, lagipula dia adalah ibu dari anakku dan dia akan menjaga semua itu demi anak –anak. Tapi aku mulai merasa ada orang lain yang menginginkan semua hartaku. Pertama, dia adalah Marcel yang membuat kesepakatan kepada Kaela dengan menunda perceraian.
“Secepat itu kau membuangku dari kehidupanmu ya? Tapi sayang sekali, b******n itu malah mendapat karma atas semua perbuatannya. Harusnya kita senang kan, Kaela? Dan sebenarnya, aku ingin menawarkan pembatalan perceraian dengan syarat kamu harus memercayakan harta yang berikan Willy padamu untuk dibalik nama kepadaku.” Aku mendengar perkataan Marcel, karena memang aku sengaja duduk dekat dengan mereka. Tentu saja dengan penyamaran yang tidak mereka ketahui.
“Kata-katamu terdengar sangat sampah,” gumamku pelan dengan perasaan yang sedemikian geram karena keserakahannya. Keserakahan memang awal dari kehancuran seseorang. Dan hari itu aku tahu, hidup Mikaela juga sedang terancam.
***
“Marcel tidak mungkin bekerja sendiri untuk melakukan semua ini. Pasti ada seseorang yang membantunya supaya bisa merebut seluruh hartaku. Apa itu kau… Michelle? Aku harus mengawasimu juga!” putusku lalu memulai segala aksiku.
Aku memerintahkan kepada anak buahku untuk memasang chip di mobil milik Mikaela dan juga ponsel milik Michelle. Aku bisa menyuruh mereka menyamar menjadi apa saja sehingga semua itu dimungkinkan. Aku terus saja mengawasi pergerakan keduanya. Dan yang membuatku terkejut adalah ketika kedua chip itu bertemu.
“Mereka bertemu? Aku harus segera ke sana!” Jelas aku merasa sedemikian panik sehingga aku mengikuti jejak keduanya. Michelle dan Mikaela mereka berhenti di pinggiran danau tapi cukup tinggi. Aku belum mau ketahuan, oleh karena itu aku bersembunyi di sisi lain dari danau itu sembari memerhatikan keduanya. Dan tak lama-
‘BYUURR!!!’
Mikaela didorong dari atas sana sehingga jatuh ke danau. Aku cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Michelle. Perempuan itu sangat mengerikan saat ini. Tidak! Mikaela jelas tidak boleh mati! Semuanya akan sangat kacau kalau dia mati! Tanpa pikir panjang, aku membuka jaket hitamku lalu terjun dan berenang dengan cepat. Aku harap, dia tak tahu kalau ada seseorang yang menghampiri Mikaela di danau. Sepertinya, Mikaela juga tidak bisa berenang.
‘Waktu manusia bertahan di dalam air hanya dua menit! Aku harus segera menemukanmu, Kaela!’ batinku sambil terus berusaha.
Dan ya, aku menemukannya. Mata itu masih terbuka dan terlihat sangat menyedihkan. Kaela kini terlihat sedang membayangkan sesuatu, tapi yang terpenting sekarang adalah keselamatannya. Kutarik tangannya dan secepat mungkin aku berenang ke tepian. Dan saat hampir sampai ke tepi, aku mendengar suara ledakan.
‘DUARR!!!’
Aku tidak mau menoleh, karena itu hanya akan menghabiskan waktuku. Dan pada akhirnya, aku tiba di tepi danau. Saat aku ingin memastikan keadaan, kelihatannya Michelle sengaja membuat mobil milik Mikaela terjatuh ke danau supaya kejahatannya tidak terendus.
“Dasar licik!” geramku lalu kembali memerhatikan Mikaela.
Wajah cantik itu begitu pucat! Tidak, dia tidak boleh berakhir begini! Maka dengan cepat aku melakukan CPR dengan menekan dadanya supaya air yang tertelan olehnya bisa keluar. Tapi masih belum juga, karena degup jantungnya belum terdengar. Perasaanku semakin tak karuan kalau begini. Mikaela tidak boleh mati! Dan usaha terakhir yang mesti aku lakukan adalah memberinya napas buatan.
‘Kumohon bertahanlah, Kaela! Aku mohon!’ batinku terus berharap wanita ini bisa kembali.
“Uhukk!!”
“Kaela, kamu baik –baik saja?” tanyaku ketika dia mengeluarkan sedikit air. Kutekan sedikit perutnya dan kemudian banyak air keluar. Aku tidak tahu bisa seburuk ini kalau tenggelam. Saat aku mengecek pernapasannya, ternyata dia sudah mulai bisa menghirup oksigen lagi! Walau memang masih sangat lemah.
“Ayo, kita ke rumah sakit dulu.” Aku berkata dan menggendong Mikaela. Tapi, langkahku terhenti karena aku yakin sebentar lagi akan ada banyak warga yang berkumpul karena kejadian ini. Aku harus memikirkan sesuatu, supaya semua orang akan terkecoh lagi.
“Maafkan aku harus sedikit melukaimu, Baby.” Aku berkata sambil melepas blus dan blazer miliknya. Aku tahu, ini terlihat sangat asusila seperti akan memerkosa seorang wanita yang tidak sadar, tapi ini demi mengalihkan mereka semua. Kuraih jaket hitamku dan kupakaikan ke tubuhnya.
“Sedikit saja!” gumamku lagi sambil mengambil serpihan batu tajam dan melukai telapak tangan MIkaela. Wanita ini sedang dalam keadaan tak sadar, jadi dia sama sekali tidak merasakan apa pun. Tapi entah kenapa, aku lah yang merasakan perih karena lukanya. Kulumuri baju miliknya dengan darah dan setelah itu aku melemparkannya ke danau. Mungkin juga, sepatunya bisa menambah pengalihan.
“Akan aku obati di mobil! Kamu masih bisa bertahan kan?” gumamku sendiri lagi sambil membawanya ke rumah sakit. Dokter di rumah sakit ini sudah sangat mengenalku dan mau diajak bekerja sana. Dan sedikit info, dia lah dokter yang kusuruh memberi hasil autopsy palsu untuk jasad palsu itu kepada Helios. Aku tahu, aku memang pintar.
End Of Flashback
POV 3
“Jadi, kau mencari kesempatan dengan membuka pakaianku? Dasar pria tak beradab!” maki Mikaela saat mendengar cerita Ares sembari menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
“Kan sudah kubilang, itu hanya untuk membuat pengalihan. Luka di tanganmu juga masih ada, walau aku yakin sudah tidak terasa. Aku bukan pria seperti itu!” Ares membela dirinya. Bagaimanapun, dia sudah menolong Mikaela dan harga dirinya tersinggung saat Mikaela mengatainya demikian.
“Bukan pria begitu? Karena kau hidupku hancur, dasar sialan!” tegas Mikaela lagi membuat Ares terdiam. Kali ini, wanita itu benar dan dia sama sekali tak bisa berkutik.
Harusnya, memang dia yang bertanggung jawab atas semua masalah yang menimpa Mikaela saat ini. Kalau saja dia tidak membuat Mikaela hamil, semuanya tidak akan pernah terjadi dan anaknya juga tidak akan terlahir di dunia ini. Ares merasa semakin bersalah kepada Mikaela. Dia akan menebus semua kesalahannya. Dia tidak akan membuat Mikaela sedih lagi dan memastikan wanita itu akan bahagia bersama dengannya.
“Ares, walau aku ingin bekerja sama denganmu, bukan berarti aku mau hidup denganmu suatu hari nanti. Ini semua kulakukan demi membayar rasa sakitku, itu saja!” tegas Mikaela sambil menatap ke arah jendela yang memperlihatkan langit malam tanpa bintang. Mikaela merasa hidupnya kini seperti itu. Gelap tanpa ada cahaya yang menyinari.
“Maaf! Maafkan aku, Kaela! Aku berjanji, aku melakukan apa saja demi menebus semua kesalahanku! Saat ini, aku hanya hidup untuk bertanggung jawab atas kesalahanku kepadamu. Ya, kata maaf saja tidak cukup kan? Aku tahu,” sesal Ares saat melihat wajah sendu dari wanita di hadapannya ini.
Karena dia, Mikaela harus mendapatkan penderitaan baru lagi. Karena dia sangat gila, Mikaela harus menghadapi arus dunia yang kejam ini. Harusnya Mikaela hidup tenang di dalam dekapan keluarganya dan juga suami yang menyayanginya. Tapi memang, penyesalan datang belakangan. Ares sudah berbuat terlalu jauh dan kesalahannya terlalu besar.
“Sudahlah! Mau dipikirkan ratusan kali pun tetap tidak akan ada yang berubah! Tapi sebelum itu, terima kasih sudah menyelamatkan aku. Kau tahu? Aku pikir, saat melihatmu datang, aku merasa Willy sedang menjemputku bersamanya. Ternyata, kembarannya yang ingin menyelamatkanku.” Mikaela menyatakan rasa terima kasihnya. Walau pria itu sangat b******k luar biasa, dia tetap tidak buta dengan kebaikan Ares. Dia tahu, kalau Ares sangat mencintainya. Walau cara pria itu salah dan juga gila.
“Sama –sama! Dan sebenarnya, aku tahu kamu sangat peduli kepadaku,” balas Ares sambil meraih tangan Mikaela dan mengecup punggung tangannya sembari tersenyum.
“Apa maksudmu?” tanya Mikaela garang sambil menarik tangan kanannya yang diperban. Ya, yang lukai oleh Ares adalah tangan kanannya.
“Saat kau melihat jasad palsu itu di rumah sakit, kau pulang sambil menangis. Kau bilang, kalau aku belum boleh pergi darimu,” jawab Ares dengan senyumannya. Saat melihat Ares tersenyum begitu, Mikaela teringat kepada Willy.
‘TOKK!’
“Awhh! Kenapa kau memukul kepalaku, Kaela?” protes Ares saat Mikaela malah memukul kepalanya.
“Diam kau! Kau itu hanya berhalusinasi! Bagaimana bisa kau ada di sana?” tanya Mikaela balik.
“Oh, aku langsung ke tempat kejadian setelah berganti pakaian di tempat persembunyianku. Aku memiliki sebuah apartemen lainnya di sini. Dan soal semua isi dompetku, aku memang sengaja menaruhnya pada supir malang itu. Aku sudah mengurus semua kartuku dengan aman kok,” jelas Ares.
Mendengar itu, Mikaela jadi malu sendiri. Saat dia berkata demikian, Ares mendengarkan perkataannya. Wanita itu menutup wajahnya sendiri karena tidak mau ketahuan peduli kepada Ares. Oh, bahkan wajahnya memerah mengingat waktu itu dia menangis.
‘Kenapa aku menangisi dia waktu itu! Dasar bodoh!!’ rutuk Mikaela pada dirinya sendiri membuat Ares tertawa kecil. Ekspresi yang sangat menggemaskan di mata pria itu.
“Apa yang lucu, dasar sialan! Lucu ya mempermainkan hidup orang? Kau mempermainkan emosiku tahu!!” kesal Mikaela kepada Ares.
“Maafkan aku! Tapi aku sangat berterima kasih kepadamu. Eumm… Helios juga! Dia sangat setia,” balas Ares lagi dan Mikaela pun menghela napasnya dalam –dalam supaya lebih tenang dalam menghadapi pria ini.
“Katakan padaku, apa rencana kita selanjutnya?” tanya Mikaela kembali ke topik utama. Dia penasaran dengan permainan macam apa yang sudah disiapkan oleh Ares. Pria itu tersenyum, ah bukan! Dia menyeringai dan tatapannya berubah menjadi licik.
“Sebuah permainan gila penuh kejutan, Baby! Pertama , kita harus ke Boston! Tentunya, saat keadaanmu sudah lebih baik,” jawab Ares. Mikaela hanya memerhatikan pria itu lalu mengangguk. Dia belum bisa menjangkau sejauh apa pikiran seorang Ares Pratama. Ikuti saja, karena pria itu ada di pihaknya! Untuk saat ini, dia harus percaya kepada Ares.
“Tapi, aku merasa sudah lebih baik,” ujar Kaela kemudian. Ares memiringkan kepalanya sambil memerhatikan Mikaela. Tak lama, dia menggeleng sebagai jawaban kepada wanita itu.
“Jangan buru –buru! Kebetulan, kamu sudah lebih baik, aku akan panggilkan dokter ya,” kata pria itu berdiri. Tapi Mikaela langsung menahan tangannya.
“Jangan tinggalkan aku! Aku takut!” kata Mikaela tanpa sadar membuat Ares menatap heran.
“Aku hanya menekan bel yang di sana itu. Aku tidak mungkin meninggalkan Kaela, apalagi kamu tidak mau jauh dariku ya? Aku senang sekali,” balas Ares sambil menekan bel untuk memanggil dokter.
“Apa –apaan itu? Kau salah paham, dasar bodoh!” kesal Mikaela lagi karena pria itu selalu saja berkata seakan –akan dia butuh Ares, walau sebenarnya jawabannya adalah iya. Tapi bagaimanapun, Mikaela tidak akan mengakui itu.
Tak lama, para perawat datang dengan suster membawa peralatan untuk memeriksa keadaan Mikaela. Ares terus saja menatap Mikaela yang sedang diperiksa oleh sang dokter. Dia tidak akan pernah melepas tangan Mikaela saat wanita itu sudah mengulurkannya kepada Ares. Tidak akan pernah! Dia akan menjaganya dengan segenap kekuatan dan tenaganya.
“Keadaan Nona sudah lebih baik, tapi belum stabil. Suhu tubuh anda masih tinggi dan istirahatlah satu hari lagi. Dan ya, anda mesti banyak makan supaya mengembalikan energy anda yang terkuras karena sudah tiga hari tidak sadarkan diri.” Sang dokter menjelaskan. Mikaela hanya mengangguk sebagai jawaban dan dokter pun pamit dengan para perawatnya.
“Lama juga aku tidak sadar. Mungkin akhir –akhir ini, hobiku adalah tidak sadarkan diri ya? Setelah melahirkan, Papa memutuskan untuk membiusku selama beberapa hari. Lalu saat pulang, aku juga langsung tak sadarkan diri saat mendengar kata cerai dari Marcel. Setelah itu, aku juga langsung pingsan saat memberi si kembar padamu dan yang terakhir saat melihat Papa meninggal. Kenapa gak sekalian mati aja?” gumam Mikaela sambil mengisak teringat betapa dirinya terlihat sangat menyedihkan belakangan ini. Ares menatap wanita itu lalu memberi pelukan untuk menenangkannya.
“Maaf! Ini semua karena aku! Kumohon, Kaela! Percaya padaku!” ujarnya dengan lembut. Mikaela hanya bisa membalas dengan suara isakan kesedihannya. Tidak, ini bukan berarti Mikaela akan bertambah lemah! Karena bagi Mikaela, ini adalah kali terakhir dia menangisi semua yang terjadi.
“Aku harus jadi kuat! Kau harus bertanggung jawab untuk menjadi kekuatanku Ares!” pinta Mikaela.
“As your wish, Dear!” balas pria itu.