Mikaela baru saja selesai diperiksa oleh dokter dan keadaannya dinyatakan lebih stabil dan akan bisa pulang siang ini. Dia sangat bersyukur kondisi kesehatannya berada di taraf stabil meskipun dia berulang kali mengalami stres yang menganggu intensitas dirinya sendiri. Setelah dokter dan perawat keluar, Ares kembali ke dalam sembari membawakan semangkuk bubur untuk Mikaela. Dia tersenyum sangat hangat kepada Mikaela sehingga membuat wanita itu sedikit berdebar.
‘Kenapa wajahnya sangat terang diterpa sinar mentari begitu? Sial, aku jadi ingat kepada Willy lagi. Kenapa sih mereka harus semirip itu?’ batinnya sambil membuang muka dari Ares.
“Wajahmu sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya, Kaela. Sekarang saatnya makan. Aku sudah membeli bubur terenak yang pernah ada,” ujar Ares sambil meletakkan bubur itu di meja makan portable yang bisa digeserkan ke Mikaela. Wanita itu hanya diam memandangi bubur itu dan kembali menatap ke arah Ares.
“Kenapa? Ayo, makan! Kamu sudah berhari –hari tidak makan. Kamu bisa makin sakit dan aku akan sangat sedih.” Ares mencoba membujuk wanita itu supaya mau kembali memerhatikan kesehatannya.
“Willy.” Kata itu lah yang keluar dari mulut Mikaela.
“Kenapa? Kamu memimpikan adikku lagi?” tanya Ares dibalas gelengan oleh Mikaela.
“Dia adalah orang yang selalu membuatkan aku bubur dan juga merawatku ketika sakit. Hikss… aku rindu dia! Sangat!” Mikaela menangis tanpa sadar karena kembali teringat pada masa lalunya yang indah bersama dengan sang mantan kekasih sekaligus sahabat terbaiknya. Ares terdiam sejenak dan kemudian menarik Mikaela dalam pelukannya.
“Hei, kau bisa anggap aku sebagai dia juga tidak masalah,” bisik pria itu.
“Jangan mimpi!” balas Mikaela sewot sambil melepas pelukan Ares.
Ares lagi –lagi hanya bisa menghela napasnya karena lagi –lagi wanita ini menolaknya. Tidak apa, itu adalah hal yang bisa. Yang malah ajaib adalah ketika Mikaela memujanya seperti seorang kekasih. Kalau sampai Mikaela begitu, dia yang malah terkejut. Dan setelah perbincangan singkat itu, Mikaela dengan cepat meraih bubur yang dibelikan oleh Ares dan melahapnya dengan cepat. Ares selalu suka memandangi Mikaela yang sedang semangat dalam melakukan sesuatu.
Wanita ini masih ingin terus melanjutkan kehidupannya dan itu membuat Ares juga ingin terus menjaga Mikaela. Sejak awal pertemuan mereka, Ares merasa ingin terus menjadi seseorang yang sangat penting bagi Mikaela. Dulunya itu adalah obsesi gila, tapi sekarang dia merasa kalau memang dia mencintai Mikaela. Dia ingin wanita ini bahagia walau perasaannya tak berbalas.
‘Hei, Simon! Aku jadi paham bagaimana perasaanmu waktu itu. Jadi ini cinta ya?’ batin Ares yang teringat dengan adiknya yang merelakan Mikaela demi kebahagiaan wanita itu. Dia baru sadar, kalau makna cinta tidak se-sempit itu dan harus memiliki.
‘Tapi sayangnya kau bodoh dan membiarkan orang se –brengsek Marcel membuatmu menderita. Eh… tapi aku juga sih.” Ares membatin lagi karena teringat kalau ternyata dia dan Marcel ternyata sama saja. Membuat hidup seorang Mikaela menjadi mimpi buruk. Tapi Ares tidak akan membiarkan Mikaela tenggelam lebih dalam lagi dan akan menariknya dari mimpi buruk itu. Ares akan mengganti segalanya dengan memberi Mikaela banyak kebahagiaan yang bisa dia berikan.
“Hei, jangan melamun! Berikan aku minum!” pinta Mikaela membuat lamunan pria itu teralihkan. Mikaela tahu kalau pria itu sedari tadi sama sekali tidak berhenti memerhatikan dirinya. Tapi dia memilih diam saja karena tidak merasa terganggu. Maka, Ares pun langsung mengambil segelas air hangat dan memberikannya kepada Mikaela. Gelas itu diterima oleh Mikaela dan diteguknya hingga habis. Dia sungguh lapar! Dan akhirnya rasa lapar itu bisa terselesaikan.
“Terima kasih! Tapi, apa kau tidak makan?” tanya Mikaela kepada Ares yang hanya memerhatikan dia.
“Sudah tadi. Jangan pikirkan aku, yang penting sekarang adalah kesehatanmu. Karena kalau kamu kembali sehat, kamu bisa merawat anak –anak,” jawab Ares membuat Mikaela menyipit ke arah pria itu.
“Hei, apa maksudmu? Apa kau pikir, aku mau hidup denganmu setelah ini? Haha! Jangan mimpi! Aku hanya ingin merawat anak –anak dan balas dendam kepada Marcel dan Michelle. Setelah itu, tidak akan ada lagi lanjutan antara kau dan aku. Aku juga berharap kau bisa mengembalikan si kembar kepadaku,” sinis MIkaela dengan sangat terus terang kepada Ares.
“Aku tahu. Aku tidak keberatan kalau soal anak –anak. Kamu ibu mereka dan waktu itu kamu sedang dilanda emosi. Tapi jangan larang aku menjadi Daddy mereka ya?” pinta Ares hanya satu hal.
“Tentu! Kamu adalah ayah mereka.” Mikaela mengiyakan karena dia tahu kalau Ares sangat menyayangi anak –anaknya dengan sepenuh hati.
Mikaela berpikir setelah ini untuk menikmati hidupnya sendiri dulu bersama dengan ketiga anaknya. Ia ingin damai dari semua masalah. Setelah semua ini selesai, dia berharap adalah bintang yang menyinari kehidupannya yang kelam ini. Terlalu sakit dia rasa menjalani hidup yang seperti ini. Dia terlihat sempurna dan punya segalanya. Harta, kasih sayang, kecantikan, dan prestasi. Semua orang pikir, dia sudah bahagia. Tapi nyatanya tidak begitu. Tidak ada yang sempurna di dunia yang kejam ini! Sama sekali tidak ada!
“Baiklah! Aku akan bereskan ini. Kamu bisa minum obatmu ya? Aku keluar dulu,” kata Ares sambil membawakan nampan dan mangkuk bubur itu keluar dari ruangan Mikaela. Dia malas memanggil perawat kalau bisa melakukannya sendiri. Mikaela melirik ke arah pil obat itu dan menatapnya kesal.
“Obat lagi ya? Kapan ya terakhir kali aku minum obat? Setahun yang lalu? Tapi obat ini apa aman?” gumamnya takut –takut kalau saja Ares malah berulah lagi seperti sebelumnya.
***
“Kenapa kebetulan sekali ya, Michie? Kamu ada seminar di Boston dengan tenaga pendidik lainnya? Hebat sekali istriku ini! Tapi kakak kemarin akan pergi ke Boston juga lusa kan? Kenapa tidak sekalian saja?” tanya Michael di saat sarapan bersama dengan seluruh keluarga Buana.
Michelle dan Marcel terdiam dan saling tatap. Keduanya sudah membuat rencana untuk pergi ke Boston di waktu yang tak bersamaan supaya keluarga ini tidak curiga kepada mereka. Memang, mereka berdua tidak berpikir soal perselingkuhan atau apa, tapi bagaimanapun mereka tetap keluarga. Marcel juga sedang bermasalah dengan istrinya yang saat ini entah di mana, bahkan dikira meninggal dunia.
“Tidak enak kalau kalau sekalian dengan Kak Marcel,” jawab Michelle jujur. Tapi Michael tersenyum sambil meraih tangan istrinya itu.
“Hei! Aku tidak akan curiga kok! Kamu dan kakak juga sudah dekat seperti saudara. Apa untungnya aku mencurigai kakakku sendiri? Dia adalah kakak terbaik sepanjang masa,” balas Michael yang sudah benar –benar berubah pandangan soal hubungan di antara Marcel dan Michelle. Tidak terbesit lagi di pikirannya kalau mereka mungkin saja akan terjadi kecurangan di belakangnya. Michael yang tak tah apa –apa itu merasa kalau keadaan sudah sama lagi seperti sebelumnya.
“Papa mau ke Boston? Apa Selena boleh ikut? Papa mau ketemu Mama kan?” tanya Selena mengalihkan perhatian mereka semua. Marcel terkejut karena Selena menyebut soal Mamanya di saat dirinya sedang tak ingin mengingat soal Mikaela. Dia jadi dilema lagi karena perasaannya yang campur aduk soal wanita itu. Antara kecewa, kasihan dan juga merasa bersalah.
“Sayang, Papa akan bekerja di sana! Kamu di sini dengan Nenek dan Kakek ya?” bujuk Ribka supaya Selena tak terus –menerus menanyai soal Mikaela di sini. Wanita yang sudah setengah abad lewat itu malah menganggap Mikaela sudah benar –benar mati ditelan di danau yang dalam. Dia sama sekali tak berharap Mikaela kembali dan muncul di hadapan mereka.
“Selena sayang, Papa hanya akan pergi sebentar. Nanti Papa akan pulang setelah semua urusan selesai. Dan soal Michelle, kalau dia mau pergi sekalian denganku juga tak apa. Lagian, waktunya nyaris bersamaan kan?” kata Marcel setuju saja dengan wajah tenangnya. Dia juga tak terpikir untuk melakukan sesuatu yang terlarang dengan Michelle. Dia sudah tak mengenal Michelle yang sekarang.
Bahkan, baginya Michelle nyaris sama saja seperti Ares, manipulative. Dia memang semakin tak suka ketika tahu Michelle punya hubungan darah dengan Ares Pratama yang sangat dia benci itu sampai ke tulang –tulang. Sedangkan Michelle yang mendengarkan penawaran Marcel sedikit terkejut walau setelah itu dia memasang wajah tenang.
“Baiklah! Lagipula, aku juga buta arah kalau ke sana. Semoga Kakak mau membantuku ya? Soal Rose bagaimana ya? Aku akan cukup lama di sana?” Michelle sedikit khawatir soal putrinya yang masih bayi.
“Tenang saja! Lakukan pekerjaan kamu! Di sini ada Mama!” Ribka dengan senang hati mau membantu menantunya itu untuk merawat cucu kecilnya.
‘Dia hanya baik kepada anak yang mewarisi darah Buana. Tapi semua yang kau lakukan belum bisa menutupi kejahatanmu di masa lalu! Kalian adalah perusak hidupku!’ batin Michelle menyimpan banyak kebencian di dalam hatinya dan berpikir untuk segera melampiaskannya nanti.
“Baiklah, sayang! Aku ke kantor dulu ya! Kamu yang semangat kerjanya juga!” kata Michael sambil mengecup dahi istrinya dan pamit pergi ke kantor.
Para pria Buana itu keluar dari mansion dan melakukan pekerjaan mereka. Michelle kembali ke kamarnya lalu memastikan lagi keadaan bayi kecilnya. Dia menggendong Rose sambil memerhatikan jam yang menunjukkan kalau dia masih ada waktu untuk menyusui bayi kecilnya.
“Putriku! Semua yang ada di sini akan menjadi milikmu nantinya! Mama akan memberikan masa depan yang terbaik buat kamu. Kamu tidak boleh hidup seperti Mama. Tidak boleh!” gumamnya sambil memberikan asi kepada Rose hingga bayi kecil yang sangat cantik itu kenyang.
“Aunty! Boleh aku melihat adik Rose?” tanya Selena yang masuk dengan seenak hati ke kamar Michelle. Anak itu begitu penasaran dengan sepupu kecilnya yang sebaya dengan adiknya.
‘Anak ini! Dia adalah awal dari segala mimpi burukku kan?’ batinnya sambil memandang tajam ke arah Selena. Melihat tatapan tajam dari Michelle, Selena takut dan memundurkan langkahnya. Tapi tak lama, dia tersadar akan satu hal! Harusnya dia tidak melakukan hal ini.
“Maaf, Selena sayang! Lihatlah adikmu yang cantik ini. Maaf, tadi kepala Aunty sedang sedikit pening,” ujarnya berusaha lebih santai dengan situasi ini. Anak kecil seperti Selena tidak salah dan tak perlu diikut campurkan dengan masalah mereka.
‘Tidak, Michelle! Kau juga adalah korban masalah orang dewasa. Jangan berpikir begitu soal Selena, kasihan dia!’ batin Michelle masih memiliki nurani walau baru saja melakukan sesuatu yang kejam.
Dia sudah menghabisi ibu dari Selena dan tak boleh menambah penderitaan dari keponakannya ini. Michelle yang melihat adik sepupunya itu gemas sendiri karena kelucuannya. Rose menggerak –gerakkan matanya dan memandangi sekitar sehingga membuat Selena ternyata gemas. Tak lama, Ribka datang menyusuli Selena.
“Dicari –cari ternyata ada di sini. Kedua Tuan putri keluarga Buana sedang saling berbagi kasih sayang ya? Dulu, ada dua pangeran dan sekarang dua putri. Mereka akan sama –sama menjadi penurus nama keluarga ini nantinya. Selena sebagai si sulung dan Rose si bungsu!” gumam Ribka membuat Michelle tiba –tiba merasa kesal. Entahlah, tapi dia merasa tak rela kalau hak waris semua ini juga dibagi kepada Selena. Dia tak membenci Selena, tapi sama sekali tak mau berbagi soal harta. Karena bagi Michelle sekarang, hanya harta yang bisa membuat seseorang hidup tenang dan mengangkat muka.
***
Ares baru saja kembali dari luar sembari membawa sebungkus roti bantai dan selai srikaya untuk dia berikan kepada Mikaela. Ketika masuk dia sedikit terkejut karena Mikaela tidak meminum obat dan vitamin yang akan memulihkan tenaganya. Pria itu menggeleng –gelengkan kepalanya dengan tingkah Mikaela saat ini.
‘Kaela, aku sudah suruh kamu minum obatnya. Kenapa tidak diminum?” tanya Ares membuat Mikaela terbangun lalu menatap pria itu.
“Kau akan mencuci otakku lagi nanti!” jawab Mikaela sungguh membuat Ares terkejut! Bisa –bisanya Mikaela berpikir kalau Ares akan melakukan sesuatu yang gila lagi. Dia memang belum sepenuhnya waras, tapi bukan berarti dia akan menyakiti Mikaela lagi.
“Aku tidak akan melakukan itu lagi,” kata Ares.
“Aku tidak percaya!” Mikaela keras kepala sambil berbaring menyamping karena tak mau bicara dengan Ares. Dia malas kalau pria itu membujuknya menggunakan wajah Willy. Entah salah siapa mereka kembar, tapi sifatnya sangat berbeda.
“Kalau begitu, kamu tidak akan bertemu dengan si kembar!” ujar Ares membuat Mikaela berbalik lalu duduk di ranjangnya. Ia menatap kesal kepada Ares yang berani sekali mengancamnya.
“Kau mengancamku?” kesalnya menatap garang kepada pria itu.
“Bukan mengancam! Tapi kita akan pergi Boston setelah ini. Akan banyak hal yang akan kita lakukan di sana. Kalau kamu sakit, bagaimana dengan anak –anak?” Ares menjelaskan maksudnya. Pada akhirnya, Mikaela tak lagi berkeras karena tak mungkin pria itu bermaksud membahayakannya lagi. Dia pun meraih obat –obat itu menelannya sembari meminum air. Ares tersenyum lega karena akhirnya Mikaela mau mendengarkan dirinya.
“Nanti malam, kamu sudah bisa pulang dan besok kita akan langsung ke Boston.” Ares memberi tahu satu demi satu rencana yang akan dia lakukannya. Dari semalam, pria itu hanya mengatakan akan pergi ke Boston, tidak dengan yang lainnya.
“Setelah ke Boston… apa lagi?” tanya Mikaela penasaran.
“Ikuti saja lah, Kaela! Semua ini akan sangat menarik! Ada banyak hal yang akan kita lakukan di sana,” jawab Ares membuat Mikaela tambah penasaran. Pria itu sama sekali tak mengungkap seluruh rencananya. Satu per satu, tapi dia yakin kalau Ares yang membuat rencana pasti bisa berhasil.
“Ares, sebelum kita ke Boston nanti, kita ke makam Willy ya?” ajaknya.
“Tidak bisa!” jawab Ares membuat Mikaela terkejut!