“Tidak bisa!” Jawaban Ares benar –benar di luar dugaan MIkaela. Ia melirik ke arah Ares dengan penuh perasaan kesal karena larangan yang keluar dari mulut pria itu.
“Apa maksudmu? Kenapa aku tidak bisa ke makam Willy?” Mikaela mempertanyakan perkataan Ares.
“Karena sekarang dia tidak ada di Indonesia! Selama ini, aku sengaja mengalihkan perhatian mereka supaya bisa melakukan semua ini. Karena aku membuat rencana yang namanya William Simon,” jawab Ares membuat Mikaela semakin tak paham dengan ke mana arah semua ini.
“Apa hubungan rencana besarmu dengan Willy? Kau sepertinya sudah gila dengan melibatkan orang mati dalam rencanamu!” Demi apa, tapi Mikaela sama sekali belum mendapat pengertian yang jelas dari rencana yang disebut ‘William Simon’ itu.
“Tenang saja, Kaela! Bukan aku yang gila, tapi akan kubuat mereka gila! Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu. Istirahatlah, karena sebentar lagi kita akan ke Boston sepulangnya dari rumah sakit.” Ares menyarankan dan akhirnya Mikaela mengangguk saja.
Dia tak tahu banyak mengenai rencana gila yang dilakukan oleh Ares nantinya. Tapi yang pasti, semua itu pasti akan tepat sasaran seperti biasanya. Sembari membaringkan tubuhnya, Mikaela teringat bagaimana mereka semua, orang –orang yang membuat dia berada di posisi ini pasti sedang tertawa senang. Mereka akan merenggut semua harta itu dan berpikir kalau dia sudah mati. Tidak! Mikaela akan membuat mereka semua menyesal karena sudah melakukan ini kepada dirinya.
Setelah MIkaela istirahat, Ares memilih untuk keluar. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat sesuatu di sana. Ia melihat tangkapan CCTV yang ada di kamar miliknya di mansion Boston. Ia tersenyum kala melihat dua bayi yang terus dijaga bergantian dengan baik oleh para perawat yang dipekerjakan oleh Helios. Tiada hari bagi Ares jika tidak memastikan keadaan anak –anaknya. Walau saat ini dia sedang jauh dari mereka, tapi perasaannya begitu dekat dan ingin terus memperhatikan keduanya. Ares adalah seorang ayah dan dia begitu mencintai kedua bayinya.
“Bersabarlah bayi kecilku! Sebentar lagi, kalian akan bertemu dengan Mommy kalian. Mikaela akan menggendong dan memberi kasih sayangnya kepada kalian.” Ares bergumam setelah puas memandangi si kecilnya yang sedang tidur dari jauh.
Walau ponsel miliknya yang sebelumnya sudah hancur lebur, Ares masih ingat cara menghubungkan sistem di akun ponsel sebelumnya. Sistem di mana dia bisa mengawasi segala yang terjadi di mansionnya. Dia selalu menghubungkan semua itu karena Ares tidak pernah melepas segala miliknya dari pengawasan penuhnya. Dan sampai detik ini, dia berhasil membuat Helios percaya kalau dia sudah mati.
“Sampai jumpa di Boston, Helios!” gumamnya sambil tersenyum. Permainan ini akan semakin menarik!
***
Boston, USA
Helios sudah menyelesaikan semua pekerjaannya untuk hari ini. Seperti biasa, dia lelah dengan kesehariannya yang hanya bekerja bagai kuda. Semua yang terjadi di sini memang sangat stabil, tapi sebentar lagi akan ada rapat dengan para dewan yang merupakan semua bagian dari Simon Property Group. Berita kematian Ares dengan gilanya menyebar secepat angin dan semua pemilik saham pasti akan dengan cepat mencari cara untuk menggeser Ares dan memilih pimpinan yang baru.
“Dan mereka berkata kalau aku adalah kandidat yang tepat! Dasar bodoh! Padahal, aku tahu semua soal bisnis dari Tuan Ares. Hei, Tuan! Kau tidak benar –benar mati kan? Aku juga mendapat kabar soal Mikaela yang kecelakaan. Kalau semua ini kenyataan, musuh –musuh kalian akan senang. Hah… apa yang kupikirkan ini?” Helios bicara sendiri karena kepalanya pening memikirkan semua yang terjadi belakangan ini. Helios tidak yakin sepenuhnya walau awalnya dia begitu terkejut melihat jasad itu. Ares bukan orang yang semudah itu dibunuh. Tapi sayangnya, dia sama sekali tidak mendapat sinyal dari Ares kalau pria itu masih hidup.
‘Kalau dia masih hidup, dia pasti akan datang dan memberi tahu rencana apa yang akan dia lakukan kan?’ batin Helios yakin. Padahal, Ares sengaja menyembunyikan keberadaannya supaya berita yang heboh itu semakin heboh mengenai kematiannya. Membuat musuh bersukaria di awal memang taktik yang sangat gila. Dia akan memberi kejutan yang tidak akan pernah mereka semua duga.
Di sisi lain, terlihat dua orang yang baru saja keluar dari bandara. Sang pria memerhatikan sekitarnya dan wanita di sebelahnya terlihat seperti baru pertama kali ke tempat ini. Walau tidak mau, tapi dia harus tetap berada di sisi pria di sebelahnya ini supaya tidak hilang di kota ini. Boston, kota yang terkenal dengan kesibukan bisnisnya. Tempat yang cukup fenomenal terlebih lagi bagi pria itu, Marcel Arya Buana. Di kota ini, dia sungguh –sungguh merasakan banyaknya jatuh bangun karena Ares.
“Mas, ini adalah pertama kalinya aku ke Amerika. Di pertemuan para petinggi perusahaan Simon Property Group nanti, aku mesti bicara bagaimana. Bahkan, berdiri di kota ini saja aku sudah gugup,” kata wanita itu dibalas lirikan oleh Marcel. Wanita itu, Michelle Prasasti bahkan sudah terlihat gugup baru dengan melihat kota ini saja.
“Ya, tidak lebih gugup dibanding kau yang mencoba merebut posisi Mikaela sebagai seorang direktur di Yayasan. Setahuku, kau juga pandai berbahasa Inggris kan? Semuanya tidak akan seburuk itu, asal ketika semuanya sudah jatuh ke tangan kita, kau tidak akan melanggar perjanjian!” balas Marcel.
“Apa semudah itu menjadi pimpinan perusahaan raksasa yang seperti Simon Property Group hanya karena semua warisan diserahkan atas nama Mikaela. Dan selaku suaminya, kau dengan semudah itu menggesernya? Orang –orang Amerika pasti memandang sepele kepada kita, orang Asia.” Michelle merasa tidak yakin kalau rencana untuk melakukan semua ini pasti tidak semulus membalikkan telapak tangan.
Usaha property milik Ares begitu besar dan pria itu mempertahankan dengan susah payah setelah kematian pamannya. Ares mengambil hati para petinggi dengan kemampuannya yang luar biasa dalam berbisnis. Pria itu mendapat banyak kepercayaan sehingga dia bisa mengelola semuanya dengan baik. Dan Marcel adalah orang baru dalam dunia bisnis seorang Ares Pratama. Menggeser nama besar itu tidak akan mudah, sebelum mereka bisa membuktikan kemampuan seorang pebisnis. Marcel juga hebat dalam berbisnis, hanya saja peralihan kekuasaan tidak akan semudah itu.
Marcel sadar, kalau semua ini akan memakan waktu yang cukup panjang apalagi dia mesti melawan Helios. Tapi keinginannya untuk bisa melengserkan posisi Ares Pratama dan berdiri lebih tinggi daripada Ares yang sangat dia benci itu membuat dirinya menjadi sosok yang serakah. Merebut sesuatu yang bukan miliknya. Dan Michelle, dia memanfaatkan wanita itu sebagai kekuatannya, karena memiliki darah Simon yang mengalir deras di dalam tubuhnya.
“Aku tahu, Michelle! Ini memang tidak mudah. Tapi, aku datang ke sini bukan tanpa rencana.” Marcel bicara dengan sedemikian yakinnya. Michelle hanya bisa mengangguk mengikuti perkataan Marcel. Saat ini, dia memang membutuhkan Marcel supaya bisa mendapatkan segala haknya sebagai bagian dari keluarga Simon. Semua ini sulit dia lakukan sendiri apalagi setelah kematian Ares.
Jadilah keduanya memesan hotel di dua kamar yang berbeda tapi bersebelahan. Keduanya sama –sama langsung beristirahat setelah perjalanan yang jauh dari Indonesia ke Boston. Di dalam kamarnya, Marcel masih sibuk memikirkan rencananya dan membaca segala proposal yang merupakan informasi yang selama ini dikumpulkannya mengenai Perusahaan besar itu. Tak lama, dia mengambil sebuah map yang merupakan bukti hak waris yang diberikan Willy kepada Mikaela satu setengah tahun yang lalu.
“William, sebenarnya aku tidak mau melakukan ini. Tapi kembaranmu yang b******k itu sudah membuat masalah denganku dan menghancurkan keluargaku. Dia mesti membayar segalanya sampai lunas!” gumamnya dengan nada penuh kebencian. Ia memerhatikan langit malam yang bergemuruh dan menandakan akan turun hujan yang deras. Situasi ini kembali mengingatnya dengan kejadian malam itu. Kematian dari Adinata. Marcel jadi teringat soal video singkat yang dikirimkan oleh Michelle beberapa waktu yang lalu.
‘Michelle, apa tanganmu bersih dari darah Adinata?’ batinnya tiba –tiba terpikir. Dia belum mengusut semua masalah itu sampai tuntas. Heinry juga sedang sibuk untuk memastikan kalau Mikaela masih hidup. Kalau sampai diusut, Marcel memang harus dipanggil sebagai salah satu saksi kejadian malam itu, bahkan tersangka. Untuk saat ini, dia memang berasa dalam zona aman karena keluarga Djuanda memang sudah mendapat pukulan telak.
‘TING –TONG!’
Suara bel mengalihkan perhatian Marcel. Di tengah malam begini, siapa yang ingin bertemu dengannya di kamar? Pria itu beranjak dari tempat duduknya lalu melihat dari kamera CCTV di luar. Marcel terkejut dengan siapa yang membunyikan bel itu. Pria itu terdiam sejenak lalu membukakan pintu. Saat pintu terbuka, wanita itu langsung saja memeluknya dengan sedemikian eratnya. Marcel terdiam dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu.
“Mas, suara petir itu sangat keras dan membuatku takut! Dulu, saat ada petir seperti ini, bukannya itu berarti akan aada pertanda buruk?” tanya wanita itu, Michelle Prasasti.
“Apa yang kau pikirkan, Michelle? Jangan sembarangan memelukku karena hubungan di antara kita sudah tak ada lagi!” tegas pria itu sambil mendorong Michelle menjauh darinya.
Tapi kemudian, dia melihat wajah wanita itu begitu sendu bahkan ada air mata yang menetes begitu saja. Seketika, Marcel kembali lemah dibuat air mata itu. Selalu saja begini ketika dia melihat Michelle sedih. Perasaan itu kembali setelah sekian lama. Dia bahkan heran sendiri, saat teringat dirinya yang memandang datar kepada Mikaela yang juga meneteskan air mata di hadapannya. Ada apa dengan Marcel saat ini? Dia sudah tak paham dengan dirinya lagi.
“Saat petir dan hujan yang turun yang bagaikan badai, aku selalu teringat di hari kamu memutuskan untuk meninggalkan aku dan kembali pada keluargamu. Rasanya begitu menyakitkan! Hari itu, aku merasa sangat hancur.” Michelle bicara soal masa lalu di antara mereka.
Marcel terdiam, tapi bukan berarti dirinya juga tak mengenang. Hari itu memang kejutan yang sangat gila untuk keduanya yang sudah hidup bersama dengan damai selama tiga tahun lamanya. Kedatangan sang ibu dengan kabar mengenai adiknya mengubah segalanya. Apalagi mengetahui soal Mikaela yang memiliki anak dengannya. Bukan saja hidup Michelle, tapi Marcel juga hancur saat itu.
“Kau tahu? Berhari –hari aku menunggu dengan keyakinan kalau kamu pasti kembali padaku. Tapi sayangnya, kau tidak juga kembali bahkan tak memberi kabar. Aku nyaris putus asa saat itu! Hikss! Kenapa masa lalu itu terasa begitu menyakitkan ya, Mas?” tanya Michelle lagi sambil menghapus air matanya. Malam ini, entah kenapa kenangan yang menyakitkan itu kembali teringat oleh mantan pasangan yang sekarang hanyalah kakak dan adik ipar. Sebuah drama panjang yang membuat keduanya berada di titik ini.
“Dan semenjak hari itu, semua hari damai kita berlalu,” sambung Michelle lagi.
Benar! Segala mimpi indah mereka sirna begitu saja. Semuanya menjadi kacau karena permainan takdir yang kejam. Dan entah kenapa, di saat seperti ini, Marcel merindukan masa lalunya. Ia tanpa sadar meraih Michelle dan memeluknya dengan erat. Wanita itu membalas pelukan Marcel dan menyeringai setelahnya. Sebenarnya, ini hanya lah bagian dari rencana wanita licik itu.
‘Aku tahu kelemahan kamu, Mas! Aku harus berusaha membuat kau berada di dalam kendaliku, supaya kedepannya aku tidak akan berada dalam masalah!’ batinnya picik. Michelle sudah bukan yang dulu lagi. Marcel sadar akan hal itu! Saat ini, dia kembali dibutakan oleh masa lalu yang begitu indah dan lenyap begitu saja.
“Michelle, harusnya kita tidak berpisah malam itu. Harusnya kita hidup damai dan jauh dari semua kehidupan yang seperti ini. Kehidupan mewah yang membuat kiat jadi sosok yang serakah. Tapi, kita sudah terlambat! Pilihan yang salah membuat cinta sudah tak lagi ada artinya,” kata Marcel yang sudah benar –benar terpengaruh dengan masa lalunya.
“Tapi Mas, yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjadi pemenang dan membuktikan kepada mereka yang sudah menghancurkan kisah cinta kita, kalau kita lebih baik daripada mereka. Mikaela yang sudah membuatmu meninggalkan aku. Dan Ares yang sudah berani merendahkanmu! Tidak masalah hidup seperti ini, karena ini membuktikan kalau kita tidak lemah,” balas Michelle membuat Marcel terdiam.
Perkataan Michelle memang ada benarnya dan sangat cocok dengan jalan pikirannya. Dia memang sudah gila karena apa yang terjadi belakangan ini. Maka, mereka berdua pun juga akan tenggelam dalam permainan yang mereka buat setelah menghancurkan Ares dan Mikaela. Perlahan, Marcel semakin menarik wanita itu ke dalam kamarnya, hingga keduanya terduduk bersama di sofa empuk yang ada di situ.
“Kisah kiat belum berakhir, Michelle! Semua tentang kita… belum berakhir sampai malam itu!” ujar Marcel lagi kemudian meraih wajah Michelle dan memberikan ciuman yang cukup dalam. Wanita itu awalnya terkejut, tapi tak lama dia membalas ciuman dari Marcel. Pria ini sudah berada dalam genggamannya dengan mudah. Dia akan terlihat seperti berharap kepada Marcel sebelum menghancurkannya pula! Karena Michelle yang sekarang sudah berubah menjadi manusia penuh dendam dan diliputi kegelapan.
“Mas, apa kita tidak akan mengkhianati Michael? Dia adikmu!” Michelle mengingatkan saat Marcel mencoba menindihnya. Pria itu terdiam lalu kembali menatap Michelle lagi.
“Tidak apa, asal dia tidak tahu! Lagipula, dia itu sebenarnya sangat egois dengan merebutmu dariku!” jawab Marcel sambil melanjutkan ciumannya kepada Michelle. Malam ini, kedua anak manusia itu melakukan hubungan terlarang di antara saudara ipar tatkala sang adik sudah memberi kepercayaan kepada kakaknya saat jauh dari istrinya. Semuanya sama sekali tidak diduga oleh siapa pun.
_________
Valentine buat villain kita dulu deh~~
Besok bagian Ares dan Kaela ehe~~
Btw Marcel kalo bisa poligami pasti dia nikahin keduanya wkwkwk