Jacuzzi

2197 Kata
Boston, kota di mana Ares Pratama dibesarkan untuk menjadi seorang pebisnis besar. Dia kembali ke kota ini, tapi tidak ke mansion utamanya. Dia menginap di salah satu hotel kelas atas untuk melancarkan rencananya. Tentu saja, dia tidak sendiri di sini. Dia bersama dengan Mikaela yang sudah setuju dengan rencana yang dia buat. Dia belum bicara apapun kepada Mikaela mengenai rencananya lebih lanjut. Wanita itu menurut saja kepadanya karena memberi dia rasa percaya yang sekarang ini adalah sesuatu yang mesti dia jaga dari Mikaela. “Jadi… kau tidur di mana? Aku lihat hanya ada satu ranjang di sana!” Mikaela memulai protes pertamanya ketika samapi di hotel ini. “Jangan khawatir, aku akan tidur di kamar yang terhubung dengan kamar kamu. Aku memang sudah memesan hotel khusus kok. Aku tidak berpikiran yang aneh –aneh kok,” jawab Ares dengan santainya. Dan memang, dia bukan tipikal pria yang suka mencari kesempatan. Harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan hal seperti itu. Dan soal apa yang terjadi di masa lalu, jelas dia menyesalinya dan tak mau membuat Mikaela membenci dia lagi. “Hm… baguslah! Kalau begitu, aku mau mandi dulu,” kata Mikaela. Ares mengangguk lalu keluar dari kamar Mikaela ke kamar lain yang terhubung langsung ke kamar ini. Pria itu membuka ponselnya untuk segera mengatur sebuah strategi yang dia mulai. Dia tersenyum karena kedua sasarannya sudah memakan umpan darinya. Marcel dan Michelle sudah ada di Boston karena akan menghadiri rapat besar perihal mencari pengganti dari Ares. Tapi sekarang, dia sudah merencanakan permainan super gila sambil meraih sebuah map yang sudah selesai diurusnya selama di Indonesia. “Pengalihan harta dari nama William Simon kepada Ares Pratama Simon belum selesai di sini. Semua data mengenai adikku sudah aku manipulasi untuk mendapatkan kembali semua yang aku kumpulkan selama bertahun tahun dan ya, juga dari hasil yang dikumpulkan paman sialanku itu. Ini semua untuk anak –anakku.” Dia bergumam dengan sangat bangga dengan rencana yang menurutnya akan sangat hebat dan mengejutkan semua musuhnya. Musuhnya bukan saja dua orang itu, tapi ada juga dari pihak dalam yang tidak suka dengan kepemimpinannya di Perusahaan sebesar ini. Banyak yang tak terima kalau pria semuda Ares bisa menjalankan bisnis hebat dan ada juga yang kesal karena cintanya ditolak oleh Ares. Ya, semua itu sudah dia pikirkan semenjak mengetahui ada seseorang yang berniat menyingkirkannya saat di Indonesia. “Wah! Apalagi ini? Marcel dan Michelle menginap di hotel ini juga? Wah… kami harus hati –hati,” gumamnya saat mengetahui keberadaan Marcel dan Michelle saat ini. Dari mana dia tahu? Karena chip yang dia pasang kepada Michelle masih terhubung kepada wanita itu dan masih bisa dia lacak. “Pasti Marcel bersama dengannya kan? Akan aku pastikan lagi!” monolognya kemudian mengirimkan pesan kepada bawahannya untuk memastikan Marcel adalah salah satu tamu di hotel ini. Ares harus melakukan setiap pekerjaannya dengan sangat berhati –hati dan tidak boleh sampai gagal. Kegagalan bukan sesuatu yang menyenangkan untuknya! Sama sekali tidak! Sementara itu, Mikaela melihat banyaknya jenis pakaian yang tersedia buatnya di lemari hotel. Wanita itu berpikir, kapan pria itu punya waktu menyiapkan semua ini, padahal selama ini Ares selalu bersamanya bahkan saat di pesawat. “Hah… kenapa aku repot –repot memikirkannya? Lebih baik aku tinggal pakai saja,” gumamnya kemudian memilih sebuah gaun sederhana tapi sangat elegan. Wanita itu mengambil bathroob –nya dan berjalan ke kamar mandi. Saat masuk, dia terkejut dengan interior kamar mandi yang mewah dan juga sebuah Jacuzzi, sebuah kolam mandi pribadi kecil yang membuat wanita itu tertarik. Sudah lama dia tidak terpikir untuk menikmati segala sesuatu dan ini adalah waktunya dia menenangkan pikirannya. Dia membuka bathroob yang dikenakannya lalu berendam di dalam Jacuzzi tersebut. Sudah tersedia sebotol wine dan juga gelas yang mungkin adalah bentuk service dari hotel ini. Mikaela juga memasukkan sabun mandi untuk membersihkan dirinya. Mandi busa di dalam Jacuzzi dan ditemani oleh wine membuatnya terlihat seperti seorang ratu. Sudah lama dia tak merasa setenang ini karena masalah yang terus muncul dan malah bertambah. Mikaela pun menyesap wine perlahan lahan sambil menikmati acara mandinya. Tidak ada yang mengganggu dan benar –benar nyaman. “Wah! Aku terlihat santai sekali sementara aku meninggalkan Selena di Indonesia lalu si kembar di tangan Helios. Sial! Tapi… aku juga butuh ketenangan. Sebentar saja!” gumamnya sambil kembali menyesap wine sebagai sedikit dari pelampiasan penat di kepalanya. Di sisi lain, Ares terkejut bahwa dugaannya benar soal Marcel yang berada di hotel ini juga. Dia pun beranjak dari duduknya untuk mencari Mikaela dan memberi tahu soal hal ini. Dia kembali ke kamar wanita itu dan tidak mendapati siapa pun. ‘Ah,iya! Dia mandi! Aku akan menunggunya di sini saja.” Dia memilih duduk di sofa di kamar Mikaela. Dia menyibukkan diri dengan memastikan keadaan si kembar yang ada di mansion sambil tersenyum tipis. Melihat anak –anaknya yang sehat dan dijaga dengan benar membuat hatinya tenang. ‘Tapi sebentar saja lagi ya, Nak! Kalian akan kembali ke pelukan Daddy!’ Dia berjanji dalam hatinya kepada si kembar kesayangannya. Lebih dari sepuluh menit dia menunggu, perasaannya mulai khawatir soal apa yang dilakukan Mikaela di dalam sana. Kebimbangan mulai menghampiri Ares karena merasa Mikaela akan marah kalau sampai dia masuk ke dalam. Tapi dia takut kalau Mikaela melakukan sesuatu yang aneh seperti dulu. ‘Apa dia akan melakukan percobaan bunuh diri? Ah, tidak mungkin! Dia kan ingin bertemu dengan anak –anaknya! Tapi… Mikaela itu sangat nekat dan pikirannya pendek!’ pikir Ares dan dia mengambil keputusan untuk masuk ke dalam kamar mandi yang luas itu. Ia melihat Mikaela sedang berendam di dalam Jacuzzi tapi sama sekali tidak bergerak. ‘Sial! Aku lalai lagi!’ Ares merasa kalau Mikaela kumat lagi. Maka, dia menghampiri wanita itu dan duduk di pinggir Jacuzzi itu lalu menggerakkan pelan bahu putih Mikaela. “Kaela!” panggilnya dengan nada panik. “Haisshh!! Kenapa aku tidak bisa tenang sebentar saja!!” kesal Mikaela membuka matanya. Dia tadi memang sengaja menyandarkan kepalanya untuk menikmati suasana mandi di dalam Jacuzzi dengan air hangat dan busa yang lembut. “Oh, aku pikir kamu bertindak aneh lagi,” balas Ares sambil menghela napasnya lega. Mikaela memutar bola matanya kepada Ares yang mengganggunya. Seketika, dia tersadar kalau di balik busa yang banyak ini dia sama sekali tidak mengenakan apa pun. Dia langsung menjauh dari Ares dan menatap pria itu dengan penuh selidik. “Apa maumu? Jangan macam –macam!” Mikaela langsung memberi tatapan garang kepada Ares. Pria itu terdiam sejenak. Dia tidak ada pikiran melakukan hal itu kok! Tapi… sepertinya ide gila mulai merasuk ke dalam pikirannya yang memang sudah jauh dari kata waras itu. Dia menyandarkan kepalanya di pinggir Jacuzzi itu dan menatap Mikaela sehingga wanita itu terlihat panik. Ekspresi yang sangat lucu di mata Ares saat ini. “Kalau satu macam, boleh?” tanya pria itu membuat Mikaela semakin membola. “A –apa maksudmu? Kau kumat, Ares? Su –sudah kuduga aku tidak boleh percaya kepada b******n sepertimu! Pergi cepat!!” Mikaela merasa panik kalau saraf kewarasan dari Ares Pratama kembali putus seperti dulu. Yang ada, dia malah makin gila kalau pria itu berniat kotor kepada dirinya. “Apa yang kau pikirkan?” tanya pria itu lagi membuat Mikaela tak ayal semakin kesal. Pasti yang jelas Mikaela memikirkan kalau Ares melakukan hal tak senonoh kepada dirinya dengan sesuka hati pria b******k itu. Melihat diamnya Mikaela, kemudian Ares tertawa. “Hahahaha! Kaela selalu pikirannya begitu ya? Aduh, padahal aku tidak berpikir demikian loh!” balas Ares lalu duduk di belakang Mikaela sambil memijat pelan bahu wanita itu. “He –hei, apa yang kamu lakukan!” Dia panik lagi. “Santai saja! Kamu memang butuh waktu untuk rileks,” balas pria itu membuat MIkaela terdiam. Ares hanya mencoba memijatnya dengan pelan dan lembut sehingga membuat dia berdebar. Pria itu sama sekali tidak mencari kesempatan atau melakukan hal yang aneh seperti yang dipikirkan oleh Mikaela. “Hei, Ares! Semua pria itu kan sama saja! Semuanya mementingkan napsu!” tuding Mikaela sambil memainkan busa yang halus itu. “Bukannya wanita lebih bernapsu ya?” Ares bertanya membuat Mikaela berbalik dan menatap tak suka kepada pria itu. “Apa katamu? Hei, semua pria yang kutemui itu b******k kecuali Willy! Dan kau termasuk di antara salah satunya!” jawab Mikaela lalu kembali duduk santai sambil bersidekap d**a karena sangat kesal dengan perkataan Ares yang menuduh perempuan sebagai makhluk yang lebih napsuan. “Eumm… begitu ya? Tapi kan yang ada Hawa napsu, bukan Adam napsu?” tanya Ares lagi benar –benar membuat Mikaela semakin kesal saja. Benar! Tapi tetap saja Mikaela tidak terima. Maka, dia langsung mencipratkan air mandinya kepada Ares sebagai pelampiasan rasa kesalnya. “Pergi sana! Kau itu sangat tak tahu cara bicara dengan wanita ya?” usir Mikaela yang merasa tersinggung dengan pernyataan Ares yang tidak bisa dia bantah lagi. “Apa aku salah?” Ares bertanya dengan senyuman tak berdosanya. “Salah! Karena laki –laki selalu salah! Lagian, kenapa kau sampai ke sini?” Mikaela bertanya alasan pria itu sampai menghampirinya ke kamar mandi. “Oh, soal itu! Sebenarnya, Marcel dan Michelle ada di hotel ini juga. Tadinya aku mau kasih tahu setelah kamu selesai mandi. Tapi karena kamu terlalu lama, aku pikir terjadi apa –apa dan aku masuk,” jelas Ares seketika membuat Mikaela terdiam. Mendengar nama Marcel setelah dia lebih tenang membuatnya kesal lagi. Dia menunduk sambil membalikkan tubuhnya dari Ares. Ares bisa melihat Mikaela kembali merasakan sakit hati yang terasa dalam dan perasaan wanita itu tidak stabil lagi. Ia melihat bahu Mikaela bergetar karena mendengar dua nama orang yang sudah menyakitinya itu. “Maaf,” ujar Ares merasa bersalah membuat Mikaela bersedih. “Untuk apa? Baguslah kalau aku tahu keberadaan mereka. Kita bisa hati –hati supaya tak terlihat oleh keduanya saja kan? Ada lagi yang mau kau bicarakan?” tanya Mikaela kembali fokus membersihkan tubuhnya karena merasa ingin segera menyelesaikan mandinya. “Malam ini, kita mesti memulai rencana kita, Kaela!” kata Ares membuat Mikaela terbelalak lalu berbalik lagi. Entah kenapa, dia tidak merasa takut lagi kepada Ares walau kini tubuhnya hanya dilindungi oleh busa mandi. Saat pria itu bilang tak berniat aneh, dia percaya! Entahlah, tapi Ares memang seperti Willy yang tidak pernah melanggar kata –katanya sendiri. “Rencana? Malam ini? Bukannya pertemuan dewan pimpinan perusahaan kamu sepuluh hari lagi?” tanya Mikaela lagi. Ares tersenyum sambil mengelus lembut kepala Mikaela. “Kita akan ke mansion, tapi bukan sebagai pemilik atau pun tamu! Aku akan memberi tahunya jika kamu sudah selesai ya. Aku ke sini hanya untuk memastikan keadaanmu, Kaela.” Ares malah pamit dan main keluar saja dengan seenak hatinya meninggalkan Mikaela dengan rasa penasarannya. “Seenaknya saja membuatku penasaran lalu meninggalkanku! Dasar laki –laki gila!” maki Mikaela dari dalam kepada Ares yang sudah keluar. Dan sesampainya di luar, Ares menghela napasnya sembari melihat ke arah cermin rias yang sedemikian besar itu. Ia memegang dahinya yang ternyata sedikit berkeringat dingin. “Benar katamu, Kaela! Aku ini b******k!” gumamnya karena sadar perasaannya mulai tak karuan kala melihat wajah polos MIkaela yang sedang mandi dan dengan santainya berbalik untuk bicara dengannya. Bahu putih dan punggung yang menggoda itu ternyata membuat Ares sedikit merasakan rangsangan. Dia suka kepada wanita itu dan itu adalah hal yang wajar. Tapi dia sudah bertekad tidak melanggar perkataannya sendiri kan. Akhirnya, dia menunggu Mikaela selesai saja. ‘Ya, Ares! Mungkin kau tidak seperti Simon! Dia kan kuat iman! Aku ini kan tidak punya iman!’ batinnya sambil mendudukkan badannya di sofa empuk itu. Sementara itu di dalam, Mikaela selesai dengan acara mandinya. Ia berpakaian di kamar mandi lalu bercermin di kaca besar itu. Ia memerhatikan wajahnya di cermin lalu menyentuh bagian bawah matanya. Dia tersenyum miris sambil bergetar dengan apa yang dilihatnya di cermin. Dari pandangan orang lain, dia tetap sama seperti sebelumnya. Tetap cantik! Tapi Mikaela merasa dirinya sudah mulai tak sama lagi seperti sebelumnya. “Lihat, Kaela! Keningmu mengkerut dan kantung matamu muncul. Bahkan, garis di sekitar matamu kelihatan dengan begitu jelas! Kau sudah mulai jelek!” gumamnya pada diri sendiri. Sudah lama dia tak merawat dirinya sendiri. Mikaela memang sangat peduli dengan penampilannya, karena dia merasa ini lah yang bisa dia banggakan setelah sadar akan kecantikannya. “Tidak ada gunanya berharap kepada pria itu! Dia akan membuangmu ketika kau sudah tidak cantik lagi! Karena setiap pria yang mendekatiku hanya suka kecantikanku. Mereka tidak seperti Willy! Hikss…!” Tanpa sadar dia mengisak karena memikirkan betapa kejamnya kenyataan hidup ini. Fokus Mikaela sekarang adalah membesarkan ketiga buah hatinya. Dia akan menyelesaikan semua ini sampai tuntas, lalu kembali menjalani hidupnya dengan normal bersama anak –anaknya. ‘Jangan bergantung pada pria, Kaela! Mereka semua b******k!’ batinnya lagi sambil berjalan keluar dari kamar mandi. Ia melihat Ares sudah duduk santai di sofa menungguinya. Ia pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Ares sambil bersandar menatap datar ke arah pria itu. “Wah, sudah selesai ya? Kamu cantik sekali kalau sudah segar begini!” puji Ares seadanya membuat Mikaela memutar bola matanya kesal. “Hei, cepat katakan apa rencanamu!” Mikaela tidak mau basa –basi dengan pujian yang dianggapnya hanya sebuah bualan semata dari pria itu. “Ah, baiklah! Malam ini kita akan ke mansion dan menculik si kembar!” Ares berkata dengan santainya. ________ Sesuai permintaan kalian~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN