Kidnap Planning

2176 Kata
“Ah, baiklah! Malam ini kita akan ke mansion dan menculik si kembar!” Perkataan pria itu terdengar begitu santai dan ringan. Mikaela mengerjapkan mata berkali –kali mencoba mencerna apa maksud dari perkataan pria itu. Tidak masuk akal! Jelas itu adalah kesan pertamanya saat mendengar rencana Ares yang ternyata lebih dari kata gila itu sendiri. “Hei, kau tidak sedang gila kan? Apa gunanya menculik anak sendiri dasar bodoh!” kesal Mikaela karena merasa rencana Ares benar –benar di luar jangkauan pikirannya. Pria itu tersenyum santai sekali seakan sudah menebak kalau Mikaela akan bereaksi seperti ini. “Tapi, Kaela… aku tidak pernah mengaku waras kan?” balas Ares semakin menambah tingkat kekesalan di pihak wanita itu. Benar, pria itu juga belum berkonsultasi dengan seorang psikiater soal masalah mentalnya. “Tapi apa tujuannya?” Mikaela bertanya lagi kepada pria itu mengenai alasan dari melakukan semua ini. “Tujuannya adalah membuat Helios semakin panik lalu membuat pihak musuh senang. Bukannya itu sesuatu yang menyenangkan? Selain itu, kamu bisa secara langsung mengurus mereka sampai kita menunjukkan diri kepada dunia,” jelas Ares dengan alasan yang sangat logis. Si kembar adalah pewaris dari semua harta itu saat ini dan pihak musuh pasti akan senang kalau mendengar kedua bayi itu hilang. Mereka bisa memborbardir bisnis Ares habis –habisan sehingga mereka mendapat banyak keuntungan dari semua kejadian gila ini. Mikaela sudah bisa paham ke mana arah pikiran Ares saat ini. “Baik, aku paham! Tapi, bagaimana kita bisa menyelinap ke mansionmu? Penjagaan di sana kan sangat ketat?” tanya Mikaela kepada Ares. Benar! Dia tidak sedang bertanya kepada orang yang salah kan? Secara, Ares adalah pemilik mansion itu dan tinggal cukup lama di sana. “Kenapa tanyanya begitu? Kan aku tahu sistem keamanan di sana? Kamu cukup ikut saja dan perhatikan betapa gilanya permainan ini!” jawab Ares dengan sangat yakin dengan keberhasilan rencananya. Wanita itu memilih mengangguk saja kepada Ares karena semua ini memang adalah rencana pria itu. Dan sekarang, dia hanya perlu melihat bagaimana semua keberhasilan pria itu akan memberi keuntungan di pihaknya. “Kau mau ikut?” tawar Ares sekali lagi. Ya, soal menculik si kembar. “Baiklah! Aku ingin melihat caramu membobol keamananmu sendiri!” Mikaela mengangguk karena merasa kalau ini pasti akan sangat seru. “Kalau begitu, bersiaplah untuk malam ini! Oh, iya! Kalau kamu mau keluar boleh saja, tapi hati –hati ketemu dengan Marcel atau pun Michelle ya?” kata Ares kepada Mikaela untuk bersiap dan menikmati waktu sebelum malam nanti. Mikaela menganggukkan kepalanya. “Aku mau ke restoran! Aku lapar!” ujar Mikaela menyatakan ke mana dia ingin pergi setelah ini. “Baiklah, silakan saja!” Ares mengizinkan dengan mudahnya membuat Mikaela memicing kepada pria itu. Ares heran dengan tatapan Mikaela tapi merasa tidak ada yang salah dengan perkataannya kan? Dia sama sekali tidak melarang Mikaela. “Kau itu pria yang paling payah ya? Kau pikir kenapa aku sampai kasih tahu kalau aku ingin ke resto?” tanya Mikaela dengan perasaan kesal. “Memangnya kenapa? Karena kau lapar dan ingin makan sesuatu?” tanya Ares memastikan benar –benar membuat Mikaela kesal. Pria itu ternyata sangat tidak peka tepat seperti dulu dia meminta pria itu melakukan apa yang dia mau. Pria itu juga tidak bisa memahami kamus wanita yang memang sangat sulit dipahami oleh pria awam soal percintaan. “Marcel jauh lebih peka darimu, dasar payah!!” Mikaela tiba –tiba menyebut nama Marcel membuat Ares terbelalak. “Kenapa tiba –tiba jadi Marcel?” tanya Ares lagi tidak mengerti ke mana arah pembicaraannya kali ini. “Huftt!! Sudahlah! Ayo, sekarang temani aku ke resto! Hanya kau yang bisa mengendalikan situasi kan? Kenapa kau biarkan aku sendiri? Dasar payah!” Mikaela menarik tangan Ares untuk menemaninya ke resto dan akhirnya Ares bisa paham apa maksud dari Mikaela. Minta ditemani ternyata. “Kenapa tidak bilang mau ke resto bersamaku, hm? Dasar kamu ini? Sampai marah –marah lagi?” Ares malah geleng –geleng kepala dengan tingkah Mikaela yang benar –benar ingin dipahami dengan kamusnya yang sukar dimengerti oleh pria seperti Ares. “Kau saja yang tidak paham wanita!” balas Mikaela sambil menarik tangan pria itu untuk keluar dari hotel. Tapi Ares menahan pergerakan wanita itu lalu membawanya ke kamar. Mikaela heran, tapi tak lama pria itu mengambil sebuah hoodie hitam dari lemari dan langsung memakaikannya kepada Mikaela. “Jaga identitas kita!” Ares mengingatkan sambil memberikan sebuah masker hitam kepada wanita itu. MIkaela menerimanya dan Ares tersenyum karena Mikaela menurut kepadanya. Pria itu kemudian mengambil topinya lalu keduanya keluar dari kamar luxury mereka. Keduanya turun ke restoran untuk makan siang bersama. Sebenarnya di dalam hotel tidak bisa mengenakan masker atau pun sesuatu yang mencurigakan. Tapi, Ares langsung menunjukkan kartu VVIP miliknya sehingga para petugas dan pekerja resto itu membiarkan mereka. Saat masuk, keduanya duduk di salah satu meja dan memesan makan siang bersama. Mikaela memerhatikan sekitar dan mesti berhati –hati kalau seandainya Marcel dan Michelle tiba –tiba muncul dan mengenali mereka. “Jadi, di kota ini Ares menyekap kamu ya, Mas?” tanya sebuah suara tepat di belakang Mikaela. Dia kenal dengan suara itu, begitu pula dengan Ares. Karena itu, Mikaela bahkan tidak berani menoleh ke belakang karena ternyata dua orang itu sangat dekat dan hanya berjarak beberapa meter dari mejanya. “Benar! Si b******n itu membuatku seperti binatang yang menyedihkan dan berhasil membuatku tak berdaya,” jawab Marcel kepada Michelle. “Dan lucunya lagi, kau rela diperlakukan seperti itu hanya demi menyelamatkan seorang istri yang kotor seperti Mbak Kaela.” Michelle membalas perkataan membuat Mikaela tertegun. Tubuhnya tiba –tiba bergetar mendengar perkataan Michelle yang langsung menudingnya sebagai wanita kotor dengan mudahnya. Padahal, selama ini Michelle selalu bermulut manis kepadanya. Ternyata di balik itu semua, beginilah cara Michelle memandangnya. Bukan sebagai kakak, tapi sebagai saingan. Tapi kenapa? Mikaela tak paham dengan apa yang terjadi kepada Michelle. “Ya, aku bodoh! Harusnya aku biarkan saja waktu itu dia bersama dengan Ares. Aku menghabiskan waktuku yang berharga untuk wanita seperti dia lalu memberi perhatian kepada anak yang dia kandung, padahal itu adalah anak musuhku! Dan sekarang, rasanya aku puas setelah mereka berdua tidak ada,” balas Marcel dengan ringannya membuat Mikaela yang mendengar semuanya semakin sakit hati. Ia merasakan nyeri yang luar biasa di dadanya karena perkataan Marcel yang merasa kalau semua perjuangan mereka selama ini hanya sebuah kesia –siaan. Ares yang melihat itu, langsung menggenggam tangan Mikaela sambil menggelengkan kepalanya sebagai isyarat supaya Mikaela tak terpancing marah dengan perkataan Michelle. Ares juga marah mendengar itu, walau yang terjadi kemarin adalah murni kesalahannya. Ia tidak akan masalah kalau Marcel mengatainya apapun. Tapi Marcel malah mengatai Mikaela dan dia tidak terima. Kalau saja dia tidak sedang fokus pada rencananya, sudah dia hajar habis –habisan Marcel di sini sekarang juga. “Sejak awal, Mikaela adalah perusak hubungan kita, Mas!” Michelle kembali memberi tuduhan yang kejam kepada Mikaela. “Mungkin iya! Seandainya, dia tidak bodoh, semua ini juga tidak akan serumit ini. Ya, sekarang ayo kita nikmati waktu kita berdua sebelum melanjutkan jalan –jalan kita sampai sore mengelilingi Boston.” Marcel tersenyum lalu mengangkat gelas wine –nya sambil bersulang bersama dengan Michelle. Mikaela sangat sakit dengan perkataan Marcel bahkan sampai meneteskan air matanya. Sebegitu rendahnya dirinya di hadapan pria itu hanya karena kesalahan yang tidak dia perbuat? Dia tahu, kebohongannya memang begitu menyakitkan. Tapi kenapa dia dituding habis –habisan oleh mereka berdua? Sungguh dia sama sekali tak terima. Sementara itu, Ares yakin kalau Mikaela sudah tak tahan dengan situasi ini dan dengan cepat menarik tangan Mikaela untuk keluar dari sini. Keduanya langsung keluar dari resto lalu Ares memicing ke arah kedua orang yang sudah berhasil menyakiti hati Mikaela. Seketika, Michelle merasa ada seseorang yang memerhatikan dirinya dan dia melihat ke sekitar. Ia berbalik dan tidak mendapati siapa pun. Tak lama, dia melihat seorang pria dengan topi dan juga wanita dengan hoodie hitam berjalan keluar dari resto. Dia merasa diperhatikan oleh kedua orang itu yang tak lain adalah Ares dan Mikaela. “Kenapa, Michie?” tanya Marcel melihat Michelle yang terus saja memerhatikan sekitar mereka. “Ah, bukan apa –apa!” Michelle menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. ‘Itu pasti hanya sekedar perasaanku saja!’ batin Michelle mengabaikan instingnya. Dia yakin sekali, kalau dua orang yang mereka bicarakan tadi pasti tidak sedang berada di sini. Sementara itu, Ares membawa Mikaela ke mobilnya karena lebih baik mereka makan di luar saja daripada Mikaela terus tersiksa mendengar semua cecaran yang dinyatakan oleh Marcel dan juga Michelle. Saat sudah di dalam mobil, Mikaela kini mengeluarkan segala isakannya karena sudah tak tahan lagi dengan rasa perih yang sangat menyakitkan baginya. “Hikss! Kenapa? Kenapa mereka anggap aku seperti itu? Apa salahku? Salahkah aku hanya ingin menyelamatkan nyawa yang aku kandung? Kenapa aku juga disalahkan karena perbuatanmu, hikss!!” Mikaela sudah tak bisa menahan tangisannya lagi. Ares hanya diam memandangi Mikaela dengan penuh rasa bersalah. Tapi selain itu, dia juga ingin membuat Mikaela kembali lega dan tersenyum lagi. Mikaela tidak boleh terus bersedih! “Pada akhirnya, kamu akan lihat sendiri betapa buruknya mereka,” ujar pria itu. Mikaela masih segugukan karena menangis sambil mengingat segalanya. Marcel Arya Buana! Nama itu sudah berhasil memborbardir kehidupannya. Pria tampan yang dijodohkan dengannya itu membuat dirinya kacau saat kesuciannya direnggut paksa karena stres soal kekasihnya, Michelle. Dia ditinggalkan dan dipermalukan di pesta pernikahannya sendiri dan tak lama dia mengetahui kalau dirinya hamil. Mikaela benci pria itu! Tapi setelah tiga tahun, pria itu kembali dengan segala penyesalannya. Berulang kali pria itu meminta dan membuktikan diri pantas sehingga Mikaela jatuh hati. Dan akhirnya, Mikaela berpikir pria itu mencintainya! Dia pikir, Marcel akan dengan mudah melupakan sosok wanita yang bersamanya tiga tahun belakangan dan ketika ada sebuah masalah, Mikaela langsung dibandingkan dengan wanita itu. Semua ini menyadarkan, kalau memang selama ini Mikaela yang terlalu naïf dalam menilai seseorang. Dia tahu, kalau Willy juga terlibat di sini, tapi pria itu pasti tulus karena berpikir mencari seorang pelindung untuk Mikaela dari sosok Ares yang dipikirnya akan menjadi sosok berbahaya buatnya. “Dulu… Willy yang minta aku untuk bersama dengan Marcel! Padahal, aku yakin kalau perasaanku masih miliknya. Tapi dia berulang kali meyakinkan aku untuk memilih Marcel karena tahu dia punya keterbatasan,” ujar Mikaela membuat Ares memerhatikan Mikaela yang mulai cerita soal semuanya. “Dia melakukan itu, karena kemungkinan dia tahu kau akan datang untuk balas dendam, sementara hidupnya sudah tak lama lagi. Memang benar dugaannya! Kau datang seperti orang gila yang mengacaukan semuanya dengan sesuka hatimu. Tapi setelah semua itu aku sadar sesuatu! Aku melihat sifat asli manusia dan bagaimana perasaan Marcel padaku yang sebenarnya. Dia tidak cinta padaku! Dia hanya kasihan! Hanya kasihan, hikss!!” Mikaela menangis meratapi kisah yang sedemikian panjang dan membuatnya sedemikian terpukul. Ares dengan sigap menarik Mikaela ke dalam pelukannya untuk menenangkan perasaan wanita itu. “Aku ini… terlahir beruntung dan penuh kasih sayang! Apa yang aku mau bisa kudapatkan dengan mudah, hikss!! Tapi kenapa? Kenapa cinta membuatku hancur begini? Kenapa?” Mikaela sungguh tak terima dengan rasa sakit yang tak seharusnya dia dapat sebagai tuan putri keluarga Djuanda. “Sshh!! Jangan terlalu banyak bertanya kenapa dalam hidup ini! Pahami satu hal, hidup memang tidak adil dan akan menunjukkannya kepada setiap orang suatu saat nanti.” Ares menjawab dengan realistis sehingga membuat Mikaela mendongak lalu menatap kesal kepada pria itu. Bukannya menghibur, malah membuatnya semakin tertampar kenyataan. “Jadi kau senang aku diperlakukan tidak adil?” tanya Mikaela sebal. “Bu –bukan begitu maksudku! Aku hanya menyatakan realita. Ma –maksudku, aku akan membantu melawan segala ketidakadilan itu! Aku akan selalu ada buatmu untuk melewati semua ini!” Ares menjawab dengan kalimat yang lebih manis lagi. “Lepaskan aku! Kau itu menyebalkan!” Mikaela memilih untuk bersandar di kursi mobil saja karena merasa Ares juga tidak bisa mengerti dirinya dengan baik. “Maafkan perkataanku,” sesal Ares sambil melajukan mobilnya keluar dari basement hotel tapi tetap saja Mikaela masih kesal dengan perkataan yang dia lontarkan sebelumnya. ‘Harusnya aku berpikir dulu sebelum bicara kepadanya. Perasaan Mikaela sangat sensitive, terlebih lagi dengan apa yang terjadi padanya saat ini!’ Ares memilih diam dan memberi waktu kepada Mikaela untuk menenangkan pikirannya. Sedangkan Mikaela memerhatikan wajahnya di kaca mobil dan membuka masker hitam yang dia kenakan. Sekali lagi, Mikaela merasa sangat sedih karena melihat penampilannya yang semakin hari tidak lagi seperti dulu. Kecantikannya pudar begitu waktu berlalu dan juga karena bawaannya yang selalu stres dengan semua yang terjadi. “Suatu hari, kau juga pasti membuangku kan, Ares?” tanya Mikaela tiba –tiba membuat Ares menginjakkan rem mobilnya. Pria itu menatap Mikaela karena perkataan yang baru saja dikeluarkan oleh wanita itu. Sungguh! Dia tak tahu kenapa Mikaela berpikir dia akan melakukan hal sekejam itu. “Kenapa kau bilang begitu? Aku sangat mencintaimu, Mikaela!” tegas Ares tapi dibalas gelengan oleh Mikaela. Dia yakin, kalau Ares hanya mencintai kecantikannya, bukan dirinya. “Kau hanya mencintai penampilanku, bukan diriku!” balas Mikaela dengan nada yang sedemikian yakin sehingga membuat Ares terdiam sambil memegang kemudinya. Dia jadi terpikir, ‘Apa yang selama ini yang membuat aku begitu jatuh hati kepada Mikaela?’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN