Ares masih diam karena memikirkan alasan konkrit dia bisa sampai jatuh cinta kepada Mikaela. Kalau jujur, pada mulanya dia tertarik karena kecantikan wanita itu. Memang banyak wanita cantik di dunia ini dan banyak yang pernah ditemui bahkan dikenal oleh Ares. Tapi pertemuannya dengan Mikaela dirasanya sangat bermakna karena kecantikan wanita itu sangat bercahaya di matanya. Berbeda dengan banyak perempuan lainnya. Seraya Ares semakin mengenal sosok Mikaela, dia semakin jatuh hati karena Mikaela juga punya perasaan yang begitu lembut juga hati yang baik. Ares dapat jawabannya!
“Memang benar katamu! Aku mengangumi kecantikan yang kamu miliki. Tapi awalnya, itu hanya sebuah obsesi. Setelah semakin kenal kamu, obsesi itu berubah menjadi cinta. Karena kecantikanmu sempurna dengan kebaikan hatimu,” jawab Ares membuat Mikaela terkejut.
Jawaban yang begitu jujur dari hati seorang Ares. Obsesi menjadi cinta. Mikaela mendengar versi lain dari pria ini mengenai alasannya jatuh cinta kepada Mikaela. Kalau Willy mencintainya karena mampu membuat pria itu melihat sejuta warna dan Marcel mencintainya karena Mikaela adalah sosok yang kuat, maka Ares benar –benar mencintai dia dan sifatnya.
“A –aku tidak sebaik itu,” cicit Mikaela sambil buang muka. Dia yang pernah membunuh orang lain tidak mungkin bisa mendapat predikat baik, apalagi dengan adanya catatan kriminal.
“Mungkin kamu memang tuan putri manja, tapi kamu tidak seperti yang dipikirkan oleh orang lain dengan sebelah mata. Kamu peduli kepada orang lain walau itu adalah orang yang b******k,” balas Ares dengan sedemikian yakinnya.
“Tapi, seandainya aku tidak cantik lagi, kau pasti tidak akan menganggap aku kan?” tanya Mikaela dengan begitu yakin.
“Kenapa bilangnya begitu? Bagaimanapun kamu aku tidak akan berubah!” Ares meyakinkan Mikaela sambil mengarahkan wanita itu supaya menatap matanya. Ia ingin membuat Mikaela percaya dengan perkataannya yang sedemikian serius dari hatinya. Mikaela terdiam melihat iris jelaga yang begitu tajam itu. Napasnya tersenggal lalu wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Lepas, Ares! Maaf, bertanya begitu. Padahal, kita tak punya hubungan apa –apa kan?” Mikaela memperjelas hubungan mereka sambil melepas kedua tangan Ares yang memegang bahunya.
“Sedikit pun tidak ada?” tanya Ares lagi dengan perasaan yang sedikit sedih karena rasanya tidak dianggap ternyata sesakit ini.
“Aku hanya memanfaatkanmu,” jawab Mikaela sedikit sarkas supaya pria itu tak berharap kepadanya.
“Baguslah! Itu artinya, aku masih berguna buatmu!” balas Ares dengan senyuman bahagianya sehingga membuat Mikaela menatap tak percaya dengan ekspresi pria itu. Maka, Ares melanjutkan laju mobilnya, karena mereka harus makan siang.
‘Ekspresi macam apa itu?’ batin Mikaela memikirkan sebenarnya apa mau seorang Ares dari dirinya.
Dia bisa dibilang adalah calon janda yang bahkan bukan pertama bagi Ares. Dia bahkan tidak sungkan menyatakan kebenciannya kepada Ares karena kejahatan yang pernah dilakukan Ares setahun yang lalu. Tidak ada yang spesial dari wanita seperti Mikaela, tapi ada yang mencintainya sampai seperti ini. Semua itu kembali mengingatkan Mikaela kepada kembaran dari Ares, Willy.
‘Bahkan Marcel yang bermulut manis dan juga selalu menyatakan janji manisnya bisa membatalkan semua janji itu dengan sekejap mata karena rasa bencinya kepada Ares. Hah… aku tidak bisa percaya kepada pria mana pun lagi,’ batin Mikaela dirundung dilema. Setelah Willy, maka Ares berusaha bersikap manis kepadanya, walau terkadang Ares tidak tahu caranya memperlakukan seorang wanita dengan benar.
“Baiklah, kita akan makan siang bersama lalu saat pulang aku akan jelaskan bagaimana cara kita menyusup ke mansion,” ujar Ares mengalihkan lamunan mereka. Pria itu turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk wanita yang selalu dia cintai. Mikaela tersenyum tipis lalu berjalan masuk bersama Ares ke dalam restoran untuk makan siang bersama.
Ares memesan tempat VVIP untuk mereka berdua makan siang. Pria itu memesan menu yang terbaik pula untuk makan siang mereka. Tapi tak lama dia memerhatikan Mikaela yang terlihat terus saja melamun sehingga dia begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Mikaela.
“Kaela, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya pria itu membuat Mikaela menatapnya sekali lagi.
“Ah, bukan apa –apa! Hanya sebuah perandaian yang tidak penting,” jawab Mikaela lalu kembali diam dan menundukkan kepalanya. Ares masih tidak paham dengan maksud Mikaela lalu meraih tangan wanita itu lalu menggenggamnya untuk menyalurkan perasaan hangat kepada Mikaela.
“Apa yang kamu andaikan?” tanya Ares lagi.
“Hah… bukan apa –apa! Hanya sebuah pikiran bodoh kalau seandainya aku bertemu duluan denganmu bagaimana ya?” Mikaela akhirnya menjawab pertanyaan pria itu. Tak lama, dia sadar Ares menggenggam tangannya dan dengan cepat menarik tangannya dari genggaman pria itu.
“Bukannya kita memang bertemu duluan? Maksudku, sejak kecil?” Ares bertanya balik membuat MIkaela mengerutkan dahinya.
“Oh, ayolah! Memangnya anak kecil sudah ada perasaan romantis? Maksud aku, seandainya kita bertemu saat kuliah bahkan lebih dulu dari Willy,” kata Mikaela memperjelas maksudnya.
“Kalau begitu, kamu akan memilihku?” tanya Ares membuat Mikaela terkejut bahkan sampai wajah cantiknya memerah karena malu. Apa itu? Terdengar sangat percaya diri sekali Ares!
“Si –siapa bilang? Di mana –mana Willy jauh lebih baik daripada pria gila sepertimu!” tegas Mikaela sebagai jawaban penolakan dari pertanyaan Ares. Mendengar itu, Ares malah terkikik karena ekspresi Mikaela yang dia lihat saat ini memang sangat lucu sekaligus menggemaskan.
“Aku awalnya kuliah di Stanford, California. Tapi baru satu semester, aku kembali ke Boston dan kuliah di sana karena permintaan pamanku. Dia butuh aku untuk membantu usahanya yang sedang maju pesat. Sejak lima belas tahun, aku sudah paham dengan dunia bisnis dan hal itu membuat beliau sangat mengharapkan aku untuk dijadikan budaknya.” Ares bercerita sedikit tentang masa lalunya. Sedikit memberi tahu di mana dia berada saat Mikaela kuliah di Harvard,
“Boston dan Cambrige tidak terlalu jauh. Kenapa kau tidak ke Harvard saja? Aku yakin kau bisa masuk ke sana dengan mudah?” tanya Mikaela setelah mendengar cerita Ares. Pria itu menarik seutas senyuman mirisnya memikirkan soal itu.
“Tidak bisa! Paman ingin Simon menjadi mandiri dan aku tidak boleh sibuk mengurusinya. Dan lagi, identitasku sebagai saudara kembarnya akan terbongkar dengan mudah sehingga itu akan berbahaya saat itu. Tidak banyak yang tahu kalau aku punya saudara kembar di sini. Maka, akan menjadi kejutan yang besar saat aku melakukan rencanaku nanti,” jelas Ares akhirnya dibalas anggukan oleh Mikaela. Dan tak lama, makanan yang mereka pesan datang. Keduanya makan siang bersama setelah selesai berbincang sedikit untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Hari ini, Mikaela kembali mengenal sisi lain dari seorang Ares Pratama.
Makan siang pun berakhir lalu keduanya keluar dari resto. Ares berpikir untuk mengajak Mikaela keluar dan sedikit menenangkan pikiran karena pasti Mikaela banyak memikirkan hal –hal yang pasti membuat dia stres. Dia mengajak Mikaela ke sebuah taman sehingga empunya heran.
“Kenapa ke sini? Bukannya kita mau bahas rencana untuk membobol mansionmu sendiri?” tanya Mikaela dibalas senyuman oleh pria itu. Ia menggenggam tangan Mikaela lalu mengajak wanita itu berjalan bersama dengannya. Wanita itu hanya ikut saja ke mana pria itu melangkah dan akhirnya mereka menemukan sebuah tempat duduk santai di taman bunga ini.
“Lihat ini!” Ares mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan rekaman CCTV di mansionnya.
“CCTV?” tanya Mikaela sambil melirik Ares dan diangguki oleh pria itu. Ia menekan salah satu rekaman dan menunjukkannya kepada Mikaela. Wanita itu terbelalak dan langsung meraih ponsel milik pria itu dengan perasaan yang sedemikian terharu. Itu anak –anaknya yang sedang dijaga dan dirawat dengan sangat baik di bawah pengawasan Helios.
“Mereka sehat ya?” Mikaela sangat senang karena melihat kedua bayinya benar –benar diurus dengan baik walau jauh dari pelukannya. Ingin rasanya dia ke sana lalu memeluk erat kedua bayinya saat ini juga.
“Ya, syukurnya begitu! Tapi mereka pasti akan lebih senang kalau Mommy –nya yang memeluk dan menggendong mereka,” balas Ares membuat Mikaela tersenyum.
“Mommy ya? Kenapa tidak Mama saja?” MIkaela bertanya.
“Hmm… karena mereka mesti memanggilku Daddy, pasangan untuk Daddy kan Mommy.” Ares menjelaskan secara singkat sehingga dibalas dengusan kesal oleh Mikaela.
“Hei, sadarlah! Aku bukan pasanganmu! Dasar keras kepala!” balas wanita itu kesal membuat Ares tertawa kecil. Ya, sudah cukup dia membuat Mikaela kesal hari ini. Dia harus bicara serius kepada Mikaela soal rencana untuk menculik si kembar nanti malam.
“Kamu mau dengar rencanaku?” tanya Ares langsung diangguki oleh Mikaela.
“Baiklah! Pertama, kita akan masuk lewat penjara bawah tanah yang ada di belakang mansion lalu masuk ke ruang kerjaku sekaligus ruang kendali pribadi yang hanya diketahui oleh aku dan Helios. Lalu, aku akan mematikan lampu di seluruh mansion dan kita masuk ke kamar si kembar. Lalu setelah itu kita culik mereka lalu pergi.” Ares menjelaskan seakan dia melakukan semua itu dengan sangat mudah. Mikaela berulang kali mengerjapkan matanya ke arah Ares seakan melakukan semua perkataan pria itu adalah sesuatu yang sangat mudah seperti tinggal buka pintu lalu ambil dan pergi.
“Semudah itu?” tanya Mikaela dibalas anggukan juga senyuman oleh Ares.
“Untuk masuk ke penjara belakang itu ada dua ekor anjing gila yang besar dan bisa saja memakan manusia. Lalu penjagaan di penjara itu sangat ketat dan bergantian. Untuk keluar juga bagaimana? Masa iya Helios tidak bisa mendeteksi kedatangan penyusup?” Mikaela banyak bertanya soal rencana Ares.
“Iya, aku sudah pikirkan semua itu kok! Dua anjing lucuku itu menakutkan di mata kamu ya, Kaela? Jangan takut, mereka jinak kok. Dan soal Helios, aku memang sengaja ingin menguji kepintarannya. Siapa yang lebih pintar di antara kami. Aku atau dia! Ikuti saja ya!” jawab Ares pada akhirnya hanya dibalas anggukan oleh Mikaela. Percaya saja kepada pria yang cerdik ini. Karena Ares jarang sekali gagal kalau merencanakan sesuatu.
“Tapi aku penasaran? Hewan sebesar itu kau kasih makan apa?” tanya Mikaela kembali soal dua ekor anjing besar yang dipelihara oleh Ares.
“Eumm… daging sapi dan pernah sekali aku kasih makan daging manusia! Dagingnya Brawijaya!” jawab Ares dengan senyuman bangga tak berdosa padahal Mikaela menatap ngeri kepada pria itu.
Mikaela memilih untuk berhenti membicarakan soal makanan peliharaan Ares daripada pria itu kembali menggila dan menceritakan sesuatu tentang aksi psiko –nya. Mikaela pun menghirup udara segar di taman ini untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Ia berdiri lalu memandangi keasrian sekitar yang dikelilingi oleh bunga dan pohon yang rindang. Saat melihat bunga yang indah, ia melihat seekor kupu –kupu dengan sayap yang besar dan sangat cantik. Ia berbalik dan melihat Ares karena teringat sesuatu.
“Hei! Kau lihat di sini!” panggilnya membuat Ares beranjak dari duduknya. Ia menyusuli Mikaela lalu bersama wanita itu dia melihat seekor kupu –kupu yang hinggap di salah satu bunga yang begitu indah.
“Dulu, kau suka menangkap kupu –kupu kan?” tanya Mikaela memastikan kembali ingatannya.
“Benar! Kupu –kupu ini boleh juga! Tapi aku tidak bawa jaring dan toples. Tapi dibanding yang ini, aku lebih memilih kupu –kupu yang jauh lebih indah,” balas Ares membuat Mikaela kembali menatapnya heran.
“Kupu –kupu apa?” tanya Mikaela penasaran. Ares menatap wanita itu dalam –dalam lalu menjawab,” Kamu!” Mendengar itu, Mikaela terdiam dan kembali menatap dalam ke arah Ares.
“Kau… samakan aku dengan kupu –kupu? Oh, jadi kamu mau menangkapku lalu memasukkannya ke dalam toples?” tanya Mikaela sambil bersidekap d**a dengan kesal kepada Ares.
“Itu yang aku lakukan dulu! Menangkap dan ingin menjadikanmu milikku sendiri. Tapi seraya waktu berlalu, aku sadar kalau kupu –kupu lebih senang jika dibebaskan dan hidup sesuai kemauannya. Itu sama juga sepertimu! Kamu lebih bahagia kalau bebas!” jawab Ares membuat Mikaela terdiam. Pengakuan yang sedemikian jujur dari pria itu membuatnya agak terkejut sekaligus berdebar.
“Begitu ya? Hahh… kau tahu? Aku sudah tak terlalu mengingat kegilaanmu itu dan merasa alangkah lebih baik jika aku melanjutkan hidupku tanpa beban. Setelah mengambil kembali harta yang akan menjadi milik anakku, membalas Marcel dan Michelle, aku ingin melanjutkan hidupku bersama ketiga anakku dengan bahagia. Itu saja dulu untuk saat ini,” ujar Mikaela sambil memandangi langit biru yang begitu luas dan menggambarkan kebebasan yang sebenarnya. Ares memandangi Mikaela dan tak bisa menahan senyumannya. Walau Mikaela tak menyebut dirinya sebagai bagian dari rencana wanita itu kedepannya, memastikan Mikaela bahagia adalah alasannya hidup untuk saat ini. Sisa hidupnya akan dia serahkan kepada Mikaela bukan saja sebagai penebus kesalahannya kepada wanita itu, tapi juga sebagai bukti cintanya.
“Hei, langit sudah mulai sore! Ayo, kita kembali dan mempersiapkan rencana kita!” Mikaela mengingatkan dan langsung diangguki oleh Ares.
Mereka berdua sudah cukup memandangi taman ini sekaligus menghirup udara segar untuk menangkan pikiran. Ares senang karena sekarang Mikaela sudah lebih baik dan tidak sedih lagi karena memikirkan soal perkataan Marcel dan Michelle soal dia tadi. Fokus Mikaela adalah untuk anak –anaknya dan itu jauh lebih baik. Mikaela adalah seorang ibu dan perasaannya sebagai seorang ibu saat ini lebih kuat dibanding hal lainnya.
“Ares, kapan kita akan menunjukkan diri di hadapan mereka?” tanya Mikaela di sepanjang jalan kembali ke hotel tempat mereka menginap.
“Sepuluh hari lagi, tepatnya saat rapat besar soal bisnis besar milikku dilaksanakan. Aku akan beri kejutan luar biasa kepada mereka semua,” jawab Ares masih dianggap misteri oleh Mikaela.